Adven Mahardhika Alkhatiri, seorang lelaki yang penuh rahasia dalam hidupnya. Bahkan keberadaan anaknya juga menjadi rahasia dan teka teki tersendiri untuk keluarga Alkhatiri yang begitu terpandang.
Rahasia besar apakah yang selama ini dia simpan? dan mampukah dia mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya terhadap seorang perempuan bernama Sukma Paramitha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 09 ( Mulai mencari bukti )
Sukma sudah sampai di rumahnya, tapi tulisan 'Rumah ini di Sita' membuatnya terkejut, bahkan kakinya sampai lemas karena menurut perjanjian dengan pihak bank, jatuh tempo pembayaran yang menunggak masih satu bulan lagi, tapi kenapa sudah di lakukan penyitaan.
"Sukma" panggil Leni menghampiri Sukma
"Tante, kenapa tiba tiba rumah Sukma di sita bank Tante?" tanya Sukma menangis di pelukan Leni
"Tante sudah dua hari ini menelpon kamu tapi nomor kamu tidak aktif, karena tiba tiba ada orang orang dengan tubuh kekar memasuki rumah kamu dan mengeluarkan barang barang di rumah kamu, mereka bilang rumah ini di sita karena kamu sudah satu tahun tidak membayar cicilan" ungkap Leni
"Harusnya batasnya satu bulan lagi Tante, tadinya Sukma mau pakai uang gaji Sukma untuk mencicil tunggakan itu" jawab Sukma
"Jangan menangis nak, kamu bisa tinggal dengan Tante, ayo pakaian kamu ada di rumah Tante, semuanya di keluarkan mereka, Tante simpan di kontrakan kosong milik Syahrul karena dia kan sudah pindah ke sini dengan anak anak, kamu bisa tinggal di kontrakan itu, masa sewanya kata Syahrul masih tiga bulan lagi"
Sukma kembali memeluk Leni karena dia merasa beruntung masih memiliki seseorang yang menyayangi dia, bahkan Sukma sudah memikirkan untuk menerima Syahrul kalau Leni masih memintanya menikah dengan Syahrul.
"Terima kasih Tante, Sukma tidak tahu harus bagaimana lagi" ungkap Sukma
"Sudah nak, kamu anak Tante juga kan" bujuk Leni mengusap rambut Sukma yang masih menangis bahkan dia kelelahan karena pulang dengan berjalan kaki sejak siang, tidak ada yang tahu karena saat Adven mengusirnya, dia tidak membawa apapun kecuali tas kerja miliknya dan handphone baru yang di berikan Adven, ada uang di dalam dompetnya, tapi itu di simpan Sukma untuk keperluannya sehari hari, bahkan motornya sekarang tidak ada, dan itu artinya ada tambahan untuk ongkos angkutan umum ke kantor.
"Jangan melamun nak, ayo kamu makan dulu" bujuk Leni dan Sukma mengangguk
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di ruangan kerja rumahnya, Adven terus mengepalkan tangannya karena sesuatu yang dia lihat. Sukma berjalan kaki dari rumahnya sampai ke tempat dia tinggal bahkan sempat berhenti beberapa kali untuk istirahat, hingga sore dia baru sampai di rumahnya yang ternyata sudah di segel pihak bank.
"Pastikan dia tidak bisa tinggal di rumah tetangganya itu" perintah Adven
"Baik tuan besar" jawab beberapa orang yang menyerahkan rekaman Sukma.
"Kalian sudah memulihkan CCTV di rumah selama dua tahun ini? saya perlu melihat rekaman yang setiap kali ingin saya lihat selalu ada alasan rusak" ucap Adven
"Semuanya sudah di pulihkan tuan, dan kami sudah mengirimkan semua yang anda ingin lihat ke handphone anda, petugas keamanan di sini ternyata yang menghapusnya" jawab salah satu dari mereka
"Bukankah dia orang yang di kirim Monica?" tanya Adven
"Benar tuan besar"
"Baik, kalian boleh pergi, untuk malam ini kalian cukup mengawasi orang bernama Syahrul itu"
"Baik tuan"
Adven kembali ke kamarnya, dia melihat Axel sudah tertidur sambil terisak bahkan memeluk pakaian milik Sukma. Adven ikut berbaring di samping Axel tanpa memeluknya, bukan tidak mau tapi dia sedang merasa kecewa pada dirinya sendiri setelah melihat bagaimana Sukma tidak bicara apapun kalau dia tidak memiliki uang untuk menaiki taksi ataupun angkutan umum. air matanya tak terasa mulai jatuh saat melihat cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manis tangan kanannya, sejak dulu ingin dia lepas tapi dia tidak pernah mampu.
"Paramitha, lihat apa yang kamu lakukan pada kami, pertama Axel dan sekarang aku, kamu membuatku menangis juga, kamu tega Paramitha, kamu tega" gumam Adven yang terisak di samping Axel.
Akhirnya dia menangis di kamarnya sampai dia tertidur, dan saat terbangun di pagi hari, Adven merasakan tubuhnya tak bisa bergerak karena di timpa sesuatu, itu adalah Axel yang sekarang berada di atas perutnya, masih tertidur pulas bahkan memeluk leher Adven dengan erat.
"Axel.. bangun ini sudah pukul enam pagi, mandi, Daddy harus ke kantor" ucap Adven
"Axel...."
"Eungh.. sebentar lagi kakak cantik, Axel masih mau bobo" racau Axel mengecup bibir Adven membuat mata Adven terbelalak.
"Tunggu, kamu seperti ini dengan sekertaris Daddy?" tanya Adven langsung bangun sambil mengangkat Axel tinggi.
"Huaaa.... Axel terbang!" pekiknya masih memejamkan matanya.
"Bangun! katakan pada Daddy apa kamu seperti ini juga dengan sekertaris Daddy?" tanya Adven
"Seperti apa dad? Axel pusing, Axel lemas dan demam, Axel butuh kakak cantik" ucap Axel terdengar serak
"Kamu sakit?" tanya Adven menurunkan Axel ke kasurnya lagi dan memegang kening Axel.
"Kamu tidak demam"
"Tapi kepala Axel pusing, Daddy tidak akan mengerti karena Daddy tidak pernah pusing kan" jawab Axel kembali masuk ke dalam selimut Adven
"Pergi ke kamar kamu kalau mau tidur lagi, ini kamar Daddy"
"Axel lemas dad" keluh Axel memelas
Adven berdecak kesal, dia lalu ke kamar mandi dan bersiap untuk ke kantornya, sementara Axel tersenyum tipis karena itu pertama kalinya dia tidur bersama sang ayah dan bisa memeluknya.
"Coba saja kakak cantik ada di sini, hari ini Axel harus bisa ikut Daddy ke kantor karena pasti kakak cantik masuk kerja juga" gumam Axel
"Halo, kamu di mana? kenapa lambat sekali mengangkat panggilan saya!"
Terdengar suara Adven dari dalam walk in closet miliknya, dan Axel yakin kalau Adven sedang menelpon Sukma supaya jangan terlambat ke kantor.
"Dengarkan saya, saya sudah minta orang untuk menjemput kamu ke rumah, hari ini kita ke rumah sakit"
"Jangan potong pembicaraan saya! Axel sakit dan saya mau kamu temani kami ke rumah sakit, sekalian saya mau medical check up kamu yang baru, yang lama itu pasti hanya editan kamu kan!"
"Ya kita lihat saja nanti di rumah sakit"
Suara Adven seperti biasa saat bicara dengan Sukma, selalu terdengar ketus dan sinis, membuat Axel geregetan ingin menggeplak kepala ayahnya itu yang sering tidak bisa lembut pada Sukma.
"Dengan Tante penyihir saja Daddy bisa bersikap lembut, tapi dengan kakak cantik selalu ketus" gerutu Axel
Adven sudah selesai berpakaian, dia kembali duduk di samping Axel yang pura pura tidur sambil membuka isi pesan yang di kirim bodyguardnya, matanya langsung menatap Axel dan sesekali memeriksa luka lebam di tubuh anaknya itu, bahkan memencetnya dan membuat Axel meringis meski masih memejamkan matanya.
"Axel ayo mandi dulu, Daddy sudah siapkan air hangat, kamu akan di periksa dokter, kita ke dokter" bujuk Adven
"Tidak mau dad, Axel tidak mau di suntik" keluh Axel
"Daddy sudah menelepon perempuan itu, dan dia akan menemani kamu" ucap Adven
"Tante penyihir, Axel tambah tidak mau" jawab Axel
"Kakak kamu yang tidak cantik itu, ayo cepat bersiap" balas Adven gemas ingin menjewer telinga anaknya itu.
"Benarkah? baiklah Axel akan segera mandi, Daddy tolong siapkan pakaian Axel, pakai yang warnanya sama dengan Daddy" ucap Axel berbinar dan segera pergi ke kamar mandi Adven.
"Menyiapkan pakaian, aku saja dia yang siapkan, bagaimana aku menyiapkan pakaian untuknya" gumam Adven tapi tetap pergi ke kamar anaknya untuk menyiapkan pakaian Axel.