Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Faris Keluar dari Inkubator
#
Dua minggu berlalu seperti neraka buat Zidan dan Naura. Setiap hari mereka ke rumah sakit buat jenguk Faris. Setiap hari mereka berdiri di balik kaca NICU sambil nangis liat anak mereka yang masih terbaring di inkubator dengan selang di mana mana.
Zidan kerja kayak orang kesetanan. Pagi di pasar. Siang nyetir angkot. Malam jadi tukang parkir. Tidur cuma tiga jam sehari. Makan seadanya. Badan makin kurus. Mata makin cekung. Tapi dia nggak peduli. Yang penting dia bisa bayar biaya rumah sakit. Yang penting Faris dapat perawatan terbaik.
Naura di rumah coba jualan gorengan lagi meski tubuhnya masih lemah. Dia masak sambil nahan sakit di perut bekas jahitan persalinan. Kadang dia harus duduk sebentar karena pusing. Tapi dia terus jualan. Untungnya tiga puluh sampai empat puluh ribu per hari. Lumayan buat tambah tambah.
Tiap sore mereka ke rumah sakit bareng. Berdiri di depan kaca NICU sambil liat Faris yang pelan pelan mulai membesar. Berat badannya naik. Dari satu koma delapan kilo jadi dua koma tiga kilo. Paru parunya mulai berkembang. Alat bantu napas udah dikurangi.
Dokter bilang perkembangannya bagus.
Hari ke empat belas, dokter panggil mereka ke ruangan.
"Bapak, Ibu, saya ada kabar baik. Faris sudah bisa keluar dari inkubator. Kondisinya stabil. Berat badannya udah dua koma lima kilo. Paru parunya udah berkembang dengan baik. Dia udah bisa bernapas sendiri tanpa alat bantu."
Naura langsung nangis. "Beneran Dok? Faris udah boleh keluar?"
"Iya Bu. Tapi masih harus rawat inap biasa selama tiga hari buat observasi. Kalau nggak ada masalah, Bapak Ibu bisa bawa pulang."
Zidan nggak bisa nahan air matanya. Dia peluk dokter itu sambil terisak. "Terima kasih Dok. Terima kasih banyak. Terima kasih udah selamatin anak saya."
"Sama sama Pak. Ini juga karena Faris anak yang kuat. Dia berjuang keras."
Siang itu juga, Faris dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Untuk pertama kalinya, Naura bisa megang anaknya. Bisa peluk tubuh kecil itu tanpa ada kaca penghalang.
Suster angkat Faris dari inkubator terus taruh di pelukan Naura dengan hati hati.
"Ini Bu. Anak Ibu."
Naura terima Faris dengan tangan gemetar. Dia lihat wajah anaknya dari deket. Mata kecil yang masih sering merem. Hidung mungil. Bibir tipis yang sesekali bergerak kayak mau nyusu. Jari jari kecil yang menggenggam udara.
"Faris sayang... ini Ibu. Maafin Ibu ya Nak. Maafin Ibu udah bikin kamu menderita dua minggu di inkubator. Maafin Ibu..."
Dia nangis sambil cium kening Faris berkali kali. Cium pipi. Cium tangan. Cium semua bagian tubuh anaknya yang selama ini cuma bisa dia liat dari jauh.
Zidan berdiri di samping sambil usap kepala Faris pelan. Air matanya nggak berhenti jatuh.
"Faris, ini Ayah. Terima kasih ya Nak. Terima kasih udah kuat. Terima kasih udah bertahan. Ayah sayang kamu. Sayang banget."
Mereka berdua nangis sambil peluk Faris di ruangan itu. Nangis bahagia. Nangis lega. Nangis syukur.
Tiga hari kemudian, Faris resmi boleh pulang. Dokter kasih surat keterangan sehat sama resep vitamin buat Faris. Naura gendong Faris dengan selimut lusuh yang dia bawa dari rumah. Zidan bawa tas kecil berisi pakaian bayi seadanya.
Di kasir, mereka harus bayar biaya rawat inap tiga hari terakhir. Total lima juta. Zidan bayar pakai uang pinjaman dari Pak Burhan. Sekarang uang pinjaman itu tinggal dua juta. Tapi hutangnya tetap sepuluh juta plus bunga yang terus nambah.
Mereka naik angkot pulang ke kontrakan. Naura duduk di pojok sambil gendong Faris erat erat. Takut kesenggol penumpang lain. Zidan duduk di sampingnya sambil lindungin mereka berdua dengan tubuhnya.
Sepanjang jalan Naura nggak berhenti liat Faris. Liat wajah anaknya yang tidur pulas. Dengerin napasnya yang teratur. Rasain kehangatan tubuh mungilnya.
"Mas, ini mimpi kan? Faris beneran udah di pelukan aku kan?"
Zidan senyum sambil usap pipi istrinya. "Bukan mimpi sayang. Ini nyata. Faris udah pulang. Udah sama kita."
Sesampainya di kontrakan, Bu Mariam udah nunggu di depan pintu dengan senyum lebar. Dia udah siapin beberapa bungkus makanan buat Naura dan Zidan.
"Alhamdulillah! Faris udah pulang! Sini Ibu liat!"
Naura tunjukin Faris ke Bu Mariam. Bu Mariam langsung nangis sambil usap kepala Faris pelan.
"Masya Allah. Sehat ya Nak. Ganteng kayak ayahnya. Semoga jadi anak yang sholeh. Yang berbakti sama orang tua."
"Aamiin ya Allah." Naura ikut nangis.
Bu Mariam kasih bungkusan makanan ke Zidan. "Ini buat kalian. Makan yang banyak. Naura harus makan bergizi buat ASI nya. Faris juga butuh ASI yang bagus."
"Terima kasih Bu. Nggak tau harus balas gimana lagi kebaikan Bu Mariam."
"Nggak usah dibalas. Yang penting kalian sehat semua."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Faris tidur di boks bayi di kontrakan mereka. Naura duduk di samping boks sambil terus ngeliatin anaknya. Takut kenapa kenapa. Takut berhenti napas. Takut ada yang salah.
Setiap lima menit dia cek napas Faris. Tempelkan tangan di dada kecil itu buat ngerasain naik turunnya.
"Mas, aku takut. Gimana kalau dia berhenti napas? Gimana kalau ada yang salah?"
Zidan duduk di sampingnya sambil peluk pundak istrinya. "Faris kuat. Dia udah lewatin inkubator. Dia pasti bisa. Kamu harus istirahat. Besok kamu harus kuat buat nyusuin dia."
"Tapi aku nggak bisa tidur Mas. Aku takut."
"Aku juga nggak bisa tidur. Gimana kalau kita jaga bareng? Kita gantian. Kamu tidur dulu dua jam. Aku yang jaga. Nanti aku tidur, kamu yang jaga."
Naura ngangguk. "Oke Mas."
Tapi akhirnya mereka berdua nggak ada yang tidur. Mereka duduk di samping boks sambil terus liat Faris sepanjang malam. Sesekali Faris nangis kecil. Naura langsung angkat terus nyusuin. Faris nyusu dengan lahap. ASI Naura keluar banyak. Alhamdulillah.
Pagi harinya, Zidan harus kerja lagi. Dia nggak bisa libur. Uang harus terus dicari. Hutang harus dibayar.
"Naura, aku berangkat ya. Kamu jaga Faris baik baik. Kalau ada apa apa langsung telpon aku."
"Iya Mas. Hati hati di jalan."
Zidan cium kening Naura terus cium Faris yang lagi tidur. "Ayah pergi dulu ya Nak. Ayah cari uang buat kamu."
Dia berangkat ke pasar dengan badan yang remuk. Tadi malem dia nggak tidur sama sekali. Mata perih. Kepala pusing. Tapi dia harus tetep kerja.
Di pasar, dia angkat angkat kardus kayak biasa. Tapi hari ini badannya nggak kuat. Di kardus kesepuluh, kakinya goyah. Matanya berkunang kunang. Kardus yang dia angkat hampir jatuh.
"Hei! Hati hati! Jangan sampe jatuh!" teriak Pak Marwan.
Zidan coba tahan tapi tubuhnya udah nggak kuat. Kardus itu jatuh. Isinya tumpah. Sayuran berserakan.
"Dasar nggak becus! Sekarang gimana ini? Sayurnya rusak semua!" Pak Marwan marah marah.
"Maaf Pak. Saya... saya lagi nggak enak badan."
"Nggak enak badan kok kerja? Udah sana pulang! Nggak usah kerja hari ini! Gaji kamu hari ini aku potong buat ganti rugi sayuran yang rusak!"
Zidan cuma bisa nunduk. Dia pulang dengan tangan kosong. Nggak dapat uang sama sekali. Malah rugi.
Dia duduk di pinggir jalan sambil megang kepala. Badannya lemes banget. Pengen tidur. Tapi nggak bisa. Dia harus nyetir angkot. Harus cari uang.
Dia maksa berdiri terus jalan ke terminal. Naik angkot yang dia sopirin. Mulai nyari penumpang.
Tapi seharian dia cuma dapet lima puluh ribu kotor. Kurang dari biasanya. Karena konsentrasinya buyar. Berkali kali dia nyaris nabrak karena ngantuk berat.
Sore itu dia pulang dengan lima puluh ribu di kantong. Dikurangi bensin, sisanya dua puluh ribu.
Dua puluh ribu.
Buat makan sekeluarga.
Dia beli nasi bungkus dua bungkus. Satu buat dia, satu buat Naura. Total sepuluh ribu. Sisa sepuluh ribu.
Sampe di kontrakan, dia lihat Naura lagi nyusuin Faris sambil senyum senyum.
"Mas udah pulang? Alhamdulillah. Faris hari ini baik baik aja. Dia nyusu terus. Kayaknya laper banget."
Zidan senyum sambil usap kepala Faris. "Bagus. Berarti ASI kamu banyak."
"Iya Mas. Alhamdulillah."
Mereka makan malam berdua dengan nasi bungkus seadanya. Naura makan dengan lahap karena butuh energi buat produksi ASI. Zidan makan sedikit aja. Sisanya dia simpen buat besok.
Setelah makan, Zidan duduk di pinggir kasur sambil liat Faris yang tidur di boks. Wajah anaknya yang mungil dan tenang.
"Faris, maafin Ayah ya. Ayah nggak bisa kasih kamu kehidupan yang layak. Rumah kita sempit. Makanan kita seadanya. Ayah masih banyak hutang. Tapi Ayah janji, Ayah akan kerja keras. Ayah akan kasih kamu yang terbaik. Ayah janji."
Naura duduk di sampingnya sambil sandar di pundak suaminya. "Mas, jangan terlalu dipikirin. Yang penting sekarang Faris sehat. Kita sehat. Itu udah lebih dari cukup."
"Tapi hutang kita ke Pak Burhan gimana? Bulan depan udah harus bayar dua juta. Belum cicilan rumah sakit satu juta. Dari mana kita cari uang sebanyak itu?"
Naura diem. Dia juga nggak tau.
Mereka tidur malam itu dengan pikiran berat. Faris tidur pulas di boks. Napasnya teratur. Wajahnya tenang.
Tapi orang tuanya tidur dengan resah. Pikiran kemana mana. Mikirin hutang. Mikirin masa depan. Mikirin gimana caranya bertahan hidup.
Tanggal lima bulan depan sudah dekat.
Hari dimana Zidan harus bayar bunga hutang dua juta ke Pak Burhan.
Kalau nggak bayar, dendanya tiga juta.
Kalau tetep nggak bisa bayar, rumah kontrakan mereka yang jadi taruhan.
Dan mereka akan kehilangan tempat tinggal.
Kehilangan segalanya.
Zidan merem sambil doa dalam hati. "Ya Allah, berikanlah aku jalan. Berikanlah aku rezeki. Aku nggak mau kehilangan rumah ini. Aku nggak mau keluarga aku jadi gelandangan. Aku mohon ya Allah. Dengan segala kerendahan hati aku mohon."
Tapi dia nggak tau.
Jawaban atas doanya akan datang.
Dalam waktu dekat.
Dari arah yang nggak pernah dia bayangkan.
Dan jawaban itu akan mengubah hidupnya.
Selamanya.
Tapi dengan harga yang sangat mahal.
Harga yang harus dibayar dengan kehancuran cintanya.
Dengan kehilangan keluarganya.
Dengan penyesalan yang akan menggerogoti sampai mati.
Tapi untuk malam ini, dia masih punya Naura.
Masih punya Faris.
Masih punya keluarga kecilnya yang utuh.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Untuk saat ini.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja