Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Percayalah
Bab 7
Percayalah
Lyra yang sedang merajuk, akhirnya membukakan pintu untuk Dika. Dika pun segera masuk dan menutup pintu dan menguncinya kembali.
Rumah kontrakan itu kedap suara. Jadi apa pun yang dibicarakan di dalam, tidak akan terdengar keluar kecuali barang yang sengaja di lempar dengan keras atau suara dentuman musik yang menggunakan ampli dan speaker.
"Kamu kenapa sayang? Berapa kali Mas telepon tapi nggak kamu angkat?"Tanya Dika setengah frustasi.
Bukannya menjawab Lyra malah mengabaikan Dika, dan melangkah masuk ke kamar. Dika yang melihat perubahan Lyra yang tidak biasa pun dengan cepat mengikuti Lyra.
"Sayang hei..." Dika menahan bahu Lyra untuk berhenti, lalu membalikkan tubuh wanita itu untuk berhadapan dengannya. "Lihat Mas? Apa Mas ada buat salah? Coba katakan agar Mas bisa tahu." Bujuk Dika dengan lembut.
"Mas sendiri, apa ada yang Mas tutupi dari aku?!" Tanya Lyra. Ada luapan emosi yang baru pertama kali Dika lihat.
Apa mungkin dia tahu yang sebenarnya? Tapi itu nggak mungkin. Aku sudah mengatur semua dan menutupnya rapat-rapat. Batin Dika bertanya-tanya.
Pertanyaan Lyra berhasil membuat ekspresi Dika sesaat berubah, namun dengan cepat lelaki itu kendalikan kembali.
"Nggak ada sayang, Mas selalu jujur padamu." Kilah Dika.
"Lalu apa Mas bisa jelaskan kenapa status mas di KTP sudah kawin?!"
Dika terdiam tak bergeming. Ia terkejut mendengar ucapan Lyra. Dika kecolongan perihal indentitasnya di KTP. Ia tak menyangka Lyra tahu statusnya. Ia memaksa otaknya berpikir dengan cepat, mencari alasan yang bisa ia gunakan untuk membantah tuduhan Lyra padanya, meski pun itu fakta yang sebenarnya.
"Kamu membuka dompet Mas tanpa ijin?!"
"Jangan mengalihkan pembicaraan Mas! Katakan dengan jujur, Mas sudah menikah dan sedang selingkuh dengan ku. Iya kan Mas?!"
Suara Lyra pelan namun penuh penekanan. Bahkan matanya mulai mengembun, tak kuasa menahan sesak di dada.
"Bicara apa kamu Lyra? Menikah apa? Dengan siapa?" Dika menjeda kalimatnya menunggu untuk melihat ekspresi Lyra. "Baiklah. Kalau itu mau kamu, Mas akan bicara jujur. Mas memang pernah menikah, sama seperti kamu."
Mata Lyra yang tadinya mengalihkan pandangannya dari Dika, kini menatap lelaki itu dengan tatapan kecewa yang baru pertama kali Dika lihat.
"Tapi bedanya, Mas bercerai sedangkan kamu di tinggal mati. Mas belum mengurus surat-surat untuk merubah status Mas yang baru. Lagi pula, sebentar lagi kita akan menikah dan pasti status Mas akan kembali ke status kawin. Rasanya mubazir kan, jika mengurus perubahan sekarang?" Kata Dika menjelaskan.
Tangis Lyra perlahan mulai mereda.
"Lalu kenapa Mas nggak memperbolehkan aku menelpon duluan atau mengirim pesan jika nggak Mas duluan yang menghubungi ku?"
"Mas takut kamu kepikiran sayang. Mas pasti akan lambat merespon karena kalau sudah pulang kesana, Mas jarang sekali pegang hape. Hape Mas sering Mas tinggalkan di kamar."
Lyra mengusap jejak air matanya. Ia sudah mau menatap Dika seperti biasanya. Dika pun lega, itu berarti amarah Lyra sudah tidak lagi ada. Kebohongannya berhasil menipu Lyra.
Dika tidak ingin Lyra tahu kenyataan karena ia tidak ingin kehilangan kekasihnya juga istrinya disana. Lelaki itu mulai serakah tidak mau melepas salah satunya.
Dika mengikuti hawa nafsunya, mencoba seperti Pak Joko yang memiliki istri sampai dua. Karena nafsu dan serakahnya itu, Dika menciptakan kebohongan untuk menutupi kebohongannya yang lain.
"Sudah, jangan menangis lagi." Ujar Dika mendekat dan menangkup pipi Lyra dengan sebelah tangannya, kemudian mengusap lembut pipi kekasihnya itu dengan ibu jempolnya.
Lyra merasa sedikit tenang. Gemuruh di dadanya perlahan hilang. Melihat Lyra merasa tenang, Dika lalu memeluk Lyra.
"Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Dalam hati Mas cuma ada kamu. Mas sangat mencintai kamu Lyra."
Lyra terhanyut oleh kata-kata Dika, lalu kembali percaya dan membalas pelukan lelaki itu.
-
-
-
Novia mengusap dadanya yang sejak tadi merasa gelisah tidak jelas. Hatinya merasa tidak tenang memikirkan suaminya yang jauh disana.
Sejak menemukan wa tengah malam yang tidak bisa di cari jejaknya itu, Novia jadi memiliki prasangka yang buruk, meski Dika sudah menjelaskan. Entah kenapa Novia merasa masih ada yang di sembunyikan oleh suaminya itu.
Pagi itu Novia melakukan kegiatannya seperti biasanya. Mengantar anak sekolah, pergi berbelanja dan masak untuk dirinya dan Ibra.
Lalu sambil menunggu Ibra pulang sekolah, ia mampir terlebih dahulu mengunjungi rumah orang tuanya yang tidak berada jauh dari sekolah Ibra.
"Assalamualaikum, Bu..." Mengucapkan salam ketika melihat ibunya sedang bergelut dengan tanaman hias di pekarangan rumah.
Orang tua Novia memang suka bertanam menikmati hari tua mereka. Apalagi sejak Ayahnya sudah pensiun, yang sebelumnya merupakan seorang guru SD dan pernah mengajar di sekolah yang sama dengan Ibra sekarang.
"Novia..., Wa'alaikumsalam..." Jawab sang Ibu dengan senyum hangatnya menyambut putri bungsunya.
Ibunda Novia yang bernama Rahma menghentikan kegiatannya, lalu mencuci tangannya dengan kran air yang memang disediakan untuk menyirami tanaman di pekarangan itu. Lalu duduk menemani Novia di teras.
"Ayah mana Bu?" Tanya Novia yang tidak menemukan Ayahnya di pekarangan. Biasanya, dimana ada Ibu, pasti ada Ayahnya kalau sedang mengurus tanaman.
"Ayahmu menemani Desi ke pasar."
"Loh, sampai di temani Ayah?"
"Belanjaannya banyak, buat syukuran Abangmu. Malik di angkat P3 sekarang."
"Alhamdulillah..." Novia senang mendapat kabar baik itu.
"Kebetulan kamu datang, jadi Desi nggak perlu mengabari mu lagi. Nanti pulang sekolah, Ibra biar disini saja dulu. Kamu bantuin Desi masak ya? Malam nanti baca doa syukuran. Dan mungkin manggil orang-orang masjid saja."
"Iya Bu. Tapi nanti siang, Novia pulang sebentar ya Bu? Biar Ibra ganti pakaian dulu dan lauk-lauk mau Novia simpan di kulkas aja, takut basi."
"Iya, kamu atur saja. Oh ya, apa Dika pulang minggu tadi Nov?"
"Pulang Bu. Dia banyak kerjaan minggu lalu, makanya nggak pulang.
"Syukurlah. Doakan selalu kesehatan suami mu itu. Biar bisa berkumpul dengan kalian."
"Iya Bu."
Novia tertunduk. Ia kembali teringat apa yang membuatnya gelisah. Dan kegelisahannya itu terlihat jelas dan mata sang Ibu melalui sikapnya.
"Pasti sulit menjalani rumah tangga jarak jauh begini. Dan dibutuhkan kepercayaan yang besar di dalamnya. Doakan saja yang baik-baik untuk suami mu. Percaya padanya. dia disana sedang berjuang mencari rejeki untuk kalian." Nasehat sang Ibu.
"Iya Bu."
Suara motor terdengar dari jauh. Lalu masuk ke halaman rumah. Desi yang merupakan Kakak kandung dari Novia terlihat kerepotan memegang kantung-kantung belanjaan. Juga sang Ayah yang mengimbangi kendaraan dengan kantung besar di bagian depan.
"Kebetulan kamu disini Nov. Sini, bantuin aku."
"Iya Kak."
Novia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Desi yang memberikan beberapa kantung belanjaan kepadanya untuk di bawa ke dalam. Bersama-sama mereka sibuk menyiapkan masakan untuk menjamu tamu-tamu yang akan mereka undang nanti malam.
Keluarga kecil yang harmonis dan selalu saling menghargai dan membantu itu terasa begitu di segani oleh para tetangga di lingkungan sekitar. Apalagi Pak Hidayat yang sering mengulurkan tangan ketika ada tetangga yang hidupnya kekurangan. Sifat welas asih Pak Hidayat itu menular kepada anak-anak dan menantunya. Tapi sayangnya salah seorang dari mereka terbawa perasaan dan hanyut oleh hawa nafsu yang tidak terkendalikan.
Ya, awalnya Dika hanya merasa kasihan kepada Lyra yang merupakan sebatang kara dan tinggal sendiri di pinggiran kota. Awal dari seringnya Dika membantu Lyra dan mendengar cerita-cerita wanita itu, Dika menjadi empati. Lalu empati itu berubah menjadi peduli. Lama-lama menjadi cemburu, lalu sayang yang menjelma menjadi cinta.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra