Felyn Rosalie sangat jatuh cinta pada karya sastra, hampir setiap hari dia akan mampir ke toko buku untuk membeli novel dari penulis favoritnya. Awalnya hari-harinya biasa saja, sampai pada suatu hari Felyn berjumpa dengan seorang pria di toko buku itu. Mereka jadi dekat, namun ternyata itu bukanlah suatu pertemuan yang kebetulan. Selama SMA, Felyn tidak pernah tahu siapa saja teman di dalam kelasnya, karena hanya fokus pada novel yang ia baca. Memasuki ajaran baru kelas 11, Felyn baru menyadari ada teman sekelasnya yang dingin dan cuek seperti Morgan. Kesalahpahaman terus terjadi, tapi itu yang membuat mereka semakin dekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Xin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemani Di UKS
Saat Morgan ingin mengambil gunting yang ada di atas laci tersebut, tiba-tiba seseorang lebih dulu mengambilnya.
Morgan langsung menatap orang tersebut, dan ternyata dia adalah ibu penjaga UKS.
"Eh, ngapain? Anak dari kelas berapa?" tanya ibu Linda.
Morgan sontak menjawab. "Saya Morgan dari kelas 11 ips 3, Bu."
"Oh, dari kelas 11."
Bu Linda baru sadar kalau Felyn terbaring di atas tempat tidur. "Eh, iya. Teman kamu kenapa?"
Ibu Linda langsung memeriksa Felyn, "Tadi, dia terkena bola voli. Sepertinya kepalanya sakit, Bu." jawab Morgan.
"Ya ampun, kena bola voli? Ini pasti sakit banget kepalanya. Udah lama pingsan?"
Morgan bingung. "Emm, saya tidak bisa memastikan kalau dia sedang pingsan atau tidur."
"Aduhh, itu maksudnya tuh, ada luka yang lain nggak?"
"Tadi kaki kirinya juga terkilir. Tapi, tidak tahu kalau ada luka yang lainnya."
Bu Linda yang panik langsung memeriksa semua yang dikatakan oleh Morgan, tanpa melihat raut wajah Morgan yang datar dan tidak terkejut melihat kepanikan itu.
Sementara bu Linda memeriksa Felyn, Morgan pun meminta izin untuk keluar dari uks karena jam pergantian mapel sudah berbunyi.
"Saya keluar saja, Bu. Nanti ketinggalan pelajaran selanjutnya!" ucap Morgan pelan.
Bu Linda tersenyum. "Ah, iya. Gpp, biar Ibu yang ngurus teman kamu, siapa namanya?"
"Felyn, bu."
"Oh, Felyn. Oke, Ibu akan jaga sampai dia siuman, setelah itu Ibu akan memanggil kamu lagi."
Morgan pun bergegas keluar dari dalam uks karena dia harus kembali ke dalam kelas untuk menghadiri mata pelajaran selanjutnya.
Sementara itu, apa yang terjadi dengan Wira?
Wira tertidur di sofa karena tidak tahu harus melakukan apa untuk mengisi ke gabutannya. Tetapi, ia kembali terbangun karena tv masih menyala dengan suara yang besar.
"Astaga, tv ternyata masih hidup." Ia pun mengambil remot untuk mematikan tv nya.
Karena sudah terbangun, Wira langsung melihat jam dinding. Sekarang menunjukkan pukul 13.39 WIB, biasanya pada jam ini Wira akan bergegas pergi keluar untuk pergi ke toko buku, apalagi kalau ketemu Felyn.
Wira tidak tahu tentang apa yang baru saja menimpa Felyn, ia berberes diri seperti biasanya dan tidak mengkhawatirkan tentang apapun.
Beberapa menit kemudian, Wira sudah rapi dan bergegas keluar dari apartement nya itu menuju ke parkiran mobil.
Saat Wira tengah berjalan menuju ke parkiran mobilnya, tiba-tiba ia merasa hal buruk akan terjadi. Ia tidak mengetahui pasti siapa yang akan terkena hal buruk itu, tetapi yang jelas bukanlah dirinya. Wira seperti punya firasat-firasat yang berasal dari hatinya yang memberitahu langsung padanya tentang yang akan terjadi di depannya.
Jika ada hal buruk yang akan terjadi padanya atau orang terdekatnya, ia akan merasa dadanya sesak dan tidak bisa bernapas. Sedangkan, jika terjadi hal baik padanya atau orang terdekatnya, ia pasti menjadi orang yang lebih tenang dan banyak tersenyum pada orang-orang.
Hal itu baru terjadi dari minggu lalu. Dan sekarang dia merasakan dadanya sesak seperti ditusuk oleh pisau yang tajam.
Tetapi rasa itu, hanya berlangsung sesaat sehingga Wira masih bisa menahannya.
"Siapa yang akan terluka? Semoga aja nggak ada," ucapnya sambil mengelus dada. Ia pun bergegas masuk ke mobil dan pergi menuju ke toko buku.
Di UKS ....
Felyn yang tadinya tidur sudah terbangun dari tidurnya. Ia membuka kedua matanya perlahan-lahan seraya kembali duduk.
Ternyata dia tidak sendirian, ada bu Linda yang mengawasi nya. "Eh, Felyn udah bangun? Baring aja, ya!"
Felyn menggeleng. "Iya, Bu. Nggak usah, saya udah baikan kok," jawabnya sambil memegangi bagian kepalanya yang sakit.
Bu Linda menghampiri Felyn, "Kamu beneran udah baikan? Mending di sini aja dulu istirahat!" sarannya.
Felyn lagi-lagi menolak saran dari Bu Linda yang tampak khawatir padanya. " Beneran kok, Bu. Saya udah baikan."
"Ya sudah. Kalau kamu merasa begitu."
"Sebentar, Ibu akan panggil salah satu teman di kelas kamu." Bu Linda menggunakan telepon umum sekolah.
Telepon itu ada di masing-masing kelas, setiap kelas punya 1 telepon yang ada di meja guru. Walau pun sekolah mereka sudah mempunyai ruang pengumuman yang canggih, tetapi mereka tidak menghilangkan teknologi lama dari sekolah mereka.
Felyn pun berusaha berdiri kembali dan menunggu salah satu teman dari kelasnya menjemputnya.
"Halo, maaf, Pak. Saya pinjam satu anak untuk mengantar Felyn kembali ke kelas, apakah bisa?" tanya bu Linda di telepon.
"Oh, iya. Bisa kok, Bu. Saya akan suruh....." Pak Ran mencari seseorang yang tepat untuk membawa kembali Felyn ke dalam kelas. "Nah, Nadin aja!"
"Baik, Pak." ucap Nadin sambil tersenyum.
"Sudah, Bu. Saya sudah suruh Nadin ke UKS."
"Baik, Pak. Maaf mengganggu, saya tunggu!" Bu Linda langsung memutus teleponnya dengan pak Ran.
Felyn tersenyum kecil. "Tenang dulu, ya! Teman kamu Nadin lagi menuju kemari." ucap bu Linda.
Felyn hanya mengangguk sambil berdiri di depan pintu UKS. Padahal tubuhnya masih lemah, tapi Felyn tidak mau duduk sebentar lagi di dalam UKS itu.
Beberapa menit kemudian, Nadin datang menjemputnya. Tanpa berlama-lama lagi, mereka berdua pun berpamitan untuk kembali ke kelas dengan bu Linda.
Di tengah perjalanan menuju ke kelas, Nadin langsung bertanya-tanya pada Felyn tentang keadaannya.
"Fel, kamu gpp kan? Udah mendingan sakitnya?" tanya Nadin dengan wajah khawatir.
Felyn mengangguk. "Ya, udah mendingan sih. Cuma kaki masih agak sakit kalau di pegang."
"Kan, udah kubilang. Anak-anak di kelas itu pada gak suka sama kita," ucap Nadin.
"Huh, ngawur aja kamu kalau ngomong!"
"Eh, kurang jelas apa lagi coba? Toh, mereka udah sampai buat kamu terluka kayak gini."
"Ya, biar aja deh kalau emang mereka benci. Lagian kita nggak ada cari gara-gara sama mereka."
Nadin mengelus dadanya. "Huufh, untung aja aku bisa nahan emosi, kalau nggak habis mereka!" ucapnya dengan penuh amarah.
"Btw, kamu nanti ke toko buku lagi?" tanya Nadin.
Felyn menggeleng. "Emm, nggak deh. Aku langsung pulang aja, lagian kaki masih kayak gini."
Nadin setuju dengan ucapan Felyn. "Nah, gitu dong. Langsung balik ke rumah kan lebih asyik!"
"Iya, deh. Kamu selalu benar, Nadin."
Mereka berbicara tanpa henti sampai di depan kelas.
BERSAMBUNG .....