"Sentuhan kakak-kakakku adalah napasku, tapi sentuhannya... adalah hidupku."
Shine terlahir dengan mata yang bisa melihat melampaui waktu. Namun, setiap penglihatan tentang masa lalu yang kelam dan masa depan yang berdarah menuntut bayaran mahal: energi hidupnya. Ia rapuh, tersiksa, dan bergantung pada pelukan dua kakak laki-lakinya yang posesif, Jin dan Suga.
Hingga ia melangkah masuk ke restoran Euphoria.
Jeon Jungkook adalah koki jenius yang selalu memimpikan gadis yang sama selama bertahun-tahun. Saat mereka bersentuhan, Shine menyadari satu hal: Jungkook bukan sekadar manusia, dia adalah 'baterai' abadi yang bisa memulihkan kekuatannya secara instan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Jin’s Surveillance
Pagi itu, paviliun tamu terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang rusak, melainkan karena kehadiran benda-benda hitam kecil berbentuk kubah yang kini bertengger di setiap sudut langit-langit. Dari ruang tamu, lorong, hingga teras paviliun, mata-mata elektronik itu terpasang rapi.
Jin tidak lagi bermain halus. Setelah insiden kaburnya Shine ke pasar malam, kakak tertua keluarga Kim itu seolah kehilangan kepercayaan pada siapa pun. Baginya, tembok tinggi dan RM saja tidak cukup. Ia butuh pengawasan dua puluh empat jam untuk memastikan adiknya tidak "terkontaminasi" oleh pengaruh liar Jungkook lagi.
Jungkook berdiri di dapur, sedang memeras jeruk untuk sarapan Shine. Ia melirik ke arah sudut atas rak piring. Sebuah lensa merah kecil berkedip di sana. Ia tahu, di gedung utama, Jin mungkin sedang duduk di depan monitor raksasa, mengamati setiap gerakannya.
"Kau melihatnya, kan?" tanya Shine yang baru keluar dari kamar, matanya tertuju pada kamera di atas pintu masuk. Wajahnya tampak lesu. "Oppa benar-benar menganggapku seperti tahanan sekarang."
Jungkook meletakkan gelas jus itu di atas meja kayu. Ia berjalan mendekati Shine, namun matanya tetap melirik ke arah kamera dengan tatapan menantang. "Dia bukan hanya menganggapmu tahanan, Shine. Dia sedang mencoba menandai wilayahnya. Dia ingin mengingatkanku bahwa di rumah ini, dialah penguasanya."
"Aku benci ini," bisik Shine. Ia merasa privasinya dirampok. "Bahkan untuk bernapas pun aku merasa diawasi."
Jungkook terdiam sejenak. Sebuah ide nakal—dan berbahaya—muncul di kepalanya. Sifat posesifnya yang liar mulai bereaksi dengan ego Jin yang setinggi langit. Jika Jin ingin menonton, maka Jungkook akan memberinya tontonan yang tidak akan pernah ia lupakan
Jungkook berjalan perlahan menuju Shine. Ia tidak hanya mendekat, ia melingkarkan lengannya di pinggang Shine dan menarik gadis itu hingga menempel pada tubuhnya.
"Jungkook? Apa yang kau—"
"Ssh... biarkan dia menonton," bisik Jungkook tepat di depan bibir Shine. "Dia ingin tahu apa yang kita lakukan? Mari kita beri dia jawaban yang jelas."
Jungkook sengaja memutar posisi tubuh mereka. Ia memastikan wajah Shine dan dirinya menghadap tepat ke arah lensa CCTV yang berada di sudut ruang tamu. Ia ingin Jin melihat setiap inci kedekatan mereka. Ia ingin Jin tahu bahwa tidak ada jumlah teknologi di dunia ini yang bisa menghalangi apa yang ia rasakan pada Shine.
Di gedung utama, Seokjin memang sedang duduk di ruang kerjanya. Matanya menyipit, rahangnya mengeras saat melihat layar monitor yang menunjukkan Jungkook merangkul Shine.
"Berani sekali dia..." desis Jin. Tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu jati itu hingga kukunya memutih.
Di layar, Jungkook mendongak sebentar. Ia menatap lurus ke arah kamera—seolah-olah ia bisa melihat mata Jin di balik lensa itu. Jungkook memberikan senyum miring yang provokatif, jenis senyum yang mengatakan: 'Dia milikku, dan kau tidak bisa melakukan apa-apa.'
Lalu, di depan kamera itu, Jungkook menangkup wajah Shine dengan kedua tangannya. Ia tidak terburu-buru. Ia membelai pipi Shine dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang begitu penuh damba hingga Shine sendiri merasa dunianya mulai berputar.
"Jungkook, Jin Oppa pasti melihat..." Shine berbisik, napasnya memburu.
"Bagus. Biar dia tahu bahwa kau bukan lagi boneka kecil yang bisa dia simpan di dalam kotak kaca," sahut Jungkook.
Detik berikutnya, Jungkook menundukkan kepala. Ia mencium Shine. Bukan ciuman singkat untuk pengisian energi, melainkan ciuman yang dalam, penuh gairah, dan sangat posesif. Ia sengaja memperlama sentuhan itu, membiarkan tangannya mengusap tengkuk Shine, memperlihatkan betapa Shine pasrah dan nyaman dalam pelukannya.
Brak!
Di gedung utama, Jin berdiri hingga kursinya terjungkal ke belakang. "Panggil Namjoon! Sekarang!" teriaknya pada interkom.
Namun di paviliun, Jungkook melepaskan ciumannya dengan perlahan. Ia menyandarkan dahinya pada dahi Shine, mengabaikan fakta bahwa lampu merah di CCTV itu kini berkedip lebih cepat, seolah ikut panik.
"Sekarang dia tahu," ucap Jungkook dengan suara serak. "Bahwa tidak ada yang bisa menghentikanku untuk menjagamu. Termasuk semua mata elektronik ini."
Shine tersipu, wajahnya merah padam. Ada rasa takut, tapi ada juga rasa bebas yang luar biasa. Selama ini ia selalu bersembunyi dari bayang-bayang kakak-kakaknya, namun keberanian Jungkook yang gila ini seolah memberinya kekuatan untuk berdiri tegak.
Beberapa menit kemudian, pintu paviliun terbanting terbuka. Jin masuk dengan langkah lebar, wajahnya memerah karena amarah yang meledak. Di belakangnya, RM berusaha menahan langkah Jin namun gagal.
"KELUAR!" bentak Jin pada Jungkook. "Kau sudah melampaui batas, Jeon Jungkook!"
Jungkook berdiri dengan tenang di depan Shine, bertindak sebagai perisai manusia. Ia tidak gentar sedikit pun menghadapi kemarahan sang kepala keluarga Kim.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang mencintai adiknya, Tuan Kim," jawab Jungkook dingin. "Hanya saja, aku tidak melakukannya melalui layar monitor. Aku melakukannya secara nyata."
"Kau bajingan lancang!" Jin hendak melayangkan pukulan, namun Shine berteriak.
"CUKUP, OPPA!" Shine berdiri di antara mereka. "Hentikan CCTV itu, atau aku akan pergi dari rumah ini selamanya dan tidak akan pernah kembali! Aku bukan robot, Oppa. Aku manusia!"
Jin tertegun. Ia menatap Shine, lalu menatap Jungkook yang masih menatapnya dengan pandangan menantang. Keheningan yang sangat berat menyelimuti paviliun. RM hanya bisa menghela napas di ambang pintu, menyadari bahwa otoritas Jin di rumah ini baru saja runtuh di hadapan cinta gila seorang koki.
"Copot semua kamera itu," ucap Shine dengan suara bergetar namun tegas. "Atau kau akan kehilangan adikkmu."
Jin memejamkan matanya, merasakan kekalahan yang pahit. Ia menunjuk ke arah Jungkook dengan jari yang gemetar. "Jika kau menyakitinya sedikit saja... aku akan memastikan kau membusuk di tempat yang tidak bisa ditemukan matahari."
Jungkook mengangguk kecil. "Aku tidak akan menyakitinya. Karena menyakitinya berarti membunuh diriku sendiri."
Satu per satu, lampu merah di sudut ruangan itu mati. Jin keluar dengan kemarahan yang tertahan, meninggalkan keheningan yang kini terasa lebih murni. Jungkook meraih tangan Shine, menggenggamnya erat.
"Maaf aku harus menggunakan cara itu," bisik Jungkook.
Shine tersenyum kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Jungkook. "Setidaknya sekarang kita bisa bernapas tanpa merasa diawasi."
Malam itu, paviliun menjadi milik mereka sepenuhnya. Tanpa kamera, tanpa mata-mata. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya memenangkan privasi mereka di tengah badai keluarga yang posesif.
...****************...