Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mama, apakah dia Ayahku??
Namun, ketika Caroline dan Marcus hendak meninggalkan kamar hotel, suara Leo tiba-tiba menghentikan mereka.
“Mama, mau ke mana?” suara Leo yang menggemaskan terdengar dari belakang.
Caroline menoleh ke arahnya. Senyumnya melebar ketika ia melihat Leo, dengan rambut acak-acakan, berdiri di dekat pintu kamar tidurnya. Leo mengucek matanya untuk memperjelas pandangannya.
Leo hanya mengenakan piyama hitam, memperlihatkan perutnya yang agak besar. Melihatnya seperti ini membuat hati Caroline melembut, karena Leo tampak seperti balita setiap kali baru bangun tidur. Sangat menggemaskan.
Caroline kembali menghampirinya dan berlutut setengah agar sejajar dengan pandangan matanya.
“Sayang, akhirnya kau bangun. Mama mau mengunjungi buyutmu,” katanya sambil mengusap pipi Leo. “Kau tunggu di sini bersama Nenek Milla, ya...”
Caroline melanjutkan ucapannya ketika melihat Leo manyun, karena tidak menyukai ide itu.
“Leonel, tinggal di sini sebentar dengan Nenek Milla. Mama janji akan kembali secepat mungkin.”
...
Hingga saat ini, Leo selalu menahan diri untuk tidak bertanya tentang anggota keluarga lainnya, termasuk ayahnya. Sejauh ini, Caroline hanya pernah menyebutkan buyutnya.
Sejak tahun lalu, ketika Leo tahu mereka akan kembali ke Hustonia, ia sangat bersemangat untuk bertemu dengan keluarga itu. Namun, mendengar ibunya tidak berniat membawanya sekarang untuk menemui buyutnya, ia merasa cemas.
Leo menggelengkan kepala. “Mama, aku mau ikut. Tolong bawa aku untuk bertemu kakek buyut. Aku janji akan berperilaku baik.” Nada suaranya terdengar sedih saat ia menatap mata ibunya.
Caroline memegang bahu Leo dengan lembut sebelum berkata, “Sayang, tentu saja Mama akan membawamu bertemu kakek buyut, tapi bukan sekarang. Mama harus memeriksa kondisinya dulu...” Caroline menjelaskan dengan sabar.
“Kau tahu kakek buyutmu sedang sakit, kan?” tanyanya.
“Hm, aku tahu... tapi—” suara Leo meredup ketika pandangannya tertuju pada pria yang berdiri di belakang ibunya. Cahaya di matanya berbinar, dan senyum perlahan muncul di bibirnya.
“Paman Marcus, paman datang...” Leo berlari menghampiri Marcus dan memeluknya.
Caroline tertawa saat melihat kesedihan Leo menghilang. Menyaksikan senyum lebar yang jarang muncul di wajah Leo membuatnya terdiam — putra kecilnya yang menggemaskan hanya tersenyum seperti ini saat melihat Marcus.
“Leo, aku merindukanmu...” Marcus menundukkan kepalanya agar sejajar dengan pandangan Leo, lalu menggendongnya.
“Aku lebih merindukanmu, paman. Kenapa paman tidak pernah datang lagi menemui kami?”
Sebelum Marcus sempat menjawab, Caroline berkata, “Baiklah, sayang, masuk ke dalam dulu. Ibu harus pergi sekarang...” katanya sambil mencoba mengambil Leo dari gendongan Marcus, tetapi Leo menolak. Caroline mengerutkan kening.
“Mama, biarkan aku ikut. Aku mau bermain lebih lama dengan Paman Marcus...” kata Leo sambil melingkarkan lengannya di leher Marcus, takut ditinggalkan.
Caroline, “...”
“Tolong, Mama... aku janji tidak akan meminta bertemu kakek buyut hari ini, tapi aku mau bermain dengan Paman...” Leo memohon dengan mata berbinar.
Caroline terhibur melihat ekspresi memelas putranya. Ini pemandangan yang langka, karena Leo hampir tidak pernah menunjukkan sisi balitanya seperti ini. Ia hanya bersikap seperti ini saat Marcus ada di sisinya. Namun, ia tetap tidak ingin membawanya.
“Maaf, tapi tidak hari ini, Leo. Kau harus tinggal di sini...” Caroline berkata tegas. Ia tidak bisa membawa Leo ke rumah sakit karena ia tidak tahu apakah anggota keluarganya yang lain ada di sana. Marcus juga tidak bisa tinggal lama, ia harus kembali ke base-nya.
“Mama, tolong...” Leo memohon lagi, suaranya lirih dan matanya berkaca-kaca. Melihat semua itu, Caroline mulai ragu-ragu. Ia menoleh ke arah Marcus seolah meminta pendapatnya.
“Carol, biarkan saja dia ikut,” kata Marcus. Ia tidak tega melihat Leo sedih, tetapi ia juga memahami alasan Caroline.
“Marcus, kau harus kembali ke—” Caroline tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Marcus menghentikannya.
“Setelah aku mengantarmu ke rumah sakit, aku akan membawanya kembali ke sini. Kau tidak perlu khawatir. Lagipula, aku juga ingin bermain lebih lama dengan Leo...” Marcus tersenyum untuk meyakinkannya.
Caroline membuka mulutnya, tetapi sebelum sempat berkata apa-apa, Leo menyela, “Terima kasih, Paman Marcus. Paman adalah paman terbaik yang pernah aku miliki...” Senyumnya semakin lebar saat menatap mata Marcus.
“Benarkah, Leo? Kupikir kau lebih menyukai Paman Tyler?” Marcus menatap Leo penuh kasih, berusaha mencairkan suasana.
Leo langsung menggelengkan kepala. “Tidak... tidak... Paman Tyler paman nomor dua. Aku janji… kau adalah paman nomor satu.” Ia menyeringai.
“Hahaha, senang mendengarnya, Leo...” kata Marcus sambil mengacak rambut Leo dengan lembut.
Caroline tidak bisa menahan tawa saat melihat dua orang paling berharga dalam hidupnya itu berbincang. Akhirnya, ia mengalah.
“Baiklah, maru kita ganti pakaianmu dulu,” kata Caroline sambil mengambil Leo dari Marcus. Sebelum masuk ke kamar Leo, ia menatap Marcus dengan wajah penuh rasa bersalah. “Terima kasih, Marcus. Tolong tunggu sebentar...”
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu kalian.” Marcus menepuk bahu Caroline dengan lembut. Lalu, ia kembali ke ruang tamu.
…
Di dalam kamar tidur.
Ekspresi Leo perlahan berubah. Ia menatap ibunya dengan penuh rasa ingin tahu.
Caroline terkejut melihat perubahan suasana hati putranya. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk bertanya, jadi ia mengabaikannya dan segera mencari pakaian kasual Leo di lemari.
Setelah mengambil celana olahraga dan hoodie abu-abu, ia kembali ke Leo dan mendapati ekspresinya masih sama.
“Kenapa kau menatap ibu seperti itu? Sayang, seharusnya kau bersyukur karena aku mengizinkanmu ikut,” katanya sambil tersenyum dan duduk di tepi ranjang.
“Mama—” Leo berhenti sejenak.
“Kenapa? Kau mau ibu membantumu mengenakan pakaian ini?” Caroline menggoda, tahu Leo pasti akan menolak.
Leo langsung menggelengkan kepalanya. “Aku bisa memakainya sendiri, Mama.”
“Baiklah, cepat… kita tidak punya banyak waktu. Paman Marcus harus kembali bekerja.”
Leo dengan cekatan mengenakan pakaiannya. Tidak butuh waktu lama sampai ia selesai mengenakan hoodie abu-abunya.
Ia kembali menatap ibunya. “Mama, tolong jawab aku... Paman Marcus itu adalah ayahku, kan?”
Caroline terkejut. Ini pertama kalinya Leo bertanya seperti ini.
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah