Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Barikade Sang CEO
Pagi itu, suasana di depan lobi Apartemen Grand Signature tampak tegang. Dion dan Kriss berdiri dengan raut wajah penuh tekad setelah mendapat pesan darurat dari Thea semalam. Mereka telah melacak area yang tampak di latar belakang panggilan video Airin, dan pencarian itu membawa mereka ke salah satu gedung penthouse paling mewah di jantung kota.
"Lo yakin ini tempatnya, Kriss?" bisik Dion sambil mendongak menatap gedung pencakar langit yang dilapisi kaca antipeluru itu.
"Hanya ada dua tempat di Jakarta dengan lampu kristal model art deco seperti yang dilihat Thea semalam. Dan salah satunya adalah properti milik Abraham Corp. Ayo masuk," jawab Kriss mantap.
Namun, baru saja mereka hendak melangkah melewati pintu putar otomatis, dua pria berseragam safari dengan tubuh tegap dan wajah tanpa ekspresi langsung menghadang jalan mereka.
"Maaf, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu satpam dengan suara yang dalam dan dingin.
"Kami ingin bertemu dengan teman kami, Airin Rodriguez. Kami tahu dia tinggal di sini," ujar Dion dengan percaya diri, mencoba melongok ke dalam lobi yang sangat megah.
Satpam itu memeriksa tablet di tangannya, jemarinya bergerak cepat mencari daftar penghuni. Jordan, yang sudah memprediksi bahwa teman-teman Airin yang cerdik—terutama Kriss—akan mencoba mencari tahu, telah memberikan instruksi khusus kepada manajemen gedung sejak subuh tadi.
"Airin Rodriguez?" Satpam itu menggelengkan kepala. "Tidak ada nama penghuni dengan nama tersebut di seluruh unit kami, Tuan."
"Nggak mungkin! Coba cek lagi. Rambutnya panjang keriting, cantik, sering pakai dress bunga," paksa Dion.
"Mohon maaf, data kami akurat. Tidak ada nama itu. Dan jika kalian tetap bersikeras, kami terpaksa meminta kalian meninggalkan area pribadi ini," tegas satpam kedua, tangannya sudah menyentuh alat komunikasi di pinggangnya.
Kriss menarik napas panjang, matanya menyipit curiga. "Bagaimana dengan Jordan Abraham? Dia tinggal di sini, kan?"
Kedua satpam itu saling lirik sesaat sebelum kembali menatap Kriss dengan wajah kaku. "Tuan Jordan Abraham adalah pemilik gedung ini, namun beliau tidak menerima tamu tanpa janji temu yang terdaftar di sistem pusat. Dan saat ini, beliau sedang tidak ada di tempat."
Kriss menarik lengan Dion untuk menjauh dari lobi. "Percuma, Dion. Jordan sudah menutup semua celah. Dia menyamarkan nama Airin atau mungkin menghapusnya dari daftar tamu agar kita tidak bisa melacaknya."
"Gila... posesifnya Pak Jordan sudah level dewa," gumam Dion tak percaya. "Dia benar-benar menyembunyikan Airin di dalam sangkar emasnya."
Sementara itu, di dalam unit penthouse lantai paling atas, Airin sedang duduk di meja makan sambil menikmati sarapan roti panggang buatan Jordan. Ia tampak gelisah karena sejak tadi ponselnya terus bergetar karena pesan dari grup.
"Jordan, sepertinya Dion dan Kriss ada di bawah," bisik Airin lembut. "Mereka menanyakan keberadaanku."
Jordan yang sedang menyesap kopi hitamnya hanya mengangkat alis dengan tenang. Ia tampak sangat santai dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Jangan khawatir. Mereka tidak akan bisa melewati lobi. Aku sudah memerintahkan keamanan untuk menyamarkan namamu."
"Tapi mereka teman-temanku, Jordan. Aku merasa jahat membohongi mereka," keluh Airin, bibirnya mngerucut kecil.
Melihat ekspresi itu, Jordan meletakkan cangkir kopinya dan berpindah posisi untuk duduk di samping Airin. Ia meraih pinggang Airin, menariknya mendekat hingga mereka duduk di satu kursi yang sama.
"Aku melakukan ini untuk ketenanganmu, sayang. Kalau mereka tahu kamu tinggal bersamaku, hidupmu di kampus tidak akan pernah tenang lagi. Kamu mau jadi pusat perhatian satu universitas?" tanya Jordan lembut sambil menyelipkan anak rambut Airin ke belakang telinga.
Airin menggeleng pelan. "Tidak mau."
"Nah, kalau begitu ikuti permainanku," Jordan merunduk, mengecup leher Airin berkali-kali dengan gemas. "Biarkan mereka bingung untuk sementara. Fokus saja pada kuliahmu, dan pada aku."
Airin menghela napas, ia merasakan usapan lembut di pinggangnya yang selalu berhasil meruntuhkan logikanya. "Kamu benar-benar dosen yang licik."
"Aku lebih suka disebut strategis," balas Jordan sambil memberikan satu kecupan terakhir di bibir Airin sebelum bangkit untuk bersiap berangkat ke kantor. "Tetap di sini sampai sopir pribadiku menjemputmu untuk ke kampus. Jangan pergi sendiri, mengerti?"
Airin hanya bisa mengangguk pasrah. Di balik kemewahan ini, ia menyadari bahwa Jordan telah membangun benteng yang sangat kokoh untuk melindunginya atau mungkin, untuk memastikannya tidak pernah bisa lepas dari jangkauan pria itu.