Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.
Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.
Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'
Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Kartu AS
"Ma-maksud Kakak?"
Tubuh Bian merinding panik.
"Kakak lihat semuanya, Bi. Kamu..." Saga mendekatkan bibirnya pada Bian dan berbisik, "kamu berciuman dengan liarnya."
Bian tak mampu berkata-kata, matanya membulat saking paniknya ia. Saga adalah guru di tempat Bian bersekolah. Bagaimana jika Saga mengadukannya pada pihak sekolah?
"Dia cium leher kamu..." Saga menyingkap rambut hitam Bian ke belakang dan mengendus lehernya. Bian segera memalingkan wajah dan bergerak sedikit ke kiri. "Kemudian dia sentuh benda pribadi kamu..."
Saga sedikit menjauh, ia mengusap pipi dengan jari-jarinya, perlahan turun ke leher, dan kemudian ke salah satu bulatan kenyal milik Bian.
"Lo udah gila?!" Sontak Bian marah dan menangkis tangan Saga yang menyentuh dadanya sedikit.
Bian tak lagi berniat untuk menaruh rasa hormat lagi pada Saga. Apa yang Saga lakukan ini sudah keterlaluan.
Seringai muncul di wajah saga. "Jangan kayak gitu, Kakak jadi makin gemes sama kamu."
Bagi Saga sikap Bian yang berubah menjadi menolaknya setegas itu justru menjadi sangat menarik. Ketertarikannya terhadap Bian pun menjadi semakin gila.
Bian mendorong Saga, namun karena kalah tenaga, Bian malah berada di tempat tidur di kamar itu, terlentang dengan Saga berada di atasnya dengan wajah yang begitu dekat.
"Kakak suka sama kamu, Bi. Kamu cantik sekali," diambilnya beberapa helai rambut Bian dan mengecupnya. "Rambut kamu juga sangat indah."
Bian segera memberontak. Tapi sekali lagi tenaganya kalah. Kedua tangannya disandra oleh Saga di atas kepalanya.
"Galak banget sih kamu. Kakak jadi makin suka."
"Lepasin gue! Tol..." Teriakan Bian terhenti karena Saga membungkam bibir Bian dengan bibirnya.
Sekali lagi. Bibirnya.
Bian terkejut bukan main. Ia meronta semakin keras. Kakinya ia coba tendangkan kepada adik kecil Saga, namun posisinya tidak berada pada posisi yang tepat untuk memberikan tendangan pada benda pribadi milik Saga itu. Sehingga Bian hanya bisa meronta-rontakan kakinya, mencoba melepas tangannya yang tersandra, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sedangkan bibir Saga sibuk melmat bibir Bian, tangan kiri sibuk menyandera tangan Bian, dan tangan kanan sibuk menahan rahang Bian. Ia sangat menikmati apa yang dilakukannya.
Namun ia tak ingin melakukannya sekaligus. Maka setelah puas mencium, ia pun melonggarkan kedua tangannya dan menjauhkan bibirnya.
"Hey, tenang, Bian. Kakak udah selesai, kok."
Kemudian Saga bangkit dari posisinya. Ia tersenyum puas pada Bian yang kini duduk dengan rambut yang sedikit berantakan, bibir yang kemerahan dan lembab, juga matanya yang berair.
"Kamu boleh pergi sekarang. Supir Kakak udah nunggu kamu di lobi. Dia bakal antar kamu pulang."
Dengan terisak Bian pun bangkit dari tempat tidur itu dan berlari menuju pintu.
Saat pintu terbuka Saga mengatakan, "ingat, Kakak punya kartu AS kamu. Dan ini baru permulaan. Nanti kita akan tinggal di bawah satu atap, jadi kamu harus siap untuk melanjutkannya lagi dengan Kakak."
"Brngsek..." desis Bian dengan suara yang cukup terdengar oleh Saga.
Kemudian Bian pun pergi meninggalkan hotel itu dan pergi dengan mobil yang Saga siapkan. Ia kesal bukan main.
"Saga brngsek... Saga sialllan..." umpatnya lagi, berharap amarah yang tengah dirasakannya bisa mereda.
Di tengah jalan, Bian meminta supir untuk putar arah. Ia tidak ingin pulang dalam keadaan seperti ini. Akhirnya Bian terpikirkan untuk ke rumah Luis, kekasih Dinda, yang sering menjadi tempat mereka berkumpul.
Tiba di sana Bian tahu Theo ada di dalam karena melihat motor Theo ada di antara motor besar yang terparkir di halaman. Bian pun langsung merasa bersalah. Ia masuk ke dalam rumah dan mendapati para laki-laki berada di beranda belakang, asyik menyesap rokok, dan menenggak minuman.
"Yang, kok ke sini gak bilang-bilang?" Theo segera mematikan rokok yang sedang dihisapnya dengan terburu. "Kamu kenapa kok mukanya..."
Bian pun meraih tangan tangan Theo. "Luis, gue minjem kamar tamu lo." Lalu segera keduanya berjalan menuju dalam rumah.
"Jangan yang di bawah. Ada si Kayra sama cowok barunya," ujar Luis memperingatkan.
Akhirnya Bian membawa Theo ke kamar tamu yang ada di atas. Rumah Luis ini memang sering menjadi tempat berduaan bagi teman-temannya yang ingin memadu kasih dengan pasangannya. Orang tua Luis jarang di rumah, dan mereka tak begitu mempermasalahkan apa yang Luis lakukan.
Tiba di kamar Theo menutup pintu dan menguncinya. Bian pun masuk ke dalam pelukan Theo dan kembali menumpahkan rasa kesalnya.
"Kamu kenapa, Yang? Aku lagi bau rokok ini, kamu 'kan gak suka kalau aku abis ngerokok." Dibalasnya pelukan Bian dan mengusap rambut panjang sang kekasih.
Bian sedang tak ingin mempermasalahkan satu hal yang memang dibencinya dari Theo itu. Kemudian Bian menjauh dan mencium bibir Theo. Tangannya melingkar di leher Theo. Ia biarkan ciuman itu berlangsung lama. Bian ingin melupakan kejadian menyebalkan yang baru dialaminya.
Theo menjauh perlahan setelah cukup lama bibir mereka beradu. "Yang, nanti aku pengen lebih loh. Atau kamu mau kita..."
Bian segera menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau lebih dari ini. Aku cuma pengen cium kamu." Dipeluknya lagi Theo. "Aku kangen."
Theo tersenyum senang. "Manja banget sih pacarku ini."
'Maaf, Yang. Aku kayak gini karena ngerasa bersalah sama kamu. Aku baru aja ciuman sama cowok lain,' batin Bian.
"Tapi kamu sampai nangis gitu, kamu lagi ada masalah? Coba ceritain sama aku."
Bian sangat suka dengan sifat Theo yang satu ini. Theo sangat peka, perhatian, dan lembut. Itulah yang membuat Bian akhirnya menerima Theo dulu.
"Itu..." Bian pun duduk di tepi tempat tidur. Ia memutar otak cepat. "Barusan aku abis makan malam sama mommy dan daddy juga calon-calon mereka. Sama..."
"Sama siapa?" tanya Theo yang berjongkok di depan Bian. Bian tak melanjutkan kata-katanya, maka dari itu ia bertanya.
"Sama anak mereka. Ternyata mereka punya anak laki-laki yang sekarang umurnya 23 tahun. Dan dia guru baru di sekolah kita, Yang."
"Guru baru?" Theo mengingat-ingat. "Oh, Pak Saga? Berarti dia calon kakak tiri kamu dong? Terus kamu nangis karena dia? Dia ngapain kamu?"
"Bu-bukan, Yang..." Bian gelagapan. "Aku cuma... cuma sedih aja karena ngelihat mommy sama calonnya dan daddy juga sama calonnya. Aku masih kayak mimpi aja tiba-tiba keadaannya berubah kayak gini. Dan aku sedih banget gara-gara itu. Aku gak akan ngelihat mommy sama daddy sebagai pasangan lagi."
Sebenarnya Bian tak sepenuhnya berbohong. Ia memang gundah karena hal itu. Tapi alasannya menangis adalah karena Saga. Namun tentu ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Theo.
"Ya ampun. Aku ikut sedih ya, Yang. Aku sendiri gak nyangka mereka bisa kepikiran tuker pasangan gitu. Terus nanti kamu bakal tinggal sama siapa?"
"Katanya mereka bakal tinggal di mansion punya calon ayah dan ibu sambung aku. Mansionnya ada dua paviliun. Jadi aku bakal tetep tinggal sama mommy dan daddy."
"Ya bagus dong, Yang. Jadi kamu gak akan pisah sama mereka. Terus kamu tinggal di mansion sekarang. Kamu harusnya seneng, Yang." Theo menyeka air mata sang kekasih.
Bian tersenyum tipis tak sepenuhnya setuju dengan kata-kata Theo. Tapi ia tak ingin terus mengeluh. Ia pun menerbitkan senyum tipis. "Kayaknya aku bakal jadi anak orang kaya sama kayak kamu seudah pernikahan mereka," canda Bian mencairkan suasana seraya mengusap sisa air matanya.
"Oh iya ya. Jangan-jangan nanti kita dijodohin buat merger perusahaan," timpal Theo membuat Bian tertawa.
"Kamu ada-ada aja." Bian pun memeluk sang kekasih. "Makasih ya. Sekarang aku udah gak sedih lagi. Aku sayang banget sama kamu."
"Aku juga sayaaaaang banget sama Bianca Dira Aqueena."
Kemudian setelah itu mereka keluar dari kamar dan Theo mengantar Bian ke rumahnya.
Saat menuruni tangga, iseng Bian sedikit menguping ke kamar tamu. Terdengar deshan dari dalam.
"Ya ampun Kay, bikin yang denger malu aja." Wajah Bian memerah mendengar salah satu sahabatnya itu ternyata masih berada di dalam kamar.
"Udah, Yang. Sekalian aja kamu intip," saran Theo iseng.
Bian memukul lengan Theo pelan tanda ia tidak setuju. Kemudian mereka pun ke halaman, di mana motor Theo terparkir.
Saat Bian akan memakai helmnya, tiba-tiba sebuah mobil muncul. Mobil sport itu berhenti dan Saga keluar dari sana.
"Bian, ayo. Kakak ke sini buat jemput kamu."