NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mual itu datang lagi, seolah menjadi pertanda yang tak pernah diinginkan.

☘️☘️☘️☘️

  Pagi mulai menyapa, bukan tiba-tiba bukan juga keras, ia datang layaknya deburan ombak kecil yang tidak pernah benar benar pergi. Seketika Nara menghentikan tangannya yang sedang menyapu lantai.

  Mual itu datang lagi, segera ia melangkah ke kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya yang baru saja ia isi dengan segelas air putih.

  "Ueeegh ....." tubuhnya sampai melemas, karena mual tidak mau pergi terus menerus memaksa tubuhnya untuk mengeluarkan cairan kuning yang terasa pahit di tenggorokan itu.

  Tubuhnya melemas dengan sendirinya, lututnya bergetar, Nara menyandarkan pundaknya ke dinding, mencoba menyadarkan tubuhnya yang seolah berkhianat.

  "Ayo tubuh kau harus bangkit, kau tidak boleh seperti ini," gumamnya dengan pelan.

Seketika ia melangkah dihadapan wastafel ia berkaca sambil bergumam pelan. "Capek, mungkin ini hanya capek, dan stres saja."

  Kata-kata itu ia ucapkan pada diri sendiri, sekedar untuk menjadi penenang saja.

Sejak Ardan pergi, tubuhnya memang terasa aneh. Cepat lelah. Mudah mual. Tidurnya tidak nyenyak. Ia mengira semua itu wajar efek dari kehilangan, dari rumah yang terlalu sunyi, dari pikiran yang tak pernah benar-benar istirahat.

Ia kembali ke ruang tengah, duduk di sofa bekas tempat Ardan biasa membaca. Matanya menangkap kalender kecil di meja. Tangannya terhenti.

Ia menghitung pelan. Satu hari. Dua hari. Lima hari.

Nara menelan ludah.

“Tidak,” katanya cepat, seolah kalender itu bisa mendengar. “Tidak mungkin.”

Ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Dadanya berdebar bukan karena harapan, tapi karena takut. Ada sesuatu yang ingin muncul di kepalanya, tapi ia dorong jauh-jauh.

"Benih itu tidak boleh ada. Tidak sekarang. Tidak dalam keadaan seperti ini," ucapnya seolah menolak hadirnya sesuatu yang tidak tepat pada waktunya.

  Nara kembali menjauhkan diri dari kalender itu, seolah menyesali tindakannya barusan, kenapa ia harus melihat kelender tersebut, ia belum siap, dan terus berharap mudah-mudahan ini tidak terjadi.

  "Aku tidak mau ada benih di rahimku, aku tidak ingin dia memiliki nasib yang sama sepertiku, tidak diingini, tidak dikenal, tidak diperhatikan. Rasanya sakit." Nara meremas dadanya kuat.

  Kata-kata tidak terus bergema seolah menjadi mantra pemenang hatinya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Hari-hari berikutnya, Nara mencoba melawan firasat yang tumbuh di dalam hatinya namun tubuhnya semakin jujur, menunjukkan tanda-tanda itu.

Pagi hari selalu dimulai dengan mual. Bau kopi yang dulu ia sukai kini membuatnya ingin muntah. Ia memilih teh hangat, tapi bahkan itu tak selalu membantu. Celananya terasa lebih sempit. Payudaranya nyeri. Dan emosinya… terlalu mudah runtuh.

Ia menangis hanya karena sendok jatuh ke lantai, padahal sebelum itu hari-harinya sudah berat, dan ia tidak selalu menangis, tapi kenapa saat ini ia merasa cengeng, hanya karena masalah sepele saja.

Nara duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Tangannya gemetar saat menyentuh perut yang masih datar itu. Tidak ada apa-apa. Belum terlihat apa-apa.

Tapi tubuhnya tahu. Ia berdiri di depan cermin. Menatap dirinya sendiri. Wajahnya lebih pucat. Mata itu terlihat lebih besar, lebih lelah.

“Aku cuma belum pulih,” katanya pada bayangannya. “Ini cuma tubuh yang kaget.”

Namun suara itu terdengar kosong, sekuat mungkin hatinya menolak, kehadiran tanda itu, namun entah kenapa hati kecilnya tidak bisa dibohongi jika tanda itu benar-benar ada.

   "Jika benih itu hadir, apa aku kuat, apa aku sanggup, sementara pemiliknya saja tidak menginiku, aku beban, aku berlebihan, aku yang membuat dadanya sesak setiap hari," ucapan itu nyatanya masih terngiang di hatinya bagaikan gema yang secepatnya ingin dilupakan tapi terlalu sakit.

Nara menangis memeluk lututnya yang sedikit bergetar, dalam kesunyian ini, ia benar-benar menghadapi dilemanya sendiri, tanpa teman ataupun orang terdekat, dan kata-kata Ardan yang selalu menjadikannya beban membuat Nara berpikir dua kali untuk melibatkan masalahnya ini pada orang lain.

☘️☘️☘️☘️

Malamnya, mual kembali datang lebih kuat. Kali ini ia benar-benar muntah. Tubuhnya gemetar hebat. Setelah semuanya reda, Nara terduduk di lantai kamar mandi, air mata jatuh tanpa suara.

Bukan karena sakit. Tapi karena kemungkinan besar, sesuatu yang ia takuti akan terjadi. Jika benar, jika dugaan itu nyata, lantas apa yang akan ia lakukan.

Memberi tahu? Rasanya tidak mungkin, Nara takut, dianggap menjebak, karena hadirnya benih ini, perpisahannya tertunda.

Nara memeluk perutnya, refleks. Seolah ada sesuatu yang harus dijaga, meski pikirannya belum berani mengakuinya.

“Aku belum siap,” bisiknya. “Aku bahkan belum berdiri utuh.”

Di luar, malam turun perlahan. Rumah itu kembali sunyi, tapi kini berbeda. Sunyi yang terasa… penuh. Dan tanpa Nara sadari, tubuhnya sedang menyiapkan ruang.

Untuk sebuah kehidupan kecil. Untuk sebuah rahasia yang belum ingin ia beri nama.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Pagi sudah datang, kali ini mentari sedikit redup, dan hal ini justru membuat Nara ingin jalan-jalan pagi, sekedar untuk menghilangkan rasa jenuh yang ia hadapi sendiri.

Langkah kecil Nara mulai menyusuri jalanan kompleks perumahannya, di sini para tetangga ada yang menyapa, dan kadang juga ada yang bertanya.

"Mbak Nara, tumben jalan-jalan pagi?" tanya seorang tetangga yang merasa aneh.

Nara tersenyum kecil. "Iya Bu, tiba-tiba ingin saja jalan-jalan pagi saja," sahut Nara.

"Oh gitu, sudah beberapa hari ini aku tidak lihat Mas Ardan, dia kemana?" tanya tetangga itu tiba-tiba.

Seketika Nara menelan ludahnya dengan kasar, ada hati yang merasa tercubit saat nama itu disebut, meskipun yang ditanyakan itu merupakan suatu yang wajar. "Suamiku ditugaskan diluar kota, makanya sudah beberapa hari tidak kelihatan," jawab Nara lalu memilih melanjutkan perjalanan karena untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masa lalu.

Nara pun terus menyusuri jalanan kompleks di persimpangan, tanpa sengaja ia melihat bener yang tertulis cukup besar di depan rumah warga. Jual asinan premium.

Entah kenapa membaca tulisan yang cukup besar itu, ia menelan ludahnya sendiri, terasa ngiler ingin mencicipi makanan itu segera, padahal ia tahu, ini masih terlalu pagi untuk mencicipi makanan asam itu.

"Ah, kenapa harus ngeces, aku gak suka makanan asam," gumamnya sendiri.

Namun semakin pikirannya menolak makanan itu, hati kecilnya justru semakin penasaran.

"Kayaknya itu asinan segar ya, kalau aku makan, siapa tahu mampu meredam rasa mualku," ucapnya sendiri akhirnya.

Tanpa berpikir panjang Nara pun langsung mendatangi rumah itu, meskipun awalnya pedagang sempat kaget, karena ini terlalu pagi, namun karena penasaran akhirnya Nara mendapatkan makanan masam itu.

"Ah, sepertinya gak sabar ingin menyeruput kuah asinan itu," gumamnya dengan lidah yang sudah ngeces.

Nara pun dengan cepat pulang ke rumahnya, tanpa ia sadari dan tanpa ada yang tahu, jika ia sedang berada di fase ngidam.

Bersambung ....

Pagi semoga suka Ya ....

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!