NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 21

Langit menggantung rendah, berwarna abu pucat dengan garis awan yang saling bertumpuk tanpa arah. Bukan hujan yang turun, melainkan udara dingin yang meresap perlahan ke sela-sela kulit, membuat suasana terasa diam namun penuh gerak yang tak terlihat.

Yurie berdiri di dekat jendela tinggi apartemen itu, punggungnya bersandar ringan pada bingkai kaca. Tangannya memeluk cangkir teh yang kehangatannya mulai memudar, tetapi ia tak tergesa untuk meneguknya. Pikirannya melayang—bukan pada masa lalu yang selama ini menghantuinya, melainkan pada sesuatu yang jauh lebih dekat, lebih nyata.

Langkah kaki terdengar pelan dari belakang.

“Apa kota selalu terlihat seperti ini kalau dilihat dari ketinggian?” suara Kaiden menyusup, rendah dan tenang.

Yurie menoleh. Kaiden berdiri beberapa langkah darinya, tubuhnya bersandar pada dinding dengan posisi santai. Wajahnya tampak sama seperti biasanya—dingin di luar, sulit ditebak—namun sorot matanya tak sepenuhnya tertutup.

“Entahlah,” jawab Yurie pelan. “Mungkin kota ini memang selalu sibuk, hanya saja kita jarang benar-benar melihatnya.”

Kaiden mendekat, berdiri sejajar dengannya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat kehadirannya terasa nyata. Dari tempat itu, lampu-lampu gedung terlihat seperti barisan cahaya kecil yang tak pernah benar-benar padam.

“Biasanya kau menghindari jendela,” kata Kaiden tiba-tiba.

Yurie tersenyum samar. “Kau memperhatikannya?”

Kaiden tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, lalu berkata, “Aku memperhatikan hal-hal yang berubah.”

Jawaban itu membuat Yurie terdiam sesaat. Ia menarik napas perlahan, merasakan dadanya mengembang dengan rasa yang belum sepenuhnya bisa ia beri nama.

“Aku tidak tahu kapan mulai berhenti menghindar,” ujarnya akhirnya. “Tapi sekarang, berdiri di sini… rasanya tidak seseram dulu.”

Kaiden meliriknya sekilas. “Karena kau tidak sendirian.”

Kalimat itu sederhana, namun jatuh tepat di tempat yang rapuh di dalam diri Yurie. Ia menunduk, jarinya mencengkeram cangkir lebih erat.

“Kau tahu,” lanjut Kaiden, suaranya sedikit lebih rendah, “aku tidak pandai menghibur.”

Yurie terkekeh kecil. “Aku tahu.”

“Tapi kalau kau butuh diam, aku bisa menemanimu.”

Sunyi kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, sunyi itu terasa hangat, seperti selimut tipis yang membungkus perlahan. Yurie menoleh, menatap Kaiden yang berdiri di sampingnya—begitu dekat, namun tetap memberi ruang.

“Apa kau pernah merasa…” Yurie berhenti sejenak, memilih kata-katanya. “Bahwa sesuatu yang dipaksakan justru tumbuh dengan cara yang paling alami?”

Kaiden menatapnya cukup lama, lalu mengangguk kecil. “Aku mengalaminya sekarang.”

Detak jantung Yurie terasa sedikit lebih cepat. Ia tidak mengalihkan pandangan, membiarkan mata mereka bertemu tanpa buru-buru menyingkir.

Di luar sana, kota tetap bergerak. Namun di dalam ruangan itu, waktu seolah melambat, memberi mereka kesempatan untuk mengenal jarak yang tak lagi terasa dingin—jarak yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang hangat, meski belum sepenuhnya diucapkan.

......................

Malam jatuh tanpa suara. Bukan gelap yang tiba-tiba, melainkan bayangan yang merambat pelan, menutup sisa-sisa cahaya di balik kaca. Lampu kota di kejauhan berkelip seperti napas yang tertahan—hidup, tetapi lelah.

Kaiden berdiri di balkon, kedua tangannya bertumpu pada pagar besi yang dingin. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa yang mengingatkan pada banyak hal yang selama ini ia simpan rapat. Dari tempat itu, dunia terlihat kecil, seolah semua masalah bisa diringkas menjadi titik-titik cahaya yang jauh dari jangkauan.

Pintu balkon terbuka perlahan.

Yurie melangkah keluar tanpa suara, mengenakan jaket tipis yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Ia berhenti beberapa langkah di belakang Kaiden, ragu apakah kehadirannya akan mengganggu. Namun Kaiden sudah menyadarinya.

“Anginnya dingin,” ucap Kaiden tanpa menoleh.

“Masih bisa ditahan,” jawab Yurie. Ia mendekat, berdiri di samping Kaiden, menjaga jarak yang sama seperti sebelumnya—tidak terlalu dekat, tidak pula menjauh.

Mereka kembali terdiam. Kali ini, keheningan membawa beban yang berbeda. Bukan sekadar nyaman, melainkan penuh pikiran yang belum sempat diurai.

“Ada banyak hal yang tidak kau ceritakan,” kata Yurie akhirnya, suaranya pelan namun mantap.

Kaiden menghela napas tipis. “Dan kau tidak memaksaku.”

“Aku hanya ingin kau tahu,” lanjut Yurie, menatap lurus ke depan, “bahwa diam pun bisa jadi bentuk kepercayaan.”

Kaiden menoleh. Untuk sesaat, ekspresinya

runtuh—hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk menunjukkan sesuatu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

“Aku terbiasa menyimpan,” katanya. “Karena setiap kali aku berbagi, sesuatu selalu diambil dariku.”

Yurie menggenggam jemarinya sendiri, menahan dorongan untuk meraih tangan Kaiden. Ia memilih tetap di tempatnya, menghormati batas yang belum diizinkan.

“Aku juga,” ujarnya pelan. “Tapi mungkin… tidak semua hal harus berakhir dengan kehilangan.”

Angin berembus lebih kuat, membuat ujung rambut Yurie bergeser mengenai lengan Kaiden. Kontak kecil itu membuat Kaiden menegang sesaat, lalu mengendur. Ia tidak menjauh.

“Aku tidak menjanjikan apa pun,” ucap Kaiden, suaranya rendah, hampir tenggelam oleh suara malam. “Aku hanya tahu, bersamamu… kepalaku tidak terlalu berisik.”

Itu bukan pengakuan cinta. Namun bagi Yurie, kalimat itu jauh lebih berarti daripada kata-kata manis yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.

Ia tersenyum kecil. “Itu sudah cukup.”

Kaiden menatap langit yang tertutup awan. “Untuk sekarang.”

Mereka berdiri berdampingan, tidak saling menyentuh, namun kehadiran satu sama lain terasa utuh. Di balik keheningan itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh—perlahan, rapuh, tetapi nyata.

Dan tanpa mereka sadari, dari kejauhan, ada mata-mata yang mulai bergerak. Bukan untuk menghancurkan dengan cepat, melainkan mengamati, mencatat, menunggu waktu yang tepat.

Malam itu tetap tenang.

Namun di balik ketenangan itu, takdir mulai beringsut ke arah yang tak bisa lagi dihindari.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!