NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!

Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.

Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.


1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.

Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Sadis banget bang

HALO TEMAN-TEMAN VERA! BAGAIMANA KABARNYA?! ANTUM BAIK BAIK SEMUA?! OKE CUS LANGSUNG AJA KITA MASUK KE CERITANYA, CEKIDOT! 😉

HAPPY READING 😾

Sinar mentari yang hangat menggelitik kelopak matanya, memaksa Aluna terbangun.

Ia langsung terduduk di atas ranjang king-size yang empuk, matanya membelalak menatap sekeliling kamar.

Ingatan terakhirnya adalah jalanan gelap dari balik jendela mobil.

​'Bagaimana aku bisa sampai di sini?' batinnya penuh bertanya-tanya.

​Namun, ia tambah terkejut saat meraba tubuhnya sendiri.

Matanya terpejam sesaat, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat ketika ia menyadari bahwa gaun putih-pink seharga seratus lima puluh juta itu berganti dengan baju tidur berbahan satin yang tipis dan nyaman.

​Aluna menyentuh kerah bajunya dengan tangan bergetar. Ia tidak ingat pernah mengganti pakaian, bahkan ia tidak ingat melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Hanya ada satu nama yang melintas di benaknya—

​'Mas Arkan? Apa dia yang...?'

​Aluna mulai mondar-mandir di samping ranjang, wajahnya memerah. Ia segera menggelengkan kepala cepat, mencoba mengusir pikiran-pikiran liar.

​"Aluna, jangan berpikiran buruk dulu. Kamu tidak boleh asal nuduh," gumamnya pada diri sendiri, mencoba menaruh pikiran positif.

Ia melangkah ke balkon, membiarkan udara pagi menerpa wajahnya.

Ia juga meregangkan tubuh yang terasa kaku.

Ia masih tidak menyadari sepenuhnya bahwa semalam ia telah lancang menjadikan bahu kokoh Arkan sebagai bantal tidurnya.

​Setelah berganti pakaian dengan setelan rumah yang lebih santai, Aluna turun menuju ruang makan.

Namun, pemandangan yang menyambutnya hanyalah keheningan.

Kursi utama itu kosong.

Tidak ada Arkan dengan aura dinginnya, tidak ada denting sendok sama sekali.

Hanya ada jajaran menu sarapan yang masih mengepulkan uap hangat di atas meja.

​'Di mana Mas Arkan?' tanya batinnya spontan, sebelum ia segera merutuki dirinya sendiri.

'Untuk apa aku mencarinya? Bukankah lebih tenang jika dia tidak ada?'

​Tepat saat ia hendak menarik kursi, Bu Lastri melintas dengan nampan di tangan.

Seolah bisa membaca kebingungan yang tersirat di wajah Aluna, kepala pelayan itu tersenyum tipis dan membuka suara tanpa perlu ditanya.

​"Nyonya mencari Tuan Arkan? Tuan berada di ruang gym lantai atas," ujar Bu Lastri.

"Silakan sarapan dahulu, Nyonya. Tuan berpesan agar Nyonya segera makan tanpa perlu menunggunya."

​Aluna hanya mengangguk ringan, "Terima kasih, Bu Lastri," jawabnya singkat.

Aluna mengembuskan napas.

Ia membawa nampan sarapannya menuju sisi kolam renang, mencari suasana yang lebih terbuka.

Di sana, sinar matahari pagi jatuh menyentuh permukaan air, menciptakan pantulan cahaya yang menari-nari dengan indahnya—pemandangan yang sejenak membuatnya lupa akan status "dirinya disini" yang ia sandang.

​Ia duduk bersila di salah satu kursi, membiarkan kulitnya hangat tersengat mentari.

Dengan tenang, ia mulai menyobek potongan ayam, mencocolnya ke dalam sambal mayones, lalu menikmatinya perlahan.

Suasana begitu sunyi, hanya ada suara gemericik air dan kicauan burung dari arah taman.

...****************...

​Sambil merapikan barang-barang yang berserakan di kamarnya, Aluna mendapati sebuah jas hitam tersampir sembarangan di dekat laci.

Ia memungutnya, dan seketika aroma maskulin tercium—perpaduan antara kayu cendana dan cologne mahal—menyeruak indra penciumannya.

​'Ini milik Mas Arkan,' batinnya pelan.

​Ia sempat melangkah ke kamar sebelah untuk mengembalikannya, namun pintu itu terkunci rapat.

Mengingat ucapan Bu Lastri bahwa suaminya sedang berada di ruang gym, Aluna memutuskan untuk naik ke lantai atas.

Ia hanya ingin meletakkan jas milik pria itu dan segera lekas pergi.

​Langkahnya malah tertahan di depan pintu gym yang terbuka lebar.

Dari dalam, terdengar suara hantaman keras yang berulang—suara tinju yang menghujam samsak.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Aluna meneguk ludah. Ia berniat mengendap-endap masuk hanya untuk menaruh jas tersebut di kursi istirahat.

Namun, bagi pria dengan insting setajam Arkan, keberadaan Aluna mustahil terabaikan.

​"Kenapa kau?" suara berat itu menginterupsi gerakannya.

​Aluna membeku. "Ini... jas Mas Arkan tertinggal di kamar," jawabnya tanpa menoleh. "Aku permisi dulu."

​"Ke sini."

​Aluna meremas jemarinya, berusaha mencari alasan.

"Aku punya urusan lain, Mas—"

​"KE SINI!" seru Arkan dengan nada tegas tak bisa dibantah.

​Tubuh Aluna seolah bergerak otomatis. Ia berbalik dan melangkah mendekat.

Semakin dekat, aroma keringat mulai menguar dari tubuh Arkan.

Pria itu tampak begitu beringas— tubuhnya yang atletis dan berotot dipenuhi peluh, hanya mengenakan sarung tinju dan celana pendek boxer.

Aluna menunduk dalam, merutuki nasibnya yang harus terjebak dalam situasi yang tidak dia mau.

​Arkan akhirnya menyudahi latihannya. Ia melepas sarung tinjunya dengan kasar dan melemparkannya ke atas matras.

Dengan gerakan cepat, ia meneguk sebotol air dingin hingga tetesannya mengalir di rahang dan lehernya, lalu menyeka keringatnya menggunakan handuk putih.

Matanya yang tajam kini mengunci sosok Aluna yang tampak begitu kecil di hadapannya.

​​Arkan mengisyaratkan Aluna untuk duduk di sampingnya di bangku panjang area gym.

Aluna ragu sejegym—jarak mereka terlalu dekat, hingga ia khawatir detak jantungnya yang berpacu kencang bisa terdengar oleh pria itu.

Untuk menutupi kegugupannya, ia duduk dengan posisi menyamping, membelakangi Arkan.

Namun, Arkan yang tidak suka diabaikan langsung mencengkeram pundak Aluna dan memutar paksa tubuh wanita itu agar menghadapnya.

​"Jangan mencoba mengelak, jalang," desisnya rendah.

​"Ma—maaf, Mas," cicit Aluna refleks.

​"Ck, maaf untuk apa?" tanya Arkan menatapnya tajam.

​Aluna tertegun, bingung harus menjawab apa karena terlalu banyak kesalahan yang mungkin ia perbuat di mata pria itu.

Arkan berdecak kesal melihat Aluna bungkam.

"Kau tak ingat apa yang kau lakukan semalam? Tidur begitu saja di pundak orang lain tanpa izin."

​Mata Aluna membelalak lebar, ingatan samar di dalam mobil itu kini menghantamnya kembali.

"Ah?! Ma—maaf, Mas... semalam aku benar-benar sangat mengantuk, aku tidak sadar..."

​"Kau bahkan tidak menyentuh alkohol sama sekali. Benar-benar gak jelas," sahut Arkan ketus.

Pria itu bangkit berdiri dan mulai mengangkat sebuah dumbbell berat dengan tangan kanannya, membiarkan otot lengannya menegang sempurna.

​Aluna memperhatikannya dalam diam, hatinya masih dipenuhi satu pertanyaan besar yang mengganjal sejak ia bangun tadi pagi.

Apakah pria ini yang mengganti pakaiannya?

Namun, sebelum ia sempat bertanya, Arkan lebih dulu melempar kalimat yang cukup membuat Aluna sakit hati.

​"Kau suka digoda Mahendra di pesta kemarin? Kenapa tidak dengannya saja? Mahendra anjing itu pasti lebih suka meladeni wanita sepertimu."

​Aluna tersentak mendengar umpatan kasar itu. Rasa sakit hati yang ia pendam sejak semalam akhirnya meluap.

Ia mengepal tangannya erat di atas pangkuan.

"Mas juga sama saja!"

​Latihan Arkan terhenti seketika. Ia menurunkan beban itu dan menoleh dengan alis yang terangkat sebelah, tampak tidak terima.

"Maksudmu? Saya melakukan apa?"

​Wajah Aluna memerah padam, suaranya naik satu oktav karena perasaan malu yang memuncak sebelum dia berkata apa-apa.

"MAS JUGA SAMA SAJA DENGAN MAHENDRA! KEMARIN MAS YANG MENGGANTI PAKAIANKU, KAN?! A—AKU TAHU ITU!"

​Dalam hatinya, Aluna menjerit penuh harap.

'Tolong, Mas... katakan kalau Bi Lastri atau pembantu lain yang melakukannya. '

​Arkan menaruh beban itu di rak besi dengan bunyi denting keras.

Ia memutar lehernya, meregangkan otot bahu yang masih basah oleh keringat. Ia menatap Aluna dengan pandangan datar.

​"Memang kenapa kalau saya yang mengganti gaun mu? Tak boleh? Di dalam kontrak kita tidak ada aturan yang melarang hal itu. Coba kau baca lagi, kecuali jika terjadi hubungan badan, baru itu namanya melanggar. Hanya sekadar mengganti pakaian, kenapa seheboh itu?"

​Arkan melangkah mendekat, memberikan tatapan dingin.

"Lagipula, kau tidak perlu malu. Tidak ada satu pun hal menarik di tubuhmu yang layak dipandang..."

​BUM!

​Kalimat itu terasa seperti dihantam palu yang menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.

Ia terpaku, kehilangan kata-kata.

Bukan saja fakta bahwa Arkan telah melihat tubuhnya, tapi juga penghinaan dari pria itu—bahwa ia sama sekali tidak menarik—terasa jauh lebih menyakitkan.

Aluna mengepal tangannya hingga kukunya memutih.

Mata Aluna menatap tajam ke arah Arkan nyalang, mencoba bertahan.

Namun, suasana tegang itu dihentikan oleh getaran ponsel di sakunya.

Ia menghapus air mata yang sempat lolos, lalu mengambil ponselnya.

Nama Reno, teman kuliahnya dulu, terpampang di layar.

​Aluna bangkit dan menjauh ke sudut ruangan, berharap mendapatkan sedikit privasi.

"Iya, Ren? Ada apa?"

​"Luna! Lama sekali kita tidak bertemu ya..." suara Reno terdengar ceria.

​"Eh, iya... lama juga ya," jawab Aluna, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya. Ia merasa sedikit lega karena ternyata masih ada orang yang peduli padanya di luar sana.

​"Kapan-kapan ayo kita bertemu, aku rindu nih, hehe..." Reno terkekeh.

"Oh iya, aku mau memberikan dokumen ijazahmu yang tertinggal. Takutnya kamu butuh sekali, kan?"

​Aluna mengangguk, baru saja hendak menjawab tiba-tiba sebuah tangan besar merenggut ponsel itu dari telinganya dengan kasar.

Arkan berdiri di sana, auranya gelap— mengancam.

​"Maaf, wanita ini masih ada sesi penting dengan saya," ucap Arkan dingin saat Reno bertanya siapa dia.

Tanpa menunggu balasan, Arkan mematikan sambungan itu dan—tangannya menghancurkan ponsel itu hingga retak dan mati total.

​Aluna terkejut setengah mati. "Ke—kenapa, Mas?!" jeritnya.

Semua nomor kontak dan kenangan di ponsel itu sirna seketika. Ia bergerak maju hendak menampar Arkan, namun tangannya segera ditangkap dengan mudah.

​"Beli yang baru, saya ganti," ucap Arkan tanpa dosa.

​"BUKAN MASALAH PONSEL BARU, MAS! DI SANA ADA NOMOR TEMAN-TEMANKU!"

​Arkan mendengus meremehkan. "Oh, punya teman? Kirain sendirian."

​Bum!

Kata-kata itu menghantam Aluna sekali lagi. Ia terdiam dengan mata berkaca-kaca, keinginan untuk mengakhiri kontrak gila ini semakin ia harapkan.

"Mas... aku tidak pernah menemukan pelanggaran soal ini di kontrak. Jadi terserah aku mau menelepon siapa pun, pernikahan ini hanya sandiwara, kan?!"

​Mendengar perlawanan dari Aluna, rahang Arkan mengeras.

Baginya, kontrak adalah mutlak, dan ia adalah pemilik kontrak itu.

Arkan mendekat, jemarinya mencengkeram wajah Aluna dan sengaja menekan luka kering di pipinya hingga kembali robek dan berdarah.

Aluna merintih kesakitan, namun rintihannya tertahan saat Arkan tiba-tiba membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman kasar yang lebih mirip serangan.

​Arkan menggigit bibir Aluna hingga rasa amis darah memenuhi mulut mereka. Aluna melotot, air matanya tumpah karena rasa ngilu dan kaget yang luar biasa.

Setelah melepaskan pautannya, Arkan meludahkan darah dari bibir Aluna ke lantai dengan wajah dingin.

​"Sekali lagi kau melawan, Aluna, jangan harap hidupmu sempurna. Di tanganku kau itu hanya barang. Jangan berpikir macam-macam, mengerti?! Jika kontrak sudah habis, terserah kau mau melakukan apa. Tapi selama masih di dalam kontrak, turuti kemauan saya dan jangan mengelak!"

​Aluna jatuh terduduk, tubuhnya bergetar hebat. Ia meringkuk, menenggelamkan kepalanya di antara kedua lutut dan menangis sesak.

Ia merasa hancur, terhina, dan tak tahu harus meminta tolong pada siapa.

​"Mulai hari ini, kalau mau keluar harus seizin saya! Tidak boleh menolak! Kau lihat bagaimana gilanya wartawan kemarin? Kau mau saya kena skandal?!" Arkan berteriak, lalu memanggil pengawal bertubuh kekar.

"Awasi dia setiap hari, bahkan di depan pintu kamarnya. Jika dia melawan, kalian bebas melakukan kekerasan fisik asal dia tak mati."

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!