Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Arsitek Rimba
Hutan Larangan menyambut Bara dengan semak belukar berduri setinggi dada dan nyamuk-nyamuk sebesar lalat yang sepertinya sudah latihan militer.
"Oksigen murni," Bara menghirup napas dalam-dalam, mengabaikan seekor pacet yang mencoba memanjat sepatu kets-nya. "Kadar polusi nol persen. Kelembapan 80 persen. Sempurna untuk pertumbuhan jamur langka."
Bara mengeluarkan golok karatannya (yang sudah dia asah sedikit di trotoar tadi).
Trass! Trass!
Dia membabat ranting-ranting penghalang dengan gerakan efisien. Tidak buang tenaga. Dia hanya memotong apa yang perlu dipotong.
Prioritas utama: Air.
Manusia bisa hidup tiga minggu tanpa makan (apalagi Bara punya cadangan lemak... eh, tidak, dia kurus. Maksudnya cadangan tekad).
Tapi tanpa air, tiga hari dia akan mati kering.
Bara tidak mencari sungai dengan mata, itu suatu yang normal, Bara kan tidak normal, dia mencari dengan telinga sambil memejamkan mata, membiarkan indra pendengarannya yang tajam memindai frekuensi alam.
Suara angin di daun... cicit burung... dan di kejauhan, suara gemericik konstan yang menenangkan.
"Bingo. Arah jam dua."
Bara bergerak ke arah timur laut. Semakin dia melangkah, vegetasi semakin rapat, tapi udaranya semakin sejuk. Pohon-pohon raksasa dengan akar yang meliuk-liuk mulai mendominasi.
Setelah berjalan satu jam, semak-semak terbuka.
Bara ternganga. Sedikit. Sebagai mantan Mahaguru yang pernah tinggal di istana awan( jiwa yang menyatu dengan Bara), standarnya tinggi. Tapi pemandangan di depannya ini... boleh juga.
Sebuah sungai kecil dengan air sebening kristal mengalir tenang di antara bebatuan kali yang hitam licin. Di bagian hulu, ada air terjun mini setinggi tiga meter yang membentuk kolam alami berwarna toska.
Bara melempar tas kreseknya ke tanah, lalu berlari pelan, dengan wibawa yang agak luntur—menuju tepi sungai.
Dia berlutut, menciduk air dengan tangannya, lalu mencicipinya sedikit.
"pH netral. Mineral seimbang. Tidak ada rasa logam berat," analisisnya. "Ini bukan hanya sekedar air. Inilah yang namanya Nektar Kehidupan."
Dia membasuh wajahnya yang penuh debu jalanan. Dinginnya air pegunungan menampar kesadarannya. Segar luar biasa.
Mata Bara kemudian menangkap pergerakan di dalam kolam. Ikan-ikan kecil bersisik perak berenang riang. Ada juga udang sungai yang bersembunyi di balik batu.
"Halo, Protein," sapa Bara ramah. "Makanlah yang banyak agar kalian gemuk. Nanti kita 'bermain' di panci."
Sekarang, saatnya mencari Lahan Real Estate.
Bara tidak mau tidur di pinggir sungai untuk menghindari terjadinya banjir bandang. Dia butuh tempat yang tinggi, kering, datar, ( aman dari macan dan babi hutan).
Dia mendongak, melihat tebing batu di sisi kanan air terjun. Ada sebuah pelataran alami—sebuah tanah datar seluas lapangan bola.
Bara memanjat bebatuan dengan kelincahan simpanse kelaparan. Sampai di atas, dia berkacak pinggang, mensurvei calon kerajaannya.
Tempat itu sempurna.
Lantai: Tanah padat bercampur pasir (drainase bagus).
Pemandangan: Langsung menghadap sungai dan hutan di bawahnya.
Keamanan: Hanya ada satu jalan masuk (mudah dijaga).
"Ini dia..." bisik Bara, matanya berbinar. "Rumah idaman tipe Alam Semesta. Cicilan nol rupiah. Tenor seumur hidup."
Otak arsiteknya langsung bekerja. Dia mulai menunjuk-nunjuk udara, memvisualisasikan layout ruangannya.
"Di pojok sana, tempat tidur. Jauh dari angin malam. Di tengah, perapian. Di sisi itu... Laboratorium Rakitan. Dan di sana, teras untuk minum teh sore sambil menertawakan kemiskinan."
Bara segera menggelar terpal biru murahannya. Dia menggunakan tali tambang nilon untuk mengikat ujung terpal ke batang pohon, dia membuat tempat tinggal ini seadanya terlebih dahulu, yang penting dia bisa tidur tanpa di ganggu oleh angin malam.
Sekarang, markasnya sudah jadi (versi beta). Saatnya inspeksi logistik sekitar.
Bara turun kembali ke hutan, kali ini matanya bukan mencari jalan, tapi memindai Harta Karun Botani.
Hutan ini ternyata supermarket gratis bagi mereka yang tahu ilmunya.
"Wah... jacpot!" Bara mencabut tanaman merambat. Di akarnya terdapat umbi putih. Bengkoang hutan. Sumber air dan gula.
"Cemilan sore," gumamnya, memasukkannya ke saku kargo.
Lalu dia melihat pohon tinggi dengan buah berduri.
Bukan durian, tapi Buah Lai. Dagingnya oranye, tidak terlalu bau, tapi manis legit.
"Dessert," Bara mencatat lokasinya. Nanti dia panjat.
Namun, penemuan terbesarnya hari itu ada di sebuah pohon lapuk yang tumbang.
Tumbuh berkelompok, berwarna cokelat kemerahan dengan bentuk seperti telinga raksasa.
Bara mendekat, jantungnya berdegup kencang.
Dia menyentuh teksturnya yang kenyal tapi kokoh.
Jamur Lingzhi Merah (Ganoderma lucidum).
Di dunia persilatan masa lalu, ini bahan Elixir Keabadian. Di dunia modern, ini obat herbal super mahal untuk kanker dan kekebalan tubuh.
Dan di sini... tumbuh begitu saja dikencingi musang.
"Gila," Bara tertawa tak percaya. "Satu jamur ini kalau dijual di toko obat Cina harganya bisa buat makan seminggu. Dan di sini ada... satu, dua, lima... sepuluh?!"
Bara dengan hati-hati memetik tiga jamur terbesar, yang katanya di kencingin musang itu. Dia tidak serakah. Sisanya biarkan tumbuh dan menyebarkan spora.
"Investasi jangka panjang," katanya bijak.
Hari mulai gelap. Suara tonggeret mulai bersahutan, menandakan shift malam hutan telah dimulai.
Bara kembali ke markas. Dia menyalakan api unggun kecil menggunakan ranting kering dan korek api yang dia beli. Asap tipis mengepul, mengusir nyamuk.
Dia merebus air sungai di panci aluminium barunya. Lalu dia memotong bengkoang hutan dan mencemplungkannya ke air panas. Teh Bengkoang Hangat.
Bara duduk bersandar ke pohon besar, menatap api yang menari-nari. Di tangannya ada cangkir (bekas kaleng sarden yang sudah dicuci bersih). Dia menyeruput air rebusan itu. Manis alami. Hangat.
Di bawah sana, sungai gemericik. Di atas, bintang-bintang mulai terlihat di sela dedaunan, jauh lebih terang daripada di kota.
Tidak ada bos yang menyuruh ngepel muntahan.
Tidak ada preman yang menggangu.
Tidak ada suara klakson.
Bara merentangkan kakinya yang pegal. Dia merasa... Lebih baik.
"Inilah hidup," ucap Bara pada api unggun. "Seorang pria, apinya, dan istananya. Siapa bilang bahagia butuh Wi-Fi?" Mungkin cuman author satu ini yang kerjanya scroll mulu
Namun, kedamaian itu sedikit terganggu ketika perutnya berbunyi kruyuk keras. Teh bengkoang tidak cukup mengisi perutnya yang kosong.
"Besok..." Bara menatap tajam ke arah sungai yang gelap. "Besok kita akan berburu ikan. Dan mungkin, kalau beruntung, babi hutan nyasar. Alkemis juga butuh sate."
Dia memadamkan api, menarik jaket parka mahalnya sampai ke hidung, dan memejamkan mata.
Malam pertama sang Raja Rimba berjalan mulus, tapi tentu saja dia datang ke hutan ini memiliki tujuan yang pasti, mencari sebanyak-banyaknya sumber daya alam yang bisa di manfaatkan lalu di kembangkan, tujuannya adalah mencapai kejayaan dan menampar orang-orang yang telah berani meremehkan dia dengan uang.