NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Satu

Ruang Sample selalu punya ritmenya sendiri. Ruangan itu tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat sunyi, selalu ada suara halus: dengung mesin, gesekan kain, atau kertas yang dibalik pelan.

Felicia duduk di meja paling ujung, dekat jendela kecil yang menghadap ke parkiran belakang. Posisinya tidak strategis, tapi ia menyukainya. Tidak terlalu terlihat, tapi cukup dekat dengan semua orang.

Tiga bulan bekerja di sini mengajarinya satu hal: di ruang Sample, kesalahan kecil bisa menjalar ke ratusan potong pakaian.

"Semua, kumpul ya." Suara itu menghentikan aktivitas ruangan.

Pak Lee berdiri di dekat meja potong kain. Jasnya rapi, wajahnya ramah seperti biasa, tapi ada garis lelah yang tidak biasa di sekitar matanya.

Felicia refleks menutup laptop. Maria berdiri di sampingnya. Beberapa staff lain ikut mendekat. Para penjahit juga ikut berdiri dan merapat ke meja potong yang memang sering di alih fungsikan menjadi meja rapat dadakan.

Pak Lee tersenyum kecil. "Sebelumnya, saya mau bilang terimakasih sama kalian semua. Kalian sudah membantu saya bekerja selama ini." katanya. "Hari ini, saya hendak pamit."

Kata pamit membuat Felicia menegakkan punggung. Ia baru saja berhasil beradaptasi dengan manajernya itu beberapa bulan lalu, hari ini ia sudah berpamitan.

"Saya dipindahkan ke kantor pusat," lanjut Pak Lee. "Mulai minggu depan."

Beberapa orang mengangguk pelan. Tidak ada yang terkejut karena rotasi manajemen adalah hal biasa. Tapi tetap saja, kehilangan sosok yang familiar selalu meninggalkan ruang kosong.

Terlebih, sejauh ini Pak Lee adalah manajer yang selalu ramah, mau berdiskusi jika ada masalah, dan jarang sekali menaikan nada bicara saat salah satu staff nya berbuat salah. Pria itu, selalu bisa menyelesaikan masalah dengan tenang.

"Sebelum saya pergi," Pak Lee menoleh ke pintu, "saya mau kenalin orang yang akan pegang Sample kedepannya."

Pintu besi itu terbuka. Felicia mendongak bersama yang lain. Seseorang masuk dengan langkah tenang. Tubuhnya besar, bahunya lebar, tinggi badannya langsung terasa berbeda di ruangan yang biasa diisi orang-orang yang sibuk menunduk di atas meja. Rambut hitamnya rapi. Wajahnya bersih, garis rahangnya tegas, ekspresinya tenang tapi tidak dingin, tetapi juga tidak berusaha ramah.

"Ini Pak James Han," kata Pak Lee. "Kalian bisa memanggilnya Pak Han."

Pak Han menunduk sedikit. "Selamat pagi."

Bahasa Indonesianya lumayan jelas, hanya ada aksen tipis yang hanya terdengar jika diperhatikan terlalu dalam.

"Beliau sebelumnya Manajer Pemasaran," lanjut Pak Lee. "Mulai hari ini, Pak Han juga akan pegang Sample."

Beberapa staf saling melirik. Beban ganda. Bukan hal yang mudah, tentu saja.

Pak Han berdiri dengan kedua tangan di depan tubuhnya. Tatapannya menyapu ruangan-perlahan, teliti. Bukan seperti orang yang sedang menilai orang, tapi seperti seseorang yang sedang membaca sistem.

Saat matanya jatuh ke Felicia, ia berhenti beberapa saat. Felicia sedang mencatat sesuatu di kertas. Alisnya sedikit berkerut, fokus penuh. Ia tidak menyadari tatapan itu.

Pak Han mengingat satu hal dengan cepat: meja paling ujung, karyawan paling muda, dan tubuhnya yang paling mungil.

"Seperti yang kalian tahu, Divisi kita ini sering ada masalah sama Finishing," kata Pak Lee. "Makanya, Saya titip Pak Han ke kalian. Dibantu, dijaga, biar aman."

Pak Han mengangguk. Sementara staff lain tertawa pelan karena nada bicara Pak Lee yang juga sama. Bercanda, tetapi juga serius.

"Saya nggak suka banyak berdebat," katanya. "Tapi, bukan berarti diam saja jika ada yang menyalahkan." Suaranya rendah. Stabil.

"Untuk itu, kalau ada kendala," lanjutnya, "lapor langsung. Jangan ditahan. Kalian bisa bicara lewat supervisor atau Leader kalian."

Tatapannya kembali menyapu ruangan-dan sekali lagi, berhenti di Felicia. Kali ini lebih jelas. Felicia mengangkat kepala, refleks. Mata mereka bertemu. Pak Han tidak tersenyum. Tidak juga mengalihkan pandangan dengan canggung.

Ia hanya mengangguk kecil-seolah mengakui keberadaan Felicia. Setelah rapat selesai, ruangan kembali bergerak. Tapi ritmenya berubah. Ada rasa diam yang baru, kehati-hatian yang belum terbiasa.

Pak Lee menghampiri Maria dan Felicia.

"Felicia," katanya, "terima kasih ya. Kerja kamu bagus. Semua arahan saya, kamu cepat pahamnya. Mulai hari ini, kamu kerja sama Pak Han."

Felicia tersenyum kecil. "Sama-sama, Sir. Pak Lee juga selalu sangat memudahkan saya dalam pekerjaan."

Pak Lee menoleh ke Pak Han.

"Felicia ini asisten Maria. Baru kerja tiga bulan. Paling muda, tapi paling cekatan."

Pak Han menatap Felicia sekali lagi. Kali ini lebih lama. "Iya, saya bisa lihat," katanya singkat.

Felicia sedikit terkejut. "Terima kasih, Sir."

Pak Lee akhirnya meninggalkan ruang Sample, membiarkan Pak Han lebih lama diruangan tersebut. Suasana terasa lebih luas-dan lebih asing. Beberapa menit kemudian, Pak Han berdiri di dekat meja Maria.

Maria," suara Pak Han memecah keheningan kecil di antara mereka. "Berapa banyak sample yang biasanya keluar dalam satu siklus produksi di sini?"

Maria, yang sudah belasan tahun menghadapi berbagai macam karakter atasan, menyesuaikan kacamatanya. Ia tidak terlihat gugup, tapi nada bicaranya menjadi lebih formal dari biasanya. "Tergantung permintaan client, Sir. Biasanya setiap model akan dibuat lima sampai sepuluh potong pakaian."

Pak Han mengangguk. Matanya beralih ke Felicia yang berdiri sedikit di belakang Maria. "Dan asistenmu yang bertugas mencatat alurnya?"

"Betul, Pak. Felicia yang pegang log book dan koordinasi dengan bagian pemotongan," jawab Maria sambil memberi isyarat agar Felicia mendekat.

Felicia melangkah maju, membawa buku catatannya seperti sebuah perisai. "Saya sudah merapikan laporan mingguan untuk bulan ini, Pak Han. Jika Bapak perlu meninjau beban kerja tim penjahit, semuanya ada di sini."

Pak Han menerima buku itu. Saat ujung jarinya bersentuhan dengan sampul buku, Felicia merasakan aura dominan yang dibawa pria itu benar-benar menekan ruang geraknya. Pak Han membolak-balik halaman dengan cepat namun teliti.

"Tulisanmu rapi," komentar Pak Han tanpa mengangkat wajah. "Tapi saya lihat ada beberapa catatan merah di bagian Finishing. Kenapa?"

Felicia menelan ludah. Ia tidak menyangka Pak Han akan langsung menangkap detail kecil itu dalam hitungan detik. "Itu... kendala kancing yang sering lepas saat quality control, Pak. Saya menandainya supaya Mbak Maria bisa bicara dengan client."

Pak Han akhirnya menutup buku itu dan menatap Felicia tepat di manik matanya. Tatapan yang intens, seolah ia bisa melihat melampaui kertas-kertas tersebut.

"Mulai sekarang, Felicia, kalau ada catatan merah lagi, jangan tunggu sampai laporan mingguan," kata Pak Han dengan nada rendah yang tidak terbantahkan. "Lapor ke saya dalam waktu dua puluh empat jam setelah masalah ditemukan. Saya tidak suka kejutan di akhir pekan."

Maria berdehem pelan, mencoba mencairkan suasana. "Tentu, Sir. Kami akan sesuaikan alurnya. Felicia memang sangat teliti, dia tidak akan melewatkan satu kancing pun."

Pak Han hanya memberikan anggukan kecil—setengah apresiasi, setengah peringatan. Ia mengembalikan buku itu ke tangan Felicia. "Bagus. Saya di ruang sebelah kalau kalian butuh keputusan cepat. Maria, saya minta daftar vendor kain di meja saya sebelum jam makan siang."

Setelah Pak Han berlalu dengan langkahnya yang tegap, Felicia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan.

"Galak ya, Mbak?" bisik Felicia pelan, matanya masih mengikuti punggung Pak Han yang menghilang di balik pintu kaca.

Maria terkekeh tipis sambil menepuk bahu Felicia. "Bukan galak, Felicia. Dia orang Pemasaran. Buat dia, satu detik keterlambatan di sini berarti kerugian besar di toko. Siapin mental kamu, ritme kita baru saja berubah dari jalan santai ke lari maraton."

Felicia melihat kembali buku catatannya. Di halaman yang tadi dibuka Pak Han, ada sedikit bekas tekanan ibu jari pria itu. Ia tahu, mulai hari ini, meja paling ujung yang sunyi itu tidak akan pernah terasa sama lagi.

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!