Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. kenyataan yang begitu mengejutkan
kenyataan yang begitu mengejutkan
Aku duduk di tepi ranjang kamar kecilku, ponsel di tangan yang terasa dingin. Lampu kamar redup, hanya cukup menerangi pantulan wajahku di layar yang menghitam sebelum mesin pencari terbuka.
Haruka Sakura.
Aku mengetik nama itu perlahan, seperti takut huruf-hurufnya akan berubah menjadi sesuatu yang tidak siap kuterima.
Hasil pencarian muncul seketika.
Berita.
Artikel bisnis.
Foto-foto formal dengan latar gedung tinggi dan konferensi internasional.
Seorang pria dengan wajah yang terlalu sempurna untuk disebut nyata. tidak ada senyuman. Tatapan tenang. Rambut tertata rapi.
Aura yang… tidak bisa disentuh.
Aku membeku.
Itu dia.Wajah yang sama.
Tatapan yang sama.Namun berbeda.
Di foto-foto itu, ia bukan Alessandro Virelli.Ia adalah Haruka Sakura—ikon dunia kalangan atas, pemegang puncak jaringan Atlantic, sosok yang sering disebut sebagai visioner, dermawan, bahkan pusat ekonomi oleh media.
Aku menelan ludah.
Tanganku gemetar saat membaca judul-judul berita:
HARUKA SAKURA: PRIA MUDA YANG MENGENDALIKAN EKONOMI PENUH DI ATLANTIC ALLIANCE.SOSOK YANG TIDAK PERNAH TERSENYUM NAMUN SELALU MENANG.TERLALU TAMPAN UNTUK DITAKUTI, TERLALU BERBAHAYA UNTUK DIDEKATI
Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.
Aku menggeser layar, membaca lebih dalam. Tidak ada skandal. Tidak ada gosip murahan. Hidupnya bersih—terlalu bersih. Seolah seseorang dengan sengaja menghapus sisi manusianya dari dunia.
Dan di sinilah dadaku mulai terasa sesak.
Jika Haruka Sakura adalah wajah yang dunia puja…
maka Alessandro Virelli adalah wajah yang dunia sembunyikan.
Dan aku…
akan menjadi istri dari keduanya.
Ponselku bergetar tiba-tiba. Aku tersentak.
Pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
-A "Besok jam 08.00. Jangan terlambat".
Hanya satu huruf.
Tapi aku tahu itu dia.
Aku meletakkan ponsel, lalu berdiri di depan cermin. Gadis yang menatap balik masih memakai kaus sederhana dan rambut terurai seadanya. Matanya tampak lelah, tapi ada sesuatu yang baru di sana—sesuatu yang belum bisa kuberi nama.
Takut, tentu saja.
Tapi juga… penasaran.
Dan aku membenci diriku sendiri karena itu.
Pagi datang terlalu cepat.
Jam delapan kurang lima, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah. Tidak membunyikan klakson. Tidak memaksa. Seolah yakin aku akan keluar.
Dan aku memang keluar.
Dan dia juga keluar menghampiriku memberikan sebuah kotak yang berisi baju, lalu ia menyerahkannya padaku tanpa sepatah kata.
Aku pun paham apa maksudnya, lalu aku kembali ke dalam rumah untuk berganti baju, setelah aku smpai di pintu dan mau keluar..
Ayah berdiri di ambang pintu, ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya hanya menepuk pundakku pelan. “Hati-hati,” katanya lirih.
Aku tersenyum kecil. Senyum yang lebih mirip perpisahan. lalu aku keluar menuju mobil itu.
Mobil itu sunyi. Tidak ada musik. Tidak ada percakapan. Aku duduk tegak, mencoba menenangkan detak jantungku yang terlalu cepat.
Alessandro duduk di sampingku, fokus ke depan.
“Aturan pertama,” katanya tanpa menoleh.
“Di tempat umum, kau boleh memanggilku Haruka.”
Aku mengangguk. “Dan saat tidak ada orang?”
“Alessandro.”
Nama itu terdengar lebih berat di lidahku
Kami tiba di sebuah universitas besar—terkenal, mahal, dan jauh dari dunia yang selama ini kukenal. Bangunannya menjulang anggun, mahasiswa berlalu-lalang dengan wajah penuh ambisi.
Aku menatapnya dengan tak percaya.
“Ini… serius?”
“Iya,” jawabnya singkat.
“Kenapa?” pertanyaanku lolos sebelum sempat kutahan.
Ia menoleh padaku. Tatapannya tajam, tapi tidak marah.
“Karena aku tidak menikahi perempuan bodoh yang hanya duduk diam menunggu dunia runtuh.”
Kalimat itu membuat dadaku bergetar—entah karena tersinggung atau karena sesuatu yang lain.
Proses pendaftaran berjalan terlalu mudah. Alessandro—atau Haruka—membuka semua pintu. Aku hanya menandatangani, mengangguk, dan menerima berkas yang menentukan masa depanku.
Saat kami keluar, aku berhenti sejenak di tangga.
“Terima kasih,” ucapku pelan.
Ia menatapku singkat. “Jangan salah paham.”
Aku tersenyum pahit. “Aku tahu. Ini bukan kebaikan.”
“Ini investasi,” katanya dingin. “Istri yang terlihat pintar lebih meyakinkan.”
Dan tetap saja…
aku tersenyum.
Malamnya, aku pindah.
Bukan ke rumah megah seperti dalam bayanganku, melainkan sebuah apartemen tinggi yang terlalu sunyi. Minimalis. Bersih. Hampir tidak berjejak kehidupan.
“Ini tempat tinggalmu,” tanyaku penuh penasaran. “Aku jarang ke sini.” kata Alessandro
“Jarang?” ulangku.
“Kontrak,” jawabnya singkat.
Aku mengangguk, lagi-lagi.
Saat ia hendak pergi, aku memberanikan diri bertanya, “Kenapa kamu memilihku?”
Langkahnya terhenti.
Ia tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat.
“Karena kau tidak melihatku seperti orang lain,” katanya akhirnya, masih membelakangiku.
“Aku melihat apa?” tanyaku pelan.
“Manusia,” jawabnya singkat. “Dan itu kesalahan yang mahal.”
Pintu tertutup.
Aku berdiri sendiri di apartemen itu, dikelilingi kemewahan yang terasa dingin. Namun untuk pertama kalinya sejak kelulusanku, aku tidak merasa sepenuhnya kosong.
Aku merasa… berada di tengah sesuatu yang besar.
Berbahaya.
Tak terhindarkan.
Dan di balik semua ketakutan itu, satu kebenaran yang membuatku ngeri perlahan muncul:
Aku bukan hanya terikat kontrak dengan Alessandro Virelli.
Aku sedang ditarik masuk ke dunia Haruka Sakura.
Dunia yang harus berdiri tegak di depan kamera…
dan berdarah di balik tirai.
Dan entah kenapa—
aku tidak lagi yakin
aku ingin keluar darinya.
Malam di apartemen itu terasa terlalu sunyi.
Aku duduk di lantai, bersandar pada sofa yang masih berbau baru.
Kardus-kardus belum kubuka. Pakaian-pakaianku masih terlipat rapi, seolah aku sendiri belum benar-benar percaya bahwa tempat ini sekarang adalah rumahku—atau setidaknya, tempat aku bernaung selama kontrak ini berjalan.
Lampu kota terlihat dari balik jendela besar. Cahaya-cahaya kecil berkelip, hidup, bergerak. Dunia terus berjalan seperti biasa, sementara hidupku berhenti tepat di satu titik yang tidak pernah kupilih.
Aku memikirkan ucapannya tadi.
“Aku tidak menikahi perempuan bodoh yang hanya duduk diam menunggu dunia runtuh.”
Kalimat itu tidak lembut. Bahkan menyakitkan.
Tapi entah kenapa, aku tidak merasa direndahkan.
Aku merasa… diakui.
Dan itu menakutkan.
Aku bangkit dan berjalan ke kamar. Ranjang besar itu terlihat terlalu kosong untuk seseorang yang baru saja resmi menjadi istri—meski hanya di atas kertas.
Aku duduk di tepinya, menatap langit-langit, mencoba memaksa pikiranku diam.
Namun nama itu kembali muncul.
Haruka Sakura.
Aku membuka ponsel lagi. Membaca ulang artikel-artikel yang tadi sempat kututup. Kali ini lebih pelan. Lebih teliti.
Ia disebut sebagai otak di balik beberapa kesepakatan ekonomi besar. Wajahnya sering muncul di forum internasional, berdiri di antara orang-orang berpengaruh dengan sikap tenang yang hampir arogan. Tidak pernah terlihat panik. Tidak pernah terlihat kalah.
Dan tidak pernah terlihat… hidup.
Aku menggeser layar ke foto lain.
Foto lama.
Tanggalnya beberapa tahun lalu.
Di foto itu, Haruka Sakura berdiri di depan kamera dengan senyum tipis—nyaris tidak terlihat. Tapi matanya… kosong. Sama kosongnya dengan mata Alessandro saat pertama kali kami bertemu.
Dua nama.
Satu tatapan.
Dadaku terasa sesak.
“Siapa kamu sebenarnya?” gumamku pelan.
Ponselku kembali bergetar.
Pesan masuk.
-A "Besok pagi aku akan ke sana. Kita perlu bicara soal aturan tinggal bersama".
Aku menatap layar dengan sangat lama.
Tinggal bersama.
Kalimat itu seharusnya terasa wajar bagi pasangan suami istri. Tapi bagiku, itu terdengar seperti pengumuman resmi bahwa hidupku benar-benar telah berpindah tangan.
Pagi berikutnya, aku terbangun oleh suara pintu.
Aku duduk tegak di ranjang, jantungku berdebar, sebelum menyadari langkah kaki itu tenang—tidak tergesa, tidak agresif.
Ia berdiri di ambang pintu kamar, masih mengenakan jas hitam, rambut rapi, wajah tanpa ekspresi.
“Kau tidak mengunci pintu,” katanya.
Aku menelan ludah. “Aku… lupa.”
“Biasakan,” ucapnya singkat. “Ini bukan rumah kecilmu yang lama.”
Kalimat itu tidak bernada kasar, tapi cukup untuk mengingatkanku: dunia ini berbeda.
Ia berjalan ke ruang tengah. Aku mengikutinya. Ia berdiri di dekat jendela, sama seperti pertama kali kami bertemu. Seolah itu posisinya—menghadap dunia, bukan manusia.
“Aturannya sederhana,” katanya. “Aku jarang di sini. Jika aku datang, kau tidak perlu bertanya ke mana aku pergi atau dari mana aku datang.”
Aku mengangguk.
“Media tidak boleh tahu apa pun tentang pernikahan ini,” lanjutnya. “Jika perlu, kau akan muncul sebagai Alya Virelli—istri sah, latar belakang bersih, mahasiswa biasa.”
“Dan Haruka Sakura?” tanyaku hati-hati.
Ia menoleh perlahan. Tatapannya menekan.
“Itu nama yang tidak kau sebut di luar tempat ini,” katanya. “Bahkan di sini… sebaiknya tidak terlalu sering.”
Aku menunduk. “Baik.”
Keheningan jatuh.
Lalu, tanpa kuduga, ia berkata, “Kenapa kau tidak menolak?”
Aku mengangkat wajah. “Apa?”
“Kontrak,” ulangnya. “Banyak perempuan akan menolak menikah dengan pria sepertiku. Atau setidaknya… menangis, berteriak, memohon.”
Aku terdiam lama sebelum menjawab.
“Karena aku sudah terlalu lama hidup dengan rasa tidak punya pilihan,” ucapku pelan. “Menolak hanya membuatku lelah.”
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Alessandro tidak langsung bicara.
Ia menatapku lama.
Ada sesuatu yang berubah di matanya—bukan lembut, tapi retak. Seperti kaca yang hampir pecah, tapi masih menahan diri.
“Kau tahu,” katanya akhirnya, “itulah alasan aku memilihmu.”
Aku tertegun. “Alasan?”
“Kau tidak berpura-pura kuat,” lanjutnya. “Dan orang seperti itu… jarang berbohong.”
Dadaku bergetar. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Ia melirik jam tangannya. “Aku harus pergi.”
“Ke dunia yang mana?” tanyaku tanpa sadar.
Ia berhenti. Menoleh.
Satu sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum. Lebih seperti pengakuan pahit.
“Keduanya.”
Pintu tertutup lagi.
Aku berdiri sendiri di apartemen itu, napasku terasa pendek.
Aku baru saja menyadari sesuatu yang membuat perutku mengeras:
Alessandro Virelli bukan hanya pria berbahaya.
Haruka Sakura bukan hanya topeng sosial.
Mereka adalah dua sisi dari seseorang yang sudah terlalu lama bertahan hidup dengan cara mematikan dirinya sendiri.
Dan entah bagaimana…
aku masuk ke hidupnya bukan sebagai ancaman,
bukan sebagai alat,
melainkan sebagai kesalahan yang tidak ia rencanakan.
Malam itu, saat aku berbaring sendirian, satu pikiran terus menggangguku:
Kontrak ini mungkin punya tanggal akhir.
Tapi perasaan yang mulai tumbuh—
tidak pernah bisa diatur oleh kertas.
Dan aku takut…
bukan karena ia iblis.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
aku ingin tahu
apakah iblis itu masih bisa diselamatkan.