Mei Lin yang seorang agen mata mata terpaksa harus bunuh diri ketika tertangkap oleh Wang Yu, seorang Jenderal polisi negara x.
Namun , bukan nya mati, Mei Lin justru terperangkap ke dalam tubuh milik Bai Hua. Bai Hua adalah gadis lemah yang membutuhkan kursi roda untuk berjalan. Ia diejek oleh seluruh keluarga nya karena menjadi sampah. Bai Hua juga harus menikah dengan Pangeran Idiot!
Bagaimana jika jiwa Mei Lin yang mengambil alih tubuh Bai Hua untuk menikah dengan Pangeran itu? Dan bagaimana jika jiwa pangeran itu juga telah dirasuki entitas dari abad 21?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Pangeran Wan Long
Bibi Pong masih mematung, matanya melotot menatap dua pengawal yang mengerang di lantai. Namun, suara dingin Bai Hua menyentaknya kembali ke kenyataan. "Bibi, kau dengar aku?"
"I-iya, Nona Muda! Segera!" Bibi Pong dengan tangan gemetar mendorong kursi roda Bai Hua keluar dari gudang pengap itu menuju paviliun kecil milik Bai Hua yang nyaris runtuh.
Di dalam kamar, Bibi Pong menangis tersedu-sedu saat membuka kain sutra yang menempel pada luka di punggung Bai Hua. Darah sudah mengering, menyatukan kain dengan kulit. Namun, yang membuat Bibi Pong merinding adalah fakta bahwa Bai Hua tidak sedikit pun meringis. Gadis itu justru duduk tegak, matanya menatap kosong ke cermin tembaga seolah sedang menyusun rencana perang.
"Tahan sedikit, Nona..." Bibi Pong membasuh luka itu dengan air hangat.
"Lanjutkan saja, Bibi. Rasa sakit ini belum ada apa-apanya dibanding apa yang akan mereka terima," ucap Bai Hua datar. Di pikirannya, ia sedang menghitung efisiensi tubuh barunya. Lumpuh, tapi saraf motorik tangan masih tajam. Aku perlu melatih kekuatan inti tubuh jika ingin bertahan di dunia ini.
Setelah luka dibalut, Bibi Pong membantu Bai Hua mengenakan gaun pengantin merah yang dikirim oleh pihak istana. Gaun itu sangat mewah, berbanding terbalik dengan kamar Bai Hua yang kumuh.
Saat kursi roda Bai Hua didorong menuju gerbang depan, sebuah tawa meremehkan menghentikan langkah mereka.
"Lihatlah si pengantin lumpuh kita."
Seorang gadis cantik dengan gaun Peony ungu yang megah berdiri di sana. Ia adalah Bai Rui, adik tiri Bai Hua. Di sampingnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan raut wajah keras yang penuh otoritas. Menteri Bai.
"Ayah, lihatlah Kakak. Bahkan dengan baju pengantin terbaik pun, ia tetap terlihat seperti sampah yang dibungkus kain mahal," ejek Bai Rui sambil menutup mulutnya dengan kipas. "Kasihan sekali, aku akan mendapatkan Pangeran Kedua yang tampan dan perkasa, sementara kau... kau hanya akan mengurus pria yang hobi bermain lumpur dan air liur."
Menteri Bai mendengus, menatap Bai Hua dengan pandangan jijik. "Jangan bicara sepatah kata pun saat di istana nanti. Pernikahanmu hanyalah transaksi. Mahar ratusan ribu tael dari keluarga Pangeran Wan Long adalah alasan satu-satunya kau masih diizinkan bernapas hari ini. Jangan permalukan nama Menteri Keuangan!"
Bai Hua menatap ayahnya, lalu beralih ke Bai Rui. Seringai tipis muncul di bibirnya yang pucat. "Transaksi, ya? Jika aku adalah sampah, lalu apa sebutan untuk seorang Menteri yang menjual anaknya demi menutupi utang pribadi?"
"Kau!" Menteri Bai mengangkat tangannya, hendak menampar.
Sret!
Bai Hua menangkap pergelangan tangan ayahnya dengan gerakan yang sangat halus namun kuat. Ia mendongak, matanya berkilat tajam. "Simpan tanganmu, Ayah. Mulai detik ini, aku bukan lagi milik keluarga Bai. Aku adalah bagian dari keluarga Kekaisaran. Kau ingin dicap memberontak karena menyerang istri Pangeran?"
Menteri Bai tertegun. Tekanan pada pergelangan tangannya sangat kuat, bukan seperti tenaga gadis lumpuh. Ia terpaksa menarik tangannya kembali dengan wajah memerah.
***
Iring-iringan pengantin tiba di kediaman Pangeran Wan Long tepat ketika matahari pas di ubun-ubun. Tempat itu luas, namun terasa sunyi dan aneh. Tidak ada musik pesta yang meriah, hanya beberapa kasim yang tampak malas berjaga.
Begitu tandu diturunkan, seorang pria muda dengan jubah merah yang miring dan rambut sedikit berantakan berlari keluar. Ia tertawa-tawa sambil mengejar seekor belalang di tangannya.
"Belalang! Jangan lari! Aku ingin makan kamu!" teriak pria itu. Itulah Pangeran Wan Long.
Bibi Pong gemetar. "Nona... itu Pangeran Wan Long."
Bai Hua turun dari tandu dengan dibantu kursi rodanya. Ia menatap Wan Long yang kini berjongkok di tanah, mengendus-endus ujung sepatunya. Pangeran itu tampak benar-benar idiot, air mukanya kosong dan kekanak-kanakan.
Namun, saat Wan Long mendongak dan mata mereka bertemu, Bai Hua merasakan getaran aneh. Pangeran itu tiba-tiba berhenti tertawa. Selama satu detik yang sangat singkat, pupil mata Wan Long mengecil dan sorot matanya berubah menjadi sangat waspada.
Wan Long tiba-tiba merangkak mendekat, menarik ujung cadar Bai Hua, dan berbisik dengan suara yang sangat rendah di bawah kebisingan para pelayan, menggunakan istilah sandi agen yang sangat spesifik:
"Titik nol tercapai. Objek telah dikunci."
Mata Bai Hua membelalak. Itu bukan bahasa pujangga kerajaan. Itu adalah istilah teknis para agen lapangan di abad 21 untuk menyatakan bahwa posisi sudah aman dan target telah ditemukan.
Sebelum Bai Hua bisa bereaksi, Wan Long kembali tertawa keras sambil menarik-narik bajunya. "Hehe! Istri baru baunya seperti darah! Aku suka darah! Ayo main masak-masakan!"
Bai Hua menyipitkan mata, sebuah senyum penuh arti terukir di wajahnya.
"Baiklah, Pangeran," sahut Bai Hua pelan namun tajam. "Ayo kita lihat siapa yang akan menjadi juru masak, dan siapa yang akan menjadi santapan."
Bai Hua mengalihkan pandangannya dari Wan Long, menyapu halaman kediaman yang sepi itu. Ia menyadari satu hal yang ganjil. "Bibi Pong, di mana Kaisar dan Permaisuri? Bukankah ini pernikahan putra sulung mereka?"
Bibi Pong menunduk dalam, suaranya nyaris berbisik karena takut. "Nona... Kaisar sedang sibuk dengan urusan perbatasan, begitu alasan yang diberikan kasim istana. Sedangkan Permaisuri... beliau mengirimkan pesan bahwa kesehatannya sedang menurun dan tidak bisa mencium aroma darah atau keramaian."
Bai Hua mendengus remeh. Sibuk? Sakit? Ia tahu itu hanya alasan diplomatis. Kaisar malu memiliki putra idiot sebagai pewaris pertama, dan Permaisuri---yang kemungkinan besar bukan ibu kandung Wan Long---pasti lebih memilih menghabiskan waktu dengan Pangeran Kedua.
"Jadi, mereka bahkan tidak sudi datang untuk sekadar melihat wajah 'sampah' dan 'idiot' ini bersatu?" gumam Bai Hua.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
beautiful story
menjadi penjahat ataupun pahlawan semua tergantung sudut pandang bukan?
terkadang kita terbentuk dan menjadi sesuatu karena lingkungan yg menempa kita
tidak selalu akan tampak baik dan buruk atas penilaian orang lain
selama kita tau batas nya,kita adalah orang baik menurut versi kita.
dan seenggaknya takdir sangat baik sama mereka. walaupun tidak berjodoh di waktu ini,maka waktu aka n menggeser supaya mereka akhirnya berjodoh 😍😍
terimakasih atas cerita indah nya Thor
tapi yg penting dia orang ini akhirnya bahagia
aku udah happy
tega amet si ah🥹🥹
lucunya liat villain jatuh cinta 😜
lucunya liat villain jatuh cinta 😜