NovelToon NovelToon
Affair With My Bos

Affair With My Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kuswara

Dahlia seorang istri yang sangat dikecewakan suami yang sangat dicintainya. Namun Dahlia tetap memilih untuk bertahan mempertahankan rumah tangganya. Dahlia tidak mau seperti ibu dan kakaknya yang menyandang status janda juga. Dahlia pun lebih memilih melampiaskan kekecewaan dan rasa sakit hatinya dengan menjalin hubungan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tujuh

Entah sudah berapa banyak bonggol jagung yang ada di atas meja, Pak Adnan hanya menghabiskan dua buah jagung bakar saja selebihnya Dahlia.

"Hati-hati nanti kamu sakit perut, Ia."

"Aman, Pak."

Dahlia duduk santai setelah merasa kenyang.

"Mau makan apa lagi?."

"Nggak, aku udah sangat kenyang."

Hening untuk beberapa saat, sesekali tatapan mata mereka saja yang bertemu lalu sama-sama mengalihkan pandangan.

"Ada pakaian ganti kalau mau ganti."

"Iya, nanti aja. Pak Adnan udah sering ke sini?."

"Karena pekerjaanku ada di sini juga jadi mau nggak mau aku harus punya tempat sendiri."

Dahlia bangkit, berjalan ke arah jendela, berdiri di sana melihat jalanan yang masih sangat ramai. Kemudian Pak Adnan ikut menyusul, berdiri di samping Dahlia. Tangannya sudah gatal ingin sekali merangkul pundak Dahlia tapi masih merasa canggung. Dahlia masih belum memberinya lampu hijau.

"Apa lagi yang kamu tunggu, Ia?. Kamu udah tahu suamimu berselingkuh dengan atasannya."

"Entah, mungkin bukti yang lebih ekstrim lagi. Memergoki mereka saat bercinta dan aku menjadi sangat hancur."

"Nggak, Ia, aku nggak akan membiarkanmu hancur. Aku akan selalu ada menemanimu seperti sekarang ini."

Dahlia menoleh sambil tersenyum. Menatap bos yang sudah menatapnya lembut.

"Kenapa?."

"Apalagi bukan karena cinta, Ia."

Seketika senyum pada wajah Dahlia hilang. Berganti rasa penasaran kenapa bosnya itu mencintainya.

"Simpel aja, Ia, cinta nggak rumit serumit itu kok. Setiap aku bertemu denganmu, baik itu di lobi, di ruangan kerjaku atau di tempat mana pun itu di kantor. Hatiku selalu berbunga-bunga, selalu berharap bisa ketemu kamu lagi. Ya, walau aku tahu kamu itu seorang istri tapi aku tidak mendekatimu. Tapi karena sekarang ceritanya udah beda, makanya aku berani ngomong cinta ke kamu."

"Istrinya Pak Adnan, gimana?. Pak Adnan masih punya istri 'kan? Ada anak juga?. Beberapa kali aku pernah melihatnya di kantor."

Mata Dahlia mengikuti pergerakan Pak Adnan yang duduk di sofa, dia menempelkan punggungnya di dinding dekat jendela.

"Saat dia mengunjungiku ke kantor bersama anak-anak, pengadilan udah memutus kami berpisah. Di saat aku merasa semua baik-baik aja, kami harmonis, sudah ada anak-anak yang melengkapi kebahagiaan kami. Di situ istriku menggugat cerai untuk alasan yang nggak aku tahu tanpa menuntut harta apa pun. Nggak ada orang ketiga baik itu dari pihakku atau pihak istriku waktu itu. Aku udah bertanya ke sana ke sini tapi nggak ada yang tahu. Bisa apa aku selain menerima untuk berpisah. Anak-anak memilih untuk tinggal mamanya, membiarkan aku sendiri di sini. Tapi hubungan kami sampai sekarang masih berjalan baik-baik aja."

"Udah coba rujuk?."

"Udah, saat aku masih sangat mencintainya. Tapi, mantan istri nggak mau padahal masih sendiri. Sampai aku bertemu kamu, mulai merasakan lagi apa yang tadinya aku pikir nggak akan merasakannya lagi selain kepada mantan istriku. Tapi rupanya aku salah, nyatanya aku merasakan jatuh cinta lagi sama kamu tapi sayangnya statusmu sebagai istri."

Dahlia hanya diam, namun perlahan senyumnya kembali hadir. Dia tidak menyangka ada cinta lain di saat cinta suaminya berkhianat.

"Kamu pasti senang, ya?."

"Jangan terlalu tahu apa, Pak, aku jadi malu."

Dahlia menutupi wajah merahnya dengan kedua tangannya. Kesempatan itu digunakan Pak Adnan untuk berjalan mendekat.

Dahlia tidak bisa ke mana-mana saat membuka mata dan mendapati Pak Adnan sudah sangat dekat dengannya.

"Mau pulang apa tetap menginap di sini?."

Napasnya menyapu wajah Dahlia.

"Besok aku bolos, boleh?."

Lirih Dahlia karena jarak di antara mereka semakin dekat.

"Berarti menginap di sini?."

"Iya, aku masih ingin di sini."

"Oke."

Keduanya berbicara dengan nada lirih, tawa pun mulai terdengar lucu. Mereka di sini bersama tanpa hubungan dan status hanya perasaan Pak Adnan yang sudah nyata untuk Dahlia.

Malam semakin larut, Dahlia tidak ingin tidur, dia duduk di hamparan rumput yang luar Villa. Sebuah halaman yang sangat luas. Dia merebahkan tubuhnya, menatap ke langit di mana di sana dihiasi dengan cahaya bintang.

Terasa sangat damai, pikirannya bisa jernih dan dia memikirkan hubungannya dengan Ryan. Status janda yang sangat ditakutinya, dia melihat begitu betapa hancurnya hidup mama dan kakaknya karena perceraian yang disebabkan oleh pihak lain yang hadir dalam hidup pasangan mereka.

Jatuh bangun mama dan kakaknya dalam menjalani hidup setiap detiknya untuk tetap bertahan, cemoohan orang terhadap status janda cukup mengerikan di lingkungan mama sehingga mereka memutuskan pindah ke sini dan memulai semuanya di sini dari nol.

Mereka bahu membahu saling menguatkan untuk bisa keluar dan sembuh dari trauma yang tidak mudah dan luka itu sampai sekarang masih ada dalam hati mereka yang perlahan mereka terima dengan lapang dada.

Apa iya dia juga harus menjanda?.

Bintang yang banyak di atas langit tak lagi tampak dalam jangkauan mata Dahlia. Ada sebuah wajah di atas yang menutupnya. Mata mereka bertemu sangat intens.

"Apa yang kamu lihat?."

"Wajah Pak Adnan yang tampan dan berkharisma."

"Kamu menyukainya?."

"Mengagumi kerja keras, disiplin, cara kerja dan betapa baiknya Pak Adnan di mata para pegawai. Aku dan yang lain sangat beruntung memiliki atasan seperti Pak Adnan."

"Aku mau dicintai olehmu, Ia."

Dahlia terdiam, menangkap napas Pak Adnan yang mulai berat. Sesekali dia menatap bibir merah Pak Adnan yang semakin dekat bibirnya.

"Ia."

"Apa?."

Pak Adnan tidak bisa lepas dari tubuh Dahlia, selalu menatap setiap detail apa yang ada pada Dahlia.

"Boleh aku menciummu?."

"Selain bibir dan beberapa titik sensitif."

Kemudian Pak Adnan tersenyum lalu mendaratkan bibirnya pada ujung dagu Dahlia cukup lama di sana lalu pindah pada kening Dahlia.

Pak Adnan dan Dahlia sama-sama bangun lalu duduk bersebelahan menatap ke bawah di mana masih ada banyak aktivitas orang-orang.

"Boleh aku peluk?."

Dahlia tidak menjawab, kepalanya langsung bersandar pada lengan Pak Adnan dan laki-laki itu memeluknya.

*

"Kamu nggak curiga istrimu nggak pulang? Padahal nggak pernah loh begini."

"Aku sudah mengizinkan, ma, Dahlia pergi sama-sama teman-temannya."

"Kamu nggak ngantor?."

"Ini baru mau jalan."

Mama memicingkan mata melihat penampilan santai namun rapi dan sangat wangi putranya.

"Mau ngantor apa mau ketemu perempuan?."

"Ma..."

"Aku mamamu, Ryan, nggak ada yang nggak mama tahu. Benar ada perempuan lain selain Dahlia?."

"Nggak, ma."

Ryan berusaha meyakinkan mamanya dengan tetap berusaha santai.

"Kalau pun iya tenang aja, mama akan tutup mulut asal kamu bahagia."

Ternyata mamanya malah mendukung perbuatannya.

"Tolong rahasiakan dari Dahlia, ya, ma?. Aku sih nggak serius dengan perempuan ini, hanya iseng aja."

Mama tersenyum.

"Semua laki-laki sama aja, yang penting kamu nggak lupa sama jatah tutup mulut mama."

"Beres, ma. Aku pergi, ma."

"Iya, seneng-seneng aja sepuasnya mumpung nggak ada Dahlia."

"Mama bisa aja."

Ryan pergi meninggalkan rumah.

1
Yanti Gunawan
gak adil banget buat dahlia😫😭😭
Siti Sarifah
keren
Siti Sarifah
ceritanya selalu bagus, gk pernah gagal untuk membuat pembaca ikut larut dlm emosi dr cerita
Linda Yohana
Bagus novelnya
Yanti Gunawan
mbok yo d banyakin thor thor jangan pelit" up😫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!