Jemi adalah seorang gadis yang tertutup dan sulit membuka dirinya untuk orang lain. Kepergian ibunya serta kekerasan dari ayahnya membuat Jemi depresi hingga suatu hari, seorang pengacara datang menemui Jemi. Dia memberikan Jemi kalung Opal berwarna ungu cerah. Siapa sangka kalung Opal itu bisa membawa Jemi ke ruang ajaib yang bisa membuatnya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Ruang itu pun berkembang menjadi sebuah tempat yang diimpikan Jemi.
Ikuti terus kisah Jemima Shadow, yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irish_kookie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Ditakdirkan
Jemima menoleh ke arah pintu dan segera berlari untuk menolong pria tersebut.
Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok pria yang penuh luka di sekujur tubuhnya. "K-Kai?"
Kai tersenyum lemah. "Tolong aku."
Setelah itu, dia pun tak sadarkan diri.
Kai terbangun dengan harum cokelat hangat dan bau kayu manis masuk ke dalam indera penciumannya.
"Errgghhh," lenguh Kai sambil berusaha membuka mata dan beranjak duduk perlahan.
Jemima berjalan cepat menghampiri Kai. "Berbaringlah saja dulu, Kai. Kau masih belum sadar sepenuhnya."
Namun, Kai tetap berusaha duduk dengan menggunakan tenaganya yang tersisa. "Aku baik-baik saja, Jemi."
Akhirnya, Jemima menyerah dan membantu Kai untuk duduk di satu-satunya sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Di mana kita?" tanya Kai sambil menyesap cokelat hangat yang diberikan Jemima kepadanya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kai, Jemima bertanya balik pada pemuda itu. "Apa yang terjadi padamu dan bagaimana kau bisa sampai sini?"
Kai menggerakkan tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Jemima, tetapi seluruh tubuhnya terasa sakit.
Dia pun mengerang. "Errgghh! Sial!"
Dengan sabar, Jemima berpindah tempat dan duduk di depan Kai. "Kau yakin kau baik-baik saja? Apa perlu kuantar ke rumah sakit?"
"Apa di sini ada rumah sakit?" tanya Kai menyeringai.
Jemima menunduk. Dia baru menyadari kalau mereka sedang berada di ruang yang aneh dan tak ada kehidupan.
"Apa kau tau tempat apa ini?" tanya Kai lagi.
Jemima mengangkat bahunya. "Aku tidak tau. Tapi, aku perlu tau bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?"
Sama seperti Jemima, Kai juga mengangkat kedua bahunya saat menjawab pertanyaan gadis manis itu. "Ini kedua kalinya aku sampai di tempat aneh ini."
"Seperti ada pusaran yang menelanku dan tiba-tiba saja, aku sudah berada di sini," jawab Kai.
Dia berusaha mengingat setiap detai perpindahan dirinya hingga sampai ke ruangan yang dianggap aneh itu.
"Entah apa pusaran aneh itu. Aku juga tidak tau bagaimana aku bisa ditarik ke sini," kata Kai.
Pemuda itu melihat ke sekeliling dan bersiul kagum. "Tempat ini berkembang menurutku. Waktu pertama aku ke sini, tempat ini tidak begitu luas."
"Yah, warna ungu manis itu masih ada di sini. Lalu, meja dan kursi. Cangkir kopi dan cermin bulat," kata Kai lagi.
Jemima mengerutkan keningnya. "Cermin bulat? Cermin di sini berbentuk oval."
Kai menoleh mencari cermin bulat yang dia maksud dan wajahnya tersenyum saat menemukan cermin tersebut.
Jadi telunjuknya teracung. "Jemi, lihat ke arah sana. Itu cermin bulat, bukan oval!"
"Itu oval, bukan bulat! Ayo, kita berdiri dan lihat lebih dekat supaya kau bisa membedakan bentuk bulat dan oval." Jemima membantu Kai untuk berdiri dan memapahnya untuk berjalan.
Lalu, mereka berdua berdiri di depan cermin. "Kau lihat? Cermin itu oval!"
"Bulat, Jemi!" Kai tersenyum saat melihat cermin itu. Tak lama, keningnya mengerenyit. "Nenek Golda?"
Kali ini, giliran Jemima yang mengerutkan keningnya. "Nenek Golda? Itu bayanganku!"
Kai menyipitkan matanya dan melihat lebih dekat. "Itu Nenek Golda. Tunggu, aku rasa ada yang aneh di sini."
"Aneh? Apa maksudmu?" tanya Jemima yang bolak-balik melihat cermin dan Kai.
Gadis itu juga melakukan yang sama dengan Kai. Dia menyipitkan matanya dan melihat lebih dekat apakah pantulan dirinya menyerupai nenek-nenek.
"Aku melihat cermin bulat dan pantulan Nenek Golda dan kau melihat cermin oval dengan pantulan dirimu sendiri di cermin. Apakah maksudnya Nenek Golda penyelamat hidupku dan kau adalah penyelamat untuk hidupmu sendiri?" Kai mengetuk-ngetuk cermin itu sambil berpikir.
Jemima kembali melihat ke arah cermin dan pantulan dirinya sedang mengangkat bahu. "Apa kau lihat pantulan nenek Golda bergerak? Karena pantulan diriku bergerak."
Kai memerhatikan pantulan nenek Golda di cermin dan menyadari kalau bayangan wanita tua itu melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya.
"Ya, nenek Golda bergerak! Kenapa bisa begitu?" tanya Kai. Dia semakin maju ke arah cermin.
Jemima mengajak Kai untuk kembali duduk. Dia menceritakan bagaimana dia bisa sampai ke tempat itu.
"Ada tangan yang menarikmu? Apa kau tidak masuk ke dalam pusaran?" Kai bertanya dengan penasaran.
Jemima menggeleng. "Tidak ada pusaran. Tapi, aku merasa ditarik kuat oleh tangan."
Gadis itu juga bercerita bagaimana bentuk dan keadaan ruangan itu pertama kali. Dia juga bercerita tentang aturan ruangan itu.
"Ruangan ini bertambah luas dan memiliki banyak furniture karena kau menjadi pribadi yang lebih berani dan lebih baik? Jadi, itukah aturan ruangan ini? Tapi, bagaimana denganku?" Kai berusaha mencerna cerita Jemima satu per satu.
Dia masih belum paham bagaimana dan mengapa dia bisa ada di ruangan aneh itu. "Kalau maksudmu ruangan ini berkembang karenamu, apakah nanti akan berkembang karena aku?"
"Apa yang harus aku lakukan supaya ruang ini berkembang juga?" tanya Kai lagi.
Jemima terdiam. "Apa yang terjadi kepadamu? Darimana luka-luka itu?"
Tanpa diminta dua kali, Kai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan bagaimana dia bisa sampai di tempat itu.
"Ayahmu memukulimu?" Jemima bertanya dengan khawatir.
Kai mengangguk dan menyeringai. "Sudah biasa. Orang tuaku hancur berantakan dan sayangnya, mereka menyeretku ke dalam kehancuran. Luar biasa, kan?"
Entah dorongan darimana, Jemima memeluk Kai dengan erat. "Kai, kau harus kuat dan jangan menyerah! Kalau kau membutuhkan teman cerita, aku ada di sini untukmu."
Kai tersenyum. "Sudah aku duga, kita berada di perahu yang sama."
Kedua manusia itu saling menguatkan dan saling menghibur tanpa tahu ada sepasang benda yang mengikat takdir hidup mereka.
Selagi asik bercerita, tiba-tiba saja udara di sekitar mereka berubah.
Cat ungu putih memudar dan mereka seakan diajak berputar di tempat.
"A-apa yang terjadi, Kai?" tanya Jemima panik.
Kai menggelengkan kepalanya, lalu dia meraih tangan Jemima dan menggenggamnya erat. "Aku tidak tau, tapi jangan lepaskan tanganku, Jemi!"
Jemima mengangguk. "Ya. Tapi, ada sesuatu yang menarikku, Kai!"
"Kalau kita keluar dari tempat ini, temui aku di restoran setelah jam kerjamu usai. Aku menunggumu, Jemi." kata Kai sambil tetap mempertahankan tangan Jemima di tangannya. "Kalau kau benar-benar ada di dunia yang sama denganku,” lanjut Kai lirih, “Aku akan menunggumu!"
Belum sempat Jemima mengangguk atau memberikan jawaban pada Kai, putaran di ruangan itu semakin cepat dan genggaman tangan mereka pun terlepas.
"Aaarrggghhh!" Keduanya saling berteriak hingga pada akhirnya, Jemima terjatuh di lantai keras di kamarnya.
Gadis itu bangkit terduduk dengan napas tersengal. Tangannya refleks menggenggam udara kosong di sampingnya. "Ini kamarku? Aku kembali! Lalu, bagaimana dengan Kai?"
***
.