NovelToon NovelToon
Chase Me, I Catch You!

Chase Me, I Catch You!

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Cinta sebagai sebuah permainan?

Itulah yang Jenny selalu lakukan, Cinta hanya sepotong permainan dunia bagi gadis yang memiliki segalanya, karenanya dia ingin selalu menang dan memang dia selalu menang, hingga dunianya sedikit kacau karena seorang pria mulai mengacaukan permainan cintanya, dan dia tak akan pernah tinggal diam.

Jonathan, Pria sempurna penakluk semua wanita, semua terjebak hanya dari sorot matanya, dia tertantang untuk masuk pusaran permainan Jenny dan berusaha memenangkannya.

Siapa yang akan menang? atau mereka terjebak dalam permainan yang mereka buat masing-masing?

Benar, Cinta adalah permainan.

Karena itu, Lets The Game Begin!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2 -

Jenny menggulung spaghetti carbonara-nya dengan perlahan namun tak punya minat untuk memasukkan gulungan itu ke dalam mulutnya yang kecil.

Dia menarik napasnya, makan siangnya cukup membosankan walupun ada Anxel yang sudah duduk dengan tenang di depannya, menilik sebuah berkas dengan serius di depannya.

 

Matanya melirik pemandangan yang indah dari lantai 26, kesunyian di sana membuatnya semakin bosan.

 

"Ini," ujar Anxel menyerahkan sesuatu di atas meja makannya.

 

Jenny melirik sebuah berkas yang di atas mejanya, dia lalu menegakkan badannya, meletakkan sendok dan garpunya, dengan tangannya yang lentik dia mencapai berkas berwarna biru itu, dia membukanya, di dahinya muncul sebuah kerutan.

"Apa ini?" tanya Jenny melirik ke arah Anxel.

"Itu syarat pernikahan kita," kata Anxel.

"Syarat?" kata Jenny lagi menatap Anxel serius.

 

"Ya, aku rasa saat paman dan bibimu menikah, mereka juga pasti memberikan beberapa persyaratan bukan?" ujar Anxel sekarang fokus menatap Jenny, Jenny mengembangkan senyuman tipis, matanya yang di tutupi bulu mata nan lentik itu kembali melirik ke arah syarat di dalamnya, Anxel benar-benar serius dengan hal ini, mulai dari apa yang harus dia lakukan hingga apa yang tidak boleh dia lakukan ada semua di sana.

 

Jenny mengulik sedikit ingatannya, dulu dia sangat membenci pamannya karena masalah pamannya tak pernah menghargai bibinya dalam pernikahan bisnis mereka, sekarang lucunya dia pula lah yang harus menjalani pernikahan pernikahan bisnis ini, karena itu Jenny berjanji untuk dirinya sendiri agar tak pernah mencintai seorang pria lebih dari dia mencintai dirinya sendiri, karena menurutnya saat wanita jatuh cinta, mereka menjadi lebih bodoh dari biasanya.

 

Dia membaca satu persatu syarat itu, tidak terlalu banyak yang aneh, hanya tak boleh saling menganggu masalah pribadi mereka, tidak boleh saling menuntut hal-hal yang tak seharusnya contohnya dalam masalah kemesraan dan keberadaan, bersikap di depan keluarga untuk menunjukkan kebahagian, hanya hal-hal yang memang seharusnya terjadi dengan pernikahan bisnis mereka.

 

"Ya, aku sudah setuju," kata Jenny, dia mengambil champagne-nya meminumnya sedikit sambil memperhatikan Anxel, pria itu yang akan menjadi pria yang mengikatnya seumur hidup, lucu sekali, begitu banyak pria yang hinggap di hidupnya, pria ini lah yang akan menemaninya.

 

"Baiklah, ayahku akan mengundang keluargamu untuk makan malam bersama," kata Anxel memeriksa jadwalnya hari ini.

 

Jenny hanya mengangguk kecil, menancapkan beberapa kali garpu ke spaghettinya membuat suara decitan saat garpu itu menyentuh piring, Jenny suka melakukannya ketika bosan saat dia makan.

 

"Bisakah kau jangan melakukannya, suara itu melukai telingaku," ujar Anxel yang terganggu dengan hal itu.

 

Jenny mengentikan tingkahnya, teguran Anxel membuatnya menatap pria itu yang tampak sedikit menekuk wajahnya.

 

"Terima kasih, lebih baik untuk belajar table manner, atau berhentilah bersikap seperti anak-anak, sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Bernando, dan itu tak akan boleh menjadi kebiasaanmu lagi," kata Anxel menjelaskan dengan sedikit ketus pada Jenny, membuat Jenny mengerutkan dahinya, apa-apaan Anxel melakukan hal itu.

 

Jenny menggenggam garpunya dengan erat, dia tetap memandang Anxel yang setelah mengatakan hal itu malah seolah tak peduli reaksi dari Jenny.

 

Jenny menggertakkan giginya, menyatukan kedua grahamnya, namun dia menarik napasnya panjang, marah-marah di tempat seperti ini akan membuat keributan dan tentu saja harga dirinya turun.

"Siapa pria yang mengantarmu kemarin itu?" tanya Anxel lagi, bertanya namun tak melirik ke arah Jenny, seakan yang ada di layar ponselnya lebih penting.

"Oh, Jonathan Medison, dia hanya seorang teman, aku kenal dengan ayahnya, dan kami juga baru kenal," kata Jenny seadanya, juga malas melihat Anxel jadi dia putuskan melempar tatapannya keluar jendela

 

"Medison?" kata Anxel, belum pernah mendengar nama keluarga itu di sini.

 

"Ya, dia berasal dari negara tetangga, keluarganya adalah keluarga terkaya di sana," kata Jenny sekilas mengingat wajah pria sempurna itu, tampan dan menarik, membuat emosinya yang tadi datar menjadi bergejolak sedikit, antara rasa bersemangat namun juga ada rasa kesal, pria itu memang pintar memainkan emosinya, dan omong-omong kenapa dia bisa bersama dengan Chintia? Jenny lupa menanyakan hal itu pada Chintia.

 

Jenny menyambar ponselnya, mengetik sedikit pesan bahwa dia ingin bertemu dengan Chintia, tak disangka Chintia menjawabnya dengan Cepat, dia setuju menemuinya.

 

"Sebentar lagi adalah jadwalku untuk praktek, bagaimana denganmu? ingin aku antar pulang? kesuatu tempat? atau bagaimana?" tanya Anxel tanpa nada, hanya seperti bertanya biasa saja.

 

"Aku di sini saja, aku ingin bertemu dengan Chintia," kata Jenny sambil mengetikkan pesan untuk Chintia bertemu dengannya di sini.

 

"Baiklah, Jenny, mulai sekarang kau adalah calon istriku, aku tahu kau berpikir mungkin aku dingin atau bagaimana? namun aku hanya belum terbiasa," kata Anxel yang merasa dia cukup dingin dengan wanita cantik di depannya ini.

 

"Never mind, tak perlu kau khawatirkan, sudah tertulis bukan di sini, kita tak boleh menganggu privasi kita masing-masing," kata Jenny tersenyum manis dan mengerti, dia menunjuk ke arah berkasnya.

 

"Ya, tapi aku harap kau bertindak seperti wanita yang sudah memiliki calon suami, walaupun belum resmi, aku harap kau tidak bermain-main lagi dengan pria lain," kata Anxel berwajah serius pada Jenny, membuat Jenny yang sedang asik membalas pesan dari Chintia melirik Anxel.

 

"Tenang saja, aku bukan wanita yang tak mengerti aturan, tapi itu bukan salahku jika pria tergoda padaku bukan?" tanya Jenny lagi menaikkan sudut bibirnya.

 

"Ya, aku yakin banyak yang tergoda denganmu, namun bertindaklah seolah kau sudah milikku," kata Anxel, tentu dia tak ingin kehilangan wanita dengan potensi sebaik Jenny, walau belum terlalu masuk dalam hatinya, Anxel sudah pasti menyukai wanita ini.

 

"Baiklah, aku mengerti," kata Jenny seadanya, satu hal yang sangat membuatnya malas berhubungan serius begini, terlalu banyak hal yang harus di jaga.

 

"Terima kasih, aku akan pergi sekarang, sampai jumpa lagi," kata Anxel berdiri, berjalan sedikit dan segera memberikan kecupan hangat pada dahi Jenny, Jenny hanya tersenyum biasa saja, kecupan di dahinya seperti ini tak ada pengaruhnya apa-apa padanya.

 

Anxel memberikan senyuman sebelum dia melangkah pergi meninggalkan Jenny yang akhirnya menunggu sendiri.

 

"Ehem ..." Suara berat itu terdengar lagi, membuat Jenny yang awalnya sibuk melihat jendela kaget bukan kepalang, matanya langsung menyipit, memandang curiga pria yang mengantikan tempat duduk Anxel tadi, gayanya santai namun sangat menawan.

 

"Kau lagi! kau sengaja mengikutiku ya? jujur saja," kata Jenny, antara tak percaya dan kesal melihat kedatangan Jonathan, dia menunjuk batang hidung Jonathan, namun orang yang ditunjuk santai saja.

Jonathan mencondongkan tubuhnya, dia menyingkirkan jari telunjuk Jenny yang masih mengarah ke arahnya, dengan santai membuka ponselnya dan menunjukkannya pada Jenny.

 

Tertulis di sana Chintia mengajaknya ke restoran ini karena dia ingin bertemu dengan Jenny, mereka akan bertemu di restoran itu.

"Bagaimana? apa aku mengikutimu? tolong jangan terlalu percaya diri, kau memang cantik, tapi terlalu PD, tak semua orang akan tertarik padamu," kata Jonathan menyandarkan tubuhnya Santai, Jenny mencucurkan bibirnya tanda dia kesal, namun juga sedikit malu sudah mengatakan hal itu.

"Jadi kau tidak tertarik denganku?" tanya Jenny langsung saja, bukan tipe yang suka memendam dan juga tak malu menanyakan hal-hal begini, dari pada menebak, lebih baik bertanya langsung.

 

 

1
Tya Afat
coba cari di Indonesia Jo. jangan Jenny ada di sana. heheheh
mylsa
🫠🫠🫠
mylsa
Visual autor mah ga pernah gagalll
mylsa
tor kenapa sih autor kalo buat cerita tuh ga bisa biasa? kenapa selalu kerennnnn! biasa aj loh tor ga usah keren keren!! kan jadi candu bacanya 🫡🤔🫣😏🤩
♚Qų¡ղ♕🅠🅡🅕: ah! makasih kak
total 1 replies
Mimilngemil
💃💃💃
🏃 🏃 🏃..... otw....
Dari Judulnya kayaknya seru deh...
ah... pasti Seru Karya Quin....
Mimilngemil
👏👏👏👏
akhirnya....
😍😍😍
Mimilngemil
Love u too Quin....
Terima Kasih untuk Karya-karya nya....
💕💞💖👍👍
Mimilngemil
Jenny...
semoga aja Cuma prank ya.....
Mimilngemil
😱
siapa lagi sie....
Apakah Anxel sudah bebas?
Mimilngemil
ah... jadi pinisirin sama Meadow
Mimilngemil
Kayaknya ada judul l Meadow di Novel KK Quin deh....
next ke Meadow...
Mimilngemil
Surat apakah?
Mimilngemil
.
Mimilngemil
yea....
akhirnya JJ bersatu lagi
Mimilngemil
Di cang-cang aja Neng Jenny nya Bang Jonathan...
😂😂😂
biar gak kabur lagi
Mimilngemil
Separuh jiwanya Jonathan yang hilang sudah ketemu
Mimilngemil
Yes.....
Mimilngemil
Ayolah Jenny....
Mimilngemil
Apakah Jonathan atau Jared?
Mimilngemil
Karen....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!