Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 ~ Tidak Akan Melibatkanmu Dalam Perasaanku
Asistennya datang malam ini, seorang pria muda berkacamata. Dia menatap Raina yang sedang membawa nampan berisi minum untuknya.
"Tidak usah repot Nona, saya hanya sebentar saja"
"Tidak papa Tuan, sebentar aku panggilkan dulu Kak Marvinnya ya"
Raina pergi ke kamarnya, melihat Marvin yang sudah menurunkan kedua kakinya dengan susah payah ke atas lantai. Tangannya ingin meraih tongkat yang disandarkan di dinding. Raina langsung membantunya, menyodorkan tongkat itu pada Marvin.
"Diluar ada Tuan Yudist Kak, katanya ingin bertemu denganmu"
Marvin berdiri dengan bantuan tongkat dan Raina yang memegangnya. "Suruh tunggu sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu"
"Aku bantu ya Kak" Karena tidak ada jawaban apapun dari Marvin, berarti pria itu menyetujuinya. Jadi Raina memilih untuk membantu suaminya ke kamar mandi. "Hati-hati Kak, lantainya licin. Nanti kalau sudah, langsung panggil aku saja ya"
Marvin tidak menjawab, tapi dia menatap Raina dengan lekat. "Kau bisa tunggu diluar, nanti aku panggil"
Raina mengangguk dan segera keluar dari kamar mandi. Marvin menatap pintu yang sudah tertutup, dia menghela napas pelan. Semakin hari, Raina malah semakin menunjukan perhatian yang begitu tulus padanya. Membuat Marvin semakin tidak bisa menghindari perasaan yang tidak menentu dalam hatinya.
*
Marvin duduk berhadapan dengan Yudist. Menerima berkas yang diberikan oleh asistennya itu. "Jadi kau sudah menemukannya?"
"Sepertinya memang benar jika mobil anda di sabotase. Kecelakaan ini memang sudah di rencanakan oleh orang lain. Kita harus lebih waspada lagi, Tuan"
"Kau terus selidiki siapa orang dibalik semua ini. Jangan sampai lepas"
"Baik Tuan"
Setelah Yudist pergi, Raina duduk disamping suaminya. Dia mendengar semua pembicaraan mereka. "Kak, kamu harus lebih hati-hati kalau begitu. Ada yang ingin sengaja mencelakaimu"
"Sudah terbiasa, persaingan dalam bisnis akan seperti ini. Jadi, memang kita akan selalu mempunyai musuh yang tidak suka dan ingin menghancurkan kita"
Raina mengangguk pelan, dia juga sering mendengar tentang semua itu. Semua orang yang mempunyai bisnis, akan mendapatkan banyak serang dari para orang-orang yang tidak suka padanya.
"Mau ke kamar lagi, Kak? Ayo biar aku bantu"
Marvin menatap Raina yang sedang berdiri di depannya. "Kau tidak perlu terlalu peduli padaku, karena sebentar lagi perceraian kita akan di urus. Jangan sampai kau jatuh cinta dan menaruh harapan lebih padaku. Karena itu hanya akan semakin menyakitimu"
Raina terdiam, dia mengangguk pelan. Meski dia melakukan apapun, Marvin tetap akan menolak kehadirannya. Karena kebencian lebih besar dari kepedulian yang tidak pernah ada.
"Kalaupun aku berharap dan jatuh cinta padamu, Kak. Biarkan aku saja yang menanggung sendiri perasaan ini. Aku tidak akan melibatkan kamu dalam perasaanku ini"
*
Marvin terdiam setelah berada di dalam kamar, melirik ke sampingnya dan seorang perempuan sudah terlelap disana. Raina seperti tidak terbebani dengan ucapannya tadi yang cukup membuat Marvin tertegun. Bahkan sekarang ucapannya terus terngiang-ngiang di telinganya.
Aku tidak akan melibatkan kamu dalam perasaanku.
Sebuah kalimat yang mengandung arti begitu dalam. Membuat Marvin terus kepikiran dengan ucapan istrinya itu. Sedikit memiringkan tubuhnya, menatap punggung Raina yang terlelap disampingnya. Tadinya Raina ingin tidur di lantai kembali seperti malam kemarin, tapi entah kenapa Marvin melarangnya. Dia pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Tangan Marvin terangkat tanpa disadari, mengelus rambut panjang Raina yang terurai. Namun sesaat setelah sadar dengan apa yang dia lakukan, Marvin segera menjauhkan tangannya dari Raina. Dia kembali tidur terlentang, menatap langit-langit kamar.
Sementara mata Raina langsung terbuka, menatap kosong. Usapan lembut di kepalanya jelas dia rasakan, hatinya menghangat, tapi Raina sadar untuk tidak berharap lagi pada apapun yang Marvin lakukan padanya. Harus ingat jika sebentar lagi mereka akan berpisah. Sudah tidak ada lagi harapan apapun baginya.
Keduanya tidur hanya saling membelakangi, meski mata terpejam tapi pikiran tetap tidak benar-benar tenang. Raina bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan. Dia meminta bantuan Mbak Eni untuk mengantarkan makanan itu pada Marvin, karena dia sendiri harus pergi. Ada hal yang harus dia urus.
"Tolong titip Kak Marvin ya, Mbak. Aku ada urusan sebentar"
"Baik Nona"
Raina pergi dengan motornya, rintik hujan kecil tidak menghalangi perjalanannya. Dia tetap harus pergi, karena sejak semalam dia sudah mendapatkan banyak telepon dan pesan.
Ketika sampai di sebuah rumah sakit, Raina menanyakan pada perawat ruangan kamar yang dia tuju. Ketika dia hampir sampai di ruangan pasien yang dia tuju, seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dok, bagaimana keadaan Mama?"
"Kamu siapa nya pasien?"
"Saya anaknya"
"Ah, Amira? Dari semalam pasien terus memanggil nama itu. Apa kamu Amira?"
Raina terdiam mendengar ucapan Dokter barusan. Tahu jika Mama pasti sangat merindukan anaknya itu, sementara hanya Raina yang sekarang ada disini. Bukan Amira.
"Bukan Dok, saya Raina. Amira adalah Kakak aku yang sudah meninggal"
Dokter mengangguk pelan, dia juga tidak tahu soal ini. "Pantas saja, sepertnya Mama kamu belum bisa melupakan anaknya itu. Jadi dia depresi dan stres, hingga akhirnya penyakit lambung dan jantungnya kambuh lagi"
"Baik Dok, terima kasih"
Raina segera masuk ke dalam ruangan, menatap Mama yang terbaring lemah di ranjang pasien. Wajahnya terlihat pucat dan lebih tirus. Bahkan tubuh cantik yang elegan itu, hampir tidak ada lagi. Raina mengusap kasar air matanya yang mengalir tanpa bisa di tahan. Melihat keadaan Mama membuatnya tidak bisa menghindari rasa bersalah yang semakin besar.
"Ma" panggilnya pelan dengan sedikit ragu. Raina berjalan mendekati ranjang pasien. "Bagaimana keadaan Mama?"
"Amira, kamu kembali Nak?" Ucap Mama yang menoleh ke arah Raina, wajahnya awalnya berseri, namun saat melihat itu adalah Raina bukan Amira, maka wajahnya berubah dingin. "Mau apa kau kesini? Aku tidak mau lagi melihat wajahmu!"
Raina menghela napas pelan, menarik kursi di samping ranjang pasien untuk dia duduki. "Maaf karena kehadiranku telah menghancurkan segala kehidupan sempurna dan bahagia Mama. Maaf karena aku membuat Mama tidak bahagia"
Mama memalingkan wajahnya, sudut matanya mengeluarkan air mata yang tak tertahan. "Pergilah, aku tidak butuh kamu ada disini. Kau yang membuat anakku meninggal, aku tidak mau berbicara denganmu lagi!"
Raina mengusap kembali air mata yang lolos begitu saja. "Silahkan Mama usir aku, tapi aku juga tidak bisa membiarkan Mama sakit sendirian seperti ini di rumah sakit"
Sementara dia tahu jika Amira sangat mencintai Mamanya, sekarang saat Amira pergi, adalah tugasnya Raina untuk menjaga dan merawat Mama. Mau sebenci apapun Mama padanya, tapi tetap dia yang membesarkan Raina selama ini.
"Aku akan tetap menjaga Mama"
Bersambung
👍
pergi dari rumah Marvin,,