Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPM 7
Selepas makan malam, Mia membereskan meja makan sementara Johan duduk di kursinya, meneguk air putih. Suasana rumah tenang, hanya suara piring yang saling bersentuhan dan detik jam dinding di ruang tengah.Saat Mia kembali ke meja untuk mengambil gelas Johan, ia berhenti sejenak. Ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia sampaikan.
“Jo,” ucapnya pelan,
“kalau aku ingin kembali bekerja, kamu izinkan nggak?”
Johan yang sedang meneguk air nyaris tersedak. Ia menurunkan gelasnya perlahan, lalu menatap Mia cukup lama, seolah memastikan ia tidak salah dengar.
“Mia, kita sudah bicarakan hal ini dari jauh-jauh hari,” sahutnya.
“Kenapa sekarang kamu berubah pikiran?."
Mia menghela napas panjang.
“Aku jenuh di rumah, Jo. Tidak ada kegiatan lagi pula, tidak ada salahnya aku bekerja. Hitung-hitung persiapan kalau nanti kita sudah punya anak.”
Johan tidak langsung menjawab. Ia kembali meneguk sisa air di gelasnya, lalu berdiri.
“Kita bicarakan nanti ya, Mi,” ucapnya singkat.
Ia melangkah ke ruang tengah dan menyalakan televisi. Layar menyala, suara berita terdengar, tapi tatapan Johan kosong. Ia duduk tanpa benar-benar memperhatikan apa pun.
Beberapa menit kemudian, setelah dapur rapi, Mia menyusul. Ia duduk di samping Johan, Ia menatap layar televisi yang menayangkan sinetron.
"Jadi gimana keputusannya?, diizinkan atau tidak?, " ujar Mia sw
"Ya sudah kalau kamu mang maunya seperti itu, memangnya kamu sudah masukin lamaran?. "
"Belum kan aku minta izin dulu ke kamu. "
Johan hanya mengangguk pelan.
Mia melonjak kegirangan ketika Johan akhirnya mengizinkannya kembali bekerja. Senyumnya sulit disembunyikan. Malam itu juga, setelah Johan tertidur, Mia membuka laptop dan mulai menelusuri satu per satu lowongan kerja. Ia mencatat, mengirim berkas, dan membaca ulang pengalamannya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa hidupnya kembali bergerak.
Akhirnya ia terlelap di samping suaminya,ia mengawali pagi itu dengan semangat, mengingat setidaknya ia tidak akan lagi menjalani hari hari seperti sebelumnya.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.
Tanpa sepengetahuan Mia, hubungan Johan dan ibunya ternyata sudah membaik. Sesuatu yang baru ia ketahui hari ini.
Pagi itu, setelah Johan berangkat ke kantor, ponsel Mia berdering. Nama mertuanya muncul di layar. Mia terdiam beberapa detik. Ada rasa enggan yang langsung menyelinap. Ia membiarkan panggilan itu berhenti sendiri. Namun tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering.
Dengan berat hati, Mia menekan tombol terima.
“Halo, Ma,” sapanya, berusaha terdengar biasa.
“Kenapa lama sekali baru angkat?” suara di seberang terdengar tajam.
“Maaf, Ma, tadi habis dari kamar mandi,” jawab Mia, berbohong
Ibunya Johan tidak menanggapi. Ia langsung masuk ke pokok pembicaraan.
“Mama dengar ,kamu mau kerja lagi?”
Mia menelan ludah.
“Iya, Ma.”
“Kenapa?” tanyanya cepat.
“Uang belanja dari Johan kurang?.”lanjutnya lagi.
Pertanyaan itu membuat Mia tercekat. Dadanya terasa sesak. Ada rasa kecewa yang muncul, bukan hanya pada mertuanya, tapi juga pada Johan yang rupanya telah bercerita tanpa sepengetahuannya.
“Bukan begitu, Ma,” jawab Mia pelan.
“Saya cuma jenuh di rumah.”
“Itulah kalau tidak ada anak, sepi jenuh".Tukas ibu mertuanya penuh dengan nada sindiran.
Ucapan itu terdengar sederhana, tapi menghantam tepat di ulu hati Mia. Tangannya yang memegang ponsel sedikit gemetar. Ia ingin menjawab, ingin membela diri, tapi kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya.
Di seberang sana, suara ibunya Johan masih terdengar, namun Mia sudah tidak benar-benar mendengarkan. Kepalanya penuh. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia menyadari satu hal ketenangan yang ia rasakan kemarin ternyata hanya sementara.
Percakapan itu akhirnya berakhir. Mia menutup panggilan dengan tangan yang masih gemetar. Ia duduk cukup lama, menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Tidak ada air mata, tapi ada rasa kecewa yang terlanjur menetap di dadanya.
Sore harinya, Johan pulang seperti biasa.
Mia menyambutnya, menyiapkan minum, dan menanyakan hal-hal ringan. Semua dilakukan seperti hari-hari sebelumnya. Namun ada yang berbeda. Senyumnya tidak lagi setulus biasanya, suaranya terdengar lebih datar.
Johan menangkap perubahan itu. Ia memperhatikan Mia lebih lama dari biasanya.
“Kamu kenapa?” tanyanya.
“Tidak apa-apa,” jawab Mia singkat.
Johan diam sejenak, lalu bertanya lagi,
“Sudah dapat kerjaannya?”
“Belum,” sahut Mia.
Jawaban itu menggantung di antara mereka. Johan menatap Mia, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi urung. Ia memilih duduk dan membuka ponselnya.
Mia kembali ke dapur. Tangannya sibuk, tapi pikirannya melayang pada percakapan siang tadi. Ia tahu, cepat atau lambat, kekecewaan itu akan mencari jalannya sendiri untuk keluar.
Akibat Johan yang diam-diam memberi tahu ibunya tentang rencananya, Mia mulai ragu untuk meneruskan niatnya kembali bekerja. Setiap kali membuka laptop, percakapan siang itu kembali terlintas. Kata-kata mertuanya terngiang, membuat langkahnya terasa berat.
Malam itu, saat mereka kembali duduk berdua, Johan bertanya lagi.
“Kamu sudah dapat panggilan?. ”
Mia menoleh.
Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya tidak alih lain menjawab ia justru balik bertanya.
“Kenapa kamu diam-diam memberi tahu Mama soal rencanaku?”
Johan terdiam.
“Mama nelepon kamu?.”
“Iya,” jawab Mia cepat.
“Dan Mama .. kembali menyinggung soal anak.”
Johan menghela napas, ada jejak rasa bersalah di wajahnya
"Aku cuma cerita, tidak ada maksud apa apa. "
“Cerita buat apa Jo?.” suara Mia mulai naik.
".Kamu yang selalu bilang apa yang terjadi di rumah ini ya antara kita.”
Johan mengusap wajahnya.
“Aku nggak menyangka ,Mama bakal langsung nelepon kamu.”
“Tapi nyatanya?, Mama telfon kau dan merembet kemana mana."Sahut Mia.
Suasana menjadi hening. Televisi masih menyala, tapi tidak ada yang benar-benar menonton.
Mia menarik napas, mencoba menahan emosinya.
“Aku capek Jo, capek selalu di sudutkan, ”lanjut Mia lagi kali ini matanya mulai memerah
Johan tidak menjawab. Ia menunduk, menyadari bahwa satu ceritanya telah membuka pintu yang seharusnya sudah ia tutup.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, percakapan mereka tidak berakhir dengan solusi. Hanya diam, dan jarak yang semakin terasa.
Bukan hanya masalah Johan menceritakan tentang rencana untuk kembali bekerja yang membuat Mia kecewa, tapi juga hubungan mereka yang telah membaik tanpa sepengetahuan Mia.
Bukan karena ia tidak menyukai hubungan antara Ibu dan anak itu membaik, tetapi cara Johan yng secara diam diam kembali berhubungan dengan Ibunya yang membuat Mia seperti orang bodoh.
Sejak percakapan malam itu, rumah mereka kembali tenang. Tidak ada pertengkaran lanjutan, tidak ada suara tinggi. Namun justru di situlah Mia merasa ada yang berubah. Johan tidak lagi banyak bicara. Ia tetap pulang, tetap makan bersama, tetap bertanya seperlunya, tapi kehadirannya terasa setengah.
Beberapa kali Johan pulang lebih malam dari biasanya. Tidak larut, masih dalam batas wajar, tapi cukup untuk membuat Mia memperhatikan.
“Kok tumben?” tanya Mia suatu malam.
“Iya banyak revisian,” jawab Johan singkat.
Mia hanya mengangguk. Ia tidak ingin menjadi istri yang terus bertanya. Ia sudah lelah merasa seperti orang yang harus selalu memahami.
Di sisi lain, Mia tidak menghentikan niatnya bekerja. Diam-diam ia kembali membuka laptop, mengirim lamaran ke beberapa perusahaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ia tidak lagi menceritakan detailnya pada Johan. Bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena tidak ingin kecewa lagi.