NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANINDYA PUTRI

Motor tua itu berhenti dengan suara mesin yang sedikit kasar tepat di depan sma Bhayangkara.Vion menghela napas panjang, merapikan kerah kemejanya di kaca spion sebelum merogoh saku celana untuk mengirim pesan singkat pada perempuan yang baru seminggu ini memanggilnya dengan sebutan sayang.

Hanya berselang beberapa menit, sosok yang ditunggu muncul dari balik pintu kaca gedung sma itu. Rambutnya yang sebahu tampak bergoyang seiring langkah kakinya yang riang.

Matanya menyipit mencari-cari, hingga akhirnya beradu pandang dengan vion yang sudah menyandarkan tubuhnya di motor tuanya.

Sebuah senyum lebar terkembang di wajah gadis itu, membuat rasa kesal vion seharian ini menguap begitu saja. Ia sedikit berlari kecil sambil memeluk beberapa buku tebal di dadanya, memperpendek jarak dengan wajah yang memerah karena antusias.

​Rambut hitamnya yang lebat dibiarkan tergerai sebahu, namun disematkan jepit perak mungil di satu sisi agar tidak menutupi wajahnya yang kuning langsat.

Kulitnya tampak halus, seolah tak pernah tersentuh debu jalanan desa. Poni samping yang sedikit menjuntai seringkali ia selipkan ke belakang telinga, sebuah kebiasaan kecil yang justru menambah daya tariknya saat ia tertawa renyah.

​Anindya putri, nama yang sudah tidak asing lagi di telinga para pemuda setempat. Ia memang tidak memiliki tinggi badan layaknya model papan atas, namun proporsi tubuhnya yang padat dan berisi memberikan kesan bugar sekaligus anggun secara bersamaan.

​Sebagai putri tunggal dari pak lurah, Anindya putri adalah permata di wilayah ini. Status sosial keluarganya yang terpandang, dipadukan dengan pesona fisiknya yang memikat, membuat setiap mata lelaki akan mencuri pandang saat ia melintas.

Tak peduli seberapa tinggi nyali mereka, Anindya adalah sosok yang selalu menjadi pusat pembicaraan di kedai kopi hingga sudut-sudut balai desa.

​"Maaf banget ya, telatnya kebangetan. Tadi ngisi bensin dulu soalnya antri," ucap vion sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

​Putri hanya diam. Matanya tertuju pada motor bebek tahun 90-an milik vion. Suaranya? Jangan ditanya. Sekali gas, bunyinya sudah seperti mesin parut kelapa yang dipaksa kerja lembur.

​Duh, beneran naik ini? batin Putri sambil memilin ujung bajunya. Padahal ia sudah berdandan maksimal dengan rok plisket favoritnya.

Ia membayangkan bagaimana rasanya melewati deretan kafe hits dengan motor yang "estetik" secara paksa ini.

​Namun, saat putri mendongak untuk protes, ia justru terpaku. Sinar matahari sore jatuh tepat di wajah vion, menonjolkan garis rahangnya yang tegas dan senyum canggung yang terlihat sangat tulus.

Rambut vion yang sedikit berantakan karena helm justru membuatnya terlihat sepuluh kali lipat lebih menarik.

​"E-eh... iya, nggak apa-apa kok, Kak," gumam putri pelan. Bibirnya sedikit manyun, masih berusaha memproses kontras antara motor butut itu dan pemiliknya yang kelewat tampan.

"Ayo cepat naik, yang. Filmnya mulai lima belas menit lagi. Kalau telat, kita bakal ketinggalan adegan pembukanya," seru vion sambil menyalakan motor bebek tuanya yang mengeluarkan suara knalpot sedikit parau.

​Dengan helaan napas berat, putri melangkah mendekat. Ia menatap nanar motor di depannya. Hari ini ia sudah memakai rok plisket favorit dan sepatu flat shoes yang bersih, namun sekarang ia harus berhadapan dengan kenyataan pahit.

Saat ia mencoba naik, ia baru menyadari sesuatu yang lebih parah: jok motor itu robek di bagian samping dan ditambal dengan lakban hitam yang mulai mengelupas.

​"Aduh, maaf ya, yang. Kemarin kucing tetangga nyakar-nyakar joknya. Belum sempat aku bawa ke tukang servis," ucap vion cengengesan saat melihat mata putri tertuju pada lakban tersebut.

​Putri tidak menyahut. Ia naik dengan kaku, berusaha duduk di ujung jok agar roknya tidak terkena lem lakban yang lengket.

Suasana di dalam bioskop yang seharusnya romantis justru terasa hambar. Putri lebih banyak diam, matanya menatap layar tapi pikirannya sibuk merutuki noda lem lakban yang ternyata menempel di roknya.

Usai film selesai, ia langsung meminta pulang tanpa mau mampir membeli es krim seperti rencana awal. Ia sudah benar-benar enek melihat motor bebek vion yang terparkir di antara deretan motor sport keren milik pengunjung lain.

​Padahal, tadinya putri sudah berencana ingin berfoto bersama vion di lobi bioskop, lalu mengunggahnya ke media sosial untuk memamerkan pacar barunya yang berwajah rupawan.

Tapi niat itu terkubur dalam-dalam. Apa gunanya punya pacar ganteng kalau harga dirinya jatuh saat melihat motor butut itu di parkiran?

​"Besok pagi aku jemput ke sekolah ya, put?," tawar vio dengan senyum tulus, benar-benar tidak menyadari badai yang sedang berkecamuk di hati kekasihnya.

​Putri menggeleng cepat tanpa menoleh. "Enggak usah. Aku mau naik ojek online aja."

​"Loh, kenapa? Kan lumayan irit ongkos. Oh, atau besok sorenya aja pas pulang, aku tunggu di gerbang ya?" vion masih mencoba gigih, ia merasa sangat beruntung bisa memiliki gadis secantik putri.

​putri menghentikan langkahnya tepat di depan pagar rumah. Ia menarik napas panjang, menatap vion dengan tatapan dingin.

​"Nggak usah repot-repot, Mas. Dan kayaknya... nggak usah jemput-jemput lagi untuk seterusnya. Mending kita udahan aja sampai di sini," ucap putri telak.

​vion tertegun, mesin motornya yang masih menyala seolah ikut terbatuk mendengar keputusan mendadak itu. Sementara putri langsung berbalik masuk, meninggalkan vion yang masih kebingungan di atas jok motor bertambal lakbannya.

Kalimat yang dilontarkan putri di depan pagar tadi terus terngiang-ngiang seperti kaset rusak di kepala vion. Dadanya terasa sesak, panas oleh emosi yang bercampur aduk antara tidak percaya dan amarah yang meluap.

Mereka baru resmi jadian sepuluh hari yang lalu, dan hubungan itu kandas dalam hitungan detik hanya karena masalah jok motor yang robek?

​"Gila! Benar-benar nggak masuk akal!" geram vion sambil memukul stang motornya dengan keras hingga tangannya terasa perih.

​Hanya karena satu kali jalan menggunakan motor aslinya, putri langsung membuangnya seperti sampah. vion merasa harga dirinya diinjak-injak. Alasan itu terdengar sangat dangkal dan kekanak-kanakan, menunjukkan dengan jelas bahwa yang dicintai putri kemarin bukanlah dirinya.

​Padahal, tiket bioskop dan camilan tadi dibeli dengan uang hasil memeras bapaknya tadi.

​"Sialan! Cewek nggak tahu diri!" makinya ke arah kegelapan jalanan sepi.

​vion mengacak-acak rambutnya dengan kasar, melampiaskan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia ingin sekali membenci putri, namun di sisi lain, bayangan senyum gadis itu masih membekas kuat di ingatannya. Ia benar-benar sudah terlanjur jatuh hati pada sosok yang ia kira tulus, namun ternyata hanya memandang rupa dan harta.

Setelah hampir satu jam terdiam di pinggir jalan yang gelap, vion akhirnya memilih untuk pulang. Pikirannya buntu.

​Ia membatalkan niatnya untuk pergi ke pangkalan ojek tempat biasanya ia dan teman-temannya menumpang Wi-Fi gratis sambil mabar game online.

Ia tahu betul, jika ia muncul sekarang, teman-temannya pasti akan langsung memberondongnya dengan pertanyaan tentang kencannya dengan putri.

Kabar ia berhasil menggandeng bunga desa itu sudah tersebar luas, dan ia belum siap mengakui bahwa hubungan itu kandas secara tragis dalam semalam hanya karena motor bututnya.

​vion memarkirkan motornya dengan kasar di teras rumah yang sempit. Matanya menangkap pemandangan yang tak asing: sebuah gerobak kayu tua milik ayahnya yang digunakan untuk berjualan bakso keliling terparkir di pojok. Itu tandanya sang ayah sudah pulang.

​Dengan perasaan dongkol yang masih membara, vion melangkah ke pintu depan. Tanpa mengetuk atau mengucap salam, ia menendang pintu kayu tersebut dengan kaki kanannya hingga terbuka lebar dan menabrak dinding dengan suara keras.

BRAKK!

​"Astaga, vion! Kamu ini kenapa?" seru ibunya dari arah dapur, kaget sambil mengelus dada melihat kelakuan anaknya yang tiba-tiba meledak.

​Vion tak menyahut. Ia melengos begitu saja masuk ke kamar, meninggalkan orang tuanya yang terpaku penuh tanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!