Memiliki pacar kaya merupakan impianku. Mengejar cinta pria kaya, walaupun hanya Om-om gemuk. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, hanya untuk merebut perhatian ayahku dari tiga saudaraku yang berhasil memiliki kekasih direktur, dokter dan pilot.
*
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipiku, terasa kebas."Dasar pelakor!" teriak seorang wanita paruh baya. Aku yang salah karena menyangka suaminya seorang duda, pria tua gemuk yang menipuku.
Hingga pertolongan itu datang. Tetangga kostku yang paling miskin dan pelit. Seorang pemuda dengan celana pendek dan kaos kutangnya.
"Pelakor?Dia bukan pelakor, kami sudah lama menikah,"dustanya. Pemuda yang hanya tersenyum merangkul bahuku.
"Aku minta makan"
"Aku pinjam uang"
"Boleh pinjam komputer?Aku lupa beli pulsa listrik!"
Benar-benar makhluk pengiritan sejati. Hingga pada malam gelap dia berkata.
"Aku meminta anak darimu,"
Satu yang tidak aku ketahui manusia pengiritan ini, adalah konglomerat irit, posesif yang akan menjeratku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh Pampers
Apa yang dilakukan Fujiko selama kepergian Raka? Dirinya menggoreng telur, diberi saus tomat. Memakannya seorang diri."Apa dia berkencan dengan tante-tante?" gumamnya mengingat Raka mengenakan pakaian rapi, serta jam tangan yang mungkin dibeli di pinggir jalan dengan harga 40.000 ribu rupiah. Mengingat seberapa pelitnya temannya itu.
Hanya sebatas teman, seorang teman harusnya mendoakan kebahagiaan sahabatnya sendiri. Fujiko segera bangkit."Dasar kikir!" bentaknya tiba-tiba membayangkan seorang wanita membawa Raka ke hotel. Mengangkang di atas kasur meminta Raka memuaskannya.
Rasanya tidak berselera untuk makan lagi. Wanita itu kembali menutup sisa makanannya, kemudian mencuci tangan. Berjalan keluar kamar kost, mungkin bersosialisasi dengan anak kuliahan lebih baik.
"Boleh gabung?" tanyanya saat melihat mahasiswa dan mahasiswi itu menonton televisi bersama di ruang yang memang diperuntukkan untuk mereka dapat berkumpul. Ada sebuah televisi layar lebar disana yang disediakan pemilik kost-kostan. Seorang pria paruh baya yang hanya datang seminggu sekali.
"Suamimu tidak pulang? Hati-hati nanti dia selingkuh." Ucap Ragil memakan kripik kentang Kusuka.
"Suami istri? Kami hanya teman," Fujiko tertawa kecil. Tapi tidak diikuti dengan tawa beberapa mahasiswa dan mahasiswi di dekatnya. Memincingkan mata, seolah-olah Fujiko dan Raka adalah pasangan kumpul kebo.
"Kami hanya teman, lagipula jika kami pacar, apa kalian fikir aku mau dengan sifat pelitnya?" gumam Fujiko ikut duduk di sofa.
"Aku pernah mengajak Raka makan di warung bakso depan. Tapi katanya syaratnya harus membayarnya 100 ribu per jam, semua yang dimakan aku yang bayar, ditambah membungkus dua porsi untuk dibawa pulang." Gumam Evi mahasiswi jurusan sastra.
Semua orang terlihat antusias mendengarkan termasuk Fujiko.
"Lalu? Kamu mau?" tanya Ragil.
"Awalnya aku sayang pada uangku. Tapi penasaran juga, Raka kalau dilihat-lihat wajahnya mengalahkan selebriti idolaku. Jadi saat dapat uang sisa dari seminar, aku menyisihkan 300.000, untuk makan dengannya." Jawaban dari Evi.
"Lalu apa yang terjadi?" Cahaya, mahasiswi jurusan kedokteran ikut-ikutan menyela.
"Dia makan perlahan hingga menghabiskan waktu dua jam tanpa bicara. Baru satu mangkok bakso habis. Sialnya lagi, salah satu dari dua bakso yang dibungkus seharga 15.000 dijual 5.000 pada Fujiko." Evi menghela napas kasar, kapok melakukannya lagi.
"Makhluk pengiritan," Ragil menimpalinya.
"Omong-ngomong dia memasak untukmu. Makan bersamamu, dia pasti minta bayaran kan? Uangmu sudah terkuras berapa?" tanya Evi.
"Dia hanya masak kemudian numpang makan dan mandi. Setelah itu kembali ke kamarnya." Jawaban dari Fujiko apa adanya.
"Kalian seperti suami istri. Bahkan berbagi sabun, gesture kalian seperti saling menyukai, tapi saling tidak menyadari." Ucap Cahaya, merebut keripik singkong milik Ragil.
"Kami tidak---" Kata-kata Fujiko disela.
"Apa dia pernah memelukmu?" Ragil mengenyitkan keningnya.
Fujiko terdiam bingung harus menjawab apa. Tapi dirinya dan Raka memang sahabat. Wajarkah sahabat saling berpelukan?
"Apa kalian pernah berciuman? Maksudku dari bibir ke bibir, mulut ke mulut?" tanya Evi benar-benar antusias tentang sepasang sahabat yang kelewatan ini.
"Ka...Ka...Kami hanya sahabat," jawabnya tergagap berusaha tersenyum. Bukankah sahabat bisa berciuman di luar negeri? Itulah alasan dalam dirinya. Bagaikan melupakan dirinya lahir dan tinggal di Asia yang memiliki budaya lebih ketat, tidak pernah tinggal di luar negeri.
"Kalian pernah tidur satu ranjang?" Cahaya kembali bertanya.
"Kami hanya teman!" Jawaban tegas darinya memasuki kamar dengan perasaan campur aduk.
Brak!
Suara pintu ditutup terdengar.
"Wanita matre dengan si kikir, mereka memang sepaham." Ucap Ragil yang mengetahui hal sebenarnya. Sepasang sahabat yang tersesat, melewati batas, kala kedua jantung itu berdegup cepat. ******* napas yang tidak bisa berdusta.
*
Dirinya tidak dapat tidur sama sekali, bahkan setelah meminum susu dan memakai masker. Biasanya Raka ada di kamarnya, di jam-jam seperti ini mereka memakan singkong rebus. Kalau tidak kuaci, tapi kini?
"Dia makan dengan Tante-tante. Sahabat tidak setia kawan!" ucapnya merajuk menahan sakit hatinya. Bagaikan seorang istri yang ditinggalkan suaminya berselingkuh.
Hingga tepat pukul setengah satu malam. Pintu kamar Fujiko terbuka, wanita yang baru mulai tertidur itu memaksakan diri membuka matanya.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun matre, selamat ulang tahun..." Itulah nyanyian dari Raka,
Membuat Fujiko segera bangkit menatap haru ke arah sahabatnya. Pemuda yang berjalan membawa sponge cake yang tidak begitu besar, dihiasi lilin putih di bagian tengahnya, lilin besar berkwalitas yang tidak mudah padam.
Fujiko menutup mulutnya merasa terharu, mengingat sudah tiga tahun tidak ada yang ingat ulang tahunnya. Air matanya mengalir. Dengan cepat memeluk tubuh Raka, Benar-benar persahabatan sejati bukan?
"Kamu mau mengajakku ngepet ya? Agar punya banyak uang?" gumam Fujiko penuh senyuman. Menatap ke arah lilin putih yang biasa ada di warung.
"Hadiah dariku adalah lilinnya," jawaban dari Raka. Benar-benar makhluk kikir sejati.
Fujiko melepaskan pelukannya, mulai hendak meniup lilin yang berada di atas kue."Aku ingin punya pacar kaya! Dengan saldo tabungan yang banyak!" Sebuah permintaan darinya saat meniup lilin.
"Kita simpan lilinnya, jaga-jaga kalau ada pemadaman listrik," ucap Raka menyimpan lilin yang baru ditiup Fujiko ke dalam laci meja milik wanita itu.
"Kikir," Fujiko tertawa kecil, meletakkan sponge cake di atas meja.
"Aku membawa steak ini daging Wagyu asli, murah hanya 20 ribu." Ucap Raka, tidak menyia-nyiakan kesempatan, kamu mau? Jika tidak aku akan menjualnya pada tetangga lain.
"Dasar! Kamu berkencan dengan tante-tante?" tanya Fujiko menatap curiga. Matanya menelisik mengamati ada atau tidaknya tanda merah di leher sahabatnya.
Gadis itu mulai posesif, Raka tidak boleh menikah terlebih dahulu darinya. Tidak boleh meninggalkannya kesepian, sebelum ada pangeran kaya berkuda poni menjemputnya.
"Sejenis wanita agresif, yang jelas ayo kita makan," Raka tersenyum, segera setelahnya Fujiko menghela napas kasar.
"Jangan menjadi materialistis. Carilah wanita baik-baik dan---" Kata-kata Fujiko terpotong.
"Dan apa?" tanya Raka, menahan tengkuknya, mengikis jarak diantara mereka. Kini hanya berselisih beberapa centimeter. Sumpah demi apapun, deru napas pemuda itu menerpa wajahnya, beraroma cherry. Membuatnya tidak dapat berkutik.
"Ra... Raka," Fujiko gelagapan, kala pemuda itu yang kini memeluknya.
"Ibuku meminta anak dariku. Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, kembali mengeratkan pelukannya, menceritakan sekilas masalah keluarganya m
Inilah yang terjadi setiap keluarga mereka menginginkan hal lebih dari mereka. Mencari tempat bersembunyi dan bercerita dalam pelukan yang menghangatkan.
"Kalau begitu menikahlah. Carilah wanita yang baik maka---" Kata-kata Fujiko terpotong.
"Sebagian besar wanita materialistis sepertimu!" ucap Raka, membuat Fujiko geram, mendorong Raka agar melepaskan pelukannya.
"Materialistis? Aku realistis, harus membahagiakan ayahku. Belum lagi jika punya anak, harus membeli popok, perlengkapan bayi, jadi pacarku harus kaya!" Fujiko bersungut-sungut, memakan sponge cake dengan kesal.