Novel ini berpisah tentang Aulia, seorang desainer muda berbakat yang bercita-cita tinggi. Setelah berjuang keras, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan impian di perusahaan arsitektur terkemuka, dipimpin oleh CEO yang karismatik dan terkenal dingin, Ryan Aditama.
Sejak hari pertama, Aulia sudah berhadapan dengan Ryan yang kaku, menuntut kesempurnaan, dan sangat menjaga jarak. Bagi Ryan pekerjaan adalah segalanya, dan tidak ada ruang untuk emosi, terutama untuk romansa di kantor. Ia hanya melihat Aulia sebagai karyawan, meskipun kecantikan dan profesionalitas Aulia seringkali mengusik fokusnya.
Hubungan profesionalitas mereka yang tegang tiba-tiba berubah drastis setelah insiden di luar kantor. Untuk menghindari tuntutan dari keluarga besar dan menjaga citra perusahaannya, Ryan membuat keputusan mengejutkan: menawarkan kontrak pernikahan palsu kepada Aulia. Aulia, yang terdesak kebutuhan finansial untuk keluarganya, terpaksa menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buktikan
Ryan menatap jam tangannya. "Kita punya waktu, saya akan meminta Mira mengosongkan jadwalmu siang ini. Pergilah ke butik langganan ibu saya - jangan khawatir, asisten saya akan mengirimkan alamat dan mengurus pembayarannya. Beliau gaun yang sopan, elegan, tapi tidak mencolok. Warna pastel atau monokrom. "
"Baik."
Ryan melangkah mendekat, lalu menyentuh dagu Aulia dengan jari telunjuknya, menatap wajah gadis itu agar menatapnya. Itu sentuhan yang intim, membuat Aulia terpaku.
"Ingat Aulia. Nanti malam bukan sekedar makan malam. Di sana akan ada paman, bibi , dan sepupu-sepupu saya yang lain. Mereka semua ingin melihat saya jatuh. Kamu adalah perisai saya malam ini. Jangan biarkan ada celah."
Tatapan mata Ryan yang intens membuat Aulia sadar betapa berat beban di pundak pria ini. Di balik arogansi dan kekayaannya, Ryan sendirian melawan keluarganya sendiri.
"Saya akan berusaha, Ryan," bisik Aulia. "Karena itu yang tertulis di kontrak."
Ryan melepaskan tangannya, senyum tipis yang misterius muncul di bibirnya. "Ya. Demi kontrak."
"Sudahlah, sekarang kamu pergilah ke butik langganan Ibuku, ingat jangan sampai kita terlambat."
Kemudian Aulia pun pergi ke butik langganan Bu Ratna, bermodalkan alamat yang diberikan oleh asisten Ryan.
Pukul 19.00 WIB. Kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Mobil sedan mewah Ryan memasuki pelataran sebuah rumah kolonial yang megah. Pilar-pilar putih besar menjulang, di kelilingi tanaman yang terawat sempurna. Lampu kristal terlihat menggantung di beranda.
Aulia duduk di kursi penumpang, meremas clutch di pangkuannya. Ia mengenakan dress sutra selutut berwarna campagne dengan potongan sederhana namun mewah, rambutnya digulung rapi menyisakan sedikit helai di sisi wajah. Ia tampak cantik, sangat berkelas, jauh berbeda dari Aulia si Desainer Junior yang lari-lari mengejar busway.
"Tenang," suara Ryan memecah kebisuan. Ia mematikan mesin mobil. "Tarik napas."
Aulia menoleh. Ryan tampak sangat tampan dengan kemeja batik tulis sutra bernuansa gelap.
"Bagaimana kalau saya salah bicara? Bagaimana kalau saya gak tahu cara memegang garpu yang benar untuk appetizer?" tanya Aulia panik.
Ryan tertawa kecil, tawa yang terdengar asli, singkat tapi renyah. Aulia tertegun mendengarnya.
"Aulia, ini makan malam keluarga Jawa-Tionghoa, bukan perjamuan Ratu Inggris. Asal kamu tidak melempar makanan ke wajah Adnan, kamu akan aman," ujar Ryan.
Ia keluar dari mobil, memutari kap mesin, dan membukakan pintu untuk Aulia. Ryan mengulurkan tangannya.
"Siap untuk babak kedua?"
Mereka berjalan masuk. Ruang tamu rumah itu dipenuhi barang antik. Di ruang tengah yang luas, sekitar dua puluh orang sudah berkumpul. Suara percakapan terhenti ketika Ryan dan Aulia muncul.
Semua mata tertuju padanya mereka.
"Ah, Ryan. Akhirnya datang juga!" seru seorang pria tua berwajah keras yang duduk di kursi roda di tengah ruangan. Itu adalah kakek Ryan, pendiri Aditama Group, Tuan Surya Aditama (senior).
Ryan membimbing Aulia mendekat. "Malam kek, malam semuanya."
Pria tua itu menyipitkan mata melihat Aulia. "Jadi ini gadis yang membuat cucu kesayanganku membangkang? Mendekatlah, Nak. Biar orang tua ini melihatmu."
Aulia melangkah maju dengan gemetar namun tetap tersenyum. Saat ia hendak menyapa, tiba-tiba seorang wanita muda cantik dengan gaun merah menyala muncul dari arah ruang makan, memegang gelas anggur.
"wah, wah," kata wanita itu, suaranya manis tapi berbisa. "Aku kira Ryan bercanda saat bilang selesainya berubah menjadi... rakyat jelata."
Aulia mengenali wajah itu dari majalah sosialita. Itu Clarissa,.putri dari keluarga Surya - wanita yang seharusnya dijodohkan dengan Ryan.
Clarissa menatap Aulia dengan senyum meremehkan. "Kudengar kamu Arsitek junior? Apa Ryan memungut dari lokasi proyek?"
Ruangan itu hening, menanti reaksi Aulia. Ryan hendak membuka mulut untuk membela, tapi Aulia menekan tangan Ryan pelan, memberi isyarat agar ia diam.
Aulia menatap Clarissa, senyumnya tetap merekah, namun matanya memancarkan kecerdasan.
"Selamat malam, Mbak Clarissa, senang bertemu Anda," jawab Aulia lembut. "Sebenarnya, Ryan tidak memungut saya, kami bertemu di tempat dimana ide-ide besar dibangun, bukan sekedar dibicarakan. Dan sebagai arsitek, saya belajar bahwa fondasi yang kuat lebih penting dari pada catatan yang mahal."
Beberapa sepupu Ryan menahan tawa. Sindiran halus Aulia - bahwa Clarissa hanya "cat mahal" tanpa substansi - mengena telak.
Kakek Ryan tertawa terbahak-bahak, suara baritonnya menggema. "Hahaha! dia punya nyali! Aku suka itu! Ryan, dia punya lidah setajam ibumu!"
Ketegangan mencair seketika. Ryan menatap Aulia dengan kilatan kekaguman yang tidak ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya ia merasa bangga. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai pasangannya.
"Mari makan," seru kakek.
Malam itu, Aulia menyadari suatu hal: di dunia Ryan, kata-kata adalah senjata, dan ia baru saja memenangkan pertempuran pertamanya. Namun saat makan malam berlangsung, ia menangkap tatapan Adnan yang sedang berbisik serius dengan seorang pria asing di sudut ruangan. Pria itu memegang kamera saku.
Firasat Aulia tidak enak. Adnan belum selesai bermain.
Makan malam itu berlangsung seperti upacara diplomatik negara yang sedang bersitegang. Dentingan sendok perak beradu dengan piring porselen menjadi musik latar yang menegangkan.
Ryan duduk di sebelah Aulia, posturnya tegap namun protektif. Sesekali di bawah meja yang tertutup taplak beludru, lutut Ryan menyentuh lutut Aulia - memberikan sinyal diam-diam, atau sekadar mengingatkan keberadaannya.
"Jadi, Nona Aulia," suara bariton kakek Surya memecah keheningan saat hidangan utama disajikan. "Ryan bilang kamu terlibat dalam proyek Lavana. Apa pendapatmu tentang konsep green architecture yang dipaksakan Ryan itu? Bukankah itu hanya membuang uang?"
"Itu jebakan. Jika Aulia setuju dengan kakek, ia mengkhianati Ryan. Jika ia membela Ryan terlalu keras, ia akan terlihat seperti boneka yang patuh.
Aulia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun - meniru gerakan wanita di seberangnya tadi.
"Menurut saya, Kek," Aulia menjawab dengan nada hormat namun percaya diri, "uang yang 'terbuang' untuk teknologi hijau hari ini adalah tabungan reputasi untuk sepuluh tahun kedepan. Lavana bukan hanya gedung untuk disewakan, tetapi pernyataan bahwa Aditama Group selangkah lebih maju dari kompetitor yang masih berpikir konvensional. Ryan tidak membuang uang, dia sedang membeli masa depannya."
Kakek Surya terdiam sejenak, mengunyah steiknya pelan. Lalu, sudut bibirnya terangkat. "Jawaban yang cerdas. Kau tidak hanya berpikir sebagai arsitek, tapi juga pebisnis. Bagus."
Ryan menoleh pada Aulia. Ada kilatan bangga yang tulus dimatanya. Dibawah meja, tangan Ryan menyentuh punggung tangan Aulia sekejap, sebuah remajanya lembut yang berarti: kerja bagus.
Namun, momen kemenangan kecil itu tidak berlangsung lama.
"Analisis bisnis yang luar biasa untuk seorang gadis yang rekening banknya... memprihatinkan," celetuk Adnan tiba-tiba.
Suasana makan malam tiba-tiba membeku.
Adnan memutar gelas anggurnya, menatap Aulia dengan senyum meremehkan. "Maaf, aku tidak bermaksud kasar. Tapi sebagai sepupu yang peduli, aku melakukan sedikit pengecekan latar belakang. Ibumu sakit keras, bukan? Dan tagihan rumah sakitnya menunggak cukup banyak minggu lalu. Lalu tiba-tiba... poof, lunas kemarin. Kebetulan sekali dengan pengumuman pernikahan ini."
Wajah Bu Ratna mengeras. Clarissa tersenyum sinis. Mata semua orang kini tertuju pada Aulia, menilainya sebagai seorang pemburu harta karun yang sukses.
Aulia merasakan wajahnya memanas. Rahasia itu - alasan utamanya menandatangani kontrak - ditelanjangi didepan umum. Ia merasa kecil dan terhina.
Ryan hendak membanting serbetnya dan berdiri, amarah jelas terlihat dirahangnya yang mengetat. Tapi Aulia menahannya, Aulia tahu jika Ryan meledak marah, itu hanya akan membenarkan tuduhan Adnan bahwa Ryan sedang dimanfaatkan atau dibutakan.
Aulia menarik napas dalam, menatap lurus ke arah Adnan.
"Anda benar, Pak Adnan," suara Aulia tenang, meski tangannya di bawah meja gemetar hebat. "Ibu saya sakit. Dan ya, tagihan itu lunas. Tapi Anda salah satu hal."
Aulia menoleh ke Ryan, menatap mata elang pria itu. Ia harus berakting. Ia harus membuat ini terlihat nyata.
Ryan tidak melunasi tagihan itu karena saya memintanya. Dia melakukannya karena dia tahu saya tidak bisa fokus menggambar garis-garis sempurna untuk Lavana jika pikiran saya ada di ruang ICU. Dia tidak membeli cinta saya, Pak Adnan. Dia menginvestasikan ketenangan pikiran untuk partner kerjanya. Iyah bedanya Ryan dengan Anda. Ryan memecahkan masalah, Anda hanya mencari-cari masalah."
Hening.
Clarissa ternganga. Kakek Surya tampak terkesan. Bahkan Bu Ratna tampak sedikit terperangah dengan keberanian gadis itu.
Adnan, yang merasa di permalukan, wajahnya memerah padam. Ia memberi isyarat pada pria asing di sudut ruangan - pria dengan kamera saku tadi.
"Kata-kata manis," desis Adnan. Ia berdiri berjalan memutari meja mendekati kursi Aulia dan Ryan. "Tapi kita semua tahu Ryan itu sedingin es. Dia tidak punya empati seperti itu. Kecuali.... kalian memang benar-benar pasangan yang dimabuk asmara."
Adnan berhenti tepat di belakang kursi mereka. Pria dengan kamera itu bergerak maju, lensa kameranya terarah tajam.
"Buktikan," tantang Adnan. "Kalian bilang akan menikah. Kalian tinggal satu atap. Tapi sejak tadi, bahasa tubuh kalian kaku seperti rekan kerja yang sedang rapat. Kalau kalian benar-benar saling mencintai... cium dia. Disini, sekarang."
Bersambung.....
Bersambung....