NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWAL MULA VION REYNALD REINKARNASI DI TUBUH PANGERAN

Di belahan dunia lain, jauh melintasi hamparan salju abadi di Pegunungan Alpen, Kerajaan Valerius tengah diselimuti awan duka yang pekat. Menara-menara batu yang biasanya megah kini tampak kusam di bawah langit abu-abu.

​Putra Mahkota Alaric, sang ksatria kebanggaan kerajaan, terbaring tak berdaya di ranjang berkanopi di dalam Benteng Eisenhold. Kamarnya yang luas kini beraroma tajam karena campuran ramuan herbal dan lilin lebah yang terus menyala.

​Tragedi di Malam Perjamuan

​Kejadian itu bermula sebulan yang lalu. Dalam sebuah pesta perdamaian yang semu, seorang pembunuh bayaran dari Serikat Hitam Ravena—musuh bebuyutan Valerius—berhasil menyusup sebagai pemain musik.

Ia menyapukan racun langka bernama Night’s Kiss pada pinggiran piala perak sang Pangeran.

​Hanya satu sesapan, dan satu tusukan pangeran itu tumbang.

​Upaya yang Sia-sia

​Raja Valerius telah memanggil semua orang pintar dari seluruh penjuru Eropa:

•​Tabib Istana dari Vatikan dengan doa-doa dan metode pembedahan kuno.

•​Alkemis dari Praha yang mencoba meneteskan merkuri dan cairan emas ke mulut sang pangeran.

•​Penyihir Hutan dari Nordik yang membakar akar-akar aneh di samping tempat tidurnya.

​Namun, hasilnya nihil. Sudah tiga puluh hari berlalu, wajah Alaric yang tadinya merona kini sepucat salju di luar jendela.

Kulitnya terasa dingin, dan napasnya kian dangkal—seolah-olah jiwanya sedang terjebak di dalam labirin es yang tak berujung.

​Setiap detak lonceng katedral di kota bawah seakan menjadi pengingat bahwa waktu sang pewaris takhta hampir habis.

Jika dalam beberapa hari ke depan ia tidak terbangun, Kerajaan Valerius akan jatuh ke tangan garis keturunan yang haus darah, dan perang besar takkan terelakkan.

​Malam ini, badai salju menghantam dinding-dinding batu Benteng Eisenhold. Di tengah deru angin, seorang pria asing dengan jubah wol tebal yang basah kuyup berdiri di gerbang utama.

Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang Tabib Pengembara dari Sichuan, yang telah menempuh perjalanan ribuan mil sepanjang Jalur Sutra hingga mencapai jantung Eropa.

​Ia memohon audiensi kepada Raja Valerius untuk diizinkan memeriksa keadaan Pangeran Alaric.

​Awalnya, Raja Valerius menolak dengan keras. Alaric adalah putra tunggalnya, satu-satunya pewaris darah murni yang tersisa. Baginya, menyerahkan nyawa sang pangeran ke tangan orang asing yang tidak dikenal adalah risiko yang terlalu besar.

​"Putraku adalah napas kerajaan ini," geram Sang Raja di depan perapian besar.

"Aku tidak akan membiarkan tangan-tangan asing menyentuhnya jika itu hanya akan mempercepat mautnya."

​Meskipun Alaric dicintai, statusnya di istana sangatlah unik dan penuh tekanan. Alaric sebenarnya adalah putra dari Selir Kedua, Lady Elara, yang meninggal dunia hanya beberapa jam setelah melahirkannya karena demam nifas.

​Karena Raja tidak memiliki putra dari Ratu Isabelle, sang permaisuri utama, maka Alaric menjadi rebutan faksi-faksi di istana:

•​Ratu Isabelle: Meskipun tidak memiliki ikatan darah, ia bersikeras mengadopsi Alaric secara resmi untuk mempertahankan posisinya sebagai Ibu Suri di masa depan.

•​Selir Ketiga, Lady Beatrice: Ia mencoba mengambil hati Alaric sejak kecil agar bisa menanamkan pengaruh politik keluarganya pada calon raja tersebut.

​Kedua wanita kuat ini berdiri di samping ranjang Alaric, bukan hanya karena kasih sayang, tetapi karena mereka tahu: siapa pun yang berhasil "menyelamatkan" atau menguasai hati Alaric, dialah yang akan memegang kendali atas Kerajaan Valerius.

​Setelah perdebatan panjang, Sang Raja akhirnya luluh oleh keputusasaan. Ia mengizinkan tabib dari Sichuan itu masuk.

Dengan langkah tenang, sang musafir mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana yang berisi jarum-jarum perak tipis—sesuatu yang belum pernah dilihat oleh para tabib Eropa saat itu.

​Ratu Isabelle menatap tajam dengan penuh kecurigaan, sementara Lady Beatrice menggenggam sapu tangannya dengan cemas.

Di aula utama yang diterangi cahaya obor yang temaram, Shen shui—lelaki tua dengan pakaian pengembara yang tampak lusuh namun rapi—bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin.

Ia menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh permukaan batu, sebuah gestur penghormatan yang asing namun sangat dalam bagi para bangsawan Eropa yang menyaksikannya.

​"Hamba mungkin terlalu lancang, Your Majesty," suaranya tenang namun bergema di langit-langit aula yang tinggi.

"Namun, ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Pangeran Alaric. Tepat pada dentang tengah malam nanti, hamba yakin Pangeran akan membuka matanya kembali. Jika kita terlambat sedetik saja, racun itu akan membeku di jantungnya, dan nyawanya benar-benar takkan bisa tertolong. Hamba memohon... izinkan hamba."

​Kembali, shen shui menekan keningnya ke lantai, tetap diam dalam posisi sujud yang penuh ketulusan.

​Raja Valerius menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan beban berat dari mahkota yang ia kenakan.

Keheningan mencekam menyelimuti ruangan; para ksatria dan penasihat kerajaan menahan napas. Sang Raja perlahan bangkit dari takhta emasnya yang berukir singa.

​Seorang kepala pelayan setia—seorang pria tua berseragam rapi—segera mendekat, memegang lengan kiri sang raja dengan hati-hati untuk membantunya menuruni beberapa anak tangga batu yang curam.

​Setiap langkah sepatu bot sang Raja bergema di aula sunyi itu. Ia berjalan mendekati pria tua dari Timur tersebut hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah.

​"Bangunlah," perintah Sang Raja dengan suara rendah namun berwibawa.

​Patuh pada perintah itu, Shen shui perlahan mengangkat kepalanya. Ia sedikit mendongak, membiarkan matanya yang tajam dan sarat pengalaman bertemu langsung dengan tatapan mata Sang Raja yang sedang dirundung duka.

​"Terima kasih, Your Majesty," bisik Shen shui, suaranya mengandung keyakinan yang membuat bulu kuduk orang-orang di ruangan itu meremang.

​Waktu terus merambat. Jam besar di menara kastel hanya menyisakan beberapa menit sebelum tengah malam.

​Ratu Isabelle membisikkan sesuatu kepada komandan pengawal, seolah bersiap jika sesuatu yang buruk terjadi.

​Lady Beatrice terus meremas kalung salibnya, namun matanya tidak lepas dari tas kulit kecil milik Shen shui yang berisi jarum-jarum perak.

Raja Valerius berhenti tepat di depan pria tua itu. Bayangan tubuh sang Raja yang tinggi besar menutupi sosok Shen shui yang bersimpuh. Suaranya terdengar berat dan penuh selidik, menggetarkan keheningan aula.

​"Siapa kau sebenarnya? Berani sekali kau datang ke istanaku dan menuntut untuk menyentuh putra mahkotaku, pewaris tunggal takhta ini?"

​Seorang Lord Chamberlain—kepala rumah tangga istana yang setia—melangkah maju dengan gerakan anggun namun waspada.

Ia membungkuk rendah di samping telinga Sang Raja, memberikan penjelasan dengan nada suara yang nyaris seperti bisikan angin.

​"Namanya adalah Shen shui, datang dari negeri Sichuan di Timur Jauh, Your Majesty. Di sana, ia dikenal sebagai seorang juru masak sederhana yang melayani para musafir. Namun..." Sang Chamberlain menjeda sejenak, menatap punggung Shen shui dengan rasa hormat yang tersembunyi.

"Kabar yang beredar di sepanjang Jalur Sutra menyebutkan bahwa ia adalah seorang tetua yang menguasai seni penyembuhan kuno—sang ahli dalam memulihkan luka-luka dalam yang tak terjamah oleh pisau bedah tabib kita."

​Kedua mata Sang Raja menyipit. Ia memperhatikan kerutan di wajah Shen shui dan ketenangan yang terpancar dari sikap tubuhnya yang menunduk. Ada secercah harapan yang tiba-tiba menyeruak di dada Sang Raja.

​Fakta bahwa Shen shui datang dengan kemauannya sendiri, menempuh perjalanan ribuan mil tanpa diundang atau dijanjikan imbalan, membuat Sang Raja berpikir: Apakah pria ini mendapatkan penglihatan atau petunjuk ilahi tentang kondisi Alaric?

​Setelah keheningan yang terasa sangat lama, Sang Raja akhirnya mengembuskan napas panjang dan memberikan perintahnya.

​"Bawa dia ke kamar Pangeran. Biarkan dia melakukannya."

​Mendengar perintah itu, para penjaga segera membuka pintu kayu oak yang besar. Shen shui bangkit berdiri, mengambil tas kulit tuanya, dan mengikuti langkah Sang Raja menuju menara barat.

​Di sepanjang koridor, bisik-bisik mulai menjalar seperti api:

​Para Tabib Kerajaan menatap dengan sinis, merasa terhina karena seorang "juru masak" dianggap lebih mampu dari mereka.

​Ratu Isabelle berdiri mematung di ambang pintu kamar, matanya berkilat penuh keraguan. "Apakah kita akan mempertaruhkan nyawa masa depan Valerius pada orang asing ini?" bisiknya tajam saat Sang Raja lewat.

​Namun, Shen shui tidak bergeming. Ia tahu, jarum jam di menara katedral terus berputar, dan tengah malam sudah di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!