Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri
Pagi itu, langit di atas kediaman Vance tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, seolah-olah alam pun enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di balik dinding marmer yang angkuh itu. Di dalam kamar yang luas namun terasa seperti sel isolasi, Alana masih terbaring lemah. Cairan infus memang sudah dilepas sejak semalam, namun wajahnya masih sepucat kain kafan. Lingkaran hitam di bawah matanya yang hijau zamrud mempertegas betapa hancurnya kondisi fisiknya setelah pingsan karena kelelahan dan tekanan batin yang ekstrem.
Setiap kali ia mencoba untuk menggerakkan kepalanya, dunianya berputar hebat. Rasa mual terus naik ke tenggorokannya, dan sendi-sendinya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es. Namun, ketenangan yang rapuh itu hancur saat pintu kamarnya dibuka dengan sentakan kasar yang membentur dinding.
Brixton masuk dengan langkah yang berat dan penuh dominasi. Ia sudah mengenakan setelan jas abu-abu gelap, rapi tanpa cela, kontras dengan Alana yang tampak rapuh di atas ranjang. Tidak ada raut khawatir, tidak ada pertanyaan tentang kondisinya. Yang ada hanyalah sorot mata tajam yang menuntut kepatuhan.
"Bangun," perintah Brixton dingin. Suaranya memecah kesunyian pagi seperti suara pecutan.
Alana mengerjap, mencoba memfokuskan pandangannya. "Brixton... kau sudah bangun?"
"Jangan bertanya hal yang tidak berguna. Aku baru saja menerima laporan bahwa barang-barang sumbangan yang dipesan atas nama keluarga Vance sudah tiba di panti asuhan asuhan Saint Jude. Aku ingin kau pergi ke sana sekarang juga dan memastikan semuanya diserahkan secara resmi. Aku tidak mau ada rumor bahwa keluarga kita abai terhadap tanggung jawab sosial."
Alana menarik napas pendek, mencoba mengumpulkan tenaga hanya untuk sekadar duduk. "Brixton... bisakah kita melakukannya besok? Kepalaku masih sangat pening. Dokter bilang aku butuh istirahat total setidaknya dua hari lagi. Aku bahkan belum bisa berdiri dengan tegak tanpa merasa ingin pingsan."
Mendengar penolakan itu, wajah Brixton mengeras. Rahangnya mengatup rapat, dan kilat kemarahan berkobar di matanya. Ia melangkah mendekat hingga bayangannya menutupi seluruh tubuh Alana yang gemetar.
"Istirahat? Kau pikir hidupmu ini adalah liburan panjang?" desis Brixton. "Aku memberimu kemewahan, nama besar, dan tempat tinggal yang layak, dan kau ingin menolak satu-satunya tugas yang bisa kau lakukan? Kau ingin membuat citra keluargaku hancur hanya karena kau merasa sedikit lemas?"
"Ini bukan sekadar lemas, Brixton... aku benar-benar sakit," Alana mencoba membela diri, suaranya parau dan lemah. "Aku tidak akan bisa tersenyum di depan anak-anak itu jika aku terus-terusan merasa ingin terjatuh."
"Kau akan tersenyum karena aku memerintahkannya!" bentak Brixton.
"Aku tidak bisa..."
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. Kepala Alana terlempar ke samping. Rasa panas yang menyengat segera menjalar di pipinya yang pucat, meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok. Alana terdiam, membeku dalam keterkejutan yang luar biasa. Air mata seketika menggenang, namun ia menahannya agar tidak jatuh. Rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa hancur di harga dirinya.
"Jangan pernah membantahku lagi," Brixton membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alana yang gemetar. "Kau masuk ke rumah ini sebagai pengganti yang tidak diinginkan. Jika kau tidak bisa menjadi aksesori yang berguna, maka kau tidak lebih dari sampah yang menghabiskan oksigen di sini. Pakai gaunmu, tutupi wajah pucatmu dengan riasan, dan berangkat sekarang. Jika aku mendengar kau tidak datang ke sana, kau tidak akan pernah melihat pintu keluar rumah ini lagi."
Alana hanya menunduk dalam. Rambut merah jambunya menutupi wajahnya yang kini bersimbah duka. Dengan suara yang sangat kecil, hampir tidak terdengar, ia menjawab, "Baik... aku akan pergi."
Brixton berdiri tegak, merapikan lengan jasnya yang sama sekali tidak berantakan. Ia mengeluarkan dompet kulitnya, menarik dua lembar uang kertas dengan nominal yang sangat minim, dan melemparnya ke atas ranjang di samping kaki Alana.
"Ini untuk ongkosmu dan makan siangmu. Jangan berani meminta uang lebih pada sopir atau menggunakan kartu kredit keluarga hari ini. Aku ingin kau belajar menghargai setiap sen yang kau habiskan dari keringatku. Kau bukan ratu di sini, Alana. Kau hanya tahanan yang kebetulan mengenakan gaun mahal."
Tanpa menoleh lagi, Brixton keluar dari kamar dengan angkuh.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Alana mencoba turun dari ranjang. Kakinya terasa seperti jelly saat menyentuh lantai dingin. Ia harus berpegangan pada tiang ranjang agar tidak tersungkur. Dengan perlahan, ia berjalan menuju meja rias. Di sana, ia melihat bayangannya yang mengenaskan. Pipi kirinya bengkak dan merah.
Ia mengambil bedak padat, mengaplikasikannya berkali-kali di atas bekas tamparan itu hingga warnanya tersamar di balik lapisan kosmetik yang tebal. Ia memulas bibirnya dengan gincu merah terang untuk menutupi bibirnya yang pucat pasi. Ia harus terlihat sehat, ia harus terlihat bahagia, demi ego pria yang baru saja menghancurkan jiwanya.
Bibi Martha masuk dengan mata sembab, sepertinya ia mendengar keributan tadi. "Nyonya... tolong jangan pergi. Saya akan bicara pada Tuan—"
"Jangan, Bibi," potong Alana pelan. "Itu hanya akan memperburuk keadaan. Tolong bantu aku memakai gaun ini."
Bibi Martha membantu Alana dengan hati yang hancur. Ia melihat bagaimana tubuh Alana limbung beberapa kali saat mencoba memasang kancing. "Tuan Brixton benar-benar sudah kehilangan nuraninya," isak pelayan tua itu.
Setelah siap, Alana berjalan keluar menuju mobil. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan gravitasi. Dunianya masih goyang, dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Di tangannya, ia memegang uang pas-pasan yang diberikan Brixton—jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membeli makanan yang layak di restoran pinggir jalan.
Sepanjang perjalanan menuju panti asuhan, Alana hanya menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil. Sopir yang membawanya sesekali melirik dari spion dengan tatapan iba, namun ia tidak berani bicara. Alana merasa seolah nyawanya sedang ditarik perlahan dari tubuhnya.
Sesampainya di panti asuhan, Alana dipaksa untuk turun. Begitu pintu mobil terbuka, hawa panas matahari menyengat kulitnya. Ia memaksakan sebuah senyuman saat melihat anak-anak panti berlari menyambutnya.
"Ibu Alana! Ibu Alana datang!" teriak mereka riang.
Alana berlutut dengan susah payah untuk memeluk salah satu anak kecil di sana. Kepalanya berdenyut hebat seolah mau pecah. "Iya, sayang... Ibu datang membawa hadiah untuk kalian."
Selama tiga jam berikutnya, Alana melakukan apa yang diperintahkan Brixton. Ia membagikan mainan, pakaian, dan buku-buku. Ia berdiri di bawah terik matahari, mendengarkan pidato pengurus panti, dan berfoto bersama dengan wajah yang tampak ceria di kamera. Tidak ada yang tahu bahwa di balik senyuman itu, Alana sedang berpegangan erat pada kursi atau meja terdekat agar tidak pingsan. Tidak ada yang tahu bahwa pandangannya seringkali kabur dan ia harus menggigit bibir dalamnya agar tetap sadar.
Saat jam makan siang tiba, anak-anak dan pengurus panti mengajaknya makan bersama di aula yang sederhana. Namun, Alana melihat uang di dalam tasnya. Uang itu benar-benar hanya cukup untuk sekali perjalanan pulang jika terjadi sesuatu dengan mobil jemputannya, atau hanya cukup untuk membeli sebotol air mineral dan sepotong roti kecil. Brixton benar-benar ingin menghinanya hingga ke titik terendah.
"Terima kasih, Bu Maria, tapi saya harus segera kembali. Ada urusan lain," ucap Alana berbohong, menolak tawaran makan siang karena ia merasa tidak sanggup untuk makan, dan ia terlalu malu jika orang lain melihat betapa minimnya uang yang dibawa oleh seorang istri miliarder.
Ia kembali ke mobil dengan tubuh yang gemetaran karena lapar dan sakit yang semakin parah. Perutnya kram, dan rasa panas tamparan Brixton tadi pagi seolah kembali membara di bawah terik matahari.
Dalam perjalanan pulang, mobil terhenti karena kemacetan total. Alana menatap ke luar jendela, melihat orang-orang yang berjalan bebas di trotoar. Ia merasa sangat iri pada mereka. Mereka mungkin tidak punya uang sebanyak keluarga Vance, tapi setidaknya mereka tidak harus hidup dengan pria yang memperlakukan mereka seperti binatang.
Ia meraba pipinya yang masih terasa kebas. Ia teringat kembali pada hari-hari awal pernikahannya, saat ia masih berharap bahwa kebencian Brixton hanyalah kesalahpahaman yang bisa diperbaiki. Namun sekarang, ia sadar bahwa bagi Brixton, ia bukanlah manusia. Ia hanyalah sasaran pelampiasan atas hilangnya Elena.
Aku merindukan Elena... kata-kata Brixton di bar semalam—yang diceritakan oleh para pelayan—terngiang di telinganya.
"Kenapa kau tidak membunuhku saja, Brixton?" bisik Alana dalam hati. "Kenapa kau harus menyiksaku perlahan seperti ini?"
Sesampainya di rumah, hari sudah sore. Alana turun dari mobil dengan sisa tenaga terakhirnya. Ia berjalan melewati ruang tengah dan melihat Brixton sedang duduk santai sambil membaca koran dan meminum kopi. Pria itu menatapnya sekilas, tidak ada penyesalan di matanya.
"Sudah selesai?" tanya Brixton tanpa minat.
Alana tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk, tangannya memegangi pinggiran meja untuk menopang tubuhnya.
"Bagus. Sekarang pergi ke kamarmu. Aku tidak mau melihat wajah pucatmu itu saat makan malam. Kau merusak selera makanku," ucap Brixton sambil kembali membalik halaman korannya.
Alana berbalik, menyeret langkahnya menuju tangga. Setiap anak tangga terasa seperti gunung yang harus ia daki. Begitu sampai di kamarnya, ia menutup pintu, menguncinya, dan langsung jatuh tersungkur di atas karpet. Ia tidak sanggup lagi mencapai ranjang.
Di sana, di dalam kesunyian kamarnya, Alana akhirnya menangis. Isakannya tertahan, tubuhnya meringkuk seperti janin di atas lantai. Ia merasa sangat kedinginan meskipun cuaca di luar hangat. Ia kelaparan, ia kesakitan, dan ia merasa sangat hancur. Uang pas-pasan yang diberikan Brixton masih tersisa sedikit di kantongnya—sebuah penghinaan yang terus mengingatkannya bahwa di mata suaminya, ia tidak lebih berharga dari segenggam recehan.
Malam itu, Alana tidur di atas lantai, pingsan lagi karena kelelahan yang luar biasa, sementara di ruangan sebelah, Brixton makan malam dengan mewah, tanpa sedikit pun memikirkan bahwa istrinya mungkin sedang sekarat karena perintah kejamnya. Sumpah di atas luka itu kini bukan lagi sekadar luka emosional, melainkan luka fisik yang mulai menggerogoti nyawa Alana perlahan-lahan.