Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Mobil itu berhenti tepat di depan halaman mansion.
Bobby mematikan mesin, lalu menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan misi paling berat dalam hidupnya, yakni berbelanja popok bersama seorang mafia.
"Kita sampai, Luc. Mau kubantu angkat belanjaan atau bocah itu?" tanya Bobby sambil menoleh ke belakang.
Luca tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menghirup udara malam yang segar untuk menetralisir aroma pesing yang sedari tadi menyiksa hidungnya.
Ia berjalan memutar, lalu membuka pintu tempat Queen berada.
Bocah itu tidak bergerak. Queen tertidur lelap dengan kepala bersandar pada kantong plastik berisi baju kelinci pink. Napasnya teratur, kecil, dan halus.
Wajahnya yang tadi kotor terkena debu kini tampak sedikit lebih bersih di bawah sorotan lampu taman.
Luca terdiam. Ia baru saja hendak menarik kaki bocah itu agar terbangun, namun gerakannya terhenti di udara.
"Menggemaskan sekali pipinya," batin Luca tanpa sadar.
Tatapan dingin Luca perlahan mencair, digantikan oleh sorot mata yang sulit diartikan. Melihat Queen yang tidur meringkuk seperti itu, memori yang sudah lama ia kunci rapat-rapat di sudut otaknya mendadak terbuka.
Bayangan seorang gadis kecil dengan rambut dikuncir dua dan pipi yang sama gembulnya melintas.
Lily...
Saudara kembar Luca yang kini berada di luar negeri. Dulu, Lily juga memiliki kebiasaan tidur yang sama, selalu memeluk apa pun yang ada di dekatnya dan memiliki pipi yang seolah menantang siapa pun untuk mencubitnya.
"Luc? Kenapa melamun? Sedang menghitung berapa banyak bakteri di jok itu?" suara Bobby memecah keheningan.
Luca tidak merespon ejekan Bobby. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke dalam mobil. Tiba-tiba, bibir mungil Queen bergumam dalam tidurnya.
"Jangan... jangan buang Queen..." bisik bocah itu lirih dengan suara parau yang terdengar sangat rapuh.
Bersamaan dengan gumaman itu, tangan mungil Queen bergerak ke atas, meraba udara sebelum akhirnya telapak tangannya yang empuk menempel tepat di pipi Luca.
Luca membeku. Tubuhnya menegang seperti tersengat listrik tegangan tinggi. Jika itu adalah musuh yang menyentuhnya, kepala orang itu pasti sudah berlubang dalam hitungan detik.
Jika itu adalah wanita dari klub malam, Luca akan mendorongnya dengan kasar. Tapi ini? Tangan ini terasa hangat, lembut, dan sangat kecil.
"Tangannya.. benar-benar sekecil ini," gumam Luca pelan, hampir tak terdengar.
Anehnya, Luca tidak merasa jijik. Ia justru terpaku selama beberapa detik, membiarkan tangan mungil itu bersandar di wajahnya yang datar.
Ada rasa hangat yang asing menjalar ke dadanya, sebuah perasaan yang sudah lama mati sejak pergian Lily dari hidupnya walau hanya sementara.
Bobby yang melihat pemandangan itu dari pintu kemudi hampir saja menjatuhkan kunci mobilnya.
"Luc? Kau... kau tidak sedang kesurupan, kan? Kenapa kau diam saja disentuh oleh bocah itu?"
Luca pun tersadar. Ia segera menepis tangan Queen dengan gerakan yang tidak kasar. Ia berdehem pelan untuk menutupi kecanggungannya.
"Sudah, biarkan aku yang membawanya," ucap Bobby yang mulai berjalan mendekat.
"Dia pasti berat bagi lengan atletis tuan muda yang hanya terbiasa memegang senapan. Sini, biar aku saja yang membopongnya ke paviliun dan..."
"Jangan sentuh dia!" potong Luca.
Bobby menghentikan langkahnya, matanya mengerjap bingung. "Hah? Maksudnya?"
Tanpa berkata apa-apa lagi, Luca membungkuk dan menyelipkan lengannya di bawah tubuh kecil Queen. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Luca membawanya ke dalam dekapan.
Rahang Bobby jatuh ke bawah. Matanya hampir keluar dari kelopak. "Luc! Kau menggendongnya?Menggunakan tanganmu sendiri?! Tangan yang tadi sore baru saja mematahkan leher informan?!"
"Berisik! Ambil belanjaannya dan cepat masuk," perintah Luca sambil mulai berjalan masuk ke dalam mansion dengan langkah lebar.
Bobby berdiri terpaku di samping mobil, masih mengusap matanya berulang kali.
"Aku pasti sedang bermimpi. Mungkin aku tadi terbentur di bagian kepala dan sekarang sedang berhalusinasi di ambang kematian. Luca Frederick, sang pemuda dingin tak tersentuh menggendong anak kecil?"
Ia melihat bagaimana Luca menyesuaikan posisi gendongannya agar kepala Queen bersandar nyaman di bahunya.
Pemandangan itu nampak begitu aneh. Seorang remaja pembunuh bayaran dengan kaus hitam ketat yang menonjolkan ototnya, menggendong bocah lucu yang sedang mendengkur halus.
"Apa kau mau tidur di luar malam ini?!" teriak Luca dari kejauhan tanpa menoleh.
"Eh? Iya! Tunggu!" Bobby buru-buru menyambar kantong plastik belanjaan dan berlari menyusul. "Luc! Pelan-pelan! Ingat, kau sedang membawa manusia, bukan karung beras! Kepalanya nanti goyang-goyang!"
"Diam atau aku tutup mulutmu dengan stapler!"
Sementara itu, di dalam gendongan Luca, Alena sebenarnya sudah sedikit terbangun karena suara teriakan Bobby. Namun, saat ia merasakan kehangatan dan detak jantung yang stabil dari dada pria yang menggendongnya, ia memutuskan untuk tetap memejamkan mata.
"Bantal ini... lumayan nyaman juga. Wanginya juga enak, seperti campuran parfum mahal dan aroma hutan. Untuk malam ini, aku berikan kau kehormatan untuk menjadi pelayanku," batinnya.
Queen semakin menyusupkan wajahnya ke leher Luca, membuat sang tuan muda kembali menegang, tapi tetap terus berjalan masuk ke dalam mansion yang luas itu.
"Anak ini benar-benar merepotkan," gerutu Luca. Anehnya, sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang bahkan tidak ia sadari sendiri.
Bobby yang berjalan di belakang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat pemandangan langka itu.
"Kiamat sudah dekat. Aku harus segera membuat asuransi jiwa kalau-kalau Luca mendadak jadi pengasuh anak balita."
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌