Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Pewaris
Di dalam kamar Paviliun Cendana di sayap utara, yang harum dengan aroma obat herbal, Xu Manchu sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra. Meskipun wajahnya masih pucat, sinar matanya telah kembali. Saat Qinqin dan Wu Lian masuk, senyum lemah mengembang di bibir pria tua itu.
"Ayah!" Qinqin langsung duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang terasa jauh lebih hangat dibanding semalam.
"Anakku dan Menantu," suara Xu Manchu terdengar serak namun mantap. Ia menatap Wu Lian yang berdiri tegak di samping ranjang dengan sikap hormat. "Menantu Wu, terima kasih sudah menjaga putriku dan membawanya pulang tepat waktu. Jika bukan karena kalian, mungkin hari ini aku sudah tinggal nama."
Wu Lian menundukkan kepala sedikit. "Menteri Xu, itu adalah kewajiban saya."
Qinqin menatap wajah ayahnya, ada sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia teringat bagaimana setahun ini ia menderita di kediaman Wu. Ia ingin sekali berteriak, mengadu pada ayahnya bahwa ibu Menantu Wu adalah orang yang kejam, bahwa ia disiksa, dan bahwa menantunya ini dulunya sangat tidak peduli.
"Ayah...sebenarnya selama setahun ini, aku..." Qinqin menggantung kalimatnya. Bibirnya bergetar. Ia seperti kehilangan sifat nakal nya ketika melihat tatapan Xu Manchu yang mengharukan.
Wu Lian yang berdiri di sampingnya seketika menegang. Tangannya di balik jubah mengepal kuat. Ia tahu Qinqin punya hak untuk membongkar semuanya sekarang, dan ia siap jika Menteri Xu akan memaki.
Namun, Qinqin menoleh sekilas pada Wu Lian. Ia melihat kegelisahan di mata pria kaku itu, sebuah emosi yang baru pertama kali ia lihat. Qinqin teringat bagaimana Wu Lian menerobos badai di Gunung Qingyun demi membantunya mencari obat dan membantu nya mengusir ibu tiri jahat.
Qinqin menelan kembali kepahitannya. Ia tersenyum manis, menyembunyikan luka dari pemilik tubuh asli itu demi ketenangan ayahnya yang baru saja pulih. "Sebenarnya selama setahun ini...aku sangat merindukan masakan rumah. Itulah kenapa aku terlihat agak kurus, Ayah."
Wu Lian diam-diam mengembuskan napas lega yang panjang. Ia menatap punggung Qinqin dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa terima kasih sekaligus rasa bersalah yang makin dalam.
Qinqin menyipit ke arah sang Jenderal. Seakan berkata bahwa Wu Lian harus berterimakasih padanya.
Xu Manchu terkekeh, tidak menyadari ketegangan singkat itu. "Hanya karena rindu masakan? Ayah pikir Menantu Wu tidak memberimu makan. Tapi syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Justru karena kalian sudah berkumpul lagi, ada satu hal yang mengganjal di hatiku."
Pria tua itu meraih tangan Qinqin dan tangan Wu Lian, lalu menyatukan keduanya di atas selimut.
"Aku sudah tua dan baru saja lolos dari maut. Satu-satunya penyesalanku adalah belum melihat garis keturunan kita. Qinqin, Menantu, kapan kalian akan memberiku seorang cucu untuk digendong di hari tua ini?"
Hening.
Suasana di kamar itu mendadak jadi sangat canggung. Qinqin yang biasanya cerdik mendadak kehilangan kata-kata. Ia ingin protes, tapi tangan Wu Lian yang besar kini sedang menggenggam tangannya dengan erat, seolah memberi kekuatan atau mungkin tanda agar ia tidak bicara sembarangan.
"Ayah, aku baru saja sampai dan Ayah sudah membahas cucu?" Qinqin mencoba mengalihkan pembicaraan dengan wajah memerah.
"Kesembuhanku akan jauh lebih cepat jika aku tahu ada pewaris yang sedang dikandung," sahut Xu Manchu dengan nada menggoda. Ia menatap Wu Lian. "Bagaimana, Menantu? Apa kau terlalu sibuk dengan urusan militer?"
Wu Lian menegakkan punggungnya. Suaranya terdengar sangat tenang, meski telinganya merah padam. "Menteri Xu, kami...kami sedang mengusahakannya. Hanya saja, perjalanan dari Barat sangat melelahkan bagi Qinqin. Saya tidak ingin memaksanya terlalu keras sekarang."
Qinqin hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Mengusahakannya? Kapan kita pernah mengusahakannya?! Ia melirik Wu Lian yang masih memasang wajah serius seolah-olah sedang melaporkan strategi perang pada kaisar. Bulu kuduk Qinqin berdiri sepenuh nya. Merinding dengan pernyataan dari sang Jenderal.
"Baguslah kalau begitu," ujar Xu Manchu puas. "Aku akan meminta pelayan menyiapkan sup ginseng khusus untuk kalian berdua malam ini. Pastikan kalian menghabiskannya sampai tetes terakhir."
Setelah berbincang sebentar, Qinqin dan Wu Lian keluar dari kamar. Begitu pintu tertutup, Qinqin langsung melepaskan tangannya dan menyenggol lengan Wu Lian.
"Wah, Menantu teladan, ya. sedang mengusahakannya, ya? Sejak kapan kau jadi pandai membual di depan orang tua?" goda Qinqin, mencoba menutupi rasa berdebar di hatinya.
Wu Lian terus berjalan tanpa menoleh, langkahnya sangat cepat menuju kamar mereka. "Aku hanya tidak ingin membuat ayahmu stres dan jatuh sakit lagi. Jawaban itu adalah yang paling logis."
"Tapi sup ginseng itu, kau tahu kan fungsinya untuk apa?" Qinqin mengejar, berjalan menyamping di sebelah Wu Lian. "Apa kau akan benar-benar meminumnya malam ini? Atau kau takut tidak bisa menahan diri setelah meminumnya?"
Wu Lian berhenti mendadak di depan pintu paviliun, membuat Qinqin hampir menabrak dadanya yang bidang. Ia menunduk, menatap Qinqin dengan jarak yang sangat dekat.
"Kenapa kau tidak jujur tadi?" tanya Wu Lian tiba-tiba, suaranya rendah dan serius, mengabaikan godaan Qinqin. "Kau bisa saja bilang pada ayahmu kalau aku dan keluargaku memperlakukanmu dengan buruk."
Qinqin terdiam sejenak. Ia melihat ke arah lain, lalu mengangkat bahu. "Kalau aku jujur, Ayah akan sedih. Dan lagi..... Jenderal yang sombong ini sudah mau repot-repot menggendongku semalam. Anggap saja itu cicilan hutangmu padaku. Sisa nya kau bayar di kemudian hari."
Wu Lian menatapnya lama, lalu berdehem keras untuk menyembunyikan rasa harunya. "Terserah kau saja. Tapi soal sup ginseng itu, jangan harap aku akan membaginya denganmu."
"Dih, pelit! Padahal Ayah bilang itu untuk kita berdua!" teriak Qinqin saat Wu Lian masuk ke kamar lebih dulu.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂