Pernikahan Adrian dan Hanin Kirana menginjak 5 tahun, tapi mereka belum juga dikaruniai anak, sementara mertua Hanin membencinya dengan masalah itu.
Adrian dan Hanin akhirnya bercerai, Hanin berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan menata hidup lebih baik dan menjadikannya seorang pebisnis yang sukses.
Segala hal yang terjadi dalam hidupnya membuatnya lebih tegar, dan menciptakan kesan bahwa perempuan single bisa mandiri dan meraih kekayaan yang luar biasa.
Bagaimana kisah selanjutnya? , apakah Hanin tetap menjanda? atau menemukan pasangan hidupnya yang baru?
Yuuk kita ikuti ceritanya .....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yance 2631, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruko Baru Hanin, Birahi Sita.
Hanin baru saja membeli sebuah ruko seharga 3 Milyar secara cash, dan rencananya semua aktivitas usaha akan dipindahkan ke ruko itu, sehingga stok barangnya akan lebih terkoordinir dengan baik dan tidak tercecer.
"Kang Bagas, lantai 2 sebaiknya kita renovasi lagi ya, dan rak etalase bisa kelihatan rapi" ujar Hanin, "iya mbak, sebaiknya begitu jadi akan lebih rapi" ujar kang Bagas setuju dengan langkah Hanin.
Hanin pun mengangguk.
"Rak besi beberapa juga harus di tambah mbak," ujar kang Bagas menambahkan.
"iya kang, ya sudah .. atur saja sesuai kebutuhan, dan pesan tukang juga untuk sedikit renovasi lantai 2" ujar Hanin mengarahkan.
Hani lalu juga mengecek pekerjaan bagian packing yang sedang berjalan, di bantu oleh kang Bagas yang selalu setia.
Tiba di kosan, Hanin mengontrol pekerjaan karyawannya, "mbak Hanin.. tadi saya packing 1000 pieces, "ujar Selly salah satu karyawannya. Hanin pun mengangguk.
"Yul, total pesanan berapa?" tanya Hanin.
"Untuk si orange total 16.000 pieces mbak, si hitam 10.000 lebih jadi kira-kira total 27.000 pieces" ujar Yuli.
Terdengar kemudian suara notifikasi panggilan di ponsel Hanin, "ya halo selamat siang" sapa Hanin. "Siang juga mbak, betul ini dengan mbak Hanin?" tanya si penelpon.
"Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanya Hanin.
"Kenalkan mbak, saya Sansan.. saya dari kantor cabang pusat, produk kosmetik yang di Jakarta, kebetulan ini kami mengevaluasi data penjualan distributor mbak, laporannya sangat fantastis ya mbak.. jadi kami mau mengundang mbak Hanin untuk studi banding ke holding company di Korea Selatan langsung, ini sebagai bentuk apresiasi dari perusahaan untuk mbak sebagai distributor terbaik bulan ini, gimana mbak Hanin?" ujar Sansan.
"Mm, begitu ya.. baik mbak, saya akan berangkat kesana" ujar Hanin singkat. "Baik mbak, nanti saya kirim prosedurnya ya mbak, terima kasih selamat siang" ujar Sansan mengakhiri perbincangan.
"Sama-sama mbak Sansan, terima kasih" ujar Hanin. Hanin lalu membuat planning tentang studi bandingnya nanti di Korea Selatan serta melengkapi prosedur keberangkatannya.
Meski pun pundi-pundi rupiah Hanin bertambah banyak, Hanin belum berencana memiliki sebuah kendaraan pribadi, untuk sementara ia hanya membeli beberapa mobil box untuk kendaraan operasional, dan Hanin masih menggunakan skuter maticnya yang baru dibeli kemarin.
Hanin juga gemar bersedekah, berwakaf dan menolong orang lain yang membutuhkan uang, tangannya begitu ringan 'memberi' kepada orang lain, sehingga bisnisnya berkembang sangat pesat dan terkenal.
"Mbak, kita mau live shooting lagi nggak seperti biasa?" ujar salah seorang karyawannya yang mengatur setiap live Hanin di beberapa platform seperti Toktok, si orange, si biru dan si hijau.
"Hajar terus Vi kalau live mah, kita jangan sampai berhenti, banyak peluang disana" ujar Hanin memberikan instruksi.
Tak lama Hanin pun sudah bersiap-siap untuk live shootingnya, tim promosi juga sudah siap dengan kamera pro-nya, lighting juga ruangan yang sengaja disiapkan khusus.
"Oke, mas Bayu kita langsung take aja.." ujar Hanin memberikan aba-aba, sementara Selvi juga sudah siap dengan produk serum kulit wajah, dan serum lainnya.
Hanin tampil sangat cantik dan elegan dengan baju hitam dan kulit putihnya yang cerah, Hanin pun memulai siaran live-nya..
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam, dengan promo discount 10% dan gift yang diberikan penonton sudah mencapai 120 ribu viewers, dan pesanan yang terus membludak banyak sekali..
Hanin sangat pintar memainkan strategi marketingnya dengan selalu memberi gift pada konsumennya, bahkan sampel produk yang ditawarkannya sehingga menjadi daya tarik tersendiri khususnya bagi pengguna serum wajah dan serum tubuh.
Tak terasa 2 jam sudah Hanin cuap-cuap mempromosikan produk-produknya, dan juga menjawab pertanyaan customer dan akhirnya ia mengakhiri siaran live-nya, Hanin juga banyak mendapat lemparan 'gift' dari viewers yang mensupportnya dan itu dapat dicairkan dalam bentuk uang tunai.
Setelah selesai, seluruh tim kreatif, tim promo yang bertugas memberi applause, bertepuk tangan mensupport Hanin dalam siaran live-nya.
Adrian saat ini tampak beristirahat makan siang bersama dengan kekasih lainnya di kantor, walaupun ia sudah bertunangan dengan Sita, dia adalah Davina, seorang ASN muda yang cantik, tepatnya seorang janda tanpa anak yang berhasil memikat hati Adrian.
"Lagi nonton apa sayang?" tanya Adrian di ruangannya sambil menatap Davina.
"Mm, ini mas lagi lihat live promo serum tubuh, cream malam, yang bisa bikin wajah glowing, produk dari Korsel, baguus!, mau lihat mas?" ujar Davina. "Ya, boleh juga.. aku kan perlu tahu selera kamu" ujar Adrian tersenyum.
Davina lalu memperlihatkan ponselnya yang sedang ia tonton pada kekasihnya, Adrian..
Deg, deg.. tiba-tiba saja hati Adrian bergetar hebat, jantungnya berdegub kencang melihat Hanin dengan luwes dan professional mempromokan produk kosmetiknya, Hanin juga berbeda sekarang ia tampil begitu cantik dan elegan..
"Dav, yang lagi promo itu siapa namanya?" tanya Adrian seolah tidak mengenalnya. "Oh, ini namanya mbak Hanin mas, dia hebat sekali.. jago sekali promonya, cantik ya mas kulitnya juga putih glowing" ujar Davina memuji kecantikan Hanin.
"Mm, ya lumayan cantik.. "ujar Adrian memuji Hanin mantan istrinya. "Ah, mas bisa aja.. "ujar Davina sambil terus memperhatikan live Hanin.
"Aku udah order, checkout 3 produk serum tubuh plus cream malam 2, dan mbak Hanin ini kasih aku gift banyak juga, dia ramah, baik sangat perhatian ke customernya" ujar Davina. Adrian hanya mengangguk.
"Hmm, nanti malam aku lihat juga ah live si Hanin via aplikasi Toktok aku, gila bisa cantik gitu si Hanin!" gumam Adrian yang sebenarnya menyesal telah menceraikan Hanin karena mengikuti saran ibu, dan kakaknya.
Sore harinya, tampak Adrian sudah berada di rumah ibunya untuk ikut mencuci pakaiannya, tampak Astrid kakaknya sedang menonton siaran 'live Hanin' di aplikasi toktoknya sambil mengumpatnya..
"Halah!, cantik cantik palsu paling juga pakai kamera jahanam, aslinya sih burik mukanya, nih orang hidupnya penuh kepalsuan" ujar Astrid sambil terus memaki Hanin.
"Kenapa marah-marah mbak?" tanya Adrian, "Mantan bini Lo tuh kecentilan lagi live dia di toktok, sok cantik, cantik kan juga gue, dasar perempuan mandul lagaknya!" ujar Astrid kesal sendiri.
"Mbak, nggak boleh gitu, emangnya Hanin merugikan mbak?, apa Hanin minta yang sama mbak?, kan nggak.. "ujar Adrian membela Hanin.
"Diam kamu Adrian!, ya jelas dia udah merugikan gue, mata gue jadi sakit lihat tingkahnya" ujar Astrid dengan hati kotornya.
"Ya kalau itu buat mata mbak sakit, ngapain juga terus lihat live si Hanin?" iya kan?" ujar Adrian. "Hahh, diam kamu Adrian!" ujar Astrid tambah emosi mendengar ucapan adiknya.
Adrian pun meninggalkan Astrid yang masih kesal dan pergi mencuci bajunya di belakang, setelah kering Adrian pun pamit pulang.
"Bu, Adrian pamit ya" ujarnya, "Oh iya Adrian, ibu dan mamanya Sita sudah sepakat menikahkan kalian" ujar ibu Hemas.
"Nanti ajalah bu, aku belum siap dananya, kalau pinjam bank untuk nikah aku malas.. bisa-bisa aku nggak bisa makan, belum mobil juga masih ada angsuran" ujar Adrian santai.
"Nanti kita bicarakan, ya Adrian.." ujar ibu Hemas. "iya bu, nanti aja" ujar Adrian sambil berjalan keluar rumah.
Tiba di rumah, Adrian melihat Sita sudah berada di rumahnya, memang Adrian sengaja memberikan duplikat kunci rumah pada Sita agar lebih leluasa masuk ke rumah.
Sita tampak menyambut hangat Adrian tunangannya pulang layaknya sekrang istri, "Sayang.. aku pulang kerja langsung kesini lho aku kangen kamu" ujar Sita sambil memeluk Adrian.
"Aku juga kangen, ya sudah aku mandi dulu biar kamu betah peluk-peluk lagi" ujar Adrian tersenyum, sambil memperhatikan lekuk tubuh Sita yang menggairahkan.
"Kamu sendiri udah mandi?" tanya Adrian, "ya belum atuh, ini juga masih seragam kantor" ujar Sita sambil melirik isi celana Adrian.
"Mm, ya udah kita mandi sama-sama aja biar segar, mau?" ujar Adrian sambil merangkul pinggang Sita.
Sita pun mengangguk tanda setuju.
Adrian lalu mengunci pagar depan, dan juga mengunci pintu utama lalu membawa Sita ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Sita sangat bahagia, melihat tubuh Adrian yang sudah tanpa boxernya.. Adrian pun demikian, ia mulai membasuh tubuh Sita dengan shower, Sita juga lebih agresif menyabuni tubuh Adrian hingga menyentuh milik Adrian yang sensitif,
"Mm, sayang kamu tuh ya.. jadi bangun nih si dede, gimana dong?" ujar Adrian merasakan tangan lembut Sita di miliknya yang sudah mengeras.
Sita pun paham dan mengerti apa yang harus dilakukannya, Aryo pun hanya pasrah dan menikmati mulut Sita yang sedang sibuk.
"Kamu makin pintar aja deh" ujar Adrian, "kan ini juga demi mas.. "ujar Sita yang juga menahan rasa geli karena jari tangan Adrian menyentuh gunung kembarnya.
Setelah selesai mereka pun saling mengeringkan satu sama lain dengan handuk putih besar.
"Mau pulang, apa nginap disini hayo?" tanya Adrian sambil masih memakai handuknya saja. "Mm, nginap aja deh.. soalnya aku masih pingin itu, "ujar Sita tanpa malu-malu lagi sambil menunjuk handuk Adrian.
Sita sering berhubungan intim dengan Adrian tapi ia belum juga merasa hamil, ia pun heran dengan hal itu..
"Mas, nanti kamu 'keluarin di dalem aja ya" ujar Sita merajuk, "Mm, iya.. kamu mau cepet hamil ya?" ujar Adrian sambil tangannya mulai meraba masuk ke dalam handuk Sita.
"Ya, iyalah mas.. hamil anak kita berdua" ujar Sita sambil menahan tangan Adrian yang sudah menyentuh miliknya di bawah handuk.
Sita lalu melepaskan tangan Adrian, "Mas.. udah dong nanti aja, sekarang kita makan dulu supaya ada tenaga" ujarnya sambil menyiapkan 2 nasi kotak yang dibelinya tadi.
Tanpa terasa waktu menunjukkan jam 22:00 malam, Adrian tampak mengganti celana boxernya yang baru.. dan Sita tampak seksi dengan lingerie merahnya, Adrian pun tersenyum lalu menarik Sita duduk di pangkuannya..
Adrian mulai menciumi leher Sita yang jenjang penuh gairah, dan Sita juga membalasnya.. dengan posisi Sita yang dipangku menghadap Adrian, Sita mulai merasakan 'milik' Adrian yang mengeras.. , Adrian pun juga merasakan sesuatu mulai basah di 'milik' Sita menyentuh boxernya,
"Mas, ... mmh.. "ujar Sita mulai merasakan benda tumpul Adrian masuk ke dalam bagian dirinya, dan ini membuat Sita semakin candu untuk terus menerus berhubungan intim dengan Adrian.
"Mas, si 'dede' enak banget.. kok bisa ya besar gede gitu, keras lagi, aku suka, badanku jadi hilang pegalnya.. stress aku jadi hilang" ujar Sita mulai meracau.
"Kamu juga sayang, sama.. hangat sekali di dalam juga wangi, "ujar Adrian sambil merubah posisinya sekarang sambil lidahnya memainkan 'milik' Sita yang paling sensitif.
Sita pun menjerit manja beberapa kali, karena Adrian berhasil menyentuh area sensitifnya, dan akhirnya Adrian mengeluarkan cairan cinta yang sangat banyak di dalam rahim Sita.. sesuai kemauan Sita.
"Maaass .... "ujar Sita tidak meneruskan kata-katanya lagi, Adrian pun tersenyum puas. Mereka pun lalu terkulai lemas di atas sofa bed.
Sita tidak menyadari kalau perbuatannya tadi adalah awal dari kehancuran dirinya.