Dua keluarga dan satu janji masa lalu. Ach. Valen Adiwangsa dan Milana Stefani Hardianto adalah potret anak muda sempurna; mengelola perusahaan, membangun usaha mandiri, sambil berjuang di semester akhir kuliah mereka. Namun, harmoni yang mereka bangun lewat denting unik Gitar Piano terancam pecah saat sebuah perjodohan direncanakan secara sepihak oleh orang tua mereka.
Segalanya menjadi rumit ketika Oma Soimah, pemegang kekuasaan tertinggi keluarga Hardianto, pulang dengan sejuta prinsip dan penolakan. Baginya, cinta tidak bisa didikte oleh janji dua sahabat lama. Di tengah tekanan skripsi dan ambisi keluarga, Valen harus membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar "pilihan orang tua".
Mampukah nada-nada yang ia petik meluluhkan hati sang Oma yang tak mengenal kata kompromi?
Ataukah perjodohan ini justru menjadi akhir dari melodi yang baru saja dimulai?
Yuk kisah cinta Mila dan Valen🥰❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan Tulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7 - Kolaborasi yang Hebat
"Tau dari mana lo, Len?" sahut Robi yang ikut terpingkal.
"Firasat aja, Bi. Oh ya, revisi kamu aman kok. Nggak ada data yang hilang," ucap Valen yang membuat Mila tersenyum.
Di tengah tawa mereka, Tante Dewi tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ke grup keluarga yang membuat suasana kembali tegang. Mila membacanya dengan tangan gemetar.
Tante Dewi: [Oma sudah tidak sabar. Beliau bilang, besok siang pengen langsung makan cake buatan Mila di bandara. Pastikan sempurna ya, Mila sayang.]
Foto yang dikirim Tante Dewi:
Mila lemas seketika. "Kue... Oma minta kue besok di bandara. Dan gue belum nyiapin konsep apa-apa karena panik laptop mati," gumam Mila.
Valen yang melihat perubahan raut wajah Mila, Mila mendadak menutup laptopnya sendiri.
"Kalau butuh teman buat mikir konsep kue sambil minum kopi gratis, saya masih di sini sampai kafe tutup," ucap Valen.
Robi dan April saling lirik, lalu tersenyum penuh arti. Sepertinya rencana para ayah di lantai dua benar-benar mendapat bantuan dari semesta.
Di meja pojok itu, suasana mulai mencair meski sisa-sisa malu masih menghinggapi Mila akibat tulisan di sticky notes-nya tadi.
Robi dan April memutuskan ikut bergabung di ruang VVIP dengan alasannya mau membahas pernikahan mereka, begitu juga dengan Tasya dan Mutia yang menyusul.
"Makan cake di bandara?" gumam Valen sambil menarik kursi sedikit lebih dekat agar bisa melihat pesan dari Tante Dewi di ponsel Mila. "Oma kamu tipe yang suka rasa klasik atau eksperimental?"
Mila menghela napas, dahinya berkerut serius. "Klasik, tapi sangat pemilih. Beliau suka cokelat, tapi nggak mau yang terlalu manis. Teksturnya harus lembut tapi nggak boleh hancur saat dipotong. Dan yang paling penting... presentasinya harus elegan. Oma itu perfeksionis."
Valen tampak berpikir sejenak, jemarinya mengetuk meja kayu mengikuti irama musik di kafenya. "Gimana kalau Dark Chocolate Mousse Cake dengan sentuhan Espresso?"
Mila menoleh, matanya berbinar tertarik. "Espresso? Oma jarang minum kopi yang terlalu kuat."
"Bukan rasa kopi yang dominan, Mil. Espresso itu gunanya untuk menonjolkan rasa cokelat agar lebih kaya. Istilahnya, menyeimbangkan rasa legitnya. Kebetulan, saya punya biji kopi Specialty dari Flores yang punya aroma nutty. Itu bakal cocok banget sama kue buatan kamu," jelas Valen dengan nada antusias yang membuat Mila tanpa sadar mengagumi cara pria itu berbicara tentang keahliannya.
Mila mulai tersenyum, kepanikannya pelan-pelan menguap. "Boleh juga... Espresso dari Wangsa Cafe digabung dengan cokelat premium Milana's Cake. Kedengarannya seperti kolaborasi yang hebat."
"Memang," gumam Valen pelan sambil menatap mata Mila. "Bukan cuma kuenya, tapi pemiliknya juga sepertinya cocok untuk kolaborasi."
Mila tersentak, wajahnya kembali memanas. Sebelum ia sempat membalas, Valen sudah berdiri. "Tunggu sebentar, saya ambilkan contoh biji kopinya buat kamu cium aromanya."
Sementara itu, di lantai atas, di balik kaca ruang VVIP yang kedap suara, empat belas pasang mata, ya tujuh orang yang berada di sana sedang mengamati pemandangan di bawah dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
"Tante Dewi seakan membantu jalannya pendekatan Mila dan Valen, tadi setelah pesan Tante Dewi masuk, mereka berdua membahas resep bersama," ucap Robi.
"Wah, bagus kalau begitu. Lihatlah itu, Faul! Mereka berdua sudah mulai asyik mengobrol sendiri. Valen bahkan sampai menarik kursinya lebih dekat," balas Papa Fildan dengan nada penuh kemenangan.
Ayah Faul menyesap kopi Wangsa Cafe-nya dengan nikmat. "Iya, Fil. Mila juga kelihatannya sudah nggak tegang lagi. Biasanya kalau sudah bahas soal resep, dia lupa segalanya. Ternyata Valen tau cara masuk ke dunianya Mila."
Bunda Selfi merangkul lengan suaminya, hatinya merasa hangat. "Mila itu butuh seseorang yang bisa menenangkan kepanikannya, Yah. Dan tadi Bunda lihat, saat Valen benerin laptopnya, Mila kelihatan sangat mengandalkannya."
"Besok di bandara, saat Mila memberikan kue itu ke Ibu Soimah, kita harus pastikan Ibu tau kalau ada andil Valen di dalam kue tersebut. Itu akan jadi nilai plus yang besar di mata beliau," ucap Bunda Selfi.
"Setuju," jawab Ayah Faul mantap. "Besok bukan cuma penyambutan Oma, tapi juga panggung pertama untuk Valen masuk ke keluarga Hardianto."
Di bawah sana, aroma kopi Flores mulai tercium saat Valen kembali membawa segenggam biji kopi untuk Mila. Mereka tidak sadar bahwa di atas sana, sebuah masa depan sedang dirajut dengan rapi oleh orang-orang yang paling mereka sayangi.
"Ini biji kopinya?" tanya Mila menatap Valen.
_______
Ditunggu part selanjutnya ya, Guys!
Love you, All❤️