Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Perduli Dengan Status
"dan ingat, aku tegaskan kamu mengungkit masalalu tanpa sadar kamu menuduhku dan membandingkan dengan Rhea, ingat kak, Aku dan Rhe sama sekali tidak satu sekolah." Ucap Aresha membantah sindiran Reno.
Kata-kata itu keluar tanpa teriakan, justru dengan ketenangan yang menyakitkan. Reno mengeraskan rahangnya. Baginya, ucapan Aresha terdengar seperti pembelaan kosong yang tak layak didengar.
" Aresha kamu sunggu pintar membalikan fakta, tutup mulutmu!" Bentak Reno masih membela Rhea.
Bentakan itu menggema, membuat suasana semakin tegang. Aresha tidak mundur, meski hatinya terasa seperti diremas. Reno melanjutkan, suaranya sarat keyakinan seolah apa yang dia katakan adalah kebenaran mutlak.
"Sekolah kita diatur oleh mama dan papa kita, SMA Kensington Royal Academy." Tambah reno.
Aresha terdiam. dia tidak membantah, tidak pula membela diri. Tatapannya hanya tertuju pada Reno, penuh kelelahan. Hingga akhirnya Reno menyadari sesuatu yang sejak tadi luput dari perhatiannya. Matanya tertuju pada pakaian Aresha.
"Tunggu kenapa seragam sekolahmu tidak sama?" Tanya Reno menghentikan bicaranya melihat baju olahraga yang dikenakan Aresha.
Pertanyaan itu membuat Aresha menghela napas panjang. Ingatan lama kembali menghantam benaknya.
"Ya ini adalah SMA negeri 1, Apakah kamu lupa aku tidak pernah sarapan deganmu, karena di SMA harus berangkat jam 6 pagi untuk pembelajaran." Jawab Aresha.
Nada suaranya datar, namun sangat terluka. Reno terdiam, tetapi Aresha melanjutkan, seolah hatinya sudah terlalu penuh untuk terus dipendam.
" Aku harus berangkat setelah subuh, naik sepeda 2 jam ke sekolah, setelah sekolah dimalam hari aku ahirnya sampe rumah." Tambah Aresha.
Mengingat waktu itu, hujan turun deras dia hanya mengendarai sepeda dengan baju basah kuyup ahirnya sampe kerumah, saat sampai ruang makan sudah tidak ada orang dan hanya tersisa makanan bekas, tidak ada nasi yang masih utuh hanya nasi sisa seserang yang tidak habis, karena lapar Aresha tetap makan nasi sisa itu untuk menganjal perutnya.
Kenangan itu hadir begitu jelas. Jalanan basah, langit gelap, dan sepeda tua yang dia kayuh dalam diam. Tubuhnya menggigil, bukan hanya karena dingin, tapi juga karena lelah yang tak pernah dipedulikan siapa pun. Meja makan kosong menjadi pemandangan yang biasa, begitu juga rasa lapar yang harus dia tahan.
" Saat aku sampe rumah kalian sudah selesai makan, aku hanya bisa makan, makanan sia kalian. "
Suaranya sedikit bergetar. Mama yang sejak tadi terdiam akhirnya bangkit, wajahnya pucat oleh rasa bersalah yang datang terlambat.
"Sayang, mama tidak tahu kalau kamu telah begitu menderita." Mama berusaha mendekati Aresha.
Reno tak mampu berkata apa-apa, dia kehilangan pembelaan
Mama menggenggam tangan Aresha dengan gemetar.
"Mama salah." Namun Aresha perlahan melepaskan genggaman itu. Ada batas yang tak bisa lagi dilampaui.
"Nyonya Linda, tak perlu kasian kepadaku, keluarga Hartono telah membesarkanku, saya telah menerima semuanya, saya minta maaf.' Ucap Aresha menahan air mata kemarahan.
Mama melihat Aresha kakinya serasa lemas, Rhea dengan sigap menangkap Mama dengan muka bersedih."
Dengan wajah penuh duka, Rhea menunduk, air mata mengalir di pipinya.
"Ini slahku, aku seharusnya tidak kembali untuk menemui keluargaku." Ucap Rhea kembali mencari perhatian.
Mama refleks memegang tangan Rhea, seolah menolak kemungkinan kehilangan putrinya lagi.
"Seharusnya aku tetap tinggal di panti asuhan, dengan ini aku tidak akan mengambil semuanya dari kakak." Tambah Rhea semakin membuat suasana dia adalah korbanya, berbicara dengan berlinangan air mata.
Aresha hanya diam. Dia tahu, sekali lagi perasaannya akan tersisih. Namun tiba-tiba Reno bersuara dengan nada tinggi.
"Omong kosong" Reno bebicara dengan nada tinggi.
"Kamu adalah anak kandung orang tua kita, adiku, Bagaimana mungkin kamu tidak kembali." Reno mendekati Rhea mengelus pipinya dengan lembut.
Sentuhan itu begitu lembut, penuh perlindungan. Ruangan kembali sunyi. Aresha berdiri di tempatnya, menyadari satu hal di rumah ini, dia selalu belajar bertahan sendirian.
Reno kembali menatap Aresha dengan penuh kebencin. Tatapan itu tajam, dingin, dan tanpa sisa kasih. Seolah semua kenangan masa kecil yang pernah mereka miliki telah dihapus begitu saja. Aresha membalas tatapan itu tanpa gentar, meski hatinya terasa seperti diremas perlahan.
"Jika keluarga hartono hanya bisa memiliki satu anak perempuan kandung, aku tetap akan memilih Rhea." Ucap Reno.
Kalimat itu jatuh seperti vonis. Tidak hanya menyakitkan, tetapi juga mematahkan harapan terakhir yang diam-diam masih tersisa di hati Aresha. Namun dia tidak menunduk, tidak pula menangis. Da justru melangkah maju setengah langkah, menatap Reno dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka.
"Baiklah, kenapa kamu membiarkan orang luar seperti aku mengikuti pesta ini." Tanya Aresha juga menatapa Reno.
Ruang pesta terasa semakin sunyi. Lampu-lampu yang semula terang kini seperti memudar, tergantikan oleh ketegangan yang menggantung di udara. Aresha menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar namun tegas, seolah semua beban di dadanya tumpah bersamaan.
"Mari rayakan perta saudara kandungmu, aku sekarang sudah tidak perduli lagi dengan identitas putri keluarga Hartono lagi, aku hanya ingin kebenaran 4 tahun lalu terungkap, kebenaran mengapa aku dijebak dan dipenjara." Ucap Aresha menahan air mata kesakitan dengan nada tinggi.
Suara itu menggema, membuat beberapa tamu terdiam dan saling pandang. Luka empat tahun lalu yang selama ini disembunyikan, kini diungkap di hadapan semua orang. Aresha mengepalkan tangannya, menahan air mata yang hampir jatuh.
Dari belakang Aresha berjalan seorang laki - laki dengan kacamata, dia berjalan tegap sembari membenarkan kacamatanya. Kehadirannya mengubah suasana. Langkahnya mantap, wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam memperhatikan Reno.
"Beraninya kamu." Teriak Reno mengangkat tanganya bersiap memukul Aresha dengan keras.
Gerakan itu begitu cepat, penuh amarah yang tak lagi terkendali. Namun sebelum tangan Reno sempat menyentuh Aresha, seseorang menahannya.
"Reno, apakah kamu tidak bisa mengataknya dengan baik saja?" Tanya Delon memegang dan menghalagi tamparan Reno.
Pegangan Delon kuat, menahan Reno di tempat. Udara terasa membeku. Reno menoleh dengan napas memburu, jelas tidak terima dihalangi.
"Hah.." Reno menarik tanganya dengan kesal.
Delon kemudian menoleh ke arah Aresha. Ekspresinya berubah, jauh lebih lembut. dia tersenyum, senyum yang hangat dan menenangkan, sangat kontras dengan suasana yang kacau.
Delon menoleh ke arah Aresha memberikan senyum termanisnya. Arsesha melihat dengan tatapan dingin.
"Aresha kamu sudah dipulangkan lebih awal?" Tanya Delon.
Pertanyaan itu sederhana, namun perhatian Delon terasa seperti pelindung tipis di tengah badai. Delon meraih tangan Aresha mengenggamnya dengan erat. Sentuhan itu membuat beberapa pasang mata terbelalak, termasuk Reno dan Rhea.
"Delon jangan lupa kamu adalah tunangan Rhea, jika dia membeci orang lain maka aku akan lebih membencinya." Ucap Reno dengan nada tinggi.
Kata-kata itu kembali memanaskan suasana. Aresha menarik tangannya. Di balik ketenangan itu, hatinya bergejolak antara luka lama, kebenaran yang belum terungkap, dan perasaan asing yang perlahan muncul di tengah kekacauan.