Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sisa-Sisa yang Tak Terjelaskan
Cahaya oranye kemerahan menyelinap masuk melalui celah jendela, menandakan bahwa matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat.
Genevieve terbangun dengan napas yang sedikit berat, seolah ia baru saja melakukan perjalanan jauh dalam mimpinya. Kepalanya terasa berat, dan ia mengerjap berkali-kali untuk mengumpulkan kesadarannya yang berantakan.
Saat ia mencoba duduk dan meregangkan tubuh, sebuah rasa nyeri yang tajam menyerang area dadanya.
"Aduh..." rintihnya pelan sambil memegangi bagian atas dadanya.
Bukan hanya di sana, lehernya pun terasa sangat kaku dan berdenyut-denyut.
Ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah ditekan oleh beban yang sangat berat selama berjam-jam. Pegal-pegal itu merayap dari bahu hingga ke tulang selangkanya, menciptakan sensasi hangat yang aneh dan terus-menerus.
Genevieve menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, mencoba mengingat apa yang terjadi. "Apakah aku tidur terlalu lama? Kenapa rasanya seolah aku baru saja dipukuli?" gumamnya heran.
Ia melirik ke samping tempat tidurnya. Bantal dan selimut di sebelahnya tampak sedikit berantakan, dan ada sebuah lekukan kecil di kasur seolah-olah seseorang—atau sesuatu—pernah berbaring di sana.
Namun, saat ia menyentuhnya, tempat itu terasa dingin, sedingin udara perpustakaan di malam hari.
Dengan langkah gontai, ia bangkit menuju cermin. Begitu ia membuka beberapa kancing piyamanya untuk memeriksa rasa nyeri di dadanya, Genevieve terkesiap. Wajahnya seketika memucat, lalu berubah menjadi merah padam.
Di atas kulitnya yang putih, bertebaran bercak-bercak kemerahan dan ungu yang tampak sangat nyata.
Bukan hanya satu atau dua, tapi beberapa jejak yang terlihat jelas seperti bekas... sesuatu yang ia sendiri takut untuk mengakuinya.
"Serangga... tidak mungkin serangga seganas ini," bisiknya dengan suara gemetar.
Ia menyentuh salah satu tanda di dekat lehernya.
Rasa ngilu bercampur geli seketika menjalar, memicu ingatan samar tentang hawa dingin dan desahan napas di dalam mimpinya. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Valerius sudah pergi. Ia sudah mengusirnya.
Dengan terburu-buru dan perasaan dongkol, Genevieve melepas piyama wolnya.
Setiap kali ia melihat pantulan dirinya di cermin, ia merasa malu sekaligus marah. Jejak-jejak itu tampak begitu mencolok, seolah-olah kulitnya telah diklaim oleh sesuatu yang sangat rakus.
"Aku akan membunuh serangga mana pun yang berani masuk ke kamarku semalam," gerutunya sambil memakai sweter turtleneck yang cukup tinggi untuk menutupi lehernya.
Ia bahkan menambahkan syal tebal untuk memastikan tidak ada satu pun jejak ungu itu yang terlihat oleh orang lain.
Ia menyambar dompet dan kunci sepedanya.
Meskipun tubuhnya masih terasa lemas dan nyeri di bagian-bagian yang sensitif, rasa ingin segera "membersihkan" diri dari kejadian aneh ini jauh lebih kuat.
Genevieve mengayuh sepeda tuanya menuju pusat kota dengan sisa tenaga yang ia miliki. Tujuannya hanya satu: toko obat dan toko perlengkapan rumah tangga.
Sesampainya di toko, ia langsung menuju rak perlengkapan kebersihan.
Tanpa pikir panjang, ia mengambil dua botol semprotan anti serangga dengan dosis paling kuat. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyemprotkan seluruh botol itu ke setiap sudut lotengnya sampai tidak ada satu kutu pun yang bisa bertahan hidup.
Setelah itu, ia beralih ke apotek di seberang jalan.
"Ada yang bisa saya bantu, Miss Genevieve?" tanya apoteker tua yang mengenali wajahnya.
Genevieve sedikit mengeratkan syalnya, merasa gugup. "Aku... aku butuh salep untuk menghilangkan bekas kemerahan dan nyeri. Kurasa aku digigit serangga atau terkena alergi tanaman saat badai semalam."
Apoteker itu menatapnya dengan pandangan sedikit heran, lalu memberikan sebuah salep kecil. "Gunakan ini dua kali sehari. Ini sangat ampuh untuk meredakan radang dan menghilangkan bekas di kulit."
Genevieve membayar dengan cepat dan segera pergi dari sana. Ia merasa seolah-olah semua orang sedang memperhatikan tanda di balik syalnya.
Dalam perjalanan pulang, ia tidak menyadari bahwa di kejauhan, dari balik bayangan pohon besar, sepasang mata merah pekat terus mengawasinya dengan tatapan yang penuh kemenangan sekaligus kerinduan.
Valerius melihat semua yang ia beli. Sang monster hanya tersenyum tipis di dalam kegelapan.
Genevieve boleh saja membeli semprotan racun atau salep paling mahal sekalipun, tapi tak ada satu pun bahan kimia di dunia ini yang bisa menghapus tanda yang telah ia ukir di dalam jiwa gadis itu.
Genevieve berdiri di depan pintu perpustakaan, terdiam sejenak sambil menatap langit yang mulai berubah menjadi ungu gelap, hampir serupa dengan warna jejak yang tersembunyi di balik syalnya.
Awan-awan mendung sisa badai semalam masih menggantung rendah, membuat suasana sore itu terasa lebih mencekam dan dingin daripada biasanya.
Angin sore bertiup kencang, menerpa wajahnya dan membawa aroma tanah basah yang pekat.
Genevieve merapatkan jaketnya, merasakan sensasi perih yang samar di dadanya saat kain pakaiannya bergesekan dengan kulitnya yang sensitif.
"Malam datang lebih cepat" bisiknya pada sunyi.
keren
cerita nya manis