NovelToon NovelToon
Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Hantu Penunggu Kamar Jenazah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Rumahhantu / Tumbal / Hantu / Mata Batin
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Hujan deras mengguyur atap seng pos keamanan belakang RSU Cakra Buana, menyamarkan suara seretan langkah kaki yang berat di lorong beton. Seorang petugas keamanan muda, dengan napas memburu dan seragam basah oleh keringat dingin, berusaha memutar kunci pintu besi berkarat dengan tangan gemetar.

Dia tidak berani menoleh ke belakang, ke arah kegelapan pekat di mana suara lonceng kaki pengantin terdengar gemerincing, semakin lama semakin mendekat, diiringi aroma melati yang begitu menyengat hingga membuat mual.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Tawaran

Bau formaldehida bercampur dengan aroma tanah basah yang menyengat memenuhi rongga hidung Elara, menciptakan sensasi mual yang sulit ditahan. Dia berdiri kaku di ambang pintu besi berkarat yang memisahkan area steril rumah sakit dengan lorong terlarang di Basement Level 4, tempat di mana waktu seolah berhenti berpuluh tahun yang lalu. Di hadapannya, kegelapan tidak hanya sekadar absennya cahaya, melainkan sebuah entitas hidup yang menggeliat di sudut-sudut ruangan, mengelilingi sosok Pak Darto yang terpojok di dekat dinding berlumut.

Dr. Arisandi berdiri di tengah ruangan dengan jas putih yang tampak terlalu bersih untuk tempat sekotor ini, kontras yang justru membuatnya terlihat semakin mengerikan. Pria itu tidak lagi memancarkan aura seorang dokter yang berdedikasi, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan kelam, dengan mata yang memantulkan kekosongan tanpa dasar. Di belakangnya, bayangan hitam yang tidak memiliki bentuk pasti seolah menjadi ekstensi dari tubuh sang dokter, mencengkeram bahu Pak Darto dengan jari-jari asap yang pekat.

"Kau datang menyerahkan diri, Elara? Atau kau hanya ingin menyaksikan bagaimana sejarah rumah sakit ini menelan korban barunya?" tanya Dr. Arisandi dengan nada yang tenang, namun menusuk hingga ke tulang sumsum.

Elara memaksakan kakinya untuk tidak gemetar, tangannya merogoh ke dalam tas kanvas yang tersampir di bahunya dan menarik keluar sebuah buku tua bersampul kulit hitam yang sudah rapuh. Itu adalah 'Jurnal Cakra', catatan peninggalan pendiri rumah sakit yang berisi daftar perjanjian terlarang antara manusia dan penunggu tanah Arcapura. Dia mengangkat buku itu tinggi-tinggi, sementara tangan kanannya menggenggam sebuah pemantik api yang sudah dinyalakan, lidah apinya menari-nari berbahaya di dekat kertas yang menguning.

"Lepaskan Pak Darto sekarang juga, atau aku akan membakar habis satu-satunya bukti yang menjamin keabadian kalian di tempat ini," ancam Elara dengan suara yang diusahakan terdengar tegas, meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.

Dr. Arisandi terdiam sejenak, senyum sinis yang tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar digantikan oleh tatapan tajam yang penuh perhitungan. Bayangan hitam yang mencengkeram Pak Darto tampak bergetar, seolah merespons ancaman api yang bisa memusnahkan ikatan mistis mereka dengan dunia fisik. Bagi entitas-entitas ini, buku tersebut bukan sekadar kertas, melainkan sebuah jangkar yang menahan mereka agar tidak terseret kembali ke alam kehampaan.

"Kau tidak tahu apa yang kau pegang, Nak. Itu bukan sekadar buku sejarah, itu adalah kunci yang menahan fondasi RSU Cakra Buana agar tidak runtuh menimpa kepala kita semua," ucap Dr. Arisandi, langkah kakinya maju selangkah mendekati Elara dengan gerakan yang terlalu halus untuk ukuran manusia biasa.

Elara tidak mundur, dia justru mendekatkan nyala api itu ke sudut sampul buku hingga bau kulit terbakar mulai tercium samar di udara yang lembap. Tindakan nekat itu membuat bayangan di belakang Arisandi mendesis, suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat yang menyakitkan telinga. Pak Darto, yang wajahnya sudah pucat pasi dan berkeringat dingin, memanfaatkan momen keragu-raguan itu untuk mencoba melepaskan diri, meski tenaganya sudah terkuras habis.

"Aku tidak peduli dengan fondasi bangunan terkutuk ini, Dokter. Yang aku pedulikan adalah nyawa manusia yang masih bernapas, bukan mereka yang sudah seharusnya istirahat di liang lahat," balas Elara dengan napas memburu.

Ketegangan di ruangan itu memuncak ketika lampu neon tua di langit-langit berkedip liar, menciptakan efek stroboskopik yang membuat gerakan bayangan terlihat patah-patah dan mengerikan. Dr. Arisandi mengangkat tangannya, memberikan isyarat kepada bayangan itu untuk menahan diri, menyadari bahwa Elara cukup gila untuk benar-benar membakar artefak tersebut. Ini adalah pertaruhan terbesar yang pernah Elara lakukan, mempertaruhkan satu-satunya alat negosiasi demi keselamatan penjaga kamar jenazah yang tidak bersalah itu.

"Baiklah, kita bermain dengan caramu. Turunkan apinya, dan orang tua itu boleh pergi. Tapi kau harus menyerahkan buku itu kepadaku sebagai gantinya," tawar Dr. Arisandi, suaranya kini terdengar ganda, seolah ada suara lain yang menumpang di pita suaranya.

Elara menggeleng pelan, matanya tetap waspada mengawasi setiap pergerakan kecil di ruangan bawah tanah yang pengap itu. Dia tahu bahwa menyerahkan buku itu sama saja dengan menandatangani surat kematiannya sendiri, karena tanpa buku itu, dia tidak memiliki nilai tawar apa pun di mata sang dokter psikopat. Dia melirik sekilas ke arah Pak Darto, memberikan isyarat mata agar pria tua itu bersiap lari ke arah pintu keluar di belakangnya.

"Biarkan dia keluar dari ruangan ini dan naik ke lantai dasar terlebih dahulu. Baru kita bicara soal buku ini," tuntut Elara, mempertegas posisinya sebagai pemegang kendali situasi.

Dr. Arisandi mendengus kesal, namun dia akhirnya mengangguk kaku, membiarkan cengkeraman bayangan hitam itu terlepas dari tubuh Pak Darto. Pria tua itu langsung ambruk ke lantai, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya yang terasa sesak akibat tekanan energi negatif yang begitu kuat. Dengan sisa tenaga yang ada, Pak Darto merangkak menjauh dari sudut ruangan, matanya menatap Elara dengan campuran rasa terima kasih dan ketakutan yang mendalam.

"Lari, Pak! Jangan menoleh ke belakang, terus lari sampai keluar dari gedung ini!" teriak Elara tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok dokter yang kini menatapnya dengan lapar.

Pak Darto memaksakan dirinya berdiri, kakinya yang gemetar membawanya tertatih-tatih melewati Elara menuju pintu besi yang terbuka. Suara langkah kaki Pak Darto yang menyeret bergema di lorong sunyi, menjauh perlahan namun pasti menuju kebebasan yang semu. Kini, hanya tinggal Elara dan Dr. Arisandi di ruangan yang terasa semakin dingin, seolah suhu udara turun drastis dalam hitungan detik.

"Dia sudah pergi. Sekarang, berikan apa yang menjadi hakku," desis Dr. Arisandi, tangannya terulur meminta dengan paksa.

Elara tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyiratkan bahwa dia tidak pernah berniat menyerahkan buku itu secara utuh. Dia menutup pemantik apinya, namun tangan kirinya dengan cepat merobek salah satu halaman penting yang berisi segel penahan, lalu meremasnya dalam genggaman. Tindakan itu membuat dinding-dinding basement bergetar hebat, debu-debu berjatuhan dari langit-langit seakan gedung tua ini sedang marah.

"Kau pikir aku bodoh? Halaman ini adalah kuncinya, kan? Jika kau menginginkannya, kau harus menangkapku dulu!" seru Elara sambil melempar buku sisa itu ke arah wajah Arisandi.

Refleks sang dokter membuatnya menangkap buku tebal itu, memberikan Elara celah waktu sepersekian detik untuk berbalik dan berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan. Teriakan murka Dr. Arisandi menggema di belakangnya, terdengar bukan seperti teriakan manusia, melainkan auman binatang buas yang terluka. Lorong-lorong RSU Cakra Buana yang berliku kini menjadi lintasan pelarian yang mematikan, di mana setiap tikungan bisa menyembunyikan bahaya baru.

Elara memacu kakinya menyusuri koridor yang dindingnya dipenuhi bercak jamur hitam, napasnya memburu seirama dengan detak jantung yang memukul rongga dada. Suara langkah kaki berat terdengar mengejarnya, disertai dengan suara gesekan di dinding yang menandakan bahwa bayangan hitam itu ikut memburu mangsanya. Dia tidak tahu ke mana kakinya melangkah, yang dia tahu hanyalah dia harus menjauh dari Level 4 sebelum pintu antar dimensi tertutup rapat.

Di ujung lorong, dia melihat cahaya samar dari lampu tangga darurat, sebuah harapan kecil di tengah kegelapan yang mencekik. Namun, tepat ketika dia hendak mencapai pintu tangga, lantai di bawahnya terasa bergelombang seperti cairan, mencoba menahan langkah kakinya. Elara tersandung, jatuh terjerembap ke lantai yang dingin dan basah, sementara hawa dingin yang menusuk mulai merambat naik dari kakinya.

"Sudah kubilang, tidak ada yang bisa lari dari takdir di Cakra Buana!" suara Dr. Arisandi terdengar begitu dekat, seolah berbisik tepat di telinganya.

Elara berbalik telentang, merangkak mundur dengan siku yang lecet, menatap horor pada sosok bayangan yang kini menjulang tinggi menutupi cahaya lampu lorong. Di tangannya, remasan kertas halaman segel itu terasa panas, seolah bereaksi dengan energi jahat yang mendekat. Ini belum berakhir, pikirnya, selama dia masih memegang potongan mantra ini, dia masih memiliki satu kesempatan terakhir untuk membalikkan keadaan.

1
mentari
seru banget ceritanya
chika
seru banget kak
chika
cerita nya bagus
deepey
seruu
deepey
pak Darto jangan jd plot twist y Thor
S. Sage: adalah pokok nya🤭
total 1 replies
deepey
saling support kk 😄
deepey
makin penasaran
deepey
semangat berkarya kaka 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!