"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertengkaran Devi
"Der, Lo setuju kalo ibu nikah lagi?" tanya Devi ketika tengah beristirahat di rumah, wanita itu melirik Deri yang asik bermain game.
"Terserah ibu sih. Lagian kayaknya ibu lagi dekat sama orang."
Devi langsung melotot mendengar ucapan Deri, ibunya sedang dekat dengan orang lain? Siapa? Kok dia enggak tau? Sejak kapan? Padahal baru setengah tahun berlalu tetapi ibunya sudah dekat dengan orang lain? Ini pacaran atau hanya teman?
"Kok bisa? Tau darimana?"
"Maju goblok, di belakang Lo. Anjir dapat kelompok beban doang!"
Tanpa mempedulikan pertanyaan Devi pria itu malah berteriak, untung saja ibunya dan Yogi tidak ada di rumah. Yogi tengah pergi ke rumah nenek sedangkan ibu pergi bekerja, mungkin sudah dua bulan wanita itu mulai bekerja di sebuah PT sawit.
Devi sudah melarang wanita itu untuk tidak bekerja tetapi Lastri tetap ingin bekerja, katanya daripada tidak melakukan apa-apa membuat Devi mau tidak mau setuju saja. Lagian ibunya juga harus mencari kesibukan demi melupakan kenangan buruk tersebut.
"Der! Jawab anjir, malah dikacangin!" Devi dengan pelan menendang Deri.
Pria itu sama sekali tidak melirik ke arah Devi, "waktu itu ada bapak-bapak nganterin ibu pulang. Gosip tetangga lagi dekat sama ibu. Kaya kak."
Devi melirik sinis Deri setelah mendengar kata kaya. Memang pikiran adiknya yang satu ini hanya uang. Devi tidak berkomentar lebih panjang karena Deri memang seperti itu, semenjak pria itu berbicara dengan Agnan terlihat jika anak itu sedikit berubah, pulang tidak pernah pagi lagi bahkan selalu rajin ke sekolah. Tidak seperti dulu.
"Gue jemput Yogi dulu."
Devi melangkah keluar dengan Deri yang tidak peduli akan kepergian Devi. Tidak membutuhkan waktu yang lama Devi sudah singgah di rumah neneknya, wanita itu melihat Yogi yang masih asik bermain sehingga Devi memilih untuk duduk dahulu.
"Yogi, nenek mana?"
"Tidur kak," balas Yogi masih asik bermain dengan keponakannya alias anak tantenya.
Saat Devi asik bermain ponsel entah darimana tante tiba-tiba datang dengan emosi tinggi yang mengejutkan Devi sehingga wanita itu langsung mengalihkan pandangan ke arah datangnya suara.
"Devi! Ajarin ya ayah kamu! tante capek lihatnya. Pulang tengah malam selalu mabuk, kamu anaknya ajarin ayahmu!"
Devi yang tidak tau apa-apa tiba-tiba dimarahi langsung berdiri, dia menatap wajah tante yang menunjuk wajahnya, dia bukan tipe wanita diam seperti dahulu.
"Kenapa jadi aku? Harusnya tante yang ngajarin ayah, Tante kakaknya, kenapa malah aku? Pulang mabuk bukan urusanku, dari dulu dia juga gitu. Kok malah marah samaku? Adik Tante sendiri, ajarin lah!" balas Devi sangat sengit.
Mendapatkan perlawanan dari Devi, wanita itu tambah emosi, "ngelawan kamu! Dibilang sama orang tua kamu ngelawan? Udah besar kamu hah! Ayah sama anak sama aja!"
"Lah? Tante yang ngapain, aku datang ke sini baik-baik, datang-datang emosi marah-marah samaku. Marah sama ayahku, adik Tante. Ngapain malah marah ke aku. Ayo Gi, kita pulang!"
Tidak ingin menambah keributan karena beberapa tetangga sudah keluar karena mendengar keributan tersebut, Devi menarik tangan Yogi untuk pulang lalu menghidupkan motornya. Tante masih terlihat mengomel sampai nenek sendiri keluar dari rumah.
"Udah Rum, malu diliat tetangga," ujar nenek memperingatkan anak perempuannya itu.
"Biar semua orang tau bu, enggak ada sopan Devi itu. Percuma kuliah tinggi-tinggi tetapi enggak punya sopan santun!"
"Gila," ucap Devi lalu mengendarai motor meninggalkan lokasi.
"APA KAMU BILANG? GILA? SINI KAMU DEVI SIALAN! ANAK KURANG AJAR!"
Devi melajukan motor sangat kencang, setelah dirasa jauh baru dia pelankan sambil mengatur deru napas serta emosinya yang sempat meninggi karena dimarahi seperti itu.
Sampai ibunya pulang Devi tidak menceritakan permasalahan ini karena ibunya pasti marah, bisa terjadi keributan kedua kali tetapi sepertinya masalah tidak selesai sampai sana saja karena saat malam datang pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang. Suara yang tidak asing untuk Devi membuat Devi bergegas keluar.
"Ini anak kamu, enggak punya sopan santun ngatain aku gila!"
Yap benar, tante datang bersama ayah bahkan wanita itu terlihat sangat emosi sambil menarik lengan baju ke atas seakan mengisyaratkan jika dia tidak takut siapapun. Devi masih diam sampai ucapan selanjut ayahnya membuat emosi Devi ikut naik.
"Devi, minta maaf sama tantemu, kamu disekolahkan tinggi-tinggi bukan untuk ngelawan. Dia masih ...."
"Ini semua gara-gara ayah! Pulang ke rumah nenek selalu mabuk. Aku yang dimarahi! Aku kuliah enggak ada ngabisin uang kalian! Enggak usah ngatur aku."
"Lihat! kurang ajar anakmu!" Jari tante menunjuk ke depan wajah Devi yang langsung ditepis oleh wanita itu.
"Tante marah sama ayahku jangan ke aku! Bukan salahku dia mabuk, judi, narkoba, bukan salahku. Ngomong sama dia, marah sama dia!"
Pertengkaran semakin sengit karena adu mulut antara Devi dan tantenya sehingga tetangga mulai keluar tidak terkecuali Lastri yang baru saja selesai mandi dan sholat.
"Ada apa ini?" Lastri muncul masih dengan mukena melekat, mendengar Devi yang tidak mempedulikan ibunya dan masih membalas ucapan tante yang sibuk mengoceh.
Tante tiba-tiba maju menunjuk wajah Devi bahkan berniat menampar wanita itu membuat Lastri menarik rambut wanita itu, melihat hal itu ayah menarik tante dengan Devi dan Deri menarik ibunya menjauh.
"Berani menyentuh Devi! Sialan ini kamu. Aku yang susah payah membesarkannya!" teriak Lastri.
Keadaan yang semakin memanas membuat ayah membawa tante yang masih mengoceh tidak karuan. Baru setelah mereka menghilang Lastri mengatur napas begitu pula dengan Devi, semua tetangga juga sudah bubar.
"Minum dulu Bu," ujar Devi memberikan segelas air.
Dia juga tidak lupa minum karena emosi mereka masih sama-sama mendidih, Yogi ataupun Deri tidak berkata apa-apa malahan Yogi duduk di samping Devi dengan tatapan khas anak kecil yang penuh penasaran membuat Devi mengelus rambut anak itu.
Saat masih mengatur napas ponsel tiba-tiba berdering, bukan ponsel Devi ataupun Deri melainkan Lastri melangkah ke arah kamar.
"Siapa?"
"Bapak baru," balas Deri dengan pelan.
"Wow."
...***...