NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21 Organisasi Tanpa Nama dan Kecurigaan Anita

Kehidupan setelah "Detik Terakhir" terasa seperti berjalan di atas lapisan es yang sangat tipis. Saka kembali ke sekolah, mengenakan seragam putih abu-abu, dan duduk di bangku yang sama. Namun, setiap kali ia tertawa mendengar lelucon Rian (yang kini hidup kembali di garis waktu ini) atau saat ia menggenggam tangan Anita di kantin, ia merasakan sensasi dingin di dadanya. Ia tahu, di suatu tempat di dunia ini, satu orang baru saja kehilangan memori tentangnya.

Pagi itu, di gerbang sekolah, Saka berpapasan dengan Luna. Gadis berambut perak itu masih menjadi siswi di sana, namun saat mata mereka bertemu, tidak ada lagi kilatan pengertian atau kode rahasia tentang penjagaan waktu.

"Permisi, bisa pinggir sedikit? Kamu menghalangi jalan," ucap Luna dingin. Matanya menatap Saka seolah pria itu hanyalah tiang listrik yang mengganggu.

Saka tertegun, lidahnya kelu. "Ah, maaf... Luna."

Luna menghentikan langkahnya sejenak, mengernyitkan dahi. "Kamu tahu namaku? Kita pernah sekelas?"

Saka memaksakan senyum yang terasa pahit. "Hanya melihat di papan pengumuman juara kelas. Maaf."

Saka berjalan menjauh dengan hati yang remuk. Menjadi orang asing bagi seseorang yang pernah bertaruh nyawa bersamamu adalah jenis rasa sakit yang tidak bisa disembuhkan oleh Tinta Keabadian sekalipun.

Namun, masalah Saka bukan hanya soal perasaan. Di jam istirahat, ia dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di sana, bukan Pak Kepsek yang menunggu, melainkan dua orang pria mengenakan setelan jas hitam yang sangat rapi—terlalu rapi untuk ukuran sekolah di Bandung. Mereka tidak membawa buku atau pena, melainkan sebuah tablet transparan yang memancarkan cahaya biru.

"Saka Ardiansyah," ucap salah satu pria yang memiliki codet kecil di pelipisnya. "Kami dari Departemen Anomali Temporal (DAT). Sebuah organisasi yang memastikan tidak ada 'sampah waktu' yang tertinggal di realitas primer."

Saka mencoba tetap tenang, namun tangannya di bawah meja mengepal erat. "Saya tidak mengerti maksud Bapak. Saya hanya murid biasa."

Pria satunya lagi meletakkan tablet di meja. Layarnya menunjukkan rekaman CCTV Jalan Braga yang seharusnya sudah terhapus—saat toko Ki Ganda meledak dalam cahaya perak. "Kami kehilangan jejak seorang kurator bernama Ki Ganda. Dan anehnya, seluruh warga kota Bandung mendadak lupa bahwa toko itu pernah ada. Kecuali satu hal... tanda tangan energi perak di sel darahmu."

Saka menyadari bahwa The Architect mungkin telah memulihkan tubuhnya, tetapi ia tidak menghapus jejak energi Alexandria yang kini mengalir dalam darahnya. Bagi organisasi seperti DAT, Saka adalah artefak berjalan yang berbahaya.

"Ikut kami secara sukarela, atau kami akan menggunakan protokol penghapusan paksa," ancam pria bercodet itu.

"Tunggu!" sebuah suara lantang menginterupsi dari pintu.

Anita berdiri di sana dengan wajah berani, meskipun tangannya sedikit gemetar. Ia memegang sebuah buku catatan. "Pak, Saka sedang mendiskusikan tugas sejarah dengan saya. Kalian tidak bisa membawanya begitu saja tanpa izin orang tua."

Para agen DAT menatap Anita dengan dingin. Salah satu dari mereka memindai Anita dengan alat kecil. "Gadis ini... dia memiliki resonansi yang sama dengan subjek. Dia adalah 'Sauh'-nya."

Saka berdiri, menghalangi pandangan mereka terhadap Anita. "Jangan sentuh dia. Aku akan ikut, tapi lepaskan dia dari semua ini."

Saka dibawa ke sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi di bawah Gedung Sate. Tempat itu dipenuhi dengan teknologi yang melampaui zamannya: jam atom yang melayang, penjara vakum waktu, dan peta garis dunia yang terus berubah.

Di sana, ia bertemu dengan pemimpin DAT, seorang wanita tua bernama Direktur Vena.

"Saka, kami tidak ingin membunuhmu," ucap Vena sambil menatap monitor yang memantau detak jantung Saka. "Tapi kamu membawa pengetahuan Alexandria di dalam darahmu. Itu adalah senjata biologis paling berbahaya di alam semesta. Jika kamu tetap berada di dunia nyata, keberadaanmu akan menarik predator dari dimensi lain."

Vena menawarkan sebuah perjanjian: "Bergabunglah dengan DAT. Jadilah agen kami. Kami akan memberimu teknologi untuk menutupi energi perakmu sehingga kamu bisa tetap bersama Anita, tapi sebagai gantinya, kamu harus memburu 'The Unwritten' yang masih tersisa di Indonesia."

Saka terdiam. Menjadi agen DAT berarti ia akan hidup dalam bayang-bayang selamanya, namun itu adalah satu-satunya cara untuk melindungi keluarganya dan Anita dari serangan yang lebih besar.

Namun, saat Saka hendak menjawab, sebuah ledakan mengguncang markas. Alarm merah menyala.

"Direktur! Seseorang menerobos masuk dari Celah Dimensi!" teriak seorang operator.

Di layar monitor, Saka melihat sosok yang sangat ia kenal sedang menghancurkan pintu baja markas dengan kekuatan gravitasi. Sosok itu adalah Luna, namun bukan Luna yang sekolah bersamanya. Ini adalah Luna dari masa depan alternatif, yang mengenakan baju zirah tempur dan membawa busur panah hitam.

"Berikan Saka kepadaku!" teriak Luna Masa Depan itu. "Dia adalah satu-satunya kunci untuk menghentikan kiamat yang akan terjadi besok pagi!"

Saka terpaku. Jadi, meskipun Luna di masanya sudah lupa padanya, versi Luna dari masa depan masih membutuhkannya. Dan sepertinya, "besok pagi" bukan lagi waktu yang lama bagi seseorang yang hidup di antara detik.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!