NovelToon NovelToon
Happiness

Happiness

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Konflik etika / Nikah Kontrak / Trauma masa lalu / Antagonis
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Kim Umai

Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.

mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Kondisi stabil

Agha pingsan dan buat panik orang yang ada disana, bapak, mamak, umah, Abah, dan Dafa. Mereka panik dan langsung memanggil dokter, Agha pun di bawa ke UGD lansung mendapat pertolongan Agha di infus, dan di masukkan suntikan cairan yang di tanya sama Abah ternyata obat ranitidin karena asam lambung Agha naik.

"Kondisi bapa Agha kelelahan dan tubuhnya lemas, dari asam lambung yang naik kemungkinan besar bapa Agha tak makan." Jelas dokter Rizwan selaku dokter UGD.

"Maaf sebelumnya dokter kenal anak saya?." Tanya Abah yang heran padahal dirinya belum mendaftarkan Agha di bagian administrasi.

"Siapa yang tak kenal dengan bapa Agha nih, sebut je nama beliau dah banyak kenal orang pak cik."

"Iye ke, kau apa tau?." Ujar Abah yang ter ikut logat Malaysia.

"Aih tak kan pak cik tak tau kalau anak pak cik nih, orang terkenal ber berbagai negara, nama beliau ada di mana-mana."

"Aih aku tau lah."

"Lantas kenape pak cik tanya?."

"Aku tanya sebab kau tiba-tiba sebut nama anak ku lah."

"Hehe maaf lah soal tu pak cik, perkenalkan nama saya Rizwan salah satu orang yang mengidolakan anak pak cik." Ucap dokter Rizwan sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan di sambut Abah.

"Aku Rafan Abah nya, dan nih umah nya."

"Dokter anak saya gak kenapa-kenapa kan?." Tanya umah dengan wajah panik.

"Alhamdulillah bapa Agha tak kenapa-kenapa mak cik, bapa Agha hanya butuh istirahat dan kalau sadar kasih minum dan makan ye, sebab asam lambung nya naik dikarenakan tak makan."

"Baik dokter."

"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu ya pak ci mak cik, kalau ada apa hal bagi tau saya je."

"Baiklah terimakasih ya." Ucap Abah.

"Iye pak cik, assalamu'alaikum."

"wa'alaikumsalam." Ujar umah dan Abah kompak. Setelah itu dokter Rizwan pergi ke ruangannya.

"Nak jangan lama-lama bangunnya, umah dan Abah khawatir."

"Udah umah, biar Erlan istirahat, kasihan baru sampai di Han-guk udah dapat kabar gini."

Beberapa saat kemudian, Agha siuman dari pingsannya dan langsung mencari Alicia.

"Erlan kamu mau kemana?." Tanya umah sambil menahan tangan Agha yang hendak melepas infusnya.

"Alicia umah."

"Masih di ruang ICU, kamu kalau mau lihat boleh tapi jangan dilepas infusnya, belum juga habis tuh cairan."

"Yaudah tolong antar Erlan ke sana umah."

Mereka jalan ke arah ruangan ICU, Agha bisa dapat izin berkunjung tapi hanya beberapa menit saja, karena pasien emang harus istirahat.

"Assalamu'alaikum Alice, maafin Abang yah udah lengah jaga kamu, Abang janji gak kasih ampun sama orang yang udah buat kamu seperti ini. Alice Abang mohon bertahan yah, kamu kalau mau marah sama Abang bangun dan marahin Abang, tapi jangan lama-lama tidurnya yah, Alice Abang ingin sekali sentuh tangan kamu, tapi kita masih belum mahram, bertahan yah Alice." Agha bicara ke Alicia sedikit agak kurang di mengerti karna dia juga bingung merangkai kata.

Tak lama Agha keluar dari ruangan ICU dan berjalan ke arah Emma.

"You keep an eye on her, and make sure you check who's coming into Alicia's room, okay?." (Awasi dia, dan pastikan kamu periksa siapa yang masuk ke kamar Alicia, oke?.)

"Baik pak."

"Umah jas Erlan mana umah?." Tanya Agha sebab dirinya saat ini emang masih mengenakan pakaian kantor ya tapi hanya jas saja yang terlepas dari tubuhnya, walaupun dasinya sudah longgar dan dua kancing atas terbuka, itu di lakukan agar Agha nyaman pada saat pingsan tadi.

"Itu sama Abah nak." Agha langsung menghampiri Abah yang sedang berbincang dengan Dimas.

"Abah." Panggil nya dan Abah langsung menoleh.

"Ada apa nak?."

"Mau jas Erlan bah."

"Ini, kamu mau kemana?."

"Ada urusan bentar bah."

"Baiklah, tapi bisa kan tunggu air infus mu habis?."

"Kelamaan bah." Setelah itu Agha melepas infus yang di tangannya dan dia melepas selang yang ada u bagian botol infusnya, cairannya di buang ke pot bungan ya g tak jauh dari sana, setelah cairannya keluar semua Agha memasang kembali selang infusnya ke botol lalu menggantung kembali ke tiang infus.

"Beres bah, sekarang Erlan bisa pergi kan?." Ujar Agha dan membuat yang lain hanya terbengong melihat tindakan Agha tadi.

"Kamu ini, yasudah, ingat kabari Abah terus." Ucap Abah yang emang udah tau dengan sifat anaknya ini, dan Abah membiarkan Agha pergi sebab sudah ada bodyguard bayangan yang selalu setia menjaga Agha saat jauh dari keluarganya.

"Baik bah, terimakasih." Ucap Agha sambil memeluk tubuh Abahnya.

Setelah berpamitan, Agha langsung berangkat ke markas black yang ada di jogja dimana si brengsek di sekap.

"Dimana dia?." Tanya Agha ke salah satu penjaga markas tersebut.

"Diruangan nomor 2 pak."

"Hmm."

Agha langsung jalan ke ruangan itu, langsung menghajar wajah anak itu yang sudah bonyok dimana-mana akibat ulah orangnya Agha.

"Tio, 14 tahun, sekolah di SMK swasta, anak dari Heni dan Yanto, kau sungguh salah memilih musuh." Ucap Agha yang sudah tau tenang Tio.

"Mengingat umurnya masih di bawah umur jadi dia tidak bisa di masukkan kedalam penjara pak, ini tidak adil."

"Yah benar, ini emang tidak adil, begitulah cara kerja hukum di negara ini, walaupun hampir membunuh seseorang maka hukumannya ringan karena dia di bawah umur, hukum itulah yang membuat ku muak di negara ini." Ucap Agha sambil mendekat lagi ke Tio.

"Kau tidak beruntung karna berurusan dengan ku."

Bam! Bam! Krak!

Pukulan di bagian perut dan dada, tapi pas di bagian dada Agha memukulnya begitu kuat hingga terdengar suara retakan tulang, Tio makin merasa kesakitan dan sudah tidak sanggup lagi untuk mengeluarkan suaranya.

"Obati dia dan jangan biarkan dia mati dengan mudah." Ucap Agha setelah itu dia keluar dari ruangannya dan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya yang terkena darah Tio.

"Aku tau ini salah dan menyeleweng dari agama Islam tapi ini masih hukuman dunia yang dia terima dari aku, maafkan hamba ya Allah yang mengambil alih tugas menghukum si brengsek itu ya Allah, bahkan untuk menyebutkan namanya saja aku merasa jijik."

Setelah itu Agha keluar dari markas dan tidak langsung ke rumah sakit, melainkan ke tempat Andra berada.

"Assalamu'alaikum bang."

"Wa'alaikumsalam Erlan, duduk."

"Bang, Erlan mau ini kasus di naikkan dan Erlan mau dia di penjara bang."

"Iya Abang juga maunya gitu, tapi tau sendiri kan sistem hukum di sini gimana."

"Ck itu yang buat aku muak bang, yaudah walaupun dia di penjara dan waktunya hanya 1 tahun, biarkan saja karna aku ada rencana selanjutnya."

"Hmm aku sudah tau cara main mu Agha."

"Yah, bukankah kita sama saja?."

"Benar."

Setelah itu mereka membahas hal lain sampai perjalanan Agha dari Han-guk ke Penang dan terakhir ke Jogja, mereka bercerita hingga jam pulang Andra tiba, Andra mengajak Agha untuk ke rumahnya makan sebab mendengar cerita Agha tadi, awalnya Agha menolak dan akan langsung terbang ke Penang tapi Andra sifat otoriter nya yang keluar jadi Agha tidak bisa menolak.

...****************...

Sudah 3 hari lamanya, tapi Alicia belum menunjukkan tanda-tanda untuk sadar. Agha mendatangi dokter Ali yang mengoperasi Alicia, tepat di hadapan Ali, Agha langsung membawa nya ke tempat sepi di taman samping rumah sakit.

"Bagaimana ini, kamu bilang sebelum tiga hari udah sadar, tapi buktinya apa, sampai sekarang belum sadar." Ucap Agha sambil menarik kerah baju Ali.

Kejadian ini tak sengaja di lihat sama Helmi yang emang menyusul Agha ke Malaysia dengan berkas penting yang sangat membutuhkan tanda tangan Agha, langsung saja memegang tangan Agha dan mengelus punggung belakang Agha agar tenang, Helmi tahu semua dan kehebohan yang di buat Agha, tapi memang di maklumi karena siapa saja bakalan jadi seperti Agha kalau menyangkut orang yang di sayang dan di cinta nya.

"Sabar pak Agha." Ucap perawat Helmi sambil menahan tubuh Agha dan agak menjauhkan dari dokter Ali.

"Anda tahu bagaimana parahnya kasus ini, jadi saya minta waktu selama dua hari untuk melihat Alicia sadar dari koma nya."

"Baik, saya tunggu. Jika tidak bangun, maka anda yang habis di tangan saya."

"Saya permisi mau lihat kembali kondisi Alicia."

Setelah mengatakan itu, dokter Ali balik ke ruang ICU memeriksa kondisi Alicia takut-takut ada yang salah atau kurang nyawanya yang melayang. Dokter Ali tau gimana watak Agha dan siapa yang tidak kenal Agha, maka dirinya gak akan sembarangan.

Agha berjalan meninggalkan Helmi yang terbengong dan bergumam. "Ini beneran saya di tinggal sehabis memisahkan mereka yang ingin bertengkar?."

Agha berjalan ke arah cafe untuk membeli coffee americano ice yang biasa di minum jika pikirannya kacau, jika tidak maka coffee latte ice. Setelah mendapat pesanannya, Agha duduk di taman belakang rumah sakit sambil memikirkan semua yang terjadi di kehidupan nya. Lama waktu Agha duduk di sana, sampai mendapat panggilan telepon dari Umah.

"Halo Erlan."

"Iya Umah, kenapa?."

"Datang ke ruang ICU nak, mamak Alice datang dan Alicia udah sadar nak, Alhamdulillah."

"Hah, bener Umah?." Tanya Agha lagi untuk memastikan telinganya tidak salah dengar.

"Bener nak, udah ngobrol juga sama Umah bentar."

"Baik, Erlan kesana sekarang."

Setelah mengucapkan itu, Agha langsung berlari dengan wajah senang ke arah ruang ICU, para tenaga medis dan beberapa pasien yang berlalu lalang dan ada yang mengetahui kejadian yang di alami Agha ikutan senyum. Akhirnya bisa melihat senyum Agha yang beberapa hari ini kaku dan horor, begitu pikir mereka.

"Assalamualaikum." Ucap Agha pelan saat sudah sampai.

"Wa'alaikumsamalam, nak Agha, ini Alice udah sadar." Ucap mamak Alicia dan Agha hanya mengangguk.

"Hi bang." Sapa Alicia dan air mana Agha tanpa komando turun deras.

"Kenapa kamu nangis?." Tanya Alicia lagi.

Agha hanya menggelengkan kepalanya, bahunya di elus mamak Alicia dan Umah memegang tangan Agha. Yah momen ini lah yang mereka nanti selama 3 hari.

"Maafin Abang yah, gak bisa jaga kamu."

"Gak salah Abang, ini udah kehendak Allah bang. Jangan nangis yah, Alice udah gak apa-apa kok."

"Iya." Jawab Agha mengusap air mata yang jatuh di pipinya, dan Agha seperti anak kecil yang di bilang jangan nangis oleh ibunya, membuat Alicia terkekeh kecil.

"Sebentar yah, Abang bilang perawat untuk pindahkan kamu ke ruang rawat."

"Iya bang."

Tak lama, Alicia di pindahkan ke ruang rawat VVIP tentu saja atas kehendak Agha, karena Agha juga yang bayar. Umah, mamak, Alicia dan Agha udah di ruangan ini langsung saja mamak menghubungi keluarganya yang ada di Medan, sementara Umah menghubungi keluarganya, dan Agha memberitahukan ke Helmi yang udah balik ke Indonesian-Jogja karena yah perusahaan Agha gak bisa lama di tinggal tanpa kehadiran CEO atau sekretaris nya.

"Alhamdulillah, syukurlah Agha."

"Iya, Alhamdulillah."

"Kalau gitu masa pemulihan lumayan lama tuh gha."

"Iya, jadi rencana gua akan lama di sini sekitar seminggu yah, tolong jaga kantor selama gua gak disana."

"Aman, tapi untuk handphone terus aktif yah bos."

"Baik, seperti biasa, terimakasih ya."

"Aman bro, seperti sama siapa aja, mau gimana juga lu udah baik banget sama gua. Ternyata dunia sesempit itu, gak sangka gua ternyata teman waktu S1 waktu di Oxford lu hahaha."

"Iya tapi kampus gua emang itu terus sih sampai S3, cerdas juga gua kan, kalau kita gak cerita yah gak tau juga."

"Hahaha iya dah iya yang cerdas mah menang, yaudah gua tutup dulu yah, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Telepon tertutup dan Agha melanjutkan kerjaan nya dengan pikiran tenang, tapi sebelum itu Agha kembali ke ruangan Alicia untuk mengecek apa yang kurang yang di butuhkan Alicia, rencananya juga Agha akan mengerjakan kerjaan nya di sini melihat ada umah dan mamak Alicia.

1
Desi Ramadhani
dikira uang bisa menggantikan nyawa hilang, gila sih
Desi Ramadhani
ceritanya bangus thor, semangat terus buat karyanya👍💕
Kim Umai
makasih juga sudah mampir☺️
Renjana Senja
aku mampir Thor. jangan lupa mampir di karya aku ya. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!