Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. A Crown that Demands Sacrifice
Istana Kairo — paviliun zamrud
Angin gurun berhembus lembut, membawa aroma rempah dan bunga kering. Tirai tipis bergoyang pelan saat seorang wanita muda berdiri menghadap kolam air berkilau.
Sophia Karin Kairo.
Putri sulung Kerajaan Kairo.
Cantik dengan cara yang tenang, bukan mencolok—namun matanya menyimpan ketajaman yang tak bisa diremehkan.
“Tuan putri,” suara pelayannya terdengar ragu,
“apakah Anda akan melanjutkan lamaran itu?”
Sophia tidak segera menjawab.
Ia menatap bayangannya di permukaan air.
“Aku tahu apa yang akan terjadi setelah aku menikah dengannya,” ucapnya akhirnya.
Suaranya tenang, nyaris dingin.
Pelayan itu terkejut.
“Yang Mulia…?”
Sophia berbalik.
“Putra mahkota Araluen,” lanjutnya,
“bukan pria bebas.”
Ia melangkah perlahan, gaunnya menyentuh lantai marmer.
“Jika aku menjadi permaisurinya kelak,” katanya lirih,
“aku tidak hanya menikahi seorang pria.”
Ia mengangkat pandangannya.
“Aku menikahi kekuasaan. Intrik. Dan wanita lain yang telah lebih dulu menempati hatinya.”
Pelayan itu menunduk, tak berani menyela.
“Namun,” Sophia tersenyum tipis,
“itulah tugasku sebagai putri Kairo.”
—
Ruang audiensi Kerajaan Kairo
Raja Kairo duduk di singgasananya, wajahnya keras namun penuh perhitungan.
“Apakah kau ragu?” tanyanya langsung.
Sophia berdiri tegak.
“Tidak, Ayahanda.”
“Lalu mengapa kau meminta waktu?”
“Karena Araluen bukan sekadar sekutu,” jawabnya jujur.
“Mereka medan perang yang tersenyum.”
Raja Kairo tertawa kecil.
“Itulah sebabnya kau dipilih,” katanya.
“Kau tidak buta.”
Ia mencondongkan tubuh.
“Lamaran ini akan memperkuat fondasi dua kerajaan. Jika Putra Mahkota William menerima—Araluen akan terikat pada Kairo.”
Sophia mengepalkan tangannya sesaat.
“Dan jika dia menolak?”
Mata sang raja menyipit.
“Tidak ada penolakan dalam politik,” jawabnya dingin.
“Hanya penundaan… atau paksaan.”
—
Keesokan hari — gerbang luar Araluen
Rombongan Anthenia bersiap berangkat.
Kuda-kuda telah dipasangi pelana, kereta tertutup menunggu.
Anthenia berdiri di depan gerbang besar, memandang istana Araluen untuk terakhir kalinya—untuk sementara.
Berapa banyak keputusan yang dibuat di dalam sana… tanpa aku tahu?
“Putri Blackwood.”
Ia menoleh.
William berdiri beberapa langkah darinya.
Tanpa pengawal.
Tanpa atribut kebesaran.
Hanya seorang pria.
“Aku dengar kau akan pergi tanpa pamit,” katanya pelan.
Anthenia tersenyum kecil.
“Aku tidak ingin membuatnya sulit.”
William menatapnya lama.
“Kau sudah membuat semuanya sulit,” ujarnya jujur.
“Dengan caramu sendiri.”
Keheningan menyelimuti mereka.
“Apa pun yang kau dengar nanti,” lanjut William,
“jangan percaya begitu saja.”
Anthenia terkejut.
“Maksudmu…?”
Namun William hanya menggeleng.
“Pergilah dengan selamat,” katanya akhirnya.
“Aku akan menyusul… jika waktunya tepat.”
Jantung Anthenia bergetar.
Ia menunduk hormat, lalu naik ke kereta.
Saat roda mulai bergerak, ia tidak menoleh lagi.
—
Di Kairo,
seorang putri menyiapkan diri untuk menikah demi kerajaan.
Di Araluen,
seorang putra mahkota terjebak di antara kewajiban dan hati.
Dan di jalan pulang,
Anthenia melangkah menjauh—
tanpa tahu bahwa keputusan orang lain
akan segera mengejarnya.
Di dalam kereta — perjalanan menuju Kediaman Blackwood
Suara roda kereta beradu dengan batu jalan terdengar teratur. Namun di dalam, pikiran Anthenia tidak setenang itu.
Ia menatap keluar jendela, melihat pepohonan berganti perlahan.
Putri Kairo… Sophia Karin.
Nama itu berputar di kepalanya.
“Aku tahu apa yang akan terjadi setelah aku menikah dengannya…”
Ucapan itu terasa aneh di dadanya. Bukan cemburu yang meledak, melainkan perasaan pahit yang sulit dijelaskan.
Jadi beginikah rasanya…
Anthenia menghela napas, lalu menggeleng kecil.
“Jangan bodoh,” gumamnya pada diri sendiri.
“Itu bukan urusanku lagi.”
Namun wajah William—tenang, keras kepala, dan selalu menahan sesuatu—kembali muncul tanpa izin.
Tangannya mengepal di atas gaun.
—
Istana Araluen — ruang kerja Putra Mahkota
William berdiri di depan meja penuh dokumen.
Di antaranya, gulungan berstempel emas Kerajaan Kairo.
Ia belum membukanya.
“Kau menundanya terlalu lama,” ujar Kaisar Araluen dari balik meja.
“Archduke Aurelius sudah memberi persetujuan awal.”
William menatap lurus ke depan.
“Aku tidak meminta persetujuan itu.”
Kaisar menghela napas berat.
“William, ini bukan tentang perasaan.”
“Justru karena itu,” potong William dingin,
“aku tidak ingin menjadikannya sekadar transaksi.”
Keheningan menekan ruangan.
“Kairo akan menuntut jawaban segera,” lanjut Kaisar.
“Dan jika kau menolak tanpa alasan kuat—”
“Maka mereka akan mencari cara lain,” sambung William.
“Aku tahu.”
Ia berbalik.
“Dan aku juga tahu siapa yang akan dijadikan alat tekanan berikutnya.”
Kaisar terkejut.
“Putri Blackwood…?”
William tidak menjawab. Namun ekspresinya cukup jelas.
—
Perbatasan wilayah — senja hari
Kereta Anthenia melambat.
Pengawal di depan memberi isyarat berhenti.
“Ada apa?” tanya Anthenia tenang.
“Pemeriksaan rutin, Yang Mulia,” jawab salah satu pengawal.
“Namun… lambangnya bukan dari Araluen.”
Anthenia menyipitkan mata.
Di kejauhan, terlihat bendera dengan simbol matahari berlapis emas.
Kairo.
Dadanya bergetar kecil.
“Buka tirai,” perintahnya.
Seorang pria berpakaian bangsawan melangkah maju dan membungkuk sopan.
“Salam hormat untuk Putri Anthenia Blackwood,” ucapnya.
“Aku utusan Kerajaan Kairo.”
“Ada keperluan apa?” tanya Anthenia datar.
Pria itu tersenyum penuh perhitungan.
“Hanya ingin memastikan,” katanya halus,
“bahwa Putri memahami…
betapa pentingnya hubungan antara Araluen dan Kairo.”
Anthenia membalas senyum itu—tipis, dingin.
“Dan aku ingin memastikan,” jawabnya pelan,
“bahwa Kairo memahami satu hal.”
Ia menatap lurus ke mata utusan itu.
“Aku bukan pion.”
Udara senja terasa membeku.
—
Di jalan pulang,
bayangan Kairo menyusul lebih cepat dari dugaan.
Di istana,
William menyadari—
waktu untuk diam telah habis.
Dan di antara dua kerajaan,
seorang gadis 18 tahun
menolak tunduk pada takdir yang dituliskan orang lain.
Perjalanan dilanjutkan — di dalam kereta
Setelah utusan Kairo mundur dengan wajah tertahan, kereta kembali bergerak.
Keheningan terasa berat.
Anthenia menyandarkan punggungnya, menutup mata sejenak.
“Cepat sekali kalian bergerak,” gumamnya.
“Bahkan sebelum keputusan diambil.”
Ia membuka mata.
Ini bukan sekadar lamaran.
Ini ancaman yang dibungkus kesopanan.
Tangannya terangkat, menyentuh liontin kecil di lehernya—peninggalan ibunya.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menggunakan namaku,” katanya lirih, tegas.
—
Istana Araluen — malam semakin larut
William akhirnya membuka gulungan dari Kairo.
Isinya singkat, rapi, dan kejam.
Kerajaan Kairo menunggu keputusan Putra Mahkota.
Demi stabilitas dua kekaisaran, kami berharap tidak ada gangguan eksternal yang menghambat persatuan ini.
William mendengus pelan.
“Gangguan eksternal…” ulangnya dingin.
“Kalian bahkan tidak repot menyamarkannya.”
Ketukan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucapnya.
Seorang kesatria melangkah cepat dan berlutut.
“Yang Mulia, laporan dari perbatasan.
Utusan Kairo menghentikan kereta Putri Blackwood.”
William membeku.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Tidak ada kekerasan. Hanya… peringatan tersirat.”
Udara di ruangan terasa menekan.
William menutup matanya sejenak, lalu membuka dengan sorot tajam.
“Perketat penjagaan wilayah Blackwood,” perintahnya.
“Tanpa menarik perhatian.”
“Baik, Yang Mulia!”
Saat kesatria pergi, William berdiri, berjalan ke balkon.
“Anthenia…” ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
“Aku berjanji tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu.”
Namun untuk pertama kalinya,
ia menyadari—
janji itu akan menuntut harga besar.
—
Kediaman Blackwood — malam
Kereta akhirnya tiba.
Duke Kaelen Blackwood sudah menunggu di tangga utama.
Begitu melihat putrinya turun, sorot matanya langsung menajam.
“Ada yang terjadi,” ucapnya tanpa basa-basi.
Anthenia tersenyum tipis.
“Kairo mulai gelisah.”
Wajah Duke mengeras.
“Mereka berani menghentikanmu?”
“Mereka mencoba,” jawab Anthenia tenang.
“Dan gagal.”
Keheningan sesaat.
Lalu Duke Kaelen tertawa pendek—dingin.
“Bagus,” katanya.
“Berarti mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi.”
Ia menatap putrinya lekat-lekat.
“Anthenia,” ucapnya lebih pelan,
“apapun keputusanmu nanti…
ayah akan berdiri di belakangmu.”
Anthenia terdiam sejenak.
Lalu mengangguk.
“Itu sudah lebih dari cukup.”
—
Di malam yang sama:
Kairo mempercepat langkahnya.
William mulai bergerak dalam diam.
Dan Anthenia—
berdiri di titik di mana perasaan dan politik tak bisa lagi dipisahkan.
Badai belum pecah.
Namun langit sudah terlalu tenang.