NovelToon NovelToon
Pesona Adik Angkat

Pesona Adik Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: bundaAma

Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.

Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.

Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.

Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.

Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps-12

Malam harinya pukul 3 dini hari Hajeera keluar dari dalam sebuah kamar hotel, ia tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, niat hati tidak ingin pulang namun panggilan masuk di ponselnya tidak berhenti sejak jam 9 malam.

"Aishhh... Sial!"

Bu Selyn dan pak Benedick terus menghubunginya memintanya agar cepat pulang, karena jam yang izin yang disepakati mereka tadi sore telah terlewat, mereka mengizinkan Hajeera keluar rumah untuk makan makan hanya sampai jam 9 malam saja, namun Hajeera tak kunjung pulang hingga menyebabkan mereka sangat khawatir.

"Sayang bagaimana ini, Hajeera masih belum pulang juga..." tanya Bu Selyn mondar mandir di ruang tamu menunggu kepulangan Hajeera yang tak kunjung datang, Hajeera hanya menjawab jika ia akan menginap di sebuah Hotel melalui sebuah pesan.

"Tidurlah, nanti pagi Hajeera pasti pulang, dia tidak mungkin meninggalkan sekolahnya..." ujar pak Benedick mencoba membujuk sang istri agar mau tidur terlebih dahulu.

Bu Selyn berdecak lalu menjawab ucapan suaminya dengan nada sinis.

"Kamu pikir seorang ibu bisa tidur saat anak perempuan nya mengatakan akan tidur di hotel? Hah?! Ibu mana yang bisa tenang?" tanya Bu Selyn dengan suara yang sedikit meninggi.

"Pelankanlah suaramu, jika tidak Aaron pasti tau jika Hajeera masih di luar rumah.."

"Lalu, bagaimana dengan penilaian nanti pada Hajeera bukankah Aaron akan semakin membenci Hajeera?" ucap pak Benedict dengan suara pelan agar tak terdengar oleh orang orang rumah, di tambah posisi mereka yang saat ini tengah menunggu Hajeera di ruang tamu.

Tukkk...Tukkk...Tukkk

Suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga satu persatu, pak Benedict menarik nafasnya dengan berat saat melihat tubuh putranya menuruni anak tangga satu persatu, matanya menangkap dua sosok dewasa yang tengah berdiri mondar mandir di ruang tamu. Ia berjalan menghampiri dua sosok itu dengan perlahan.

"Apakah putri tercinta kalian belum pulang?" tanya Aaron yakni Demian dengan nada suara halus namun menyindir.

Bu Selyn mendelik mendengar ucapan tajam putrinya, "Harus nya kamu khawatir adikmu masih belum pulang, bukan malah menyindir pada orang tuamu seperti itu..."

"Ckkk... Mamah, mamah, di usianya yang sudah duduk di bangku kelas 3 SMA, sudah masanya living together bersama pacar, jadi mamah jangan pura pura buta cuman karena Hajeera anak tercinta mamah..." ucap Aaron yang membuat dada Bu Selyn merasakan sesak yang luar biasa.

"Ingat yah Aaron, putri saya tidak seperti yang kamu bayangkan, hanya karena saya gagal mendidik kalian berdua bukan berarti Hajeera sama binalnya dengan kelakuan kalian!" Bu Selyn berkata dengan menggebu gebu seolah ia tengah bertempur dan beradu argument di forum nasional, matanya tajam menusuk bola mata Demian yang menatap ibunya dengan santai.

"Ckkk... Kita lihat saja, sebrengsek apa anak yang kalian banggakan..." ucap Demian lalu berbalik melangkah ke arah dapur untuk mengambil air minumnya.

"Yang pastinya putriku pasti bisa menjaga Marwah dan martabatnya..." ujar Bu Selyn penuh percaya diri dengan suara yang sedikit keras.

"Bagaimana tidak bisa menjaga Marwah dan martabatnya, orang siapa sih yang mau ngeraba ngeraba wanita berwajah jelek seperti nya?" ejek Demian dengan suara cengengesan yang langsung membuat amarah Bu Selyn bergejolak.

"Demian!!" bukan Bu Selyn yang berteriak melainkan pak Benedict yang sudah kehilangan kesabaran nya.

"Jangan pernah mengulangi ucapan mu lagi, itu tidak mencerminkan pria berkelas sama sekali,..." ucap pak Benedick dengan suara bulat nya yang tegas.

Demian hanya mengedikkan bahunya, lalu kembali naik ke lantai atas dengan botol minum di kedua tangannya.

Bu Selyn duduk di kursi dekatnya ia menekankan sikutnya ke atas paha dengan tangan yang memijat lembut pangkal hidung nya saat kepalanya berdenyut.

Pak Benedict mencoba mengusap usap tubuh sang istri berharap istrinya kembali tenang.

Tak lama suara mobil berhenti tepat di pekarangan rumah mereka, dengan langkah cepat dan kesadaran penuh Bu Selyn berlari ke arah jendela melihat siapa gerangan yang datang ke rumahnya.

Wajah nya berbinar binar saat melihat sosok yang amat sangat di nantikan nya, dengan cepat ia membuka pintu rumah seraya menekan remot kontrol untuk membuka gerbang rumah.

Hajeera masuk ke dalam rumah setelah menutup kembali pintu gerbang, ia menutup kepalanya dengan hodie berwarna hijau dan celana panjang training. Ia berjalan cepat menghampiri sang ibu yang menunggu nya di depan rumah.

"Maaf..." sebuah kata singkat yang keluar dari mulut Hajeera seraya memeluk erat tubuh ibu angkatnya yang tengah menanti kedatangannya.

"Its okey, anak muda memang seperti ini.. Hanya saja kita harus tetap menjaga Marwah kita sebagai seorang perempuan, terlebih lagi kita adalah seorang muslim yang harus taat peraturan agama..."

Bu Selyn tidak menghakimi Hajeera yang baru pulang, ia mencoba memaklumi sifat pubertas putrinya yang sedang masanya memberontak.

"Pah..." ucap Hajeera berlari ke arah ayah angkatnya memeluknya dengan erat dan tak lupa mengucapkan maaf karena dirinya telat pulang.

"Maaf pak, aku pulang terlambat.."

"Its okey, apakah kamu sudah makan?" tanya pak Benedict yang mengkhawatirkan perut putrinya.

"Perutku masih kenyang pah,.." jawab Hajeera tersenyum seraya mengusap usap perutnya sebagai isyarat jika perutnya telah kenyang.

"Baiklah putri papah pasti sudah makan, sekarang tidurlah..." ucap pak Benedict memboyong putrinya agar segera naik ke atas tangga.

"Apa kalian tidak tidur?" tanya Hajeera saat melihat kelopak mata mereka yang menahan kantuk.

Bu Selyn dan pak Benedict tidak menjawab sama sekali, mereka hanya tersenyum tipis lalu tangan Bu Selyn mengelus pucuk kepala Hajeera dengan lembut seraya berkata.

"Apakah ada seorang ibu yang bisa tidur saat putrinya tidak tahu di mana?" tanya Bu Selyn dengan suara lembut yang membuat hati Hajeera sedikit tercubit.

"Tidurlah, aku akan mengantar kalian ke kamar ...." ucap Hajeera merangkul pinggang kedua orang tuanya seraya memboyong mereka ke arah kamar.

Merekapun tertawa renyah dengan suara yang di tahan, tak ada hal yang palsu mereka terlihat alami dalam mencintai Hajeera putri angkatnya.

Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dengan mata yang berkobar api kecemburuan.

Sedari dulu orang tua angkatnya tak pernah memperlakukan nya begitu manis seperti pada Hajeera, entah alasannya karena apa padahal ia sudah berusaha menunjukkan kebaikan pada orang tuanya, namun orang tuanya hanya bersikap layaknya orang tua saja tidak lebih.

Sedangkan pada Hajeera mereka memperlakukan Hajeera seperti putri kandung mereka, padahal dahulu kala keluarga Manopo selalu mengutamakan nya ketimbang Hajeera dan selalu berlaku adil dalam memberi apapun pada mereka.

Kedua tangannya mengepal erat menunjukkan jika saat ini dirinya tengah benar benar merasa marah, ia berbalik untuk kembali ke arah kamar miliknya, matanya menatap sejenak pintu kamar berwarna hitam tepat di samping kamar Hajeera, lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya yang cukup jauh dari kamar mereka.

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor
Kanza: terimakasih bunda sudah mau meninggalkan jejak untuk menyemangati saya, dukung terus yah Bun❤️
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up thor
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!