NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Jari-jari Aslan bergerak dengan sangat tenang di atas permukaan logam peti besi yang dingin. Alat manipulasi mekanis yang ia pegang terasa bergetar halus saat bersentuhan dengan gerigi kunci di dalam lubang sandi. Di sudut matanya, antarmuka sistem terus menampilkan deretan angka yang berputar dengan kecepatan tinggi.

[Sistem: Algoritma sandi tipe empat sedang diproses. Kemajuan: Delapan puluh persen. Sisa waktu hingga pergantian penjaga: Dua menit sepuluh detik.]

"Sedikit lagi," bisik Aslan dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh telinga manusia biasa.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat terdengar bergema dari arah koridor depan gudang. Aslan segera meratakan tubuhnya di atas atap gerbong kereta logistik. Ia menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun di tengah kesunyian malam itu.

"Kenapa shift malam ini terasa sangat lama?" suara seorang penjaga terdengar mengeluh dari bawah gerbong.

"Berhentilah mengomel. Setidaknya kita tidak dikirim ke arena bawah tanah untuk menangani kekacauan yang dibuat si petarung Rave itu," jawab penjaga yang lain.

Aslan tersenyum tipis di balik penutup wajahnya ketika mendengar nama samarannya disebut. Rencana pengalihan isunya ternyata bekerja jauh lebih efektif daripada yang ia perkirakan sebelumnya. Para tentara pusat sekarang benar-benar terfokus pada kerusuhan di sektor bawah tanah.

[Sistem: Dekripsi berhasil. Kombinasi kunci: Empat, sembilan, dua, tujuh, satu. Silakan buka pintu peti besi sekarang.]

Aslan segera memutar kenop peti besi sesuai dengan urutan angka yang diberikan oleh sistem. Suara klik pelan terdengar menandakan bahwa mekanisme penguncian telah terbuka sepenuhnya. Ia menarik pintu peti besi itu perlahan agar tidak menimbulkan derit logam yang mencurigakan.

Di dalam peti tersebut, terdapat tiga buah kotak kayu kecil yang dilapisi kain beludru hitam. Aslan membuka salah satu kotak dan melihat sebuah batu kristal berwarna biru pekat yang memancarkan cahaya redup. Inilah batu inti cadangan yang sangat dibutuhkan oleh pasukan Kael untuk mengaktifkan meriam sihir di perbatasan utara.

"Sistem, berikan analisis mengenai stabilitas batu ini jika aku melakukan sabotase secara langsung," perintah Aslan dalam pikirannya.

[Sistem: Analisis dimulai. Batu inti memiliki tingkat sensitivitas energi yang tinggi. Jika struktur internalnya dirusak sebesar lima persen, batu ini akan meledak saat pertama kali digunakan dalam mesin perang.]

"Bagus. Itu jauh lebih baik daripada mencurinya dan membuat mereka segera sadar akan adanya pencurian," gumam Aslan dengan penuh perhitungan.

Ia mengeluarkan sebuah jarum kecil yang terbuat dari logam khusus anti-sihir. Dengan bantuan koordinasi saraf yang sangat presisi, Aslan menusukkan jarum tersebut ke bagian tengah kristal biru itu. Sebuah retakan mikro yang tidak terlihat oleh mata telanjang mulai terbentuk di dalam inti batu.

[Sistem: Sabotase batu pertama selesai. Stabilitas menurun hingga batas kritis.]

Aslan melakukan hal yang sama pada dua batu inti lainnya dengan gerakan yang sangat cepat. Setelah memastikan semua batu telah disabotase, ia menutup kembali kotak kayu dan mengunci pintu peti besi seperti semula. Ia memastikan tidak ada jejak sidik jari atau goresan yang tertinggal di permukaan peti.

"Kiko, kau masih di posisi?" tanya Aslan melalui Batu sihir komunikasi sederhana.

"Saya masih di sini, Tuan Rave. Area dermaga masih bersih, tetapi saya melihat dua unit patroli berkuda mulai bergerak menuju arah gudang," jawab Kiko melalui suara yang terdengar sangat gugup.

"Tetap tenang dan siapkan kapalnya. Aku akan keluar dalam tiga puluh detik," perintah Aslan.

[Sistem: Deteksi pergerakan di pintu utama. Shift penjaga baru telah tiba. Rute pelarian melalui jendela ventilasi atas direkomendasikan.]

Aslan segera melompat ke arah dinding gudang dan menggunakan peti-peti kayu yang menumpuk sebagai pijakan. Ia meraih pinggiran jendela ventilasi yang sempit dan menarik tubuhnya ke atas dengan kekuatan otot yang telah ditingkatkan oleh sistem.

Dari ketinggian itu, ia bisa melihat rombongan tentara baru yang masuk ke dalam gudang dengan obor yang menyala terang. Aslan segera menyalakan sebuah pemantik kecil yang mengeluarkan api berwarna biru cerah sebagai sinyal bagi Kiko. Setelah itu, ia melompat keluar ke kegelapan malam.

Aslan mendarat dengan mulus di atas sekoci yang telah disiapkan Kiko. Suara mesin uap yang diredam terdengar seperti dengkur kucing saat mereka mulai menjauh dari dermaga militer. Kiko mengarahkan kapal menuju wilayah yang lebih gelap untuk menghindari sorotan lampu penjaga.

"Tuan, misi sabotase sudah selesai. Apakah kita akan segera meninggalkan Kota Timur?" tanya Kiko sambil mengendalikan kemudi.

"Belum. Sabotase ini hanyalah langkah awal untuk melemahkan militer Kael. Tujuan utamaku di kota ini belum tercapai," jawab Aslan sambil melepas penutup wajahnya.

"Apakah ini tentang turnamen bawah tanah itu?" Kiko tampak bingung.

"Tepat sekali. Aku butuh orang-orang yang tidak memiliki nama dan tidak terikat pada hukum kerajaan. Para petarung di arena itu adalah kandidat terbaik untuk unit elit baruku," jelas Aslan dengan tatapan yang sangat tajam.

[Sistem: Memproses basis data petarung turnamen. Nama yang memenuhi kriteria loyalitas dan kekuatan: Jax, Si Tangan Besi, dan Bayangan Merah.]

"Tetapi Tuan, mereka adalah kriminal dan petarung haus darah. Bagaimana Anda bisa menjamin loyalitas mereka?" tanya Kiko dengan nada ragu.

"Setiap orang memiliki harga atau keinginan yang tidak bisa dipenuhi oleh uang. Jax, misalnya, dia bertarung hanya untuk membiayai pengobatan adiknya yang sakit akibat racun militer. Aku akan memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh Kael kepada mereka," Aslan menjelaskan strateginya.

"Jadi, Anda sengaja mengalahkan Jax dengan telak tadi hanya untuk menunjukkan dominasi?" Kiko mulai memahami rencana tuannya.

"Benar. Orang-orang seperti mereka hanya akan mengikuti pemimpin yang lebih kuat. Besok, aku akan kembali ke arena bukan sebagai peserta, melainkan sebagai seseorang yang menawarkan masa depan," ucap Aslan penuh keyakinan.

Aslan tahu bahwa untuk merebut kembali takhtanya, ia tidak bisa hanya mengandalkan tentara bayaran seperti Serigala Perak. Ia membutuhkan unit khusus yang mampu bergerak di dalam bayang-bayang dan melakukan misi yang mustahil bagi tentara biasa. Dan Kota Timur adalah tempat lahirnya para monster yang ia butuhkan.

[Sistem: Perkiraan waktu pemulihan saraf selesai dalam tiga jam. Persiapan negosiasi psikologis dengan target Jax dijadwalkan pukul enam pagi.]

"Kiko, carilah penginapan baru yang paling kumuh di dekat area turnamen. Kita akan memulai perburuan orang-orang kita saat matahari terbit," perintah Aslan sambil menatap cakrawala yang mulai menampakkan semburat cahaya fajar.

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!