Keyla Aluna, siswi kelas XI IPA 2 di SMA Cakrawala Terpadu Surabaya, adalah definisi 'invisible girl'. Selama dua tahun, ia menyimpan perasaan pada Bintang Rigel, kapten basket sekaligus siswa paling populer di sekolah. Karena terlalu takut untuk bicara langsung, Keyla menumpahkan perasaannya melalui surat-surat tulisan tangan yang ia selipkan secara diam-diam di laci meja Bintang, menggunakan nama samaran 'Cassiopeia'.
Masalah muncul ketika Bintang mulai membalas surat-surat tersebut dan merasa jatuh cinta pada sosok Cassiopeia yang cerdas dan puitis. Situasi semakin rumit ketika Vanya, primadona sekolah yang ambisius, mengetahui hal ini dan mengaku sebagai Cassiopeia demi mendapatkan hati Bintang.
Keyla kini terjebak dalam dilema: tetap bersembunyi di balik bayang-bayang demi menjaga harga dirinya, atau memberanikan diri keluar ke cahaya dan memperjuangkan cintanya sebelum Bintang menjadi milik orang yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: MATERI GELAP DAN SINYAL YANG HILANG
Napas Keyla Aluna terdengar seperti desingan mesin uap yang rusak di tengah keheningan kelas XI IPA 1. Lututnya lemas, seolah gravitasi di ruangan itu tiba-tiba meningkat dua kali lipat, memaksanya tetap terpaku di lantai ubin yang dingin di balik meja guru. Ia mendengar langkah kaki Vanya Clarissa menjauh, ketukan *heels* mahalnya yang angkuh perlahan menghilang ditelan koridor sore SMA Cakrawala Terpadu yang mulai sepi.
Surat itu. Surat tentang 'Fondasi Bangunan' yang ia tulis sepenuh hati untuk menguatkan mimpi Bintang menjadi arsitek, kini berada di saku blazer musuhnya.
Keyla meremas rok abu-abunya hingga kusut. Bukan hanya kertas itu yang dicuri, tapi juga kepingan harapan Bintang. Cowok itu sedang menunggu balasan. Bintang butuh seseorang untuk memberitahunya bahwa tidak apa-apa jika ia tidak ingin menjadi dokter seperti keinginan ayahnya. Bintang butuh validasi itu, dan sekarang, ia tidak akan mendapatkannya.
"Lo nggak boleh nangis di sini, Key," bisiknya pada diri sendiri, suaranya bergetar. "Kalau satpam keliling nemuin lo, tamat riwayat lo."
Dengan sisa tenaga yang ada, Keyla merangkak keluar. Ia menyambar tas ranselnya, memastikan lorong kosong, lalu berlari sekencang mungkin menuju gerbang belakang sekolah. Langit Surabaya yang mendung pekat seolah mencerminkan kekacauan di kepalanya.
***
"Jancuk! Sumpah, arek iku ula tenan!"
Dinda menggebrak meja kedai es krim Zangrandi dengan emosi meluap-luap. Beberapa pengunjung menoleh, tapi Dinda tidak peduli. Wajah sahabat Keyla itu memerah padam, kontras dengan *Banana Split* yang mulai meleleh di depannya.
Keyla hanya bisa menunduk, mengaduk-aduk *Tutti Frutti*-nya tanpa selera. "Pelan-pelan, Din. Nanti didenger orang."
"Biarin! Biar satu Surabaya denger kalau Vanya itu maling!" Dinda mendesis, matanya menyala-nyala. "Dia ngambil surat itu sebelum Bintang baca? Berarti sekarang Bintang mikir lo nge-ghosting dia dong?"
Keyla mengangguk lemah. "Itu yang bikin aku takut, Din. Bintang baru aja curhat soal masalah terberatnya. Soal papanya yang maksa dia masuk Kedokteran. Dia pasti ngerasa... ditinggalin. Dia pasti mikir Cassiopeia cuma main-main."
"Terus si Vanya?" Dinda menyipitkan mata. "Dia nggak mungkin cuma nyimpen surat itu buat kenang-kenangan. *That snake is plotting something.*"
Keyla membayangkan senyum miring Vanya tadi sore. "Dia tahu Bintang mau jadi arsitek. Itu rahasia yang cuma Bintang ceritain ke Cassiopeia. Kalau Vanya pakai info itu..."
"Dia bakal pura-pura jadi orang yang ngerti Bintang," potong Dinda cepat. Ia menghela napas kasar, lalu menatap Keyla dengan sorot protektif. "Key, lo harus bales lagi. Lo nggak boleh biarin Bintang nunggu dalam kosong. Tulis surat baru. Malam ini. Besok pagi buta kita selipin lagi. Anggap surat yang dicuri itu... *bad signal*."
"Tapi Vanya tahu, Din. Dia ngawasin."
"Biarin dia ngawasin!" Dinda menyendok es krimnya dengan ganas. "Ini bukan lagi soal lo sembunyi. Ini soal nyelametin Bintang dari manipulasi Vanya. Lo mau Bintang jatuh ke tangan orang yang bahkan nggak peduli sama mimpinya dan cuma peduli sama status kapten basketnya?"
Kata-kata Dinda menohok tepat di ulu hati. Keyla menggeleng pelan.
***
Keesokan harinya, atmosfer di kelas XI IPA 1 terasa lebih dingin dari biasanya, meski AC sentral belum menyala penuh. Bintang Rigel datang lebih awal, pukul 06.30. Matanya yang biasanya berbinar ramah kini terlihat redup, ada lingkaran hitam tipis di bawahnya.
Hal pertama yang ia lakukan saat sampai di mejanya adalah meraba bagian bawah laci.
Kosong.
Bintang terdiam. Tangannya meraba lagi, lebih dalam, memeriksa setiap sudut. Nihil. Tidak ada kertas biru tua. Tidak ada tinta perak. Tidak ada metafora tentang alam semesta yang selalu berhasil menenangkan badai di kepalanya.
Bintang duduk dengan bahu merosot. Ia menatap nanar ke arah jendela. *Apa aku terlalu membebani dia?* batinnya. *Apa ceritaku soal Papa terlalu berat buat cewek seceria Cassiopeia? Atau dia ilfeel karena kapten basket yang kelihatan sempurna ini ternyata cuma anak penurut yang nggak punya tulang punggung?*
Dari balik rak buku di pojok belakang kelas—tempat Keyla pura-pura mencari buku paket tertinggal—Keyla melihat ekspresi kecewa itu. Hatinya mencelos. Rasanya sakit sekali melihat Bintang terluka karena kesalahpahaman yang ia sebabkan.
Keyla ingin sekali lari ke sana, berteriak, *"Aku balas suratmu, Bintang! Aku nulis soal fondasi! Aku dukung kamu jadi arsitek!"* Tapi kakinya terpaku. Ia adalah 'Invisible Girl'. Ia tidak punya hak untuk tiba-tiba muncul di hadapan 'The Prince'.
Saat itulah, bencana kedua datang.
Vanya melenggang masuk ke kelas. Rambutnya di-*blow* sempurna, seragamnya ketat membentuk lekuk tubuh, dan senyumnya... senyum pemangsa. Ia melihat Bintang yang murung, lalu melirik sekilas ke arah Keyla yang bersembunyi di belakang. Tatapan Vanya dingin, seolah berkata: *Tonton ini.*
Vanya berjalan mendekati meja Bintang, tidak dengan gaya centil biasanya, tapi dengan langkah tenang yang terukur. Di tangannya, ia memegang sebuah majalah desain interior mahal, *Architectural Digest*.
"Pagi, Bin," sapa Vanya lembut. Tidak ada nada manja yang dibuat-buat.
Bintang menoleh, sedikit kaget. "Oh. Pagi, Van."
Vanya meletakkan majalah itu di meja Bintang, seolah tidak sengaja. Cover majalah itu menampilkan desain *Fallingwater* karya Frank Lloyd Wright.
"Eh, sori, numpang naruh bentar. Tas gue penuh," kata Vanya santai. Lalu ia berpura-pura mengamati sketsa kasar di buku tulis Bintang yang terbuka—sketsa struktur bangunan yang biasanya Bintang sembunyikan.
"Itu... struktur *cantilever* ya?" tanya Vanya tiba-tiba.
Bintang tersentak. Matanya membulat sempurna. Ia menatap Vanya seolah gadis itu baru saja tumbuh kepala dua. "Lo... tahu *cantilever*?"
Vanya tersenyum tipis, sangat meyakinkan. "Tahu dikit. Bokap gue kan kontraktor, gue sering denger dia ngomongin soal fondasi yang harus kuat nahan beban, kayak... apa ya, kayak filosofi hidup gitu, kan?"
*Deg.*
Keyla menahan napas. Itu kalimat Keyla. Itu kalimat yang ada di surat yang dicuri Vanya. *"Fondasi yang kuat bukan yang kaku, tapi yang mampu mendistribusikan beban."*
Wajah Bintang berubah. Dari murung menjadi... penuh harap. Ia menatap Vanya dengan intensitas baru. "Gue nggak nyangka lo ngerti ginian, Van. Gue pikir lo cuma peduli soal... *cheers*."
"Orang sering salah nilai gue, Bin," Vanya mengangkat bahu, aktingnya layak dapat Piala Oscar. "Sama kayak orang mungkin salah nilai lo. Kelihatannya *perfect*, padahal mungkin lo ngerasa... tertekan?"
Bintang terdiam. Keyla bisa melihat pertahanan cowok itu runtuh perlahan. Vanya menggunakan kata-kata Keyla untuk membobol hati Bintang.
Keyla tidak sanggup melihatnya lagi. Ia menyambar buku paketnya dan bergegas keluar kelas, menahan air mata yang mendesak keluar.
***
Jam istirahat kedua. Rooftop sekolah. Matahari Surabaya sedang terik-teriknya, tapi angin di ketinggian ini membawa sedikit kesejukan. Keyla duduk bersandar pada dinding toren air, buku catatan fisika terbuka di pangkuannya. Di sebelahnya, Dinda sedang mengunyah batagor dengan geram.
"Licik. Sumpah, itu level iblis," komentar Dinda setelah mendengar cerita Keyla. "Dia pake kata-kata lo buat PDKT?"
"Dia ngambil identitas intelektualku, Din," suara Keyla parau. "Bintang tadi ngelihat Vanya kayak dia nemuin oase di padang pasir. Bintang butuh temen ngobrol yang nyambung, dan Vanya nyediain itu pakai contekan dari suratku."
"Terus lo mau nyerah?" Dinda menatap tajam.
Keyla menatap langit biru yang luas. "Enggak. Kalau aku nyerah, Bintang bakal selamanya ketipu. Dia bakal jatuh cinta sama bayangan palsu."
Keyla mengambil pulpen tintanya. Ia membuka halaman baru di buku catatan khusus Cassiopeia. Ia tidak bisa membahas surat 'Fondasi' karena Bintang tidak pernah menerimanya. Ia harus menulis sesuatu yang baru. Sesuatu yang menjelaskan kebisuan ini tanpa membuka kedoknya.
"Materi Gelap," gumam Keyla.
"Hah? Opo iku?" tanya Dinda.
"*Dark Matter*," Keyla mulai menulis, tangannya bergerak lincah di atas kertas hitam baru yang ia beli kemarin. "Di alam semesta, materi gelap itu nggak terlihat, nggak memancarkan cahaya, tapi dia ada. Dia punya gravitasi yang menjaga galaksi tetap utuh. Kalau nggak ada materi gelap, bintang-bintang bakal terlempar berantakan."
Keyla menulis dengan emosi yang meluap:
*Untuk Rigel,*
*Maafkan jeda sunyi di antara kita. Kadang, sinyal radio terganggu oleh badai, atau mungkin terhalang asteroid yang tak diundang. Tapi bukan berarti bintangmu berhenti bersinar.*
*Hari ini aku ingin bercerita tentang Materi Gelap. Dia ada di sekeliling kita, tak terlihat namun terasa. Dia yang menjaga segalanya tetap pada porosnya saat segalanya terasa ingin runtuh. Mungkin mimpimu seperti itu. Orang lain mungkin tidak melihatnya (atau pura-pura mengerti hanya saat menguntungkan mereka), tapi mimpi itu adalah gravitasimu.*
*Jangan biarkan siapapun mendefinisikan orbitmu. Jika kau ingin membangun gedung pencakar langit yang menantang awan, lakukanlah. Struktur terkuat dibangun di atas kejujuran pada diri sendiri, bukan di atas harapan orang lain.*
*Aku masih di sini. Mengamatimu dari jauh. Selalu.*
*- Cassiopeia.*
Keyla melipat surat itu membentuk roket kecil.
"Gimana cara ngasihnya?" tanya Dinda skeptis. "Meja Bintang sekarang zona bahaya. Vanya pasti pasang mata."
Keyla tersenyum getir. "Kita nggak taruh di meja. Bintang ada jadwal latihan basket sore ini kan? Tas olahraganya selalu ditaruh di bangku paling ujung di tribun, di bawah handuknya."
"Resiko tinggi, Nona," Dinda memperingatkan.
"Vanya boleh ambil kata-kataku di dunia nyata," mata Keyla berkilat dengan tekad baru, "tapi dia nggak akan bisa malsuin tulisan tangan dan rasa yang ada di kertas ini. Bintang pasti sadar bedanya."
***
Sore harinya, lapangan indoor SMA Cakrawala riuh oleh suara decit sepatu basket dan pantulan bola. Bintang sedang mendribble bola dengan agresif, melampiaskan frustrasinya pada ring basket. Keringat membasahi jersey birunya.
Di pinggir lapangan, Vanya duduk bersama anggota *cheers* lain, sesekali bersorak menyemangati Bintang dengan suara yang sengaja dilembutkan. Ia merasa di atas angin. Tadi siang di kantin, Bintang mengajaknya bicara soal arsitek Zaha Hadid—topik yang buru-buru Vanya *googling* di toilet.
Keyla mengendap-endap dari pintu samping tribun. Jantungnya berpacu lebih cepat dari sprint Bintang di lapangan. Ia melihat tas duffel bag hitam milik Bintang di bangku tribun paling atas, agak tersembunyi.
Dengan gerakan cepat, saat semua mata tertuju pada *dunk* keras yang dilakukan Bintang, Keyla menyelipkan roket kertas hitam itu ke dalam saku samping tas yang sedikit terbuka, di sela-sela botol minum.
*Masuk.*
Keyla segera mundur, membaur dengan kerumunan siswa yang hendak pulang.
Saat peluit latihan usai berbunyi, Bintang berjalan gontai menuju tasnya. Ia mengelap keringat dengan handuk, lalu meraih botol minumnya. Jarinya menyentuh sesuatu yang tajam dan berbahan kertas.
Bintang membeku. Ia menarik benda itu keluar. Sebuah roket kertas hitam dengan tinta perak.
Senyum lelah namun tulus perlahan terbit di wajahnya, menghapus mendung yang seharian menggelayut. Ia menoleh ke sekeliling tribun yang mulai sepi, mencari sosok itu. Matanya sempat bersirobok dengan Vanya yang melambai dari bawah, tapi Bintang tidak membalas lambaian itu dengan antusiasme yang sama seperti saat ia bicara soal arsitektur tadi. Perhatiannya tersedot penuh pada kertas di tangannya.
Di kejauhan, di balik pilar pintu keluar, Keyla menghembuskan napas lega. Koneksi itu tersambung kembali. Vanya mungkin bisa mencuri naskahnya, tapi frekuensinya tetap milik Keyla.