Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
"Lyra, awas!" teriak Magnus.
Belum sempat Magnus meraih tangannya, plafon beton di atas mereka yang sudah retak akibat panas ledakan tiba-tiba runtuh. Suara gemuruh BRAK! memenuhi lorong sempit itu. Debu semen dan serpihan kabel langsung menutupi pandangan.
Magnus refleks menerjang maju, menggunakan bahunya untuk mendorong Lyra menjauh dari titik jatuhnya reruntuhan. Mereka berdua terguling di lantai yang kotor dan licin oleh air dari pipa yang bocor. Sebuah balok beton besar jatuh tepat di tempat Lyra berdiri sedetik yang lalu.
"Uhukk! Uhukk!" Lyra terbatuk hebat, dadanya sesak karena debu pekat yang masuk ke sela-sela maskernya. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia hampir saja mati sebelum sempat bertemu kakaknya.
"Kau tidak apa-apa?!" Magnus segera bangkit dan memeriksa kondisi Lyra. Wajah Magnus penuh kecemasan, ia menarik Lyra berdiri. "Ini alasannya kenapa aku melarangmu ikut! Gedung ini sedang runtuh, Lyra!"
Lyra tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke depan dengan tangan gemetar. Akibat runtuhnya plafon tadi, sebagian jalur di depan mereka sekarang tertutup tumpukan beton. Namun, dari celah reruntuhan itu, asap hitam pekat dari laboratorium utama mulai tersedot masuk ke lorong tangga, menandakan ada ventilasi yang hancur di dalam sana.
"Paul ada di balik sana... aku bisa merasakannya," bisik Lyra parau.
Magnus menyalakan kembali senternya yang sempat terjatuh. Cahayanya menyapu sekeliling, dan saat itulah ia melihat sesuatu di dekat tumpukan beton tersebut. Bukan Paul, tapi sebuah jas lab putih yang robek dan berlumuran darah tersangkut di antara besi-besi tajam yang mencuat.
Magnus mendekat dan mengambil potongan kain itu. Matanya menegang saat melihat name tag yang masih menempel di sana: "Loen Watson - Asisten Bedah".
"Ada orang lain di sini selain Paul," gumam Magnus. Ia mulai menyadari bahwa situasi ini jauh lebih gelap daripada sekadar ledakan gas. Ada mayat petugas kebersihan dengan luka sayat, dan sekarang jas asisten yang hancur.
Tiba-tiba, dari balik reruntuhan beton di depan mereka, terdengar suara gesekan logam yang memilukan.
"Sreeet... sreeet..."
Sepertinya seseorang sedang mencoba merangkak atau menyeret sesuatu di dalam ruangan laboratorium yang hancur itu.
Guncangan susulan yang jauh lebih besar kembali menghantam. Kali ini, pusat getarannya terasa tepat di bawah kaki mereka. Struktur bangunan yang sudah rapuh tidak sanggup lagi menahan beban.
"KRAAAKKK!"
Lantai beton di antara Magnus dan Lyra tiba-tiba retak hebat dan amblas. Langit-langit di atas mereka pun ikut runtuh, menciptakan tirai material bangunan yang jatuh dengan sangat cepat.
"Lyra, lompat ke sini!" teriak Magnus sambil menjulurkan tangannya sekuat tenaga.
Tapi terlambat. Sebuah balok penyangga besar jatuh tepat di tengah-tengah mereka, menghantam lantai dan menciptakan jurang reruntuhan yang memisahkan lorong tersebut menjadi dua bagian. Debu semen yang sangat pekat meledak ke udara, menelan segalanya dalam kegelapan putih yang menyesakkan.
"Magnus! Uhuk... Magnus!" Lyra berteriak, suaranya parau karena debu. Ia terjerembap ke belakang, menjauh dari bibir reruntuhan.
Di seberang tumpukan beton yang menggunung setinggi atap, terdengar suara Magnus yang berusaha menggedor reruntuhan. "Lyra! Kau di sana?! Jawab aku!"
"Aku di sini! Aku tidak apa-apa!" balas Lyra, suaranya gemetar. Ia mencoba mendekat, tapi struktur di sekitarnya terus berderit seolah akan runtuh total.
"Dengarkan aku!" suara Magnus terdengar samar dari balik dinding beton yang memisahkan mereka. "Jangan bergerak! Aku akan mencari jalan memutar atau memanggil Rodi dan tim bantuan untuk menjebol jalur ini! Tetap di tempatmu, Lyra! Itu perintah!"
Namun, Lyra tahu jalan memutar akan memakan waktu terlalu lama. Saat ia memutar tubuhnya, cahaya lampu darurat yang redup menyoroti sebuah pintu kecil di belakangnya yang baru saja terbuka akibat guncangan tadi.
Pintu itu mengarah langsung ke Ruang Sterilisasi yang terhubung dengan laboratorium utama—tempat di mana asap paling tebal berasal. Dan dari balik pintu itu, Lyra mendengar suara rintihan yang sangat ia kenal.
"Paul..." bisik Lyra.
Ia sekarang sendirian. Tanpa Magnus, tanpa senjata, hanya bermodalkan masker oksigen dan tekad. Di depannya adalah kegelapan laboratorium yang hancur, tempat di mana Pharma yang belum ia ketahui keberadaannya mungkin masih mengintai.