Lahir dari keluarga islami, dituntut untuk selalu taat, memiliki saudara perempuan dan ternyata menjadi bahan perbandingan. Aluna gadis 20 tahun yang baru saja lulus kuliah dan memiliki banyak cita-cita harus menerima takdirnya saat dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria yang tidak dia kenal.
Aluna tetap pada keputusannya untuk mengejar karirnya, membuat Aluna harus meninggalkan pernikahannya untuk memenuhi janji kepada seseorang yang telah menunggunya.
Tetapi siapa sangka ternyata Aluna justru mendapatkan penghianatan dengan penuh kebohongan. Aluna harus menerima takdirnya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan.
Setelah beberapa tahun meninggalkan pernikahannya. Aluna kembali terjerat dengan pria yang harus dia nikahi beberapa tahun yang lalu.
Bagaimana kelanjutan hubungan Aluna? apakah pria yang harusnya menikah dengannya membencinya dan ingin membalasnya?"
Jangan lupa untuk terus mengikut novel ini.
follow Ig ainunharahap12.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7 Dia Wajar Menolak
"Risma dari perkataan kamu sepertinya kamu masih memiliki keinginan untuk melanjutkan perjodohan mereka?" tanya Rami.
"Hmmmm, jika Ravindra tidak keberatan, lalu kenapa tidak," jawab Risma dengan santai.
"Risma, apa kamu melupakan kejadian yang telah mereka lakukan? Apa lupa dengan apa yang sudah terjadi, wanita itu telah mempermalukan keluarga kita. Dia tidak dewasa dan lari di hari pernikahannya," ucap Risma.
"Justru itu ternyata menjadi kesalahan besar bagi kita sebagai orang tua. Aluna pada saat itu masih berusia 20 tahun dan juga baru lulus kuliah. Tetapi kita langsung menikahkan mereka dengan Ravindra yang notabennya berusia 27 tahun. Mereka tidak pernah bertemu dan hal itu sudah pasti membuat Aluna bingung," sahut Risma.
"Jika wanita itu tidak setuju dan seharusnya Aluna mengatakan dengan berterus terang dan bukan malah pergi," sahut Rami.
"Anak-anak muda zaman sekarang memang seperti itu. Tetapi bukankah seharusnya kita sebagai orang dewasa bukan hanya melihat dari satu sisi saja. Kita lihat bagaimana Aluna dalam usia 20 tahun dan sudah lulus kuliah. Aluna gadis pintar dengan sejuta prestasi," ucap Risma.
Sejak tadi tidak berhenti untuk tidak memberi pujian kepada gadis yang telah mempermalukan keluarganya.
"Sudah-sudah, kenapa harus membahas pernikahan, perjodohan di tengah makan seperti ini. Orang yang kalian bicarakan berkaitan dengan Ravindra dan seharusnya melibatkan semua ini dengan Ravindra," sahut Haryono.
"Ravindra tidak mungkin akan kembali menerima perjodohan itu dan menikah dengan wanita yang telah mempermalukan keluarganya," sahut Rami.
"Mama tidak bertanya langsung kepada Ravindra?" sahut Risma melihat ke arah putranya yang sejak tadi tidak memberi komentar apapun.
"Bagaimana Ravindra? Apa kamu setuju jika seandainya kalian kembali dijodohkan?" tanya Risma.
"Tidak!" Ravindra menolak tanpa ragu.
"Aku tidak memikirkan pernikahan untuk saat ini. Di jodohkan dengan wanita yang sama dan lari di hari pernikahannya, maka hal itu juga akan terulang kembali," jawab Ravindra benar-benar tidak tertarik untuk melanjutkan perjodohan itu.
Risma mendengar pernyataan putranya menghela nafas.
"Kamu dengar sendiri bukan? Jadi berhenti Risma untuk menjodohkan Ravindra dengan wanita yang sama," tegas Rami.
Dalam hal itu Risma benar-benar kalah, Risma sekarang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin sebagai seorang ibu dia memiliki keinginan dan firasat ke gadis yang dia inginkan dan yang baik, tetapi karena gadis itu pernah membuat keluarga ini kecewa sudah pasti putranya tidak akan bisa dibujuk dan belum tentu juga gadis yang diinginkan juga mau.
****
Aluna menuruni anak tangga dengan penampilannya yang cantik dan anggun. Menggunakan dress semata kaki berwarna krem dengan bagian action tali pinggang di tengahnya. Dress lengan panjang itu sangat cocok pada tubuhnya dan tidak lupa juga memakai heels 7 cm.
Aluna melangkah ke meja makan di sana sudah ada kedua orang tuanya dan juga Jiya bersama dengan suaminya. Firman sedikit canggung berhadapan dengan mantan kekasihnya itu.
"Mau kemana kamu Aluna, pagi-pagi seperti ini sudah rapi-rapi?" tanya Umi.
"Mau kekantor," jawabnya.
"Kantor?" tanya Abi.
"Benar," jawab Aluna mengambil setangkap roti dan kemudian mengoles dengan selai.
"Aluna kamu seorang wanita. Abi melarang kamu untuk bekerja. Kamu tetap berada di rumah!" tegas Abi belum apa-apa sudah memberi peraturan.
"Memang pernah segala sesuatu yang Aluna inginkan disetujui oleh Abi. Bekerja, pendidikan dan semuanya. Abi sama sekali tidak pernah setuju!" ucap Aluna.
"Seorang wanita memiliki kodrat untuk tetap berada di rumah mengurus rumah tangga! Kenapa kamu tidak pernah mendengarkan semua perkataan Abi. Apa kamu mau kualat?" tanya Abi.
"Abi selalu saja menyumpahi Aluna yang tidak-tidak. Aluna ini sebenarnya anak kandung Abi apa tidak," sahut Aluna.
"Aluna sudah!" tegur Umi.
"Bukan Aluna yang mencari masalah, tetapi Abi," ucap Aluna dengan menghela nafas.
"Aluna berangkat ke kantor dulu. Asalamualaikum!" ucap Aluna mengucapkan salam dan kemudian langsung pergi.
"Lihatlah anak kita semakin lama semakin tidak memiliki sopan santun. Orang tua belum selesai bicara dan sudah main pergi-pergi saja. Kita harus secepatnya mencarikan suami untuk Aluna sebelum dia semakin menjadi-jadi," ucap Abi.
"Aluna adalah gadis pemimpi. Firman rasa tidak ada salahnya jika dia ingin menghabiskan masa muda walau untuk mengejar karir dan juga pekerjaan," sahut Firman.
"Firman. Aku tahu kamu sangat mengenal seperti apa Aluna. Tetapi keluarga ini juga memiliki aturan. Aluna harus tetap mengikuti aturan di rumah ini. Aku juga memiliki banyak impian, tetapi sejak kecil aku hanya taat pada kedua orang tuaku. Jika orang tua menginginkan aku seperti ini dan maka aku seperti itu dan tidak pernah menyelah atau menyimpang," ucap Jiya memberi tanggapan sedikit menohok karena pasti sebagai istri merasa kesal saat suaminya berpihak kepada Aluna.
Firman tidak bicara lagi dan tetap melanjutkan sarapannya.
****
Aluna berjalan di perusahaan dengan wajahnya tampak begitu berpikir.
"Bagi Abi semua yang aku lakukan memang selalu salah. Aku memang tidak seperti Kak Jiya. Apa-apa harus mengiyakan semua perintah Abi dan Umi walau tidak menyukai hal itu. Aku tidak memakai hijab dan bukan berarti aku tidak tahu mana dosa dan tidak. Aku memang tidak menunjukkan ketaatanku kepada Tuhanku dan tidak sama seperti Kak Jiya. Tetapi bukan berarti aku tidak memiliki iman,"
"Jika Abi dan Umi melarang kak Jiya untuk kuliah di Luar Negeri dan lebih baik kuliah secara online agar tidak banyak bertemu dengan laki-laki. Tetapi tidak denganku dan bukan berarti aku kuliah secara bebas dan pergaulanku juga bebas!"
"Aku dinikahkan secara cepat karena ketakutan mereka dan rasa kecurigaan mereka? Mereka tidak pernah memberiku kepercayaan, aku mencintai seseorang, tetapi tidak direstui dan ketika aku pergi Umi dan Abi memberikan restu kepada mereka berdua,"
Aluna tidak henti-hentinya berbicara sendiri sembari berjalan ketika merasa kedua orang tuanya selama ini tidak adil dan tidak percaya kepadanya dan hanya menganggapnya anak yang selalu membuat khawatir.
Brukk.
Ditengah bicaranya dan langkahnya yang tidak fokus harus membuat Aluna menabrak bidang dada besar.
Hampir saja Aluna terjatuh dan untung saja pria tersebut berhasil menahan pinggangnya dan juga punggungnya.
Mata Aluna melotot saat pria tersebut tak lain adalah Ravindra yang menahan tubuh kecil tersebut.
"Maaf. Pak!" Aluna dengan cepat memposisikan tubuhnya berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Kalau jalan itu melihat ke depan dan berhati-hati. Bukan berjalan melamun. Baru hari pertama bekerja di perusahaan ini, tetapi sudah tidak fokus," ucap Ravindra dengan geleng-geleng kepala.
"Maafkan saya. Pak, saya benar-benar tidak sengaja menabrak bapak. Saya janji hal ini tidak akan terulang lagi," ucap Aluna sejak tadi menunduk saat berbicara dengan atasannya itu.
"Jangan terlalu banyak berjanji dan pada akhirnya kamu tidak bisa menemaninya. Saya berharap kejadian ini tidak akan terulang lagi!" tegas Ravindra membuat Aluna menganggukkan kepala.
Ravindra tidak mengatakan apapun lagi dan langsung berlalu dari hadapannya membuat Aluna menghela nafas panjang.
"Alhamdulillah, untung saja aku tidak dipersulit. Aluna kamu sih, kamu terlalu banyak berbicara ini dan itu, kamu terlalu banyak menghayal di hari pertama bekerja. Kamu sih hanya cari gara-gara saja," gumam Aluna beberapa kali mengatur nafasnya.
Nasib Aluna bener-bener baik yang diterima di perusahaan itu. Walau Abinya tidak setuju untuk dia bekerja tetapi Aluna tidak peduli.
Bersambung....