Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepala Tim Inspeksi
“Ini sungguh luar biasa! Saya percaya sepenuh hati bahwa Dokter Fauzan Arfariza pasti akan membantu rumah sakit kita memilih talenta cadangan terbaik.”
Ahmad Sudrajat mengucapkan kata-kata itu dengan wajah berseri, lalu menoleh ke arah Sofyan Drajat. Nada suaranya penuh kegembiraan, seakan beban besar yang selama ini menggelayut di pundaknya akhirnya terangkat.
“Dokter Sofyan, Dokter Fauzan, dan Sanro Maega akan membentuk tim penilaian. Kalian akan bekerja sama dengan dua pakar lainnya untuk melaksanakan evaluasi para dokter magang dengan sebaik-baiknya.”
“Uh… baik, Pak Dekan,” jawab Sofyan Drajat.
Namun di balik kata-kata patuh itu, dadanya terasa dipenuhi ketidakpuasan. Semula, dialah yang memegang penuh kendali atas penilaian ini. Semua prosedur, semua keputusan, semua rekomendasi—semuanya berada di tangannya. Akan tetapi, hanya dalam sekejap mata, perannya tergeser menjadi sekadar pendukung.
Yang lebih menusuk lagi, jauh sebelum hari ini tiba, Sofyan Drajat telah menetapkan beberapa nama dokter magang yang akan diluluskan melalui jalur kedekatan dan koneksi pribadi. Kini, dengan kemunculan Fauzan Arfariza yang mendadak menjadi pusat perhatian, seluruh rencananya seakan runtuh menjadi debu. Bagaimana mungkin hatinya tidak dipenuhi rasa sebal?
Ahmad Sudrajat sama sekali tidak memedulikan perubahan ekspresi itu. Ia menoleh ke arah Fauzan Arfariza dan Sanro Maega, lalu berkata dengan nada resmi,
“Dokter Fauzan, Sanro Maega, di antara kalian berdua, siapa yang bersedia menjadi ketua tim penilaian ini?”
Bila ditinjau dari senioritas, Sanro Maega adalah pilihan yang tak terbantahkan. Namanya telah lama disegani di dunia kedokteran tradisional, khususnya dalam penggunaan Obat Herbal yang diwariskan Leluhur Tua. Namun, di hadapan Fauzan Arfariza—pewaris aliran medis kuno—Sanro Maega justru menunjukkan sikap yang nyaris merendah.
Tanpa ragu, Sanro Maega segera berkata,
“Di hadapan Kak Fauzan, saya ini tidak lebih dari murid sekolah dasar. Jabatan ketua tim, tentu saja sepantasnya dipegang oleh Kak Fauzan.”
Ahmad Sudrajat Hutapea mengangguk mantap.
“Kalau begitu, kami harus merepotkan Dokter Fauzan.”
Fauzan Arfariza tidak menunjukkan basa-basi atau kerendahan hati palsu. Ia hanya mengangguk tenang, menerima tanggung jawab itu seolah menerima sesuatu yang memang sudah menjadi haknya.
Sebagai pewaris ilmu Kedokteran Kuno, ia memiliki keyakinan mutlak terhadap keahliannya. Menjadi ketua tim penilaian rumah sakit hanyalah urusan kecil. Bahkan bila harus memimpin asosiasi medis dunia sekalipun, hal itu tidak akan membuat hatinya bergetar sedikit pun.
“Baik,” ujar Ahmad Sudrajat Hutapea. “Kalau begitu, silakan ikut saya ke ruang rapat kecil.”
Ia pun melangkah lebih dahulu. Fauzan Arfariza dan Sanro Maega mengikutinya, sementara Sofyan Drajat berjalan di belakang dengan langkah yang terasa berat.
Sesuai kesepakatan awal, penilaian ini seharusnya telah dimulai sejak lama. Namun, karena munculnya kasus-kasus khusus dari tim kepolisian kriminal, agenda itu terpaksa tertunda.
Keempat orang itu turun ke lantai bawah, menuju lantai lima tempat ruang rapat kecil berada. Saat mereka hampir memasuki ruangan, tiba-tiba seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun keluar dari toilet. Begitu melihat Fauzan Arfariza, matanya membelalak.
“Kak Fauzan? Itu kamu, ya?”
Fauzan menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya. Orang itu tak lain adalah Ronny Sasongko—saudara kedua dari kamar asramanya semasa kuliah.
“Pak Dekan, silakan masuk dulu,” kata Fauzan kepada Ahmad Sudrajat Hutapea. “Saya mau menyapa seorang kenalan.”
“Baik,” jawab sang dekan. “Kami tunggu di dalam.”
Tiga orang itu masuk lebih dahulu ke ruang rapat kecil. Fauzan berbalik dan mendekati Sasongko, lalu menepuk dadanya dengan kepalan ringan.
“Kak Ronny, kenapa kamu ada di sini?”
Di antara rekan-rekan satu kamar, Ronny Sasongko adalah yang paling mapan secara ekonomi. Ayahnya berkecimpung dalam bisnis bahan dekorasi bangunan, membuat keluarganya tergolong berada. Hubungannya dengan Fauzan Arfariza juga yang paling akrab.
Ia tahu kondisi keluarga Fauzan yang sederhana, sehingga selama masa kuliah, Ronny Sasongko hampir selalu menanggung biaya makan mereka. Bahkan beberapa kali, ia diam-diam memberikan uang kepada Fauzan—yang selalu ditolak.
Bagi Fauzan, prinsip hidup adalah harga diri. Sekalipun mereka bersaudara, ia tak ingin mengorbankan martabat seorang lelaki.
“Astaga, Kak Fauzan,” seru Ronny Sasongko sambil memegangi dada. “Kamu habis minum pil penambah tenaga, ya? Hampir saja aku mati kena pukulmu!”
“Maaf,” kata Fauzan sambil tertawa kecil. “Aku terlalu senang melihatmu, jadi tidak sengaja memakai tenaga berlebih.”
Sejak mencapai tahap pemurnian Energi Murni, Fauzan memang belum sepenuhnya menguasai kontrol kekuatannya.
“Kak Ronny, mau aku pijatkan sedikit?” tawarnya bercanda.
“Pergi sana, dasar aneh!” Ronny Sasongko menepis tangannya. “Ini bukan tempat sembarangan buat pegang-pegang.”
Ia menarik Fauzan duduk di bangku panjang di dekat dinding.
“Sejak liburan aku tidak melihatmu. Kamu sibuk apa? Jangan-jangan kerja serabutan lagi ke mana-mana?”
Fauzan tersenyum.
“Tidak juga.”
Ronny Sasongko menghela napas.
“Sudah kubilang dari dulu, selama kuliah ini aku yang urus kebutuhanmu. Tapi kamu keras kepala sekali.”
“Bukan aku menolak,” jawab Fauzan sambil tertawa. “Hanya saja, hargamu terlalu murah.”
Meski bercanda, hatinya tersentuh oleh perhatian tulus sahabatnya itu.
“Sudahlah,” kata Ronny Sasongko. “Aku tahu kamu jaga gengsi. Lupakan soal itu.”
Ia lalu bertanya, “Ngomong-ngomong, kamu ngapain di sini? Ikut ujian dokter magang juga?”
“Kamu salah sangka,” jawab Fauzan. “Aku ke sini sebagai penilai.”
“Wah, hebat sekali omonganmu,” Ronny Sasongko tertawa terbahak. “Rumah Sakit Pengobatan Tradisional Jakarta ini rumah sakit unggulan. Masuk saja susah, kamu malah bilang jadi penilai?”
Fauzan tidak menjelaskan lebih jauh.
“Kalau kamu sendiri? Ikut ujian juga?”
“Ah, aku cuma pelengkap,” kata Ronny Sasongko sambil mengibaskan tangan. “Ayah memaksaku datang. Cita-citaku itu jadi Konglomerat finansial, tapi dia ngotot aku jadi dokter.”
Fauzan mengangguk paham.
“Mau lulus atau tidak?”
“Tidak,” jawab Pardi cepat. “Setelah lulus kuliah, aku ikut bisnis keluarga. Kalau ada yang meluluskan aku jadi dokter, itu sama saja mencelakakanku.”
Fauzan tersenyum, tahu betul watak sahabatnya.
Tiba-tiba Ronny Sasongko teringat sesuatu.
“Oh iya, tadi aku bertemu Natasya Dermawan di bawah. Dia bersama pria lain. Ada apa sebenarnya?”
Wajah Fauzan tetap tenang.
“Kami sudah berpisah.”
Ronny Sasongko langsung berdiri dengan emosi.
“Apa dia berani menyakitimu? Katakan saja, aku akan balas sekarang juga!”
Fauzan menahan lengannya.
“Sudahlah. Masa lalu biarlah berlalu. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya.”
Ronny Sasongko menghela napas.
“Kamu benar. Dari dulu aku bilang kalian tidak cocok, tapi kamu keras kepala. Nanti, kakakmu ini akan carikan yang lebih baik.”
Saat itu, seorang perawat kecil membuka pintu ruang rapat dan berseru,
“Wawancara akan segera dimulai! Para peserta dokter magang, silakan masuk dan mendaftar!”
“Ayo,” kata Ronny Sasongko. “Kita masuk saja. Kalau tidak ikut prosedur, ayahku bisa mematahkan kakiku.”
Mereka berdua masuk ke ruang rapat. Ronny Sasongko menarik Fauzan ke kursi barisan belakang.
“Kita duduk di sini saja.”
“Kak Ronny, kamu duduk dulu,” kata Fauzan. “Aku harus ke depan.”
“Jangan bercanda,” balas Ronny Sasongko. “Penilai duduk di panggung. Nanti nilaimu malah jelek.”
Pada saat itu, Herlambang Ahda dan Natasya Dermawan yang duduk tak jauh dari mereka juga melihat Fauzan.
Wajah Natasya berubah.
“Dia benar-benar datang ikut ujian!”
“Percuma saja,” kata Herlambang dengan senyum sinis. “Selama aku di sini, dia pasti tidak akan lolos. Ini kesempatan bagus untuk balas dendam.”
Herlambang sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai peserta. Namun karena ia keponakan Sofyan Drajat dan cukup akrab dengan para perawat, ia bisa menyelinap masuk.
“Benar,” kata Natasya dengan nada penuh kebencian. “Katakan pada pamanmu. Dia sama sekali tidak boleh lulus.”
Meski telah berpisah, ia tak sanggup melihat Fauzan hidup dengan baik. Semakin terpuruk pria itu, semakin besar kepuasan di hatinya.
“Aku kirim pesan sekarang juga,” ujar Herlambang sambil mengeluarkan ponsel.
“Nilainya nol saja, lalu tendang dia keluar.”
Namun, sebelum pesan itu terkirim, matanya membelalak. Fauzan Arfariza melangkah mantap ke arah meja penilai—dan duduk tepat di kursi tengah.
Saat itulah, suasana ruang rapat seakan membeku.
Takdir mulai berputar, dan permainan kekuasaan pun resmi dimulai.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT