Kasus yang menyeret namanya ini menyebabkan Raga dikeluarkan dari sekolah. Akibat dari itu hidup Raga menjadi tambah berat selain masih dalam tahap penyelidikan polisi, masa depan yang ia tata dengan rapih hancur begitu saja. Sampai dimana Raga menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi. Ada yang mengatakan bahwa hilangnya Raga masih bersangkutan dengan kasusnya atau penculikan berencana. Namun ditengah huru hara menghilangnya seseorang Raga munculah orang yang mengakui bahwa ia adalah sahabat Raga. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka percaya Raga menghilang? Dan Apakah dia benar sahabat Raga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moonsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang sebenarnya terjadi
^^^satu hari sebelum bertemu mereka^^^
Sinar matahari pagi ini menilik masuk menembus kaca lalu memantulkan cahaya nya tepat pada wajah pemuda yang masih tertidur pulas. Beberapa detik kemudian pemuda ini bangun dengan perasaan yang bingung. Ingatan di kepalanya terlalu penuh untuk ia cerna secara baik.
"Sudah bangun? Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan untuk beritahu saya. Sekarang dan selama kamu masih hidup, rumah ini adalah milikmu dan saya juga tentunya akan mengabdi kepada mu."
Entah sejak kapan wanita ini sudah berada di ruangan yang biasa disebut kamar tidur. Ya pemuda ini baru menyadari luas kamar tidur yang ia tempati sekarang sungguhlah luas, tidak seperti kamar miliknya ataupun rumah sakit.
Benaknya bertanya, Apa sekarang ia sedang di surga? Atau sedang bermimpi indah?
"Apa yang terjadi kepada saya? Seingat saya.."
Pemuda ini langsung memegang kepalanya menandakan bahwa ia sedang kesakitan saat berusaha mengingat sesuatu yang terjadi menimpa dirinya sebelum ia sekarang berada di tempat ini.
"Efeknya memang seperti ini. Tuan disana pasti sudah memberikan tahu mu bukan. Tapi tenang, semuanya akan kau ingat lagi lalu kau akan balas dendam sesuka mu tentunya dengan bantuan saya juga."
.
.
.
.
.
.
.
.
***
Raga kesakitan, air matanya mulai keluar. Ini benar benar sakit. Dadanya mulai merasakan sesak. Sekelebat beberapa momen bahagia yang ia alami seolah terputar begitu jelas di dalam pikirannya.
Amang,
Desi,
Ibu,
Bibir Raga berusaha untuk melengkungkan senyuman paling manis yang ia miliki. Karena Raga tahu setelah ini dirinya akan mati terkapar dan ia sudah merasakan ajal akan menjemputnya disini. Sampai matanya tertutup secara perlahan dan tidak ada sakit yang ia rasakan lagi.
.
.
.
Namun ketika dimana dirinya tersadar, membuka matanya dengan sempurna dan semua rasa sakit yang ia miliki sudah hilang, Raga terheran. Terheran karena tempatnya sekarang ini begitu asing dan aneh. Seperti tidak ada kehidupan umat manusia, seolah hanya dirinya lah yang ada di tempat ini. Tempatnya sekarang Raga ini ibarat latar background berwarna hitam kosong yang luasnya tidak bisa di hitung.
"Apakah kamu ingin hidup kembali?"
Suara besar dan bergema ini mampu membuat Raga keheranan lagi setengah mati.
"Tenang saja kamu belum sepenuhnya mati. Hanya saja sekarang Raga mu sedang masuk ke dalam dunia ku, jika kamu ingin hidup kembali ke dunia mu katakan padaku sekarang juga."
"Si..siapa?" Ucap Raga sambil terbata bata
"Jadi bagaimana?"
"bagaimana apanya? dimana wujudmu?"
"Untuk sekarang kamu tidak usah mencari wujud ku dimana dan seperti apa. Yang terpenting saat ini adalah tawaran ku tadi."
"Tawaran yang mana?"
"Apakah kau ingin aku hidup kembali ke dunia mu?"
"Jika aku ingin hidup dan kembali ke dunia ku, apakah aku bisa balas dendam?"
"Tentu saja bisa asalkan kamu mau menjadi pengikut ku di neraka."
Dan sekarang perasaan hatinya kali ini seperti di sundut api besar. Raga bisa merasakan jika detik ini juga dirinya seperti sedang dibakar hidup hidup. Jantungnya seperti ada yang memegang begitu kuat dan nafasnya tersengal sengal begitu keras sampai ingatan ia berputar pada kejadian buruk yang pernah menimpa hidupnya. Ini lebih sakit dari luka lembab yang ia terima, Raga tak kuasa menahan semua ini. Sampai dirinya rebah hingga bersimpuh sambil mengaung kesakitan.
"Apa yang sedang aku alami, ini begitu sakit untukku." Isak Raga yang sudah kewalahan dengan keadaannya saat ini.
"Bagaimana apakah kamu mau menerima tawaran ku ini?"
"Aku mau! Aku mau! Aku mau! Mohon bantu aku!" Sungguhnya
Seketika apa yang tadi ia rasakan sudah hilang begitu saja.
"Aku anggap kamu sudah menyetujui tawaran ku ini. Apa yang kau inginkan dari ku? Hidup lalu kembali ke dunia lagi? Atau lebih dari itu."
Mula mula Raga mengatur pernafasan terlebih dahulu sebelum berbicara kepada sosok yang tidak ada wujudnya ini.
"Aku ingin lebih dari itu. Aku ingin hidup kembali dengan roh dan ingatan yang sama namun beda wujud. Aku ingin banyak uang dan tentunya membalaskan dendam kepada orang orang yang telah berbuat buruk terhadap diriku, termasuk bapak tiri ku."
"Hanya itu? Apakah kamu butuh prajurit ku?"
"Aku butuh, aku butuh apapun yang akan menjadi senjata ku untuk balas dendam nanti."
"Baiklah kalau kamu butuh. Saya akan mengembalikan roh mu serta ingatan menyakitkan mu itu dan diganti dengan wujud yang berbeda. Apakah kau sudah siap?
"Aku sudah siap."
"Aku akan memperingatkan kembali lagi kepada kamu. Bahwa sekarang kamu ini adalah budak ku dan aku adalah tuan mu. Setelah dunia ini berakhir dan semua umat manusia mati tentunya kamu akan langsung ikut dengan ku masuk ke dalam neraka."
"Aku mengerti."
"Baiklah kalau kamu sudah paham, selamat menikmati hidup mu dengan wujud yang baru. Sampai bertemu di neraka."
Setelah suara itu hilang Raga kembali merasakan kesakitan yang luar biasa. Tubuhnya serasa dibakar, jantung nya seperti digenggam dengan kuat serta ingatan kejadian buruk yang berulang ulang. Dirinya mengaung kesakitan kembali dan rasa sakit ini menambah berkali kali lipat beda dengan yang tadi.
"CUK..CUKUP!"
.
.
.
***
"Kau sudah sadar dan apa ingatan mu sudah kembali?" Ucap perempuan yang saat ini masih berada disekitaran dia
"Kau tadi pingsan lagi, tapi bisa ku pastikan sekarang kalau kau sudah ingat semuanya. Tentang hidupmu yang dulu."
Raga menatap perempuan itu lama. Ia lebih memilih mencari luka luka tubuhnya untuk di pegang yang mana luka luka itu ia dapatkan dari teman sekolahnya namun anehnya semua luka yang mengakibatkan rasa nyeri itu tidak ada bekasnya sama sekali yang Raga temukan hanyalah tanda bekas gigitan ular di tangan sebelah kirinya ini.
"Asalkan kau tahu bahwa kau sudah tertidur selama dua minggu hanya untuk menukar wujud tubuh mu yang dulu dengan yang baru. Namun jiwa serta ingatan mu masih yang sama. Kau melakukan ini untuk balas dendam, sekarang lihat cermin wujud tubuh mu bukan wujud Raga lagi."
Raga ketika langsung menghampiri cermin besar yang terpajang jelas di kamar ini.
Dan benar, ini bukan wujud Raga. Namun dalamnya masih seseorang Raga.
"Dimana wujud ku yang asli?"
"Sudah di musnahkan oleh tuan kita, meskipun sedang diperbudak kau sudah memiliki apa yang kau inginkan, rumah besar, uang yang tak akan pernah habis dan yang terpenting raga mu masih bisa kau miliki."
Raga memutar badannya, menyentuh semua tubuhnya dengan seksama.
"Aku tidak menyangka jika aku bisa seperti ini."
"Itu berkat perjanjian mu dengan tuan kita. Semua perjanjian mu sudah ditulis ke dalam buku ini di dalamnya pun berisikan larangan dan kewajiban mu untuk tuan."
Raga mengambil buku yang dimaksud dari genggaman perempuan yang belum ia ketahui namanya ini tapi dia tahu jika perempuan ini pun sama dengannya.
"Sekarang pikirkanlah nama mu yang baru jika sudah ada, mari kita beraksi untuk membalaskan dendam mu kepada orang orang yang mau benci termasuk bapak mu sendiri."