Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuduhan yang menyakitkan
Suasana di taman belakang yang semula tenang kini berubah menjadi kacau. Suara keras Evan benar-benar mengusik tidur lelap Baby Zevan. Bayi kecil itu menggeliat, wajahnya memerah, dan sedetik kemudian tangisannya pecah, melengking tinggi penuh ketakutan.
Kevin, dengan ragu dan tatapan iba yang tertuju pada Kamila, perlahan mengambil Baby Zevan dari dekapan wanita itu. Kamila melepaskannya dengan tangan bergetar, matanya berkaca-kaca melihat Zevan yang mulai meronta. Kevin sebenarnya merasa ada yang salah, ia melihat ketulusan di mata Kamila dan yakin bahwa tuannya telah salah paham besar.
"Cup... cup... Sayang, ini Ayah di sini," Evan mengambil Zevan dari gendongan Kevin, mencoba menimangnya. Namun, bukannya tenang, tangisan Zevan justru semakin histeris. Tubuh mungilnya menegang, kakinya menendang-nendang, dan matanya yang basah bergerak liar mencari sosok Kamila. Zevan seolah sudah tertanam secara batin bahwa kenyamanan aslinya ada pada wanita yang baru saja diusir ayahnya itu.
Kamila yang tidak tega mendengar jeritan memilukan itu melangkah maju. "Tuan, tolong... biarkan saya menggendong kembali Baby Zevan. Kasihan dia menangis seperti itu, badannya bisa panas lagi," Kamila memohon dengan suara parau.
Evan menoleh dengan tatapan menghina. "Alah, diam kau! Tubuhmu tidak pantas berdekatan ataupun menyentuh putraku lagi!" bentaknya kasar.
"Ada apa ini?! Evan!"
Suara bariton yang tegas menghentikan perdebatan itu. Tuan Chen datang dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan kecemasan luar biasa saat mendengar suara tangis cucunya dari kejauhan. Padahal, selama dua hari ini, rumah itu terasa damai karena Zevan sudah tidak lagi rewel semenjak ada Kamila.
"Apa-apaan ini? Evan... kenapa Baby Zevan terus menangis?" tanya Tuan Chen sambil menatap tajam pada putranya.
"Pah, diamlah jangan ikut campur urusanku!" sahut Evan penuh emosi. "Aku sedang memberikan peringatan terhadap wanita ini. Dia harus pergi dari sini sekarang juga! Putraku tidak butuh wanita tidak jelas seperti dia!" tunjuk Evan tepat ke arah wajah Kamila yang kini menunduk dalam.
Tuan Chen mengepalkan tangannya, amarahnya memuncak. "Kamila tidak boleh pergi dari sini! Dia tetap akan menjadi ibu susu untuk Zevan, dan itu mutlak!"
"Apa? Pah... jangan konyol! Apa yang Papah lakukan ini benar-benar gila, aku tidak setuju!" balas Evan tak kalah keras.
"Diam kau Evan! Kau tahu apa soal putramu, hah?" Tuan Chen mendekat, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Selama kau sibuk dengan duniamu di Jepang, bayi ini hampir mati karena tidak mau menyentuh susu formula manapun! Hanya Kamila yang bisa menenangkannya. Sekarang, kau urus saja pekerjaanmu, jangan mengganggu Baby Zevan dan Kamila!"
Evan tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan prasangka buruk. Ia menatap ayahnya dan Kamila bergantian dengan pandangan jijik. "Oh, aku mengerti sekarang. Jangan bilang Papah mempertahankan wanita ini di rumah ini karena Papah menyukainya? Iya kan? Papah ingin menjadikannya pemuas... "
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Evan hingga wajahnya tertoleh ke samping. Keheningan seketika menyergap taman itu. Kevin menahan napas, sementara Kamila menutup mulutnya dengan tangan, terkejut bukan main melihat Tuan Chen yang biasanya tenang kini gemetar karena murka.
"Jaga bicaramu, Evan!" desis Tuan Chen dengan napas memburu. "Kau boleh membenciku, tapi jangan pernah menghina wanita suci yang telah menyelamatkan nyawa cucuku!"
Zevan yang masih di gendongan Evan semakin kencang menangis, seolah ikut merasakan ketegangan yang hebat di sana.
.
.
Tuan Chen segera mengambil Baby Zevan dari tangan Evan dengan gerakan cepat. Ia tidak mempedulikan tatapan tajam putranya. Begitu bayi itu berpindah ke pelukan Kamila, sebuah keajaiban yang menyesakkan dada terjadi. Tangisan histeris Zevan mereda seketika, berubah menjadi isakan kecil yang perlahan menghilang saat ia menyandarkan kepala kecilnya di dada Kamila, mencari aroma yang kini ia kenali sebagai sumber ketenangan.
Evan terpaku. Matanya menatap tidak percaya pada putranya yang begitu mudah luluh di tangan wanita yang baru saja ia maki habis-habisan.
"Kau lihat sendiri, Evan," ucap Tuan Chen dengan suara yang masih bergetar karena emosi. "Saat ini putramu sudah merasakan kenyamanan dengan Kamila. Ia sangat butuh kasih sayang seorang ibu, dan Kamila adalah wanita yang tepat untuk putramu."
Evan tidak lagi berkata-kata. Rahangnya masih mengeras, namun sorot matanya yang dingin menyimpan gejolak yang sulit diartikan. Ia menatap Papahnya sejenak, lalu memberikan tatapan penuh selidik ke arah Kamila sebelum akhirnya berbalik badan. Dengan langkah lebar dan berat, ia meninggalkan taman menuju kamarnya. Kevin, sang asisten, mengekor di belakang dengan perasaan was-was.
Langkah Evan terhenti tepat di depan pintu kamarnya yang besar. Tanpa menoleh, ia berujar pelan namun tegas.
"Kevin, pulanglah. Tugasmu sudah selesai. Besok pagi kita mulai kembali bekerja."
Kevin terdiam sejenak, namun nuraninya mendorongnya untuk bersuara. Ia tidak tega melihat Kamila diperlakukan seperti itu, padahal ia melihat sendiri bagaimana tulusnya wanita itu merawat Zevan.
"Maaf Tuan kalau saya lancang," Kevin memulai dengan hati-hati. "Tapi sepertinya Nona Kamila itu wanita baik-baik. Apalagi Tuan Muda merasa sangat dekat dan nyaman dengannya. Hati anak kecil itu lebih peka dari orang dewasa, ia tahu mana hati seseorang yang tulus atau tidak. Sebaiknya Tuan memikirkan kembali soal ibu susu untuk Tuan Muda."
Kevin menunduk hormat. "Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi. Jika Tuan membutuhkan sesuatu, segera hubungi saya."
Evan hanya mengangguk kecil tanpa suara. Setelah Kevin menghilang di balik lorong, Evan masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu dengan rapat, membiarkan dirinya ditelan kesunyian yang mencekam.
Perkataan Kevin terus terngiang-ngiang di telinganya seperti kaset rusak. 'Hati anak kecil lebih peka'... Evan mengembuskan napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang semrawut. Ia berjalan menuju tepi ranjang dan duduk di sana. Pandangannya tanpa sengaja tertuju pada sebuah bingkai foto di atas nakas, foto pernikahannya dengan mendiang istrinya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Evan meraih foto tersebut. Di sana, wajah cantik seorang wanita bernama Jingga tersenyum sangat manis ke arahnya.
"Jingga..." bisik Evan parau. Ia mengusap permukaan kaca foto itu dengan ibu jarinya, tepat di bagian wajah mendiang istrinya. "Andaikan kau masih ada di sini, mungkin putra kita tidak akan pernah mengalami hal seperti ini. Kenapa takdir begitu kejam?"
Setitik air mata yang sedari tadi ia tahan di depan Papahnya kini jatuh membasahi pipinya. Di balik sikap dingin dan kasarnya, Evan hanyalah seorang pria yang hancur karena kehilangan separuh jiwanya. Namun, bayangan Zevan yang tertidur pulas di pelukan Kamila kembali melintas di benaknya, menciptakan konflik baru di hatinya yang membeku
kopi untuk mu👍