Adrina, 27 tahun, adalah gadis mandiri yang hidup dalam senyap. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya memilih membangun keluarga baru, Adrina memutuskan tinggal sendiri di sebuah kosan sempit—tempat ia belajar berdamai dengan kesendirian dan masa lalu yang tak lagi ia bagi pada siapa pun. Lulus kuliah tanpa arah pekerjaan yang jelas, ia sempat menganggur cukup lama hingga sebuah tawaran tak terduga datang: menjadi asisten seorang artis papan atas yang sedang berada di puncak popularitas.
Nama itu adalah Elvario Mahendra—aktor sekaligus penyanyi terkenal, digilai publik karena wajahnya yang nyaris sempurna dan bakatnya yang luar biasa. Namun di balik sorot lampu, Elvario dikenal arogan, temperamental, dan sulit ditangani. Dalam satu bulan terakhir, ia telah mengganti enam asisten. Tidak ada yang bertahan. Semua menyerah oleh tuntutan, amarah, dan standar tinggi yang tampak mustahil dipenuhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERISAI DIBALIK LAMPU SOROT
Begitu sosok pria itu menghilang di balik belokan lorong, Adrina mengembuskan napas panjang. Ia baru menyadari betapa kaku pundaknya sejak pagi tadi. Ia pun menghempaskan tubuh di atas kursi lipat, menunduk dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Lelah itu datang merayap pelan tapi pasti—seperti beban berat yang baru benar-benar terasa ketika kita berhenti melangkah.
Beberapa menit berlalu dalam sunyi yang melelahkan, hingga suara langkah kaki yang mantap mendekat. Adrina mengangkat wajah dan mendapati Elvario sudah berdiri kembali di depannya. Kali ini, ia membawa satu kotak makanan dan sebotol minuman dingin.
Tanpa banyak bicara, Elvario meletakkan barang-barang itu di atas meja kecil di hadapan Adrina. "Makan."
Adrina membeku di tempatnya. "M… maaf?"
"Kedengaran jelas," ucap Elvario, nadanya masih tetap dingin namun ada sesuatu yang berbeda di sana. "Makan."
Adrina menatap kotak makanan itu, lalu beralih menatap wajah tegas di depannya. "Saya—"
"Kalau lo sakit," potong Elvario cepat, suaranya tetap datar namun tajam, "kacau jadwal gue nanti."
Adrina tercekat. Jawaban itu begitu khas Elvario—kasar namun praktis. Namun, entah kenapa, Adrina justru merasakan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang tulus.
"Terima kasih," katanya pelan.
Elvario tidak menyahut. Ia hanya mengangguk tipis lalu berbalik pergi dengan langkah lebar, seolah tidak ingin momen singkat itu menjadi sesuatu yang perlu dibahas lebih lanjut.
Adrina membuka kotak makanan itu perlahan. Uap hangatnya menyentuh wajahnya, membawa aroma yang menggugah selera. Di kejauhan, Rizal berdiri menyandar pada pilar, memperhatikan adegan itu dengan tatapan lembut—campuran antara rasa haru dan lega yang sulit disembunyikan.
Rizal mendekat perlahan. "Lo sadar nggak barusan kejadian apa?"
Adrina mengunyah makanannya pelan lalu menggeleng polos. "Dia bilang dia takut jadwalnya kacau," jawabnya jujur.
Rizal tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah di lorong yang mulai sunyi. "Iya. Itu versinya dia. Dia memang paling jago membungkus niat baik dengan kalimat yang menjengkelkan."
Rizal menatap punggung Elvario yang menjauh menuju ruang latihan. "Biasanya, dia cuma peduli pada jadwal. Hari ini… dia peduli pada orangnya."
Adrina menunduk, tidak tahu harus menanggapi apa. Ia hanya merasakan lelah di tubuhnya sedikit berkurang, seolah beban di pundaknya baru saja dibagi. Untuk pertama kalinya sepanjang hari yang panjang dan melelahkan itu, ia merasa tidak benar-benar sendirian di tengah riuhnya dunia hiburan yang asing ini.
Malam memang masih panjang. Tantangan berikutnya mungkin akan lebih berat dari sekadar memilih kemeja atau memperbaiki riasan. Namun, Adrina memilih untuk bertahan. Bukan lagi sekadar karena perintah, bukan pula karena takut akan kegagalan.
Melainkan karena—entah sejak kapan—ia ingin memastikan Elvario Mahendra tetap berdiri tegak di bawah sorot lampu yang menyilaukan itu, meskipun ia sendiri harus tetap berada di balik bayang-bayang.
Lampu-lampu studio kini hanya menyisakan pendar redup yang menciptakan bayangan panjang di lantai beton. Beberapa kru masih lalu-lalang, namun keriuhan pagi tadi telah menguap, berganti dengan suara kabel yang diseret, debum pintu yang ditutup, dan bisik-bisik lirih yang menjadi latar belakang malam.
Adrina berbaring setengah rebah di atas kursi panjang yang merapat ke dinding. Ia menatap langit-langit studio yang tinggi, tempat rangka-rangka besi bersilangan dengan lampu sorot yang kini mati, tampak seperti raksasa yang sedang tidur. Dadanya naik-turun dengan napas yang teratur namun berat.
Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertahan sampai detik ini.
Pagi tadi, ia datang dengan langkah yang dipenuhi keraguan. Kepalanya bising oleh peringatan-peringatan dari Rizal, dan nama besar Elvario Mahendra terasa seperti gunung yang siap runtuh menimpanya kapan saja. Ia tidak pernah berharap lebih—bahkan tidak berani membayangkan—bahwa ia akan tetap berpijak di sini saat malam telah larut.
Hari ini melelahkan. Bukan hanya fisik yang terkuras, tapi mentalnya pun dipaksa bekerja melampaui batas yang biasa ia sanggupi.
Apa aku sanggup lanjut? tanyanya pada diri sendiri dalam kejujuran yang sunyi.
Adrina menoleh ke samping. Di sana, beberapa staf televisi sedang tertawa kecil sambil menyeruput kopi dari gelas kertas. Sesekali, tatapan mereka mengarah padanya—bukan dengan pandangan menyelidik yang tajam, melainkan dengan anggukan kecil dan senyuman yang hangat.
Baik. Satu kata itu terlintas di benaknya. Orang-orang di studio ini ternyata sangat baik padanya.