Genre: Dark Romance • CEO • Nikah Paksa • Obsesi • Balas Dendam
Tag: possessive, toxic love, kontrak nikah, rahasia masa lalu, hamil kontrak
“Kamu bukan istriku,” katanya dingin.
“Kamu adalah milikku.”
Nayla terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arka Alveron — CEO muda yang dikenal dingin, kejam, dan tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan.
Awalnya, Nayla mengira kontrak itu hanya demi kepentingan bisnis.
Tiga bulan menjadi istri palsu.
Tiga bulan hidup di rumah mewah.
Tiga bulan berpura-pura mencintai pria yang tidak ia kenal.
Namun semuanya berubah saat Arka mulai menunjukkan sisi yang membuat Nayla ketakutan.
Ia mengontrol.
Ia posesif.
Ia memperlakukan Nayla bukan sebagai istri —
melainkan sebagai miliknya.
Dan saat Nayla mulai jatuh cinta, ia baru menyadari satu hal:
Kontrak itu bukan untuk membebaskannya.
Kontrak itu dibuat agar Nayla tidak bisa kabur.
Karena Arka tidak sedang mencari istri.
Ia sedang mengurung obsesinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jensoni Ardiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELUAR DARI BAYANGAN
Keputusan itu tidak diucapkan dengan kata-kata.
Tidak ada kalimat dramatis, tidak ada sumpah. Hanya satu tindakan sederhana: Laras menutup laptopnya, memasukkannya ke tas, lalu mengunci rumah kecil itu dari dalam. Bertahun-tahun ia bertahan di tempat itu bukan karena aman, tapi karena tidak terlihat.
Dan kini, ia memilih terlihat.
“Kita tidak bisa keluar lewat jalan utama,” kata Laras sambil mengenakan jaket. “Ada satu jalur lama di belakang bukit. Tidak tercatat di peta digital.”
Nayla mengangguk. Ia tidak bertanya dari mana Laras tahu. Perempuan itu hidup dari detail-detail seperti ini.
Mereka berjalan cepat menyusuri jalur tanah sempit di belakang rumah. Hutan menutup pandangan, tapi suara mesin mobil kini terdengar lebih jelas. Bukan satu. Dua.
“Darma tidak mengirim orang untuk menjemput,” gumam Laras. “Dia mengirim untuk memastikan.”
“Memastikan apa?” tanya Nayla.
“Bahwa aku tidak bicara.”
Mereka sampai di titik di mana jalur tanah bertemu jalan aspal kecil. Di kejauhan, sebuah mobil tua terparkir, tertutup debu.
“Kendaraanku,” kata Laras. “Kita pisah di sini.”
Nayla menoleh cepat. “Tidak.”
Laras berhenti. Menatapnya.
“Kalau kita tetap bersama,” lanjut Nayla, “kita jadi satu target besar. Darma lebih mudah menekan.”
Laras menghela napas. “Kamu cepat belajar.”
“Aku dipaksa.”
Laras membuka pintu mobil, lalu berhenti lagi.
“Ada satu hal yang harus kamu tahu sebelum kita benar-benar bergerak,” katanya.
Nayla menunggu.
“Waktu kontrak pernikahanmu dibuat,” lanjut Laras, “aku masih punya satu jalur komunikasi terbatas ke Ark. Aku membaca draf awalnya.”
Nayla menegang.
“Dan?”
“Awalnya, bukan kamu yang dipilih.”
Udara terasa mengeras.
“Siapa?” tanya Nayla, meski ia sudah bisa menebaknya.
“Perempuan lain. Lebih patuh. Lebih mudah dikendalikan.” Laras menatap Nayla lurus. “Arka yang mengubahnya.”
Nayla terdiam.
“Bukan karena cinta,” tambah Laras cepat. “Jangan salah paham. Tapi karena kamu… tidak cocok dijadikan boneka.”
Kalimat itu tidak menghibur. Tapi anehnya, Nayla merasa lebih utuh mendengarnya.
“Dia tahu kamu akan bertahan lebih lama,” lanjut Laras. “Dan itu memberinya waktu.”
Nayla mengangguk pelan.
“Dan sekarang waktunya habis.”
“Ya.”
Mereka saling menatap beberapa detik—cukup lama untuk mengakui sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
“Aku akan ke selatan,” kata Laras akhirnya. “Ada satu saksi yang hanya mau bicara kalau aku yang datang.”
“Aku ke kota,” balas Nayla. “Ada nama yang harus aku tarik ke cahaya.”
“Raka,” kata Laras.
“Iya.”
Suara mobil mendekat semakin jelas.
“Kalau kita gagal?” tanya Nayla.
Laras tersenyum tipis.
“Setidaknya kita tidak lagi diam.”
Mereka berpisah tanpa pelukan.
Mobil Laras menyatu dengan jalan kecil ke arah selatan. Nayla berjalan ke arah berlawanan, menuju mobilnya sendiri yang ia parkir lebih jauh.
Di kota, Darma berdiri di ruang kerjanya, menatap layar besar yang menampilkan peta dan titik-titik bergerak.
“Laras keluar dari persembunyian,” lapor seseorang. “Dan Nayla kembali ke pusat.”
Darma tersenyum kecil.
“Bagus,” katanya. “Berarti mereka memilih bermain terbuka.”
Ia menoleh ke jendela.
“Dan permainan terbuka selalu butuh korban pertama.”
Nayla tidak langsung masuk ke mobil.
Ia berdiri beberapa saat di tepi jalan, membiarkan debu dari mobil Laras benar-benar mengendap. Perpisahan itu terlalu rapi untuk situasi yang sedang mereka hadapi—dan Nayla tahu, ketenangan seperti itu biasanya hanya muncul sebelum sesuatu pecah.
Ia menyalakan ponsel cadangan.
Satu pesan sudah menunggu.
Unknown:
Kamu meninggalkan area pegunungan terlalu cepat.
Nayla tidak membalas. Ia hanya menutup layar dan memasukkan ponsel ke saku jaket. Konfirmasi ancaman tidak pernah membuat orang lebih aman.
Ia masuk ke mobil dan melaju turun ke kota.
Di tengah perjalanan, radio mobil menyala otomatis—saluran berita pagi.
“…sumber internal menyebutkan adanya dugaan manipulasi dokumen dalam beberapa yayasan afiliasi Ark Group…”
Nayla mengepalkan kemudi.
Terlalu cepat.
Darma tidak menunggu Laras bicara.
Ia memilih mengaburkan medan lebih dulu.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini nomor yang ia kenal.
Arka.
Nayla mengangkat tanpa menyapa.
“Kamu harus dengar aku,” kata Arka cepat. “Darma mulai menyebar narasi. Bukan ke kamu—ke struktur di sekelilingmu.”
“Siapa yang pertama?” tanya Nayla.
“Hukum. Lalu kredibilitas.”
“Lalu?”
“Lalu kamu.”
Nayla tersenyum tipis, tanpa humor.
“Dia selalu rapi.”
“Kamu tidak bisa melawan ini sendirian,” lanjut Arka. Ada sesuatu yang berbeda di suaranya—bukan perintah, bukan manipulasi. Ketakutan yang tidak ia tutupi dengan baik.
“Aku tidak sendirian,” jawab Nayla.
“Aku tahu kamu bertemu Laras,” kata Arka pelan.
Nayla menegang.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Sejak laporan masuk dua jam lalu,” jawabnya jujur. “Dan itu berarti waktumu jauh lebih sempit dari yang kamu kira.”
Nayla menghela napas.
“Kalau kamu mau bantu, Arka, ini bukan lagi soal kontrak.”
“Aku tahu.”
“Dan tidak ada lagi posisi aman di tengah.”
Hening di seberang.
“Aku sudah memilih,” kata Arka akhirnya.
Nayla tidak bertanya memilih apa. Ia hanya berkata,
“Kalau begitu, jangan setengah-setengah.”
Panggilan terputus.
Saat Nayla memasuki kota, ia melihat sesuatu yang membuatnya memperlambat laju mobil.
Dua mobil hitam terparkir di seberang gedung kecil tempat ia biasa bertemu satu sumber independen. Bukan pengawalan resmi. Bukan polisi.
Penjaga.
Darma sudah menutup satu pintu.
Nayla tidak berhenti. Ia melewati gedung itu dan berbelok dua kali, memastikan tidak diikuti, lalu memarkir mobil di area publik yang ramai. Ia turun, melebur dengan orang-orang yang baru mulai hari mereka.
Dan di tengah keramaian itu, Nayla menyadari satu hal yang tidak bisa ia tarik kembali:
Dengan Laras keluar dari bayangan
dan dirinya kembali ke pusat
permainan sudah berubah fase.
Ini bukan lagi soal bertahan.
Ini soal siapa yang jatuh lebih dulu.
Di layar ponselnya, satu notifikasi terakhir muncul—tanpa pengirim.
Korban pertama biasanya bukan target utama.
Dia hanya pesan.
Nayla mengunci layar.
Matanya tenang.
Langkahnya stabil.
Karena kalau Darma ingin pesan,
Nayla siap menjawabnya—
dengan sesuatu yang tidak bisa dihapus.