Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Gue pergi," ucap Astra dingin, membalikkan badan, dan melangkah menuju pintu toilet.
Klek... Klek...
Pintu itu terkunci.
Astra menarik kenopnya dengan kuat, namun pintu itu seolah di las dari luar. Ia menoleh ke belakang, dan saat itulah ia mendengar suara tawa yang dingin dan melengking.
Greta tertawa.
Tawa itu bukan lagi tawa histeris seorang gadis yang cemburu, melainkan tawa yang gila, jauh lebih gila dari sebelumnya, tawa yang penuh kemenangan dan kekejaman.
Astra berbalik sepenuhnya. Ia melihat Greta berdiri tegak, memegang perutnya yang sakit, namun sorot matanya lebih menyeramkan dari sebelumnya, seperti mata seseorang yang telah terasuki, yang emosinya di kendalikan sepenuhnya oleh entitas lain.
Astra mengangguk-angguk mengerti. Ia yakin, entitas Perewangan yang ada dalam tubuh Greta telah mengambil alih kendali penuh.
Tiba-tiba, Astra merasakan energi negatif yang terasa membunuh muncul secara mendadak di belakangnya. Energi itu begitu pekat dan dingin, menjanjikan kematian.
Dengan cepat, Astra berbalik.
Namun, ia terlambat.
Gerakan refleks manusiawi untuk melihat kebelakang saat merasakan ada seseorang membuat Astra merasakan cekikikan kedua dengan kesakitan yang lebih. Sebuah tangan dengan kuku panjang yang hitam dan runcing sudah dengan cepat meraih lehernya, mencekik leher Astra dengan kekuatan yang luar biasa.
Di hadapannya, berdiri sosok yang menyeramkan, sosok seperti kuntilanak dengan pakaian putih yang setengahnya telah berubah menjadi merah darah. Wajah depannya tertutupi oleh rambut panjang yang kusut dan hitam.
"Jadi, Perewangan yang ada di tubuh Greta itu kuntilanak ya," bisik Astra pada dirinya sendiri, suaranya tercekat karena cekikan itu.
Ia mengangguk-angguk, seolah baru saja memecahkan teka-teki yang sederhana.
Di saat yang sama, Ekor mata Astra melihat ke arah Greta. Tangan Greta terulur ke depan, dan gerakannya sama persis seperti Kuntilanak yang sedang mencekiknya.
Seolah-olah Greta yang mengendalikan Kuntilanak itu, namun Astra tahu kebenarannya-- dialah yang di kendalikan oleh energi negatif Kuntilanak itu. Greta seolah menjadi boneka yang digunakan untuk melancarkan serangan.
Astra menatap tajam Kuntilanak itu, matanya memancarkan ketenangan yang aneh. Tidak ada rasa takut sedikit pun di sana. Ia membiarkan cekikan itu, memusatkan seluruh energinya.
Perlahan, bibirnya mulai mengucapkan sebuah kalimat dalam bahasa Sunda. Kalimat itu singkat, namun diucapkan dengan intonasi yang tegas dan penuh kekuatan, seperti sebuah mantra yang memanggil kekuatan alam.
“Cag, geura balik ka asal. Ulah ngaganggu nu hirup.” [Kembalilah ke asal, jangan menganggu yang hidup]
Seketika, Kuntilanak itu menjerit dengan suara yang melengking dan memekakkan telinga, jeritan kesakitan yang menusuk.
Bersamaan dengan itu, Greta pun menjerit dengan nada yang sama, seolah rasa sakit Kuntilanak itu menjalar langsung ke jiwanya.
Sosok Kuntilanak itu lenyap dalam sekejap, seperti asap yang tertiup angin. Cekikan di leher Astra menghilang.
Di hadapan Astra, Greta terhuyung, matanya yang tadi menyeramkan kini kosong dan sayu. Tubuhnya ambruk ke lantai, pingsan tak sadarkan diri.
Astra menatap gadis itu dengan pandangan seolah dia adalah beban hidup yang pada kenyataan memang iya, ia kemudian mengusap lehernya yang memerah terlihat dari bayangan cermin.
Pintu toilet tiba-tiba terbuka dengan keras, dua orang manusia dengan wajah raut khawatir masuk.
"Greta Cukup!"
Seru perempuan yang selalu bersama Greta itu, yang di kantin tadi menjelaskan kepada Astra kesalahan nya menatap Arka tiga detik.
Anya dan seorang laki-laki yang baru Astra kenali istirahat tadi dari Riel yaitu Bastian, terkejut melihat kenyataan bahwa Greta pingsan dan seseorang yang seharusnya di mangsa nya nampak berdiri seolah-olah dia baik-baik saja.
Keduanya melihat Astra dengan terkejut, lalu melihat Greta yang tak sadarkan diri. Anya segera berlari menuju Anya, Bastian melihat Astra dengan intens dan tatapan nya terarah pada leher Astra yang memerah seperti bekas cekikan tangan.
"Leher lo--"
"Gak apa-apa, urusin aja dia." Ucap Astra seolah kejadian menyeramkan tadi dengan kuntilanak setengah merah itu bukan apa-apa, dia menjinjing kantung plastik nya dan pergi.
Note, Astra berbicara dengan cuek kepada Author. "Setan di lemur lebih serem Jeung kuat"
"Kan, meskipun kita gak ngerasain sesuatu di dirinya. Tapi dia bukan orang biasa," Ucap Arka dengan yakin.
"Yeah, dia emang menarik~" matanya bersinar, sebuah gairah seperti terpancar dari matanya.
Arka menatap Dion dengan wajah membeku sesaat, "L-lo gak mungkin suka kan sama dia?"
Dion yang Arka susul di kantin dan sekarang mereka menuju parkiran tempat kedua temannya menunggu itu melirik Arka dengan bibir menyeringai. "Bukan urusan lo." Ucap nya dingin lalu pergi.
Arka sedikit nya terkejut, pasalnya, buaya darat satu ini bisa suka dan terlihat rada gila kepada gadis itu serasa mustahil. "Cepet banget, perasaan siang tadi masih ngatain Astra jual mahal. Sore nya udah kepincut kaya orang gila aja." Gumam nya lalu menyusul Dion.
Di parkiran.
"Lo gak penasaran? Gue yakin mangsa Greta kali ini si anak baru itu,"
Samuel menaikan alisnya, "kenapa peduli? Kalo dia emang seperti yang gue pikirin, seharusnya itu bukan masalah besar buat dia. Tapi kalo yang gue pikirin tentang dia salah, gue gak peduli."
"Sosok yang ada di tubuh Greta udah makan banyak korban, dia udah mulai gak terkendali. Lo yakin si anak baru itu bakal baik-baik aja?"
Gabriel melirik Samuel, dia pikir Samuel tertarik kepada Astra dalam artian suka kepada perempuan. Namun sepertinya dia hanya sebatas tertarik.
"Gue pikir Dion sama Arka tertarik sama dia" Sambung Gabriel lagi, namun Samuel tidak merespon nya.
Dilihat nya Samuel malah menatap ke sebrang bawah parkiran, melihat seorang gadis bertopi hitam membawa kantung plastik sedang berjalan ke arah gerbang sekolah.
"Dia...Dia baik-baik aja?" Matanya membulat sesaat dan keterkejutan nya nyata.
Bibir samping pria di samping Gabriel bergerak sedikit ke atas. "Itu berarti penilaian gue tentang dia emang bener, hah~ " Samuel menghela napas.
Bukan helaan napas pasrah, namun lebih seperti tidak sabar menantikan sesuatu yang dia pikirkan sekolah nya ini tidak akan membosankan karena kehadiran sosok Astra yang begitu menarik perhatian nya.
Sedikit pelit kepada dirinya sendiri tapi its'oke, Astra berjalan menuju rumah kostan nya. Rumah kostan nya berada masih di sekitaran wilayah sekolah nya, hanya perlu melewati lima rumah mewah lalu masuk ke dalam gang maka Astra sampai di kostan nya.
Namun perjalanan nya tidak semulus itu, di gang menuju kostan nya. Beberapa muda-mudi sepertinya sedang berkumpul di sana, asap rokok dan beberapa minuman alkohol.
Astra sempat mengernyitkan dahinya, dia masih berada di mulut gang dan jaraknya dari muda-mudi yang sepertinya sedang mabok dan merokok itu tidak jauh dan tidak dekat.
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶