NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

New Day, New Life, New Drama

​"Hati-hati dengan kardus itu! Isinya buku-buku putriku semua. Dia bisa membunuhku kalau ujungnya penyok sedikit saja!"

​Fraya, yang baru saja hendak melangkah masuk ke rumah barunya di bilangan London, langsung berbalik. Ia menatap Papanya dengan kening berkerut dalam sembari mendekap sebuah kotak berukuran sedang.

"Hei! That's not nice, Dad!"

​Fraya tahu itu hanya gurauan. Eric, pria bertubuh tegap dengan binar jenaka di matanya, langsung tertawa lepas melihat Fraya berkacak pinggang. Bahkan petugas angkut yang berdiri di dekat mereka pun tak tahan untuk tidak ikut terkekeh.

​Tak lama, Mama muncul dari dalam rumah dengan napas yang memburu pendek. Wajahnya kemerahan, tampak kelelahan karena bersikeras ikut mengangkat barang yang sebenarnya tak seberapa banyak. Jika tadi Fraya membalas Papanya dengan bahasa Inggris, kini giliran Mama yang mengeluarkan jurus protes khasnya dalam bahasa Indonesia.

​"Papa kamu ini gimana, sih? Kenapa cari rumah seluas ini? Barang kita kan cuma sedikit. Lihat nih, hampir semuanya sudah masuk tapi ruangan masih terasa kosong melompong gini. Mama ngomong saja suaranya sampai bergema!"

​Meski Eric tidak paham setiap kata yang diucapkan istrinya, ia sudah hafal nada komplain itu-lagu lama yang sudah ia dengar sejak mereka masih di Jakarta.

​"It's from the company, Honey. We should be grateful for not having a small townhouse," jawab Eric lembut, mencoba menenangkan.

​Melihat perdebatan kecil yang mulai berlanjut, Fraya memilih "melarikan diri". Ia menyelinap masuk, menelusuri lorong rumah yang harus ia akui memang jauh lebih megah dibanding rumah mereka di Jakarta.

​Sebagai Kepala IT di perusahaan internasional, Eric memang sering berpindah tugas. Kali ini, kontraknya di Inggris tergolong lama: dua tahun. Demi mendukung impian Fraya untuk berkuliah di universitas ternama, Eric memutuskan untuk memboyong anak dan istrinya untuk ikut ke London.

​Begitu menemukan kamarnya, Fraya langsung jatuh cinta. Ruangan itu dibanjiri cahaya alami dari jendela besar yang menghadap langsung ke halaman depan. Ia sudah bisa membayangkan dirinya duduk di sana, ditemani segelas cokelat panas dan tumpukan buku pelajaran.

​Fraya meletakkan kardusnya dan mengeluarkan selembar poster kampus impian yang ia bawa dengan penuh hati-hati. Ia memandanginya dengan mata berbinar sebelum menempelkannya di dinding.

​Oxford University.

​Dulu, saat dunianya hanya sebatas hiruk-pikuk Jakarta bersama Mama, bermimpi tentang Oxford terasa seperti mengharapkan bulan jatuh ke pangkuan. Namun, kehadiran Eric Moore mengubah segalanya. Pria yang dulu merupakan kekasih masa muda Mamanya di Connecticut itu memperlakukan Fraya seperti darah dagingnya sendiri. Sejak hari pertama mereka bertemu, Eric telah berjanji akan membawa Fraya selangkah lebih dekat ke mimpinya.

​Dan hari ini, janji itu terwujud. Fraya menghirup udara London yang segar-sangat berbeda dengan aroma polusi Jakarta. Walau ia tahu, dalam beberapa minggu ke depan, ia pasti akan merindukan semangkuk bakso urat di pinggir jalan.

​Tok, tok.

​Ketukan ringan di pintu yang terbuka membuatnya menoleh. Mama berdiri di sana dengan senyum simpul.

​"Lusa kamu sudah mulai masuk sekolah, lho," Mama mengingatkan, masih sambil berdiri menutupi ambang pintu kamar Fraya.

​Fraya seketika refleks menepuk jidatnya.

"Kita datangnya terlalu mepet, Ma! Fraya bahkan belum menyiapkan apa pun untuk ke Milford besok." Ia langsung sibuk membongkar kardus lain, mencari jurnal jadwalnya.

​"Ya, salahin Papa, dong," sahut Mama santai sambil ikut membantu mencari. "Lagipula, hari pertama paling cuma perkenalan. Jangan terlalu tegang."

​"Ma, ini Milford. Salah satu sekolah internasional terbaik. Isinya murid-murid jenius. Kalau Fraya tidak siap, Fraya bakal terlihat seperti remah-remah di sana."

​Mama menarik sebuah buku dari tumpukan dan menyerahkannya pada Fraya. "Duh, tua banget deh bicaramu itu! Tenang, Sayang. Kamu lolos jalur akselerasi itu saja sudah bukti kalau kemampuan kamu itu bahkan lebih dari standar Milford. You don't need to prove anything else, sweetheart."

​Fraya cemberut, lalu menjatuhkan diri ke atas kasur yang bahkan belum beralas sprei. Kalimat pujian Mama tak lantas mengusir rasa cemasnya. Ia membuka jurnalnya, berharap tanggal masuk sekolah itu salah.

Namun, tulisan tanggalan lusa yang Fay lingkari pakai spidol merah terpampang nyata di sana.

​"Fay," Mama duduk di sampingnya, merangkul bahu gadis itu. "Mama tahu kamu mengejar Oxford, tapi jangan sampai kamu melewatkan masa remajamu. You need to loosen up, Hun. Make friends, have fun!"

​"Versi have fun Mama itu seperti apa?" Fraya menyipitkan mata, pura-pura curiga.

​"Ya... mungkin mulai melirik satu atau dua cowok keren di sekolah? Cinta monyet bisa jadi penyemangat belajar, lho. Apalagi ini di London. Bayangkan punya pacar British yang aksennya seksi! Mama sih sudah siap punya menantu Inggris."

​Fraya melongo, lalu mendengus kesal. "Ih Mama! Kok jadi genit begitu? Nggak ada ya! Fokus Fraya itu Oxford. Pacaran cuma buang-buang waktu!"

​"Buang waktu, atau takut nggak ada yang naksir?" Mama mulai menggoda sambil menggelitik perut Fraya.

​Gelak tawa pun pecah di kamar yang masih berantakan itu. Di bawah langit sore London yang menyejukkan, kekhawatiran Fraya sejenak menguap.

---

​Fraya masih terpana saat berdiri di depan gerbang Milford Hall.

Mengenakan seragam biru gelap dengan rok motif kotak-kotak di atas lutut, ia merasa seperti karakter utama dalam film drama remaja. Bangunannya bergaya klasik Eropa abad ke-18, dengan hamparan rumput hijau yang luasnya nyaris tak masuk akal.

​Setelah melewati sesi administrasi dan sambutan singkat dari kepala sekolah, Fraya diantar menuju kelas akselerasi pertamanya.

​Sesuai dugaan, kehadirannya langsung memicu bisik-bisik. Kelas itu hanya berisi lima belas murid, namun aura "kelas atas" terpancar kuat dari setiap meja. Fraya, yang berpenampilan sederhana tanpa barang branded yang mencolok, langsung dihadiahi tatapan merendah oleh sekelompok gadis di barisan depan.

​"Nama saya Fraya Alexandrea. You can call me Fraya, or Fay," ucapnya lugas di depan kelas.

​"Can I call you mine?" celetuk seorang cowok berambut keriting dengan nada menggoda, memicu siulan riuh dari seisi kelas.

​"Quiet, please!" tegur Mrs. Witherspoon tegas. "Terima kasih, Fraya. Silakan duduk di kursi kosong di belakang Mr. Partridge."

​Fraya mengangguk dan mulai melangkah. Namun, baru beberapa langkah, seorang gadis berambut cokelat terang dengan sengaja menjulurkan kakinya ke lorong. Fraya yang waspada langsung menyadarinya. Dengan gerakan tenang, ia melangkahi kaki itu dengan anggun, seolah-olah hal itu bukan masalah besar.

​Gadis itu menoleh dengan ekspresi terkejut sekaligus kesal karena rencananya gagal total. Fraya membalas tatapannya dengan wajah datar tanpa ekspresi, lalu duduk di kursinya.

​Astaga, kupikir perundungan di hari pertama sekolah cuma ada di film, batin Fraya jengkel.

​"I bet you're gonna be the hot news here right away," sebuah suara berbisik dari depan.

​Cowok berambut cokelat gelap yang duduk di depannya berbalik badan. Ia memiliki senyum ramah dan tatapan yang-jujur saja-sangat memikat. Jantung Fraya memberikan reaksi kecil yang tak terduga.

This guy is ridiculously beautiful, just like coming straight out of Wattpad, pikirnya.

​"Jangan khawatir, gadis-gadis di depan sana tidak perlu digubris," lanjut cowok yang kemungkinan bernama Partridge itu.

​"No worries. Im just as chill the wind blowin' away," balas Fraya sekenanya.

​Cowok itu terkekeh pelan sebelum kembali menghadap ke depan. Namun sedetik kemudian, ia berbalik lagi, menyisakan senyum miring yang manis.

​"Nice to meet you, Fraya. Or... Fay. I like Fay better. Beautiful name, for a beautiful girl."

​Bukannya tersipu, Fraya justru tertawa kecil sembari menutup mulutnya. Ia tidak terbiasa dipuji se-gamblang itu.

​"Biasanya cewek-cewek akan merona dipuji begitu, kenapa kamu malah tertawa?" tanya si cowok, masih dengan nada berbisik mengabaikan Mrs. Witherspoon yang mulai menerangkan pelajaran didepan kelas.

​"Aku memang agak susah dipuji. Reaksiku biasanya otomatis tertawa. Anyway, nice to meet you too, Mr..."

​"Louis," potongnya. "Panggil saja Louis. Jangan panggil 'Mister', ya."

​Louis mengulurkan tangan secara sembunyi-sembunyi di bawah meja. Fraya menyambutnya dengan senyum tertahan.

​Hari pertamanya benar-benar campur aduk: sebuah sambutan dingin dari sekelompok gadis populer, dan perkenalan manis dengan cowok British bermata indah. Fraya membuka bukunya, mencoba fokus pada pelajaran.

​Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di baris kedua, seorang cowok berambut pirang yang sedari tadi diam, terus memperhatikannya dengan kening berkerut penuh rasa penasaran.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!