NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Komedi
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koalisi "Barisan Sakit Hati"

Jika ada kompetisi untuk kategori Orang Paling Gigih tapi Salah Alamat, Dinda dan Raka pasti akan berbagi podium juara pertama. Setelah serangan bubur ayam Raka gagal total dan taktik kemeja basah Dinda berakhir dengan kemesraan Arga-Nara, kedua manusia ini akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat klise yaitu bersekutu.

Di sebuah kafe remang-remang yang estetikanya sangat mendukung untuk merencanakan kejahatan atau sekadar ghibah jahat, Dinda dan Raka duduk berhadapan.

"Jadi, kamu gagal dengan bubur ayam?" tanya Sandra sambil mengaduk latte-nya dengan gaya elegan yang menyebalkan.

Raka mendengus.

"Auditor itu punya radar keamanan yang lebih ketat dari imigrasi bandara, Mbak. Bubur ayam saya dibilang variabel MSG ilegal."

Sandra tersenyum sinis.

"Arga memang kaku, tapi dia punya titik lemah yaitu orang tuanya. Minggu depan adalah ulang tahun pernikahan emas orang tua Arga. Sebuah pesta besar. Dan itu adalah panggung kita untuk menunjukkan bahwa Nara sama sekali tidak layak berada di sana."

Raka mencondongkan tubuh.

"Rencana kita apa?"

"Kita akan membuat Nara terlihat seperti bencana nasional di depan keluarga besar Wiratama. Dan kamu... kamu tugasnya adalah membuat Arga percaya bahwa Nara masih punya piutang perasaan padamu," bisik Sandra.

Di saat yang bersamaan, di unit 1205, Nara sedang mengalami sindrom detektif akut. Entah kenapa, firasat ubur-uburnya mengatakan bahwa koridor lantai 12 sedang tidak baik-baik saja.

"Ga! Aku punya teori konspirasi!" seru Nara sambil berlari menuju Arga yang sedang serius meninjau laporan pajak di tabletnya.

Arga tidak mendongak.

"Nara, jika teorimu melibatkan alien yang mencuri stok seblak di bumi, saya tidak punya waktu untuk mengauditnya."

"Bukan! Ini soal Dinda dan Raka!"

Nara duduk di atas meja, tepat di depan tablet Arga.

"Tadi aku lihat Raka keluar rumah pakai parfum yang baunya sama kayak parfum Dinda pas di kantor kemarin. Bau-bau bunga mahal yang bikin bersin itu lho! Apa jangan-jangan mereka... jadian?"

Arga akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menatap Nara dengan tatapan mengevaluasi.

"Secara logika, kemungkinan mereka menjalin hubungan asmara sangat kecil. Namun, kemungkinan mereka menjalin aliansi strategis untuk mengganggu stabilitas rumah tangga kita adalah 98,9 persen."

Nara melongo.

"Wah, kamu udah hitung sampai desimalnya?! Terus kita gimana? Kita harus pasang jebakan tikus di depan pintu?"

"Tidak perlu jebakan fisik," ujar Arga sambil menarik Nara ke pangkuannya, sebuah tindakan yang sekarang mulai menjadi kebiasaan barunya.

"Kita hanya perlu mengikuti arus. Orang tua saya mengundang kita ke pesta emas mereka minggu depan. Dinda dan Raka pasti akan ada di sana."

Karena sadar bahwa pesta keluarga besar Arga adalah Medan Perang Elite, Arga mencoba melatih Nara agar bisa bersikap formal.

"Nara, coba praktikkan cara menyapa bibi saya, Tante Lastri. Dia adalah auditor senior yang sangat membenci ketidakteraturan," instruksi Arga.

Nara berdiri tegak, mencoba memasang wajah seserius mungkin.

"Halo, Tante Lastri. Nama saya Nara. Saya adalah aset paling lancar milik Arga. Laporan arus kas hati saya menunjukkan surplus cinta yang sangat signifikan tahun ini. Apakah Tante ingin mengaudit perasaan kami?"

Arga memijat pangkal hidungnya.

"Nara... itu bukan salam, itu presentasi bursa saham. Cukup bilang 'Selamat malam, Tante, senang bertemu dengan Anda'."

"Dih, kaku banget kayak kanebo kering!" protes Nara.

"Terus kalau nanti Dinda tiba-tiba muncul terus pamer bahasa Inggris, aku harus gimana? Masak aku cuma jawab 'Yes, No, I love you, Arga' doang?"

Arga menarik tangan Nara, mengecup punggung tangannya dengan lembut.

"Cukup jadilah dirimu sendiri. Jika ada yang menyerangmu dengan kata-kata sulit, biarkan saya yang melakukan revisi pada harga diri mereka."

Nara tersenyum malu-malu kucing.

"Cieee, Pak Audit makin jago ya bikin aku baper. Ini termasuk biaya operasional atau bonus akhir tahun?"

"Ini adalah investasi jangka panjang," bisik Arga sebelum mencium pipi Nara yang mulai memerah.

Hari H tiba. Pesta tersebut diadakan di sebuah ballroom klasik yang penuh dengan orang-orang tua berwajah kaku versi copy-paste dari Arga di masa depan. Nara memakai gaun yang sangat cantik, namun hatinya berdegup kencang seperti drum band sekolah.

Dinda muncul dengan gaun yang sangat megah, sementara Raka entah bagaimana bisa masuk ke pesta itu dengan alasan sebagai teman dekat keluarga, hasil lobi Dinda.

"Arga, Nara... selamat ya," sapa Dinda dengan senyum yang menurut Nara mengandung 90 persen racun arsenik.

Raka mendekat ke arah Nara saat Arga sedang ditarik oleh ayahnya untuk bicara.

"Nar, kamu cantik banget malam ini. Sayang ya, di pesta se-elegan ini kamu kelihatan... agak canggung. Inget nggak dulu pas kita kondangan di gang sebelah? Kamu asik-asik aja makan kerupuk kaleng."

Nara menatap Raka datar.

"Raka, kerupuk kaleng itu enak karena gurih. Kayak hidup aku sekarang sama Arga. Daripada kamu, kelihatan mentereng tapi dalemnya hampa kayak dompet kosong di akhir bulan."

Tiba-tiba, lampu ballroom padam.

Jlep!

Ini adalah bagian dari rencana Dinda. Dalam kegelapan, Dinda berencana menaruh sebuah foto lama rekayasa di tangan Arga yang memperlihatkan Nara dan Raka sedang berpelukan mesra.

Namun, Dinda lupa satu variabel yaitu Nara adalah penakut kegelapan level akut.

Begitu lampu mati, Nara langsung berteriak,

"IBU! ADA MONSTER!" dan langsung melompat ke arah orang terdekat yang ia rasakan baunya seperti Arga.

BUGH!

Nara bukan memeluk Arga, tapi justru menubruk Raka sampai mereka berdua jatuh ke atas meja kue pengantin setinggi tiga tingkat.

PRANG!

Lampu menyala kembali. Pemandangan di tengah ruangan sangat spektakuler, Raka terlentang dengan wajah penuh krim stroberi, dan Nara duduk di atas perut Raka sambil memegang hiasan kue berbentuk angsa.

Seluruh ruangan hening. Orang tua Arga melongo. Dinda tersenyum puas, berpikir ini adalah akhir dari reputasi Nara.

Arga melangkah maju. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan kemarahan yang bisa membakar seluruh hotel. Ia melihat Nara yang gemetar dan Raka yang belepotan krim.

"Nara, kamu tidak apa-apa?" tanya Arga, suaranya tetap tenang namun memiliki otoritas tinggi.

"Ga... tadi gelap banget... aku takut... terus aku salah sasaran peluk..."

Nara hampir menangis karena malu.

Raka mencoba berdiri.

"Arga, ini... Nara yang tiba-tiba melompat ke arahku. Mungkin dia masih merindukan..."

"Diam," potong Arga singkat.

Ia membantu Nara berdiri, membersihkan sedikit krim di tangan Nara dengan sapu tangan mahalnya.

"Secara gravitasi, jika istri saya jatuh, dia akan mencari tumpuan terdekat. Dan sayangnya, tumpuan itu adalah kamu, yang secara administratif adalah sampah di ruangan ini."

Arga menoleh pada Dinda yang berdiri tak jauh dari sana.

"Dinda, saya tahu kamu yang menyabotase saklar lampu. Dalam audit, sabotase seperti ini adalah tindak kriminal. Ayah saya mungkin tidak suka kekacauan, tapi dia lebih tidak suka pada konsultan yang mencoba menghancurkan acara keluarganya."

Ayah Arga, Wiratama Senior, melangkah maju.

"Arga benar. Dinda, Raka... silakan keluar. Acara ini untuk keluarga, bukan untuk orang-orang yang sibuk mengurusi masa lalu yang sudah basi."

Setelah kekacauan tersebut dibersihkan, Arga membawa Nara ke taman belakang hotel. Nara masih terlihat lemas.

"Ga, aku bikin malu ya? Tadi aku kayak ubur-ubur terdampar di atas tumpukan krim stroberi," keluh Nara.

Arga merangkul bahu Nara, menariknya dalam dekapan.

"Malu? Nara, kamu baru saja melakukan pembersihan aset paling efektif. Melihat wajah Raka penuh krim stroberi adalah pemandangan paling memuaskan dalam laporan tahunan saya."

Nara mendongak.

"Beneran nggak marah?"

"Untuk apa marah? Kamu selamat, itu yang utama. Dan soal kekonyolanmu... itu adalah variabel yang membuat saya jatuh cinta setiap hari," ujar Arga.

Ia kemudian mencium dahi Nara.

"Besok, saya akan memastikan Dinda dan Raka masuk dalam daftar hitam firma manapun di Jakarta."

Nara tertawa kecil.

"Wih, sadis banget Pak Audit! Tapi aku suka!"

"Sekarang,"

Arga memutar tubuh Nara agar menghadapnya di bawah sinar rembulan.

"Denda karena sudah memeluk pria lain meskipun salah sasaran adalah kamu harus berdansa dengan saya di sini, tanpa musik, dan tanpa gangguan siapa pun."

Nara melingkarkan tangannya di leher Arga.

"Siap! Tapi jangan protes ya kalau nanti kaki kamu aku injak gara-gara aku nggak pake sepatu, sepatuku ketinggalan di meja kue tadi!"

Arga terkekeh, lalu mulai berdansa pelan dengan Nara. Di malam ulang tahun orang tuanya, Arga menyadari bahwa aliansi musuh sekuat apa pun tidak akan bisa menggoyahkan satu hal, Cinta kaku sang Auditor pada ubur-ubur konyolnya.

1
Stroberi 🍓
Ampun dah, mulut nyeblak nara 😂
Stroberi 🍓
Wkwk lucukk 🤣
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!