NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Transmigrasi: Penguasa Takdir Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Transmigrasi / Action / Fantasi / Romansa Fantasi / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.

Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Wujud asli Pedang Meteor Hitam akhirnya terungkap di hadapan dunia. Bilah hitam kasar, tanpa mata tajam, penuh lubang meteor, namun memancarkan aura berat yang menindas.

Tubuh Han Tie dihantam langsung ke lantai arena.

Lantai batu granit yang diperkuat sihir itu retak, lalu ambruk membentuk kawah sedalam setengah meter. Tubuh Han Tie terbenam di tengah kawah itu, darah menyembur dari mulutnya seperti air mancur.

Getaran hantaman itu merambat ke seluruh stadion, membuat penonton di barisan depan merasakan kursi mereka berguncang.

Han Tie tidak bergerak lagi. Dia pingsan total dengan tulang punggung yang mungkin retak parah. Jika bukan karena fisik Pembentukan Tubuh Tingkat 8 dan sisa efek Lonceng Emas, hantaman itu pasti sudah membelah tubuhnya menjadi dua bagian.

Han Feng berdiri di tepi kawah, memegang gagang pedang hitam raksasanya yang kini telanjang. Matahari memantul pada permukaan kasar pedang itu, tidak memancarkan kilau, tapi menyerap cahaya seperti lubang hitam.

"Wasit," panggil Han Feng tenang, memecah keheningan massal. "Apakah dia masih perlu dipukul lagi?"

Wasit senior itu tersentak, wajahnya pucat pasi melihat kondisi Han Tie yang menyedihkan. Dia buru-buru melompat ke dalam kawah untuk memeriksa denyut nadi Han Tie.

"Masih hidup! Tim Medis! Cepat!" teriak wasit panik. Lalu dia menoleh ke arah Han Feng dengan tatapan takut. "Pemenang... HAN FENG!"

Sorak-sorai penonton meledak. Kali ini bukan sorakan ejekan, melainkan sorakan histeris ketakutan dan kekaguman. Mereka baru saja menyaksikan kelahiran seorang monster.

"Pedang itu..." Tetua Tie (Si Pandai Besi) yang menonton dari sudut tribun tersenyum lebar, memperlihatkan gigi ompongnya. "Anak itu benar-benar monster. Dia menggunakan Besi Meteor Inti Bintang sebagai pentungan raksasa. Siapa yang butuh ketajaman jika kau bisa meratakan musuh menjadi pasta daging?"

Di tribun kehormatan, ekspresi Han Lie menjadi sangat buruk. Wajahnya yang tampan kini terdistorsi oleh kebencian dan... sedikit rasa takut yang mulai merayap.

"Besi Meteor Inti Bintang..." gumam Tetua Zhang dari Sekte Pedang Langit, matanya berbinar tamak. "Senjata itu... materialnya sangat langka. Jika dilebur ulang oleh Master Penempa Sekte, itu bisa menjadi Senjata Roh Tingkat Menengah, bahkan Tinggi. Anak itu membawa harta karun."

Han Feng turun dari arena, menyeret pedang hitamnya. Suara gesekan logam berat dengan lantai batu srreett... srreett... terdengar seperti musik kematian bagi lawan-lawannya yang akan datang.

Pertandingan selanjutnya berlanjut, tapi pikiran semua orang masih tertuju pada kawah di tengah arena.

Pertandingan Perempat Final Terakhir: Han Lie melawan Han Siyu.

Han Lie naik ke panggung dengan wajah suram. Dia butuh pelampiasan. Dia butuh membuktikan bahwa dia masih raja di sini.

Han Siyu, gadis cantik dengan pedang ganda, menatap Han Lie dengan waspada. "Tuan Muda Han Lie, mohon bimbingannya."

Han Lie tidak menjawab. Dia mencabut pedang emasnya.

"Aku sedang tidak dalam mood yang baik," kata Han Lie dingin. "Jadi jangan salahkan aku jika ini sakit."

Pertarungan dimulai.

Han Lie bergerak seperti badai emas. Teknik pedangnya, Tebasan Cahaya Matahari, begitu cepat dan menyilaukan. Han Siyu berusaha bertahan, tapi dalam tiga jurus, pertahanannya ditembus.

Han Lie tidak berhenti setelah melucuti senjata lawan. Dia menebaskan pedangnya ke bahu Han Siyu, menciptakan luka sayatan panjang yang dalam, lalu menendang gadis itu tepat di perut hingga terlempar keluar arena.

"Aaargh!" Han Siyu menjerit kesakitan, darah membasahi jubah putihnya.

Penonton terdiam. Itu adalah kemenangan yang cepat, tapi terlalu kejam untuk sesama anggota keluarga. Han Lie biasanya menjaga citra "Tuan Muda yang Elegan", tapi hari ini dia menunjukkan sisi sadisnya.

Han Lie berdiri di tengah arena, membersihkan darah dari pedangnya dengan sapu tangan sutra, lalu menatap tajam ke arah Han Feng yang duduk di kejauhan.

"Lihat itu, Han Feng?" tatapan Han Lie seolah berkata. "Nasibmu akan lebih buruk dari ini."

Han Feng membalas tatapan itu dengan senyum tipis. Dia mengangkat tangannya, membentuk pistol dengan jarinya, dan mengarahkannya ke kepala Han Lie.

"Dor."

Mulut Han Feng bergerak tanpa suara.

Babak Perempat Final berakhir.

Empat peserta tersisa untuk Semifinal besok:

Han Feng (Si Kuda Hitam Monster)

Han Lie (Jenius Nomor Satu yang Murka)

Han Bo (Kaki Tangan Han Lie yang licik - Lolos karena lawannya menyerah)

Han Chen (Murid netral yang ahli Tombak)

Malam itu, di ruang pertemuan rahasia Keluarga Han.

Han Tian menatap Tetua Gui dan Han Lie dengan wajah serius.

"Situasinya sudah berubah," kata Han Tian. "Han Feng bukan lagi sekadar gangguan. Dia ancaman nyata. Jika dia menang turnamen ini dan menarik perhatian Tetua Zhang, Sekte Pedang Langit mungkin akan merekrutnya langsung. Jika itu terjadi, kita tidak akan bisa menyentuhnya lagi."

"Apa yang harus kita lakukan, Ayah?" tanya Han Lie tidak sabar. "Biarkan aku membunuhnya di arena besok! Aku punya Pil Peningkat Qi yang Ayah berikan. Jika aku meminumnya, kekuatanku akan melonjak ke Pengumpulan Qi sementara waktu."

"Jangan bodoh!" bentak Han Tian. "Menggunakan pil terlarang di depan mata Tetua Zhang sama saja bunuh diri. Sekte membenci kecurangan yang mencolok."

Tetua Gui berdehem, suaranya seperti ular berbisa. "Tuan Besar, undian Semifinal besok bisa kita atur. Kita pasangkan Han Feng dengan Han Bo di pertandingan pertama."

"Han Bo?" Han Lie mendengus. "Dia tidak akan bertahan sepuluh detik melawan Han Feng."

"Benar," Tetua Gui menyeringai licik, memperlihatkan gigi kuningnya. "Tapi Han Bo bisa melakukan satu hal. Dia bisa menggunakan Jarum Racun Pelemah Tulang. Senjata tersembunyi yang sangat halus, tidak bisa dideteksi oleh mata telanjang, bahkan oleh wasit. Jika Han Feng terkena jarum itu, kekuatannya akan terkuras perlahan. Saat dia melawan Tuan Muda Han Lie di Final... dia hanyalah domba lumpuh yang siap disembelih."

Mata Han Tian berbinar. "Rencana bagus. Tetua Gui, atur semuanya. Pastikan Han Bo tahu tugasnya. Jika dia gagal, keluarganya akan menanggung akibatnya."

Di luar jendela, badai kembali bergemuruh. Konspirasi kotor sedang dirajut untuk menjerat sang naga muda. Namun mereka lupa, naga tidak mempan racun tikus.

1
Gege
mantabbb...gass thorrr lagee
Bambang Purwanto
👍bagus sekali ceritanya
Roy Kkk
bagus/CoolGuy//CoolGuy/
King Salman
bagus
King Salman
go
ikyar
Terima kasih atas dukungannya
Sarndi Kurma
bagua tor ceritanya
Turki Salman
lanjutkan ceritanya tor
jamanku
lanjutkan tor
Raikuu 1
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!